Roseo (3)




     Hari sabtu pun tiba, dan karyawan Roseo Caffe telah terlibat dengan Festival Kuliner Malang 2017. Cetha datang lebih awal. Pukul sembilan pagi dia sudah stand by di Roseo. Seorang supplier datang membawa beberapa pesanan. Cetha ikut terjun membongkar isi pesanan dan menyesuaikannya di daftar ceklis.

      “Hai, Mas Adit!” sapa Risa yang membuat Cetha menoleh. Aditya menyunggingkan senyum. “Apakah Mas Adit akan membantu kami?” Cetha memberikan tatapan agar Risa segera mengunci mulutnya.

      “Boleh,” Aditya menarik kursi warna hitam di samping Cetha.

      Risa memberikan lirikan pada Cetha. Lalu, melemparkan senyum kemenangan.

      “Jadi, apa yang bisa aku bantu?” Aditya bertanya. Hari ini ia mengenakan kaos hitam bertuliskan The Investors Vintage dan celana jeans biru dongker, juga jam tangan Alexandre Christie di sebelah kiri. Dan aroma woody yang masih sama sejak mereka pertama kali bertemu.

      “Eh. Nggak usah, kamu duduk saja,” kata Cetha.

      “Mau pesan apa Mas Adit?” tanya Risa.

      “Macchiato panas, ya.” Pria yang bernama Aditya itu mengeluarkan kameranya dari dalam tas slempang hitam seperti biasa. Lalu, jari jemarinya dengan lincah menggeser hasil bidikannya.

      Pria ini tidak jelek. Ia tampan. Maskulin. Cetha yakin di luaran sana ia diidolakan banyak wanita. Dalam sesaat, Cetha benar-benar mengeksplorasi pria di depannya ini.

      “Auw...” Cetha kaget karena tahu-tahu jari telunjuknya perih. Meneteskan sedikit darah. Ia langsung menjatuhkan cutter yang tadinya digunakan untuk memotong kantong plastik.

      “Apa Mbak?” tanya Risa panik. Sementara Aditya, sudah menyeret Cetha ke watafel mencuci darah yang mengalir. Seakan baru menyadarai bahwa pria ini memiliki tambahan daya tarik sebagai makhluk paling manis di Roseo.

      “Mbak ini diplester lukanya.” Risa mengulurkan  plester pembalut luka.

      “Ada obat antiseptik aja gak, yang bisa diteteskan?”  tanya Aditya.

      Cetha menarik nafas, yang akhirnya membuka suara, “Kamu pernah jadi dokter?”

      “Aku bukan dokter, tapi aku dapat menyembuhkan lukamu.”

      Tambah satu lagi, pria ini menarik. “Kenapa kamu melamun lagi? Apakah aku terlalu tampan sampai kamu mengiris jarimu? Semua persiapan sudah bereskan?” Aditya terus saja memberi pertanyaan tanpa sempat Cetha menjawab.

      “Aku belum berterima kasih atas mawar itu,” ujar Cetha mengalihkan perhatian.

      “Jadi gara-gara itu kamu mengiris jarimu?”

      “Tidak. Bukan.”

      “Ikut aku.”

      “Kemana?”

     Cetha sudah ditarik Aditya ke luar Roseo. Sejenak Cetha menghirup udara luar caffe, bekas rintik hujan, dan sepasang burung camar yang hinggap di ranting pohon. Pria dengan kumis tipis itu sekarang menatap Cetha. Mereka sempat beradu pandang, untuk menutupi gugupnya Cetha mengalihkan matanya pada empat orang gadis remaja yang keluar dari avanza hitam di parkiran.







     Havana. Oh na na... Half of my heart is Havana... Cetha terbangun karena mendengar dering telepon selularnya. Tanpa melihat layar ia langsung menerima panggilan.

     “Hallo... “ dengan suara khas bangun tidur.

     “Cetha. Aduh, kamu masih tidur? Kamu sekarang dimana?”

     “Hmmph.”

     Cetha menjauhkan telepon dari telinganya untuk melihat si penelpon. Gita.

     “Ada apa, Git?”

     “Mamamu, Ceth.”

     “Ada apa dengan Mama, Git?”

     “Tadi aku lihat twitter. Itu benarkan Tante Helena. Tapi aku yakin memang Tante Helena itu. Coba kamu buka twitter!” Gita terdengar agak khawatir.

     “What happened?” Tiba-tiba Cetha merasa ada sesuatu yang salah.

     “Listen to me!” Gita menarik nafas pelan. “Aku nonton vidio yang mirip Tante Helena. Ia dimaki-maki oleh wanita, kurasa istri dari orang yang bernama Tio.”

