Sandal Butut - Cerpen - Umi Fadilah

 Penulis: Umi Fadilah Editor : Endik Koeswoyo






            Setan! Sandalku ilang meneh!” teriak Bagus sambil menahan emosinya yang tampak tak tertahan.
“Astagfirullah, nyebut, Gus!” titah Mufidz, teman Bagus.
Napas Bagus naik turun, tampak jelas jika saat ini wajahnya dipenuhi amarah.
“Sandalmu hilang lagi, Gus?” tanya Zidan, teman seperantauan Bagus dan Mufidz. Berbeda dengan Bagus dan Mufidz yang berasal dari Jawa, Zidan berasal dari Jakarta.
            Mereka bertiga merupakan teman satu kontrakan yang tengah beradu nasib di Bandung, tepatnya sebagai pelayan di sebuah cafe.
“Ora umum! Wulan puasa ngene kok esih seneng nyolong, to!” pekik Bagus.
“Yaelah, cuma sandal butut aja kok, Gus. Bisa beli lagi, ‘kan?” Dengan mudahnya Zidan berkata.
“Nah, itu yang aku bingung, Dan. Kok malingnya lebih suka ngambil sandal bututku daripada sandal mahalmu yang harganya bisa buat beli dua kaos,” ucap Bagus dengan nada yang masih tidak terima.
“Yo wes, Gus. Pake sandalku aja, ini.” Mufidz melepas sandalnya dan memberikannya kepada Bagus.
“Nggak, Fidz. Aku nyeker aja.”
“Ya udah ayo, pulang!”
“Kamu nggak mau minjemin sandalmu kayak Mufidz, Dan?”
“Oh, bilang aja kalo kamu maunya pakek sandal yang mahal, Gus.” Zidan melipat kedua tangannya di dada.
        Mendengar kalimat tersebut, Bagus dan Mufidz terbahak.

**

            Good Cafe, tempat Mufidz, Zidan, dan Bagus bekerja. Sebuah cafe yang terbilang aesthetic dan Instagramable, menjadi tempat pilihan yang sering digunakan untuk nongkrong para generasi milenial.
“Hari ini kamu semangat banget Gus, kerjanya. Buat beli sandal baru, ya?” Zidan terbahak.
“Wehhh! semprul tenan.” Bagus mendelik, memukul lengan Zidan dengan lap meja yang tengah dia pegang.
“Bercanda kali, Gus,” Zidan kembali tertawa.
“Tapi kamu udah punya sandal baru, ‘kan, Gus?”
“Udah, tadi aku beli di warungnya Teh Uut,” jawab Bagus.
“Nah, nanti kamu naro sandalnya jangan di tempat biasa, Gus. Kamu pindah tempat, gitu.”
Ada benernya juga nih kata Si Semprul Zidan.
“Hmmm. Kerja sana! Nanti dipecat bos baru tau rasa, kamu. Nggak bisa beli sandal lagi malah,” goda Bagus.
“Iya, iya,” jawab Zidan dengan sewot.

            Hari sudah mulai gelap, tetapi pengunjung masih ramai. Meskipun begitu, Mufidz, Zidan, dan Bagus tetap memutuskan untuk pulang. Seperti kesepakatan di antara mereka dan bosnya sebelumnya, mereka bertiga hanya bekerja sampai pukul 17.30 saja.
            Di dalam kontrakan, mereka tengah bersiap untuk berbuka puasa. Tidak ada kolak ataupun sirop, mereka berbuka dengan lauk seadanya, yaitu kering tempe dan kerupuk. Mengingat di Bandung mereka bekerja, bukannya bertamasya.
            Selesai berbuka puasa dan melaksanakan Shalat Magrib, mereka bertiga sudah siap untuk berangkat ke masjid, melaksanakan Shalat Isya dan tarawih berjamaah.
“Semoga aja kali ini sandalku nggak hilang lagi,” ucap Bagus sambil mengelus sandalnya sebelum dia kenakan.
“Bismillahirrohmanirrohim.”

