Endik Koeswoyo, Penjual Bakso Yang Menjadi Penulis Skenario


Siapa yang tak pernah mendengar nama Endik Koeswoyo sekarang ini? Jika pun ada, bisa dipastikan ia bukan pembaca novel dan bukan pula penonton film Indonesia, bahkan bukan pula penonton setia sinetron dan FTV. Nama Endik Koeswoyo sudah malang melintang di dunia literasi dan juga perfilman nasional. Berbagai karyanya berhamburan di berbagai media, apalagi televisi. Jadi, rasanya wajar jika nama Endik Koeswoyo cukup dikenal sebagai penulis produktif di tanah air.


Karya-karya Endik bisa dinikmati hampir setiap saat. Di SCTV misalnya, seringkali FTV yang ditulis bersama penulis binaannya di Jaringan Penulis Indonesia wara-wiri di layar televisi. Berbagai judul buku, novel, FTV, sinetron, dan tentunya film layar lebar telah menjadi bukti betapa panjangnya perjalanan yang Endik Koeswoyo tempuh. Karya-karya itu juga yang mengukuhkan namanya sebagai penulis, baik penulis buku, novel, maupun skenario. Keberhasilan Endik Koeswoyo bukan cerita baru yang harus dikisahkan lagi, karena hampir semua insan perfilman sudah hafal dengan lelaki yang tak pernah lepas dari blangkon andalannya ini.

BACA JUGA : "Dede Hartini, Mojang Bandung Yang Selalu Semangat Menulis"


Tentu ada kisah panjang di balik kesuksesan yang diraih Endik. Banyak pihak yang mau mengenalnya dan mencari tahu tentang kisahnya mencapai keberhasilan. Dugaan mulai muncul, mungkinkah Endik meraih semua keberhasilannya tanpa perjuangan? Jangan-jangan keberhasilan ini hanya berupa warisan dari keluarga dan ia tidak berjuang apa-apa? Mungkin juga segala keberhasilannya hanya faktor kebetulan semata? Inilah kisah Endik Koeswoyo si pedagang bakso yang kini sukses menjadi Penulis Skenario.

Arek Tegalan dari Dusun Mangirejo, Desa Wonosalam
Endik Koeswoyo terlahir dengan nama Endik Kuswoyo, usianya hampir menyentuh angka 36 tahun pada 15 Agustus 2018 nanti. Umurnya terbilang muda, tapi pengalaman hidupnya bak buih di lautan. Endik Koeswoyo bisa dibilang sangat mumpuni dalam perjuangan hidup. Berbagai pengalaman pahit sudah menjadi santapan sehari-harinya sedari kecil. Sejak usia sekolah dasar, Endik sudah menjalani berbagai macam pekerjaan. Tujuannya bekerja kala itu bukan untuk menambah uang jajan, melainkan untuk bertahan hidup bersama nenek tercinta yang dipanggil "mak tua".

Selain bersama nenek, Endik kecil juga hidup bersama kakaknya, Budi dan Darianto. Sejak usia tiga bulan, ia sudah dititipkan bersama neneknya yang seorang janda di dusun Mangirejo Desa Wonosalam, Kabupaten Jombang Jawa Timur. Perpisahan orang tua membuat Endik tak puas merasakan belaian utuh dari ibu dan ayah. Ayah Endik memilih pergi ke Lampung, sedangkan ibunya memilih menyeberang ke Banjarmasin setelah perpisahan terjadi. Kesulitan sudah akrab dengan Endik, bahkan ketika kecil ia pernah mendapat julukan “Arek Tegalan” karena rumahnya yang hanya sebuah gubuk berukuran 4 x 6 meter dan terletak di tengah perkebunan dan hutan. Rumah yang Endik tempati jauh dari kata layak, tak ada penerangan kecuali lampu semprong berbahan bakar minyak tanah. Sementara air didapat dari hasil sulingan air pegunungan yang sebenarnya untuk keperluan perusahaan swasta.

