Bayi Yang Dilahirkan Sumi


OLEH : PONE SYAM
Setelah empat tahun berumah tangga akhirnya Sumi hamil juga, padahal orang-orang sudah ramai memvonis bahwa Sumi perempuan mandul. Sumi memang terlahir dari keluarga kaya raya namun kecintaannya pada Ziming membuatnya harus melepas segala kemewahan tersebut, keluar dari silsilah keluarga dan daftar ahli waris tidak membuatnya menyesali keputusan kawin lari dengan Ziming.
Awalnya orang-orang mengatakan bahwa Sumi hamil di luar nikah sehingga mati-matian memilih kabur dengan Ziming namun siring berjalannya waktu gosip tersebut menguap hingga berganti gosip tentang mandulnya Sumi.
Ziming terbilang lelaki bertanggung jawab. Bekerja keras sebagai petani yang tidak hanya menggarap sawah dan kebun milik almarhum orang tuanya tetapi juga milik orang-orang kaya yang tidak mampu menggarap sawahnya sendiri. Bahkan awal perkenalan Sumi dan Ziming saat Ziming menggarap sawah milik orang tua Sumi.
Tentu saja Sumi terkejut dengan kehidupan miskin, tidur di dipan berkasurkan lapuk yang nyaris rata dengan dipan tersebut, tidak ada Ac, nyamuk selalu berdendang sepanjang malam. Sumi juga harus bangun subuh menyiapkan makanan untuk Ziming yang berangkat ke kebun setelah sholat subuh. Namun semua keadaan itu tidak menyurutkan cinta Sumi pada Ziming sebab Sumi yakin bahwa Ziming memang tidak mampu membangunkan istana untuk Sumi di dunia namun Sumi yakin Ziming mampu membangunnya di surga.
Siapapun akan mendukung pemikiran Sumi. Sebab meski hidup serba kekurangan tetapi Ziming selalu menyisipkan sesuatu untuk disedekahkan ke orang lain. pisang di kebun yang sudah ranum bukannya dijual untuk menyambung hidup malah dibagikan ke warga. Hasil sawah tidak akan pernah dimakan oleh Sumi dan Ziming sebelum dikeluarkan sedekahnya.
Selama menikah Sumi memang tidak pernah memeriksakan kandungannya. Jangankan memeriksakan kandungannya, bahkan saat sakit keras dan nyaris meninggal dunia, Sumi bertahan dengan obat herbal yang diracik Ziming.
“Sayang uangnya, bisa buat makan,” ujar Sumi saat ditanya mengapa dia tidak memeriksakan dirinya saja.
Sumi dan Ziming juga tidak berminat saat orang-orang datang dan menawarkan membawa mereka ke dukun atau orang pintar lainnya agar Sumi segera hamil.
“Belum waktunya. Kami memaksimalkan berusaha dengan mengkonsumsi makanan untuk kesuburan kami, juga berdoa setiap saat,” begit jawaban Ziming, mantap yang membuat semua orang tercengang.
Orang-orang menyebut Ziming dan Sumi sombong dan takabur hingga kabar mengejutkan itu datang. Sumi hamil, sudah dua bulan tetapi perutnya sudah begitu besar. Dokter menduga bahwa bayi Sumi kembar, entar kembar berapa dokter juga ragu namun dari hasil pemeriksaan Sumi dikabarkan hamil dua bulan.
Bukan, bukan Sumi dan Ziming yang memeriksakan kehamilannya namun tetangganya seorang dokter dari kota, baru tiga bulan tinggal bersebelahan dengan Sumi dan Ziming. Dokter tersebut bersedia untuk membiayai kehamilan Sumi hingga Sumi melahirkan.
Dokter Mila namanya, dia sangat penasaran dengan kandungan Sumi. Dia berharap bisa menghasilkan penelitian yang luar biasa untuk menunjang gelar professor yang akan segera diraihnya. Dokter Mila menganggap bahwa Sumi orang yang tepat.
Dokter Mila bahkan menyiapkan makanan dan minuman bergizi. Vitamin untuk rahim dan juga bayi Sumi. Semua yang terbaik diberikan untuk Sumi, mana tahu Sumi bisa melahirkan bayi kembar lima yang sangat langka.
Seiring kehamilan Sumi, hasil kebun Ziming begitu melimpah ditengah kegagalan para petani. Semua hasil sawah dan kebuh Ziming dibeli mahal. Dalam sekejap Sumi dan Ziming menjadi orang kaya. Namun bukan Sumi dan Ziming namanya jika tidak bersedekah. Setiap hari setiap saat Sumi dan Ziming tidak berfikir panjang mengeluarkan uangnya untuk kebutuhan orang lain meski terkadang mereka sering dimanfaatkan. Tetapi sungguh menyecengangkan rejeki Sumi dan Ziming seperti air yang mengalir deras. Ada saja sumber rejeki dari Allah yang tidak pernah di duga.
Usia kandungan sumi sudah memasuki delapan bulan. Dokter Mila penasaran dengan jenis kelamin anak Sumi, dokter Mila meminta Sumi USG kehamilannya. Tetapi anehnya dokter Mila malah hanya menemukan serabut-serabut dalam rahim Sumi.
“Mungkin karena bayinya banyak sekali hingga sulit terdeteksi jenis kelaminnya,” ujar dokter Mila saat Sumi dan Ziming menanyakan jenis kelamin jabang bayi.
Tanggal tiga bulan tiga dokter Mila memprediksikan Sumi akan melahirkan namun prediksi itu salah. Seminggu setelah menjalani pemeriksaan USG tersebut, Sumi merasakan sakit yang tidak tertahankan pada perutnya. Ziming lalu membawa Sumi ke rumah sakit tepat di malam bulan purnama.
Dokter Mila terkejut sekaligus girang, sebab penantian dan penasarannya akan segera hilang. Bahkan pengharapan dokter Mila jauh diatas Sumi dan Ziming.
Dua jam dokter Mila berkutat memeriksa Sumi. Tidak ada air ketuban yang pecah. Tidak ada tanda-tanda Sumi akan melahirkan namun rasa sakit yang Sumi rasakan begitu mengkhawatirkan. Jeritannya menyayat hati. Dokter Mila memutuskan untuk melakukan operasi penyelamatan untuk bayi dan juga ibunya.
Tetapi saat dokter Mila dan Ziming bertukar pendapat, para perawat dan bidan yang menangani Sumi menjerit dan muntah-muntah. Darah mengucur deras bak air mancur membasahi semua wajah serta pakaian para perawat dan bidan.
Ziming meneteskan air mata. Memungut satu persatu bayinya yang ada di lantai. Meloncat lincah. Ziming mengumpulkan dalam ember bayi gurita yang dilahirkan Sumi. Ziming memang sedih namun dia bersyukur telah diberi kesempatan menjadi seorang ayah meskipun dari bayi gurita.
***
Sumber Gambar : Pixabay.com


Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.