Mystery in High School



Penulis: Umi Fadilah


Brugh!
Seketika tubuh seorang gadis ambruk di atas tanah. Bibirnya pucat pasi dengan mata yang masih memelotot itu kini terdiam tanpa perlawanan. Darah segar nan kental mengalir dengan derasnya dari wajah cantiknya dengan tinggi seratus lima puluh lima meter itu.

Mendengar suara aneh dari sebuah gedung kosong, Adis dengan sigap langsung berlari ke sumber suara. Namun, lagi-lagi hanya kecewa yang menyapa.

“Oh, shit! Lolos lagi!” Adis mengepalkan tangan, lalu memukulkannya ke tembok dengan sekencang mungkin. Rasa sakit yang dia rasakan tidak sebanding dengan amarahnya saat ini.

Adis, seorang detektif yang kini tengah ditugaskan untuk memecahkan kasus pembunuhan di sebuah sekolah menengah atas. Cukup berat, Adis harus memecahkan kasus ini seorang diri. Namun dia tidak berkecil hati, bagaimana pun dia harus dapat menyelesaikannya.

***

“Iya, gue juga udah denger beritanya. Sumpah, gue jadi ngeri,” ucap Sesil seraya mengerutkan dahi.

“Ini udah kelima kalinya, loh.”

“Ji, pasti lo nyesel ya pindah ke sini?” tanya Oliv sambil menepuk bahu Jihan.

Jihan tersenyum tipis. “Enggak, kok. Aku nggak nyesel.”

Adis telah mempelajari beberapa teknik pelaku dari beberapa hal yang dia temukan. Salah satunya adalah dari luka sobekan di wajah setiap korban. Dia begitu yakin jika ini semua tidak jauh dari faktor dendam. Entah karena masalah apa, tetapi Adis akan fokus pada setiap permasalahan yang ada di sekolah ini.

“Permisi, Dek. Apa akhir-akhir ini ada perkelahian antar siswa? Masalah? Atau sesuatu yang mengundang amarah dan membuat gaduh?” tanya Adis kepada beberapa siswi yang tidak lain adalah Sesil, Oliv, dan Jihan.

“Nggak ada, Kak. Lagian Kakak udah ke sekian kalinya loh, tanya gitu,” protes Sesil.

Adis yang mendengar ucapan Sesil hanya meringis dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Ada, Kak,” jawab Jihan. Membuat Sesil dan Oliv menatapnya seketika.

“Nah, masalah apa? Perkelahian antar cowok? Saling serang? Atau ...” tanya Adis semangat sambil menyiapkan catatan kecil dan sebuah bolpoin.

“Bukan, bukan itu. Kemarin saya nggak sengaja liat ada perundungan di toilet cewek,” papar Jihan dengan nada yang terdengar tenang.

“Ji ... udah.” Oliv dan Sesil saling melirik satu sama lain. Tidak ingin Jihan mengatakan lebih banyak hal lagi, mereka membawa Jihan pergi. Meninggalkan Adis yang masih sibuk menulis.

“Eh, Dek jangan pergi dulu!” pekik Adis sambil berusaha menahan pergelangan tangan Jihan.

“Maaf, Kak!” Oliv menyentakkan tangan Adis, lalu membawa Jihan menjauh dari lelaki yang berpakaian serba hitam itu.

“Argh! Padahal ini bahan yang bagus buat bikin beberapa kemungkinan.” Adis mengacak rambutnya frustrasi.

Adis terdiam, lalu menyipitkan matanya. “Kenapa dua anak itu kayak nutupin sesuatu?”

***

Keesokan harinya, Adis kembali ke tempat kejadian perkara. Tempat terakhir yang membuatnya nyaris menangkap pelaku pembunuhan tersebut. Adis adalah lelaki yang cerdas, dari beberapa hal yang dia pelajari dia dapat menebak dengan sangat tepat, tempat yang akan dijadikan pelaku sebagai lokasi untuk mengeksekusi mangsanya. Namun sayang, Adis kalah langkah, alhasil pelaku berhasil lolos.

Saat tengah mengamati setiap sudut ruangan, matanya berhenti mencari. Kilauan dari sebuah benda menyipitkan mata Adis.

“Ini kan ....” Adis kembali mengingat, otaknya terus mencari memori lama. Semoga saja masih tersimpan.

Adis tersenyum miring, lalu menatap lurus ke depan. “Siapa yang menduga? Sial, dia membuatku terkecoh.”