Kesulitan ekonomi menjadi alasan Endik untuk bekerja dan mencari uang sejak kecil. Ia juga kerap kali mencari kayu bakar bersama teman-temannya sampai ke gunung Anjasmara. Mencari kayu bakar di hutan adalah hal yang paling berkesan bagi Endik, karena dengan kayu bakar itu neneknya bisa memasak di tungku untuk makan sehari-hari. Tak jarang Endik menangis karena harus memikul kayu yang berat bagi anak seusianya. Tapi mau tak mau hal itu harus ia lakukan karena keadaan mengharuskannya demikian. Keadaan membuat Endik merasakan lebih lengkap pahit getirnya kehidupan. Kisahnya tak sia-sia berlalu. Saat di kelas 3 Sekolah Dasar, siswa-siswi satu kelas diberi tugas membuat cerpen oleh Pak Ikhwan. Tanpa ragu, Endik menuliskan sebuah cerita tentang pengalamannya saat mencari kayu bakar ke gunung, melewati jalan dengan pemandangan terhampar luas tiada batas. 

Dari atas bukit, kulihat kampung halamanku. Dua buah pohon kelapa yang menjulang tinggi itu terlihat seperti batang pensil, dan itulah yang aku tau, sebagai tanda, di sanalah kampungku. Pembukaannya seperti itu, tapi kelanjutannya saya lupa,” jelas Endik ketika mengenang kembali kisah masa kecilnya. Tak disangka, pengalaman yang Endik tulis mendapatkan pujian dari Pak Ikhwan, sang wali kelas.  Salah satu pengalaman yang paling berkesan dalam hidupnya. Sejak pujian dari Pak Ikhwan, Endik mulai percaya diri menulis puisi dan cerpen. Dengan bangga ia pajang karya-karyanya di mading sekolah, bahkan ada kalanya ia tempel pula di jendela kayu di kelasnya yang sudah rapuh termakan usia.

BACA JUGA : "Dita Faisal dan Dina Faisal, Merantau Ke Jakarta Demi Memperjuangkan Cita-Cita"

Kemampuan menulis Endik sudah terlihat sejak masih kecil. Ada sebuah rahasia besar yang membuat Endik kecil sudah akrab dengan kata-kata berbau sastra dan bahan bacaan berbobot. Bakatnya mulai terasah sejak Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Pertama, sejak ia menjadi asisten rumah tangga di rumah Pak Son, seorang kepala desa sekaligus dokter di kampungnya. Rahasia kesuksesan Endik dimulai sejak saat itu, saat kakinya menginjak rumah Pak Son yang luas. Dalam gudang di rumah Pak Son, Endik menemukan tumpukan harta karun. Harta karun itu berupa tumpukan koran, majalah, dan buku bekas. Endik seolah mendapatkan asupan energi untuk mengasah bakatnya menulis. Majalah Bobo, Jaya Baya, Penebar Semangat, Intisari, dan Jawa Pos menjadi santapan empuk yang selalu Endik nikmati saat tugasnya sedikit melonggar. Keragaman  bahan bacaan dan kecanduan Endik terhadap membaca, membuat bakat menulisnya semakin terasah dan memperkaya bahasa yang dimiliki Endik. Pada akhirnya, bukan hanya menulis yang menjadi kemampuan Endik, tapi ia juga berhasil menjadi juara kelas. Terbukti, sejak Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Pertama Endik selalu masuk dalam 3 besar. Meski Endik bekerja, tapi dirinya selalu giat belajar. 