     Cetha terdiam beberapa saat otaknya sedang berusaha merespon. Kemudian, ia menjerit dan menangis keras. “Itu Mama, Git.”

     Pada saat itu juga Cetha melempar barang-barang di atas nakas melampiaskan kecewanya. Menendang kaleng soft drink sampai terdengar bunyi KLONTANG... Gelas bekas minumnya pecah dibanting, menyisakan percikan kaca di berbagai sudut. Semenit kemudian kamar Cetha seperti terkena serangan bom.

     “Cetha, are you okay? Kamu dimana? Aku segera ke sana. Jangan pergi kemana-mana!”

     “Roseo.” Setelah, perselisihan dengan Mamanya, Cetha memilih bermalam di Roseo.

     Perlahan-lahan ia bangkit dan berjalan ke kamar mandi. Cetha berdiam beberapa detik untuk melihat wajahnya di cermin. Lima menit kemudian, air matanya sudah mengalir deras. Dadanya terasa sesak membayangkan mamanya. Seharusnya, mamanya mendengarkan Cetha bukan seenaknya sendiri. Arrgh! Cetha melampiaskan kekecewaannya dengan membanting botol-botol sabun dalam kamar mandi. Botol-botol itu tergeletak menyaksikan ari mata Cetha yang tak kunjung surut.  Mengetahui semua telah terjadi, Cetha berusaha mengontrol emosinya.

     Setelah mengontrol emosinya, ia membasuh wajahnya dengan air yang mengucur dari keran. Hidungnya merah. Matanya sembab. Cetha mencoba tersenyum untuk menenangkan diri. Tapi, senyumanannya terlihat seperti seringaian. Kemudian, ia mendengar suara ketukan pintu. Tiba-tiba terdengar suara dari luar, “Cetha, open the door!”

    Melihat wanita cantik berambut lurus sepinggang itu Cetha merasa nyaman, ada sesuatu yang membuatnya tenang, akan tetapi air matanya malah semakin deras membanjiri wajahnya.

     “Semua akan segera berlalu.” Gita menarik Cetha ke dalam pelukannya.





     Cetha mendengar suara-suara orang sekitar dua atau tiga orang. Ia berusaha membuka matanya. Tapi, sangat berat. Cream. Kesan pertama Cetha membuka mata adalah warna gorden. Kemudian, dinding yang dicat merah jambu. Ia mencoba mengingat. Bagaimana bisa ia sampai di kamarnya? Kamar yang baru dua hari ini ia singgahi lagi setelah pertengkaran dengan mamanya berlangsung.

     Cetha menatap jam dinding, pukul delapan lewat sepuluh menit. Ia tidak melihat sinar matahari. Semuanya gelap. Jadi, sekarang kemungkinan sudah malam.

     “Cetha, sudah sadar?”

     Helena buru-buru menuang air ke dalam gelas. Berjalan cepat ke arah Cetha. Wajahnya tampak khawatir. Cetha meminumnya sampai habis. Bahkan rasanya kerongkongannya masih kering.

     Cetha melongo memperhatikan seorang pria mendekat. Pada saat itu Cetha sadar, bahwa Aditya adalah laki-laki yang telah menyelamatkan beberapa jam yang lalu.

    Cetha mengingat kembali. Sore itu sepulang dari Roseo, ia mampir ke Giant Express Kawi untuk belanja. Entah karena jiplakan wajah Helena yang sepintas mirip dengannya, atau semua orang menyangka Cetha adalah Helena. Vidio berdurasi 10 menit itu menampilkan seorang ibu-ibu yang menyiram air ke wajah perempuan. Dan perempuan yang disiram itu adalah, mamanya. Dalam kepanikan, Cetha mendengar semua orang di supermarket mengasihaninya, memaki, mengumpat... Mereka dapat dibaca dari tatapan yang menyudutkan Cetha.

     Cetha mempercepat langkahnya tapi malah menabrak laki-laki berkulit putih, tingginya 180 sentimeter, dan seorang fotografer. Tiba-tiba laki-laki itu memanggil namanya. Merasa mengenal laki-laki itu, Cetha menghambur ke pelukannya. Ia butuh sandaran sesaat.

     Awalnya, laki-laki itu terkejut. Tapi, perlahan tangannya mengusap-usap kepala Cetha, dan menepuk-nepuk bahunya. Cetha melepaskan diri pelan-pelan. Wajah laki-laki itu dihiasi senyum hangat. Senyum itu semakin melebar, memperlihatkan giginya yang tertata rapi.

   Cetha melepaskan diri. Sesaat ia menatap pemilik mata hitam, dan senyum menawan.

   “Cetha!”


   Kemudian, semua gelap. Laki-laki itu panik. Setelah, menyadari Cetha tak sadarkan diri. (Bersambung)





Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.