Drrrttt
Ponsel Adis berbunyi.
“Dengan Detektif Adis, ada yang bisa saya bantu?”

“Adis, ini saya.”

“Oh, Pimpinan Jang. Bagaimana?”

“Segera datang ke kantor pusat. Ada hal penting yang harus dirapatkan.”

“Baik, saya segera ke sana.”

***

Sejak adanya beberapa kasus yang terjadi, suasana sekolah berubah 180° menjadi begitu mencekam. Semua orang baik guru, siswa, maupun staf dan yang lainnya tidak tenang dalam melalukan kegiatan. Kepala mereka hanya berisi bayangan hitam yang mengerikan, hati gelisah seakan penuh tekanan. Para wali siswa yang mendengar berita itu pun mulai mengkhawatirkan anak-anaknya, tetapi pihak sekolah berjanji bahwa kasus ini akan segera ditangani.

“Eh, lo tuh nggak usah kecentilan sama Gilang. Gilang itu milik gue! Sekali lagi gue liat lo jalan bareng sama dia? Abis lo!” bentak Natalie sambil memicing Tiara yang kini sudah terlihat kacau, dengan rambut berantakan dan baju yang basah kuyup.

“Girls, cabut,” ajak Natalie kepada beberapa anak buahnya.

Di dalam toilet, Tiara menangis tersedu-sedu. Sebisa mungkin dia menutup mulut agar tidak terdengar dari luar. Namun sayang, tangisnya yang terisak sampai di telinga Jihan. Jihan hanya menatapnya, lalu pergi meninggalkan Tiara seorang diri. Mungkin takut jika sewaktu-waktu Natalie akan kembali.

“Lo tadi liat ‘kan, Ji? Itu tadi Natalie and the geng. Dia tuh anak donatur sekolah ini, makanya songong gitu,” papar Sesil sambil bersedekap. Rupanya dua teman Jihan menunggunya dari depan toilet.

“Pokoknya lo jangan sampe bikin perkara sama dia, okay,” sambung Sesil.

“Iya, gue aja ngeri sama dia. Natalie tuh anaknya kejam,” Oliv menimpali.

Jihan mengangguk paham. Mendengar ucapan Oliv dan Sesil, Jihan kini akan berusaha hati-hati. Sebisa mungkin untuk tidak berurusan dengan anak donatur itu.

“Dua bulan di sekolah ini, aku udah banyak tau tentang anak-anak kayak Natalie. Suka banget merundung. Apa nggak ada yang bertindak tegas sama kasus-kasus itu?”

Oliv mengangkat bahu dan menaikkan kedua alisnya. “Kepala sekolah nggak berani kali. Soalnya rata-rata perundung di sini tuh anak-anak yang berkuasa. Jadi ya mereka kayak tutup mata tutup telinga gitu.”

***

Malam hari adalah waktu yang tepat untuk beristirahat. Berhenti sejenak dari semua rutinitas. Namun tidak bagi seseorang bertudung hitam yang kini tampak begitu bahagia. Di depannya sudah ada seorang gadis, sepertinya akan menjadi mangsa yang ke sekian kalinya.

Suara burung hantu di sekitar gedung kosong membuat suasananya menjadi lebih horor. Terlebih melihat tatapan antagonis dari sosok serba hitam itu. Air mata berlinang dari kedua mata yang mulutnya sudah tersumpal oleh kaos kaki miliknya sendiri. Berulang kali mencoba berteriak, tetapi percuma saja. Hanya menghabiskan sisa tenaga yang dia punya.

“Nangis aja terus! Gue jadi makin seneng ngeliat lo yang sengsara kayak gini. Padahal biasanya gue benci banget,” bisiknya sambil memainkan pisau dan menempelkannya ke wajah gadis yang sudah terlihat pasrah.
“Iya, gue benci sama lo yang sukanya menindas orang-orang lemah. Cih! Dasar pengecut!”

DOR!!!
Sebuah peluru dilayangkan ke udara, sebagai tanda peringatan.
“Angkat tangan dan diam di tempat. Anda sudah terkepung!” pekik seorang polisi dengan menodongkan senjatanya.
“Sial! Kenapa mereka bi-bisa tau?”
Adis muncul dengan wajah penuh kemenangan, akhirnya setelah berbulan-bulan kecolongan langkah kini dirinya dapat menangkap sosok yang selalu mengganggu tidur malamnya.