Selama menjadi asisten rumah tangga, Endik mengerjakan banyak pekerjaan, mulai dari beres-beres rumah, mengawasi kebun, memasak, bahkan belanja ke pasar. Dari neneknyalah Endik bisa bekerja dan membaca banyak buku di rumah Pak Son. Sejak kecil Endik sering diajak ke rumah Pak Son menemani neneknya masak dan menjadi tukang pijat. Pak Son banyak berperan dalam kehidupan Endik dan neneknya. Pak Son menjadi orang tua angkat bagi Endik dan membiayai sekolah Endik sampai menamatkan Sekolah Menengah Pertama. 

Meski kehidupannya tak seberuntung teman-temannya, tapi Endik mampu membuktikan bahwa ia bisa menjadi yang lebih dari teman-teman sebayanya. Selain menjadi juara kelas, saat SMP, Endik kecil si Arek Tegalan dengan rumah tanpa cahaya listrik itu tercatat menjadi salah satu lulusan terbaik dengan NEM 43,75. Prestasi di luar dugaan dan tentu sangat membanggakan neneknya.

Nomaden Hingga Berjualan Bakso 
Ketika menginjak masa SMA, Endik tidak mendapat bantuan dana sekolah lagi dari Pak Son. Usianya yang menginjak remaja menariknya untuk mencari tahu ibu dan ayahnya. Setelah mencari alamat dimana ibunya tinggal, Endik lalu memutuskan untuk menyusul ibunya yang berada di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Selama satu tahun Endik bersekolah di SMA Negeri 2 yang merupakan sekolah favorit di Banjarmasin. Kehidupan ibunya dan bapak sambungnya terbilang sangat sederhana. Untuk bisa menambah uang jajan, Endik pernah menjadi penjual air keliling yang didorong dengan gerobak beroda empat. Peluh keringat yang membasahi menjadi saksi betapa ia selalu berjuang mencari makan untuk bisa hidup. Sekolahnya tak sampai tuntas, sekita 12 bulan sekolah di SMAN 2 Banjarmasin, Endik memilih untuk pulang ke Jombang melepas rindu pada neneknya, kembali tinggal bersama "mak tua", nenek tercinta yang sudah mengasuhnya sejak ia berusia tiga bulan.

Setelah berada di Jombang, Endik ingin ikut bertemu dengan bapaknya yang berada di Lampung. Maka pada tahun 1999 Endik nekat berangkat sendirian dari Jombang menuju Lampung. Di Lampung, ternyata Endik juga tidak merasa kerasan. Ia hanya mampu bertahan kurang dari satu tahun. Lagi-lagi ia kembali ke Jombang. Kedua kakaknya, Budi dan Darianto tak bisa melanjutkan sekolah. Akan tetapi Mak Tua selalu mendorong Endik untuk bisa menjadi sarjana, sekolah tinggi biar nanti bisa membangun kampung halamannya. Semangat dan dorongan Mak Tua itulah yang membuat Endik memutuskan hijrah ke kota Blitar,  kali ini ia ikut kakaknya yang selama ini bekerja sebagai buruh datang bakso.

Bakso Arema Lodoyo Blitar tempat Endik Koeswoyo bekerja sejak tahun 2000 - 2003
Endik kembali memutuskan untuk melanjutkan pendidikan SMA di Blitar. Untuk menyambung dan membiayai sekolah, ia berjualan bakso. Ia membagi waktunya yang dengan sangat detail. Dari pagi sampai siang, Endik habiskan di sekolah. Sedangkan siang sampai malam, ia gunakan untuk mencari uang dengan berjualan bakso. Gerobak dan bahan bakso yang digunakan bukan miliknya sendiri, melainkan milik seorang juragan yang memberikan kepercayaan pada Endik dan kakaknya. Ia hanya sebagai penjual saja. Untuk berjualan bakso di alun-alun Kawedanan Lodoyo Blitar, Endik harus mendorong gerobak bakso jualannya sejauh 1,5 km. Ketika pulang pun ia menempuh perjalanan yang sama. 

