Hadiah yang Sangat Dirindukan - Cerpen - Dyah Eka Kurniawati



           Mungkin tak ada kata yang lebih fantastis lagi untuk menggambarkan sosok teman satu klub latihanku itu. Belum puas menjuarai kejuaraan di turnamen nasional yang menurutku sudah sangat membanggakan, dia merambah ke level internasional lagi. Baginya, tiada kata lelah untuk selau menjadi yang terdepan.

            “Kenapa masih disini?.” tanyaku melihatnya di bawah naungan gerimis kecil yang masih awet menjatuhkan tetesan kristal kecil dari langit.

            “Aku masih nunggu seseorang, Ky..”

            Aku celingukan sedari tadi. Mungkin saja ketemu orang yang masih setia ditunggu oleh Yuning. Dia pun terlihat cemas sembari melihat jam tangan kecilnya yang jarumnya semakin melangkah jauh. Penantian yang membosankan.

            “Apa yang terjadi sama lutut kamu tadi??” tanyaku yang sempat kaget waktu melihat Yuning meringis kesakitan tadi sebelum tim medis datang ke arena lapangannya.

            “Nyerinya kerasa lagi, Ky.” ucap Yuning dengan nada sedih. Bagaimana tidak, dia memaksa untuk main sampai set selesai di atas ketidakmungkinan lagi lututnya bisa bergerak maksimal.

            Ini bagaikan sebuah mimpi buruk yang kami rasakan kalau ada kesakitan yang menggangu salah satu organ gerak kami, termasuk halnya lutut.

            “Harusnya kamu udah berhenti aja, nggak usah dipaksakan. Bukannya Coach Hendra nggak pernah memaksa kamu untuk terus bertahan kalau kamu sakit ya??”

            “Aku hanya mau bertanding maksimal, dan nggak mau sampai mengecewakan kalau seseorang yang ku tunggu datang.”

            “Tapi buktinya, dia datang nggak???”

            Yuning mengeleng lesu. Aku pun juga tak faham sebegitu spesialnya-kah orang yang dinantikan oleh Yuning sehingga ia mengabaikan sakit yang tengah mendera lututnya??? Kalau itu pacar, aku rasa bukan. Ibu?? Setahuku ibunya sudah meninggal. Lalu, siapa??

            Yuning mengeluarkan buku tebalnya sambil mencoret-coret sesuatu. Tanpa ia bicarakan, pahamlah aku apa yang anak itu kerjakan dengan keasyikannya. Tentu sebuah buku TOEFL serta soal-soal seabrek yang menurutku amat membingungkan.

            **

            Gadis itu tak pernah mengeluh dengan kesendiriannya setelah ibunya meninggal. Tiada juga saudaranya yang kerap kali datang ke klub kami saat latihan sedang libur. Dia anak tunggal. Tidak pernah pula ku lihat dia menangisi keadannya yang membuatku ngilu dengan cederanya.

            “Gimana perkembangan lutut kamu, Ning??”

            “Cairan di ligamenku berkurang, dan itu buat gerakan di lututku terasa ngilu kalau buat latihan.”

            “Terus, terapi??”

            “Nggak akan bisa maksimal, Ky. Terapi hanya mengurangi sakit untuk sementara.”

            “Orangtua kamu tahu soal ini?? Maksud aku, ayah kamu..”

            “Dalam prinsip hidupku, aku nggak mau dan nggak akan berbagi kesedihan sama oranglain. Kalau aku sakit, aku harus tanggung sendiri. Aku baru akan mengabari ayahku kalau aku dapat berita gembira.”

            “Terus kalau ayah kamu datang, apa hadiah yang kamu minta??”

            “Aku mau ayahku selalu ada di sampingku selamanya. Aku kangen ayah yang dulu. Ayah yang selalu ada menyemangati aku sama seeprti waktu ibu masih hidup.”