***

Di kantor polisi, Adis menginterogasi pelaku yang tidak lain adalah ... Jihan. Tanpa rasa bersalah, Jihan menatap Adis dengan tenang. Membuat Adis geram dan langsung mencecar dengan beberapa pertanyaan.

“Apa motif kamu melalukan tindakan keji ini? Sebelumnya saya tidak menyangka jika kamu pelaku pembunuhan berantai ini. Bahkan kamu melakukannya dengan sangat rapi dan teliti.

“Sebelum saya menjawab, saya ingin bertanya. Bagaimana kalian bisa mengetahui kalau itu adalah saya? Dan bagaimana kalian mengetahui kalau saya ada di tempat itu?”

“Kamu ingat korban kamu sebelumnya?”

Jihan mengerutkan dahi. “Viola?”

“Iya. Viola masih hidup, dia yang memberi informasi bahwa pelaku kasus yang sulit terpecahkan itu adalah kamu. Anak baru yang masuk dua bulan yang lalu.”

“Dia masih hidup?! Sial, harusnya gadis perundung kayak dia langsung mati,” gumam Jihan.

“Dan kesaksian Viola diperkuat dengan ditemukannya gelang ini.” Adis menenteng sebuah gelang berwarna silver yang di temukan di tempat kejadian.

“Ck! Rupanya Anda detektif yang cerdik.”

“Kamu belum jawab pertanyaan saya mengenai alasan kamu melakukan pembunuhan.”
Jihan menatap Adis datar, seketika ekspresi wajahnya berubah.

“Sebelum saya pindah sekolah, saya adalah korban perundungan. Saya lemah, sangat lemah. Setiap kali mereka merundung saya, saya hanya bisa terdiam dan menangis. Namun entahlah, sejak saya pindah ke sekolah itu saya bertekad. Saya harus berubah, saya tidak boleh lemah dan selalu mengalah. Saya merubah penampilan, tetapi tetap dengan gaya bicara saya. Dan saya sangat benci dengan adanya tindakan perundungan yang ada di sekolah itu. Seakan membuka kembali memori lama, memori hitam yang membuat saya tidak berdaya. Awalnya saya tidak tau harus bagaimana, saya hanya ingin memberi pelajaran kepada mereka. Namun dorongan untuk membunuh sangat kuat, hingga saya benar-benar melalukannya. Satu, dua, hingga tiga korban mulai berjatuhan,” papar Jihan dengan tatapan yang kosong, seakan tidak sadar dengan apa yang sedang dia katakan.

Adis menatap Jihan lekat-lekat, mengamati bagaimana Jihan menjawab setiap pertanyaannya. Di samping Adis sudah ada Iren, seorang psikiater.

Usai menginterogasi Jihan, Adis dan Iren keluar dari ruangan. Membiarkan Jihan duduk menyendiri, merenungi apa yang telah dia perbuat.

“Dari yang saya tangkap tadi, dia sepertinya memiliki alter ego,” ujar Iren.

“Alter ego?”

“Iya, jadi alter ego itu kepribadian dia yang lain. Kepribadian itu hanya akan muncul di saat dia merasa tertekan. Nah, rasa tertekan itu bisa saja dia rasakan ketika sedang melihat tindakan perundungan.”

“Maksud kamu dia trauma dengan kejadian yang dia alami di sekolah sebelumnya?” tanya Adis.

“Iya. Dia trauma berat. Karena dari cara dia berbicara, dia sepertinya sangat dendam dengan para korbannya. Saya yakin sebelumnya dia adalah anak yang pendiam dan tidak berani untuk membela diri, akhirnya rasa itu dia luapkan dengan melakukan perbuatan yang keji.”

Adis mengangguk paham. “Tapi ada yang aneh. Yang saya tau, alter ego itu dapat mengendalikan diri, sedangkan Jihan tidak. Dia berambisi untuk menghabisi korban-korbannya.”

“Kepribadian ganda, atau ....” ucapan Iren menggantung, lalu ....
“Psikopat?”

***

Hari ini adalah sidang untuk kasus Jihan. Entah hukuman apa yang akan diberikan kepadanya. Namun, sudah dapat dipastikan, sebelum berdiam diri di sel tahanan, Jihan harus mendapat konseling terlebih dahulu untuk mengembalikan karakter baik yang dikuasai oleh sisi antagonisnya.


TAMAT

Posting Komentar untuk "Mystery in High School"

www.jaringanpenulis.com