Meskipun menjadi tukang bakso dan sekolah berpindah-pindah, tapi Endik membuktikan bahwa semua hal yang terjadi dalam hidupnya tak akan membuat dirinya terpuruk. Sekali lagi ia mengukuhkan dirinya sebagai siswa cemerlang dan membanggakan ketima masuk masuk ke SMA Negeri Sutojayan Blitar Endik merupakan siswa dengan NEM tertinggi se-kabupaten Blitar. Sebuah prestasi yang tak bisa dipandang sebelah mata.

Menjadi Mahasiswa Jadi-jadian 
Tahun 2003, Endik melanjutkan kuliah di AKINDO Jogjakarta. Perjuangan hidup sama sekali tak mengendur meski ia sudah berganti status sebagai mahasiswa. Kehidupan Endik di Jogja sangat menarik sekaligus memprihatinkan. Tapi sangat layak untuk dikisahkan dan dijadikan pelajaran. Semenjak menginjakkan kaki di Jogjakarta dan menjadi mahasiswa, Endik sudah menetapkan hati akan menjadi penulis. Meski di angkatannya kala itu lebih banyak memilih memfokuskan diri badang bidang teknis seperti cameramen dan sutradara. Endik tetap pada pilihannya menjadi penulis. Hal itu terbukti hanya Endik sendiri di angkatan 2003 AKINDO yang menjadi penulis.

Endik tak mampu mempertahankan status mahasiswanya, meski hanya untuk beberapa bulan. Keterbatasan dana membuat Endik tak mampu membayar semesteran. Ditambah lagi pekerjaan yang tidak menentu dan serabutan yang dilakukan Endik sangat tidak mendukung dengan perkuliahan yang diambilnya. Endik berkuliah di bidang broadcasting yang membutuhkan banyak praktik, sedangkan pekerjaannya juga membutuhkan waktu. Endik bekerja menjadi tukang sablon, kerja di event organizer, dan pekerjaan lain agar bisa melanjutkan kehidupan di Jogjakarta. Tapi ternyata usahanya itu menemukan jalan buntu, jangankan untuk membayar biaya semesteran. Bahkan untuk tempat tinggal, Endik hanya menumpang dari satu kost ke kost teman-temannya. Dengan berat hati, Endik melepaskan statusnya sebagai mahasiswa. Dan di semester berikutnya Endik hanya menjadi mahasiswa jadi-jadian.

“Saya sebenarnya sudah putus kuliah itu sejak semester pertama. Tapi saya sering berada di lingkungan kampus untuk belajar. Kalau ada yang bikin tugas kampus, saya ikutan. Mencatat ini itu, mencatat ide-ide, setelah itu baru saya tulis lagi,” jelas Endik dengan ramah.

Endik Koeswoyo bersama mahasiswa Akindo saat membuat karya program televisi


Meski Endik tidak tercatat di administrasi kampus, tapi ia selalu hadir dan mengikut perkuliahan. Ia lebih memiliki waktu yang fleksibel untuk mengatur antara perkuliahan dan pekerjaan. Kehadiran Endik di kampus tak lain karena kebaikan hati beberapa dosen yang mengizinkannya mengikuti kelas meski secara administrasi ia bukan lagi mahasiswa Akindo. Kesempatan ini dimanfaatkan sebaik mungkin oleh Endik. Bisa dikatakan Endik tidak memiliki gelar broadcasting, tapi ia telah mempunyai ilmunya.

Bergabung Dalam Sanggar Misteri Darikem
Ilmu juga dikumpulkan Endik dari berbagai sarana dan tempat, termasuk di Sanggar Misteri Darikem. Sejak berada di Jogjakarta, Endik bergabung dengan komunitas seniman tersebut. Di sanggar ini segala jenis pekerjaan seni berkumpul, mulai dari pelukis, penyair, musisi, dan jenis pekerja seni lainnya. Endik melihat dalam komunitas yang memiliki basecamp di kampus AKINDO ini belum ada penulis. Maka dengan bergabungnya Endik dalam sanggar ini kembali memantapkan hatinya untuk menjadi penulis. Ia banyak belajar dari seniman yang bergabung dalam Sanggar Misteri Darikem. Salah satunya adalah dari Teguh T-Koes Wicaksono, seorang pelukis hebat yang juga merupakan senior di kampus AKINDO. Selain melukis, Teguh juga sangat suka menulis puisi dan cerpen.