            Ayah Yuning mengalami perubahan besar saat ibunya tiada. Aku pun tak tau karena hal apa. Mungkin ini sangat bersifat pribadi. Bahkan yang lebih mengejutkan, Yuning pun tak pernah tahu kenapa sebab ayahnya seakan berubah total.

            Gadis itu tak menginginkan apa-apa, bukan hadiah mahal seperti mobil mewah, emas berlian, voucher jalan-jalan ke Eropa, atau yang lain, padahal setahuku, tak perlu pikir dua kali bagi ayahnya untuk menyanggupi semua hadiah yang Yuning inginkan.

            “Kita senasib, Ning. Bukan hanya kamu saja yang rindu sama ayah kamu..”

            “Bukannya orangtua kamu masih lengkap, Ky??”

            “Ya, itu dulu sebelum kecelakaan itu terjadi.” ucapku tak menyelesaikan cerita akhirnya.

            **

            Untuk belajar saja pun dia tak pernah lelah. Lelahnya latihan yang menguras tenaga tak pernah ia hiraukan. Tangan kecilnya selau saja bergerilya pada buku tebal dengan soal rumit yang selalu jadi penyemangatnya.

            “Mungkin ini akan jadi pertandingan terakhirku, Ky..” ucapnya dengan nada sendu.

            “Mau kemana, Ning?? Kenapa bilangnya pertandingan terakhir??”

            “Ke Singapura..”

            Kalau dia  bilang ke Singapura untuk operasi lututnya, aku percaya karena itu rekomendasi dari pelatih kami. Tapi kalau Yuning sampai bilang pertandingan terakhir? Itu yang menurutku kurang masuk akal.

            “Maksudnya kamu mau pensiun dini??”

            “Aku harus fokus pilih salah satu.”

            “Tentang??”

            “Nanti akan aku bicarakan kabar bahagia ini dengan ayahku.”

            Dia pergi dengan langkah girang. Gadis yang aneh. Melihatnya dengan ekspresi berseri seharusnya turut mendukung aku untuk merasa bahagia, tapi yang ada di kepalaku malah segerombol pertanyaan yang siap menyerang seakan bisa meledak sperti bom molotov.

            **

            Belum datang juga orang yang Yuning tunggu. Gadis itu memberikan ucapan selamat padaku seraya mengulurkan tangan. Ini pertama kali aku merasakan podium tertinggi meski hanya sebatas level sirnas.

            “Kenapa ayahku belum datang juga??”

            “Memang kamu tak coba menghubunginya???”

            “Sudah, tapi hapenya tidak pernah aktif sama sekali.” dengusnya bernada kesal. Waktu HP Yuning menyala, tak sengaja ku lihat foto seorang lelaki gagah dengan jas hitamnya. Foto itu seakan menjadi yang spesial karena dipasang jadi wallpaper.

            “Aku mau memberi kabar ayah kalau aku lulus beasiswa kedokteran di Singapura, Ky. Jadi, setelah aku operasi lutut nanti, aku bisa kuliah dengan tenang.” Yuning membeberkan rahasianya padaku sebagai orang pertama yang ia ceritakan.

            Deg. Jantungku menyeruak keras. Melihat foto lelaki itu mengingatkan aku akan sebuah foto menyakitkan bagiku. Mungkin kalau aku ceritakan secara langsung pada Yuning, dia juga tak kalah shock.

            Kenapa ibu tega secepat itu menemukan pengganti ayah, saat ayah sedang membutuhkan banyak doa dan dukungan agar ia cepat sadar dari komanya??

            Yuning, aku memang teman baikmu, tapi aku tak tahu apa reaksimu begitu tahu kalau aku sudah merangkap menjadi saudara tirimu juga... Jakarta Pusat @dyekania

Posting Komentar untuk " Hadiah yang Sangat Dirindukan - Cerpen - Dyah Eka Kurniawati"

www.jaringanpenulis.com