Endik Koeswoyo di Kampus Akindo Yogyakarta 


Kecintaan Endik pada dunia menulis dan dorongan semangat di Sanggar Misteri Darikem, membuat Endik mulai menulis cerpen mingguan. Cerpen mingguan karya Endik diberi judul Cerpen Mingguan Sanggar Misteri Darikem Indonesia. Bagaimana Endik menulisnya? Jangankan untuk memiliki komputer, membayar kos saja ia tak mampu? Jawabannya cuma satu ilmu melasisme. Endik sering kali meminjam komputer teman-temannya untuk menulis berbagai ide yang muncul di benaknya. Cerpen-cerpen itu kemudian di print dan di fotokopi dengan uangnya sendiri, selanjutnya Endik menyebarkan cerpen mingguan itu ke berbagai kampus di Jogjakarta.

Cowok yang Terobsesi Melari novel pertama Endik Koeswoyo terbit bulan Agustus 2005


Metode yang sama juga dilakukan Endik dalam menulis novel. Berkat bantuan komputer dari teman-temannya, tentu dengan ilmu melasisme juga, ia bisa menyelesaikan naskah-naskah novel yang merupakan buah pemikirannya. Setelah diprint dan dijilid rapi, Endik menawarkan pada penerbit di sekitar Jogjakarta. Meski awalnya berbuah nihil, tapi metode yang dilakukannya membuahkan hasil. Salah satu penerbit yang menjadi langganan menerbitkan karya-karya Endik adalah DivaPress. Bulan Agustus 2005, setelah 2 tahun berjuang ke sana kemari mencari penerbit akhirnya Endik Koeswoyo mendapat kontrak penerbitan dengan naskah Untuk Dinda yang ia tulis sejak 2003 hingga 2004. Saat itu Endik sempat berdikusi dengan Pak Edi, pemilik Diva Press yang meminta Endik menulis naskah novel dengan judul Hari Gini Mikirin Maried, setelah naskah selesai di tulis, ternyata naskah itu lebih dulu diterbitkan dengan mengganti judul menjadi Cowok yang Terobsesi Melati, sementara Untuk Dinda di pending proses penerbitannya.  Tetapi jiwa pantang menyerah terlihat jelas dari Endik Koeswoyo, dia tetap memperjuangkan Untuk Dinda, hingga akhirnya terbit pada tahun 2009 dengan judul Doa Untuk Dinda. "Tulisan itu seperti tabungan, tidak pernah terbuang,"katanya sembari terseyum.



Melasisme, Ilmu Sakti Milik Endik


“Kalau diperhatikan 99 persen buku dan novel saya di terbitkan di Divapress? Mau tahu alasannya? Saya melakukan pendekatan emosional dengan Pak Edi, juga dengan teman-teman di kampus Akindo. Pak Edi menyebutnya -ilmu melasisme-,” ujar Endik sambil tertawa.

Salah satu novel yang ditulis Endik Koeswoyo
Endik memang dekat dengan teman-teman di kampus Akindo dan Sanggar Misteri Darikem. Bukti kedekatan itu ditunjukkan selama tahun 2003-2011, di mana selama kurun waktu itu Endik terus berpindah-pindah menumpang tempat tinggal. Ia menginap bergiliran di tempat teman-temannya. Semua itu berkat ilmu melasisme milik Endik.

Pak Edi Mulyono, sang pemilik Divapress, juga menerima semua naskah tulisan Endik berkat ilmu melasisme. Dengan ilmu ini, Pak Edi bersedia memberikan uang DP sebelum royalti dikeluarkan, memberikan sebuah laptop, bahkan memberikan sebuah sepeda motor untuk keperluan transportasi Endik. Pak Edi merupakan salah satu orang berjasa dalam perjalanan menulis Endik, karena beliau yang memberi kepercayaan untuk menulis novel dan menerbitkan secara nasional.

Satu hal yang masih menjadi pertanyaan dan rahasia. Apa itu melasisme? “Ilmu melasisme itu sederhana, datang dengan wajah memelas, penuh tekanan hidup dan selalu memposisikan diri dibawah lawah bicara kita. Ya, setiap bertemu Pak Edi, wajah saya selalu memelas. Tapi bagaimana enggak memelas, orang saya makan cuma Senin Kamis aja,” jelas lelaki berzodiak Leo ini.

Jadi, ilmu melasisme yang dilakukan Endik adalah sebuah ilmu pendekatan emosional yang sering dikenal dengan wajah memelas Tapi rasanya bukan hanya karena ilmu melasisme juga Endik mendapat begitu banyak kemudahan. Kemampuan dan kerja keras yang membuat Endik berhasil sampai ke tahap tersebut.


Tahap di mana naskah-naskah novel dan buku Endik menjadi buruan penerbit besar, bahkan sebelum naskah tersebut selesai. Sampai saat ini Endik berhasil menerbitkan setidaknya 27 buku dan novel. Judul buku dan novel-novel tersebut antara lain Novel Cowok Yang Terobsesi Melati, Novel Cinta Selebar Kerudung, Novel Tersesat Di Surga, Buku Siapa Memanfaatkan Letkol Untung, Kumpulan Komik Pak Gempa, Novel Hijrahnya Cinta, Novel Kaldera: Ketika Cinta Bicara Cinta, Kolaborasi JPI Sebilah Sayap Bidadari, Novel Doa Untuk Dinda, Buku Kisah Raja-Raja Legendaris Nusantara, Novel Cinta di Ujung Hati, Novel Menggenggam Impian, Novel Cinta Is Anu, Novel Cintaku Nyangkut Di Fesbuk, Novel Catatan Jomblo Galau, Novel The Prince Of Blangkon, Novel Pacar Isi Ulang, Novel Ajaibnya Cewek, Novel Lajang-Lajang Pejuang, Novel Biografi Endank Soekamti 'Angka 8', Novel #CatatanKaki, Novel Maaf, Aku Lagi Jatuh Cinta, Novel #CeritaCinta, Novel Erau Kota Raja, Novel Perempuan Yang Terluka Hatinya hingga sebuah novel fenomenal nan kontroversial berjudul love For Sale.

Salah satu FTV karya Endik Koeswoyo
Karya terbaru Endik, yaitu Love For Sale baru saja rilis bulan Maret 2018 lalu. Selain berupa buku dan novel, karya-karya Endik juga bisa dinikmati dalam bentuk tayangan di layar kaca. Baik sinetron, FTV, mau pun film layar lebar.

Perkenalan Pertama dengan Skenario
Pengukuhan diri sebagai penulis membawa Endik bertemu dengan Fajar Nugros. Saat itu, Fajar Nugros sedang meluncurkan novel terbaru miliknya, Buaya jantan. Tahun 2006 adalah saat pertama kali Endik bertemu Fajar Nugros. Setelah mengobrol panjang lebar dengan Fajar, Endik akhirnya mengetahui bahwa selain menulis Fajar juga tergabung dalam komunitas film yang ada di Jogjakarta. Meski keduanya berasal dari universitas yang berbeda, tapi Endik dan Fajar sering bertemu dan terlibat diskusi dalam berbagai kesempatan.

Pertemanan Endik dan Fajar terjalin baik. Bahkan ketika Fajar memutuskan hijrah ke Jakarta dan belajar pada Hanung Bramantyo. Pertemanan mereka tetap terjalin. Apalagi kecocokan mimpi mereka yang saling berhubungan. Meski Fajar seorang penulis, tapi ia lebih fokus pada bidang penyutradaraan. Dan Endik yang memfokuskan diri sebagai penulis. Membuat pertemanan mereka saling melengkapi.

Ketika Fajar di Jakarta, Endik seringkali dikirimi email berisi skenario dan diminta Fajar untuk mempelajarinya. Acap kali Fajar juga meminta Endik menulis sinopsis untuk ide-ide film milik Fajar. Endik belajar dari berkas-berkas yang dikirimkan Fajar Nugros.

“Saat di Jakarta, Fajar Nugros sering kirim email atau telepon saya, untuk di buatkan sinopsis atau skenario. Walau enggak ada yang berhasil jadi film, tetapi saya selalu semangat menulis untuk Nugros. Tahun 2012, Nugros mengerjakan serial Tendangan Dari Langit, dari situ dia butuh penulis skenarionya, nah, saya yang dipanggil ke Jakarta saat itu,” jelas Endik yang kini telah menyandar gelar Sarjana Ilmu Politik.

Pada tahun 2012, Endik akhirnya dibawa Fajar Nugros hijrah ke Jakarta. Dengan proyek pertamanya, menjadi penulis skenario serial Tendangan Dari Langit. Dia nekat meninggalkan Jogjakarta yang telah memberikannya banyak ilmu. "Kalau tidak nekat, kesempatan tidak datang dua kali, semua di Jogja saya tinggalkan, kebersamaan dengan sahabat dan teman juga harus saya tinggalkan, semuanya saya tinggalkan, demi cita-cita dan masa depan, apapun resikonya," lanjutnya dengan mata berkaca-kaca.

Di Jakarta, Endik diperkenalkan pada Sinemart yang memiliki proyek serial Tendangan dari Langit oleh Fajar. Di Sinemart, ia bersama Fajar Nugros mendapat kepercayaan menjadi menggarap serial Tendangan dari Langit. Pada kesempatan pertama ini, Endik menunjukkan kemampuan terbaiknya. Ia tak ingin mengecewakan Fajar yang telah memberinya kepercayaan. Tapi, sekali lagi keberuntungan belum berpihak pada Endik. Endik dan Fajar gagal mengeksekusi Tandangan Dari Langit.

Namun, kegagalan itu tak membuat Endik terpuruk. Ia semakin semangat untuk terus menulis. Apalagi, Fajar meminta Endik belajar dari penulis skenario di Sinemart. Endik memang tidak mendapatkan proyek, tapi ia lagi-lagi mendapat kesempatan berburu ilmu yang sangat langka.

Salah satu novel karya Endik Koeswoyo
“Saat itu, saya belajar sekaligus menjadi asisten Mbak Mega Emela, sekarang sudah meninggal. Saya juga belajar dari Mbak Lintang Pramudyawardani dan Mbak Yanti Puspitasari. Mereka guru-guru saya di Sinemart, termasuk membaca skenario milik Hilman Hariwijaya, Jujur Prananto, dan Iman Tantowi. Belajar yang paling gampang adalah membaca. Maka saya membaca dan menonton karya-karya mereka.”

Kerja Keras yang Membuahkan Karya
Proses belajar yang dijalani Endik bukan dilakukan hanya dalam hitungan hari atau bulan. Bertahun-tahun, Endik belajar dengan senior di dunia pertelevisian. Kerja keras itu akhirnya membuahkan hasil. Dia diberi kepercayaan untuk membuat skenario sendiri.

Kegagalannya dalam proyek film Tendangan Dari Langit, justru membuat Endik mendapat kesempatan untuk menggarap sinetron Tendangan Dari Langit. Sukses dari sinetron pertama, Endik terus mendapat tawaran untuk menjadi penulis skenario. Selain di Sinemart, Fajar juga membawa Endik ke Rapi Films. Di dua PH besar itu Endik memiliki rekam jejak yang bagus, sehingga namanya sebagai penulis skenario semakin berkibar.

Endik Koeswoyo bersama Rio Dewanto dalam produksi Dokumenter Viva Barista yang tayang di Metro TV

Berbagai skenario telah berhasil ditelurkan Endik sejak kepindahannya ke Jakarta. Sebut saja 7 Manusia Harimau yang sangat fenomenal beberapa tahun lalu. Setidaknya ada 13 judul sinteron dan tv program yang pernah digarap Endik. Hampir semua sinetron yang ditulis Endik diterima dan sangat digemari pemirsanya. Selain 7 Manusia Harimau, sebut saja sinetron Putri Titipan Tuhan dan sinetron Tikus dan Kucing.

Selain sinetron, di dunia FTV nama Endik juga sudah malang melintang di berbagai saluran televisi. Berbagai judul FTV sudah Endik tulis untuk berbagai PH, sebut saja Kerudung Dari Ustadz, panggilan Tak Terjawab, Lukisan Merah, Gaun Pengantin, Putri Matahari, Ular Tangga Ajaib, Nyanyian Malam, Awas jangan Bohong, Salon Ketok Magic 2, Gadis taman Kota, Misteri Penyiar Cantik, Misteri jam Ajaib, Azab Penggalang Dana Palsu, Panen Cinta Putri Raja, Alika dan Buku Ajaib, Rebutan Cinta Penjual Gudeg, dari hati Nona Gerabah, dan Putri Jadul Idamanku. Judul-judul FTV tersebut telah tayang di SCTV, RCTI, dan TRANS7. Saat ini Endik tengah menularkan ilmu menulis FTV pada sahabat-sahabat penulis yang bergabung dalam Jaringan Penulis Indonesia.

7 Manusia Harimau, salah satu judul sinetron yang ditulis Endik Koeswoyo


Suami dari presenter cantik, Dita Faisal, ini juga juga dipercaya menggarap skenario untuk layar lebar setelah namanya dikenal lewat karya-karya terbaiknya. Film Me And You Versus The World menjadi film layar lebar pertama yang dipercayakan untuk ditulis Endik. Film ini tayang pada bulan April 2014. Dalam kurun waktu 2014-2018, setidaknya ada 5 judul film layar lebar yang ditulis Endik. Judul film yang pernah ditulis Endik antara lain Me And You Versus The World, Kesurupan Setan, Cerita Cinta, Erau Kota Raja, dan Gelas-Gelas Kaca.
Film Me And You versus The World, salah satu karya Endik Koeswoyo
Melihat dari jumlah karya yang dihasilkan, tentu dapat dikatakan bahwa Endik penulis yang sangat produktif. Selain itu, ia juga sosok yang tak akan menyerah pada keadaan. Kesuksesan dan keberhasilan yang dirah selama ini sangat jauh dari kata warisan apalagi kata kebetulan. Endik Koeswoyo benar-benar mengukir satu persatu karya yang dibuatnya dengan peluh dan perjuangan keras. Endik tahu persis mimpi hanya akan menjadi khayalan jika tak diawali dengan tindakan. Dan tindakan saja tidak akan membuahkan hasil terbaik tanpa ada kerja keras.



Di tengah pekerjaanya sebagai penulis, Endik Koeswoyo terus berjuang untuk bisa menyelesaikan pendidikannya. Tahun 2017 Endik Koeswoyo akhirnya menyelesaikan pendidikan Sarjana di Kampus Universitas Bung Karno Jakarta, kini ia menyandang gelar Sarjana Ilmu Politik. Perjuangan panjang hidupnya kini lambat laun mulai bisa dia nikmati bersama istri tercinta, yang selalu memberikan dukungan. #tia
Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.