**

            “Jangkrik tenan! Sandalku ilang meneh!” teriak Bagus. Entah karena kebetulan atau tidak, tapi lagi-lagi sandal Bagus yang hilang.
“Ilang meneh to, Gus?” Mufidz menepuk bahu Bagus.
“Waduh! Langganan ya, Gus?” Zidan tertawa mengejek.
            Bagus menghela napas pasrah. Bingung, apa yang harus dia lakukan agar sandalnya tidak menjadi sasaran pencuri sandal lagi.
“Assalamu’alaikum.” Seorang Ustadz menghampiri mereka bertiga.
“Wa’alaikumussalam, Tadz,” jawab ketiganya kompak.
“Ini ada apa rame-rame? Keliatannya ada masalah,” Ustadz menebak, dan tebakannya sangat tepat.
“Gini Ustadz, temen saya, Bagus udah empat kali kehilangan sandal di sini. Padahal sandalnya biasa-biasa aja, tapi pencurinya demen banget ngambil sandalnya,” Zidan menjelaskan.
            Ustadz tersenyum, membuat Zidan, Mufidz, dan Bagus keheranan.
“Kok Ustadz senyum-senyum?” Bagus menaikkan satu alisnya, bingung.
“Ikhlasin aja, yakin kalo Allah Swt. bakalan ganti sandal yang hilang tadi sama sandal yang lebih bagus,” ucap Ustadz dengan tersenyum.
“Tapi masalahnya ini udah keempat kalinya, Ustadz,” lirih Bagus. Mungkin sudah tidak dapat meluapkan emosinya, karena sudah terlanjur pasrah.
“Gini, emang kalo Nak Bagus marah-marah sandalnya bakalan balik lagi?”
“Enggak sih, Tadz.” Bagus memberi jeda, “ya udah deh gimana lagi, bener kata Ustadz, kalaupun aku marah-marah sandalku juga nggak bakalan balik.” Bagus hanya bisa menghela napas.
            Ustadz tersenyum simpul, menepuk bahu Bagus dan berlalu kemudian.

**

            “Sahuuur ...!” teriak segerombolan warga membangunkan sahur.
“Gus, nanti kamu berangkat Shalat Subuh berjamaah, nggak?” tanya Mufidz sambil mengambil nasi.
“Berangkat, lah! Pertanyaanmu kok aneh tenan.”
“Ya kirain kamu trauma gara-gara sandalmu hilang setiap hari,” sahut Zidan sambil terkikik.
“Semalem beli sandal di warung Teh Uut lagi?” Mufidz kembali bertanya.
“Iya,” jawab Bagus sambil memasukkan nasi ke dalam mulutnya.

**

            Waktu Shalat Subuh tiba, Bagus, Zidan, dan Mufidz bersiap untuk pergi ke masjid. Mufidz dan Zidan berangkat lebih dulu, meninggalkan Bagus yang masih mengenakan sarung.
Bagus berjalan seorang diri, di tengah perjalanan menuju masjid, matanya menangkap seorang kakek. Melihat seorang kakek mengalami masalah, Bagus menghampirinya.
“Ada yang bisa saya bantu, Kek?” tanya Bagus ramah.
“Sandal Kakek putus,” jawab Kakek sambil terus memperbaiki sandalnya, meskipun tampaknya sia-sia.
Waduh, kasian juga. Tapi kalo aku kasih sandalnya sama aja aku kehilangan sandal lagi, dong. Eh, tapi daripada sandalnya hilang dicuri, mending buat nolong orang aja, in syaa Allah dapet pahala.
“Ya udah Kek, pakek sandal saya aja.” Bagus menyerahkan sandalnya.
“Lho, nanti kamu pakek apa?”
“Saya gampang, Kek. Ini ....”

**

            “Hilang lagi, Gus?”
“Nggak, Fidz.”
“Terus?”
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam, eh Kakek,” sapa Bagus ramah.
            Mufidz dan Zidan saling menatap. Keduanya bertanya-tanya, mengapa Bagus bisa mengenal kakek itu? Dan siapa lelaki di sampingnya? Jika dilihat, penampilan sangat berwibawa. Sepertinya bukan orang biasa.
“Kamu yang nolongin Kakek tadi, ya?”
“Iya, Bapak ini siapa, ya?”
“Saya anak dari Kakek yang kamu tolong.”
Sontak Bagus terkejut. Zidan dan Mufidz yang tidak tahu apa-apa hanya terdiam, kebingungan.
“Sebagai gantinya, Saya akan memberikan sandal ini untuk kamu.” Seorang Bapak memberikan sepasang sandal kepada Bagus.
“Nggak usah, Pak. Saya ikhlas, kok.” Bagus berusaha menolak sandal pemberian lelaki paruh baya itu.
“Wihhh! itu ‘kan sandal yang mahal, Gus. Sepasang sandal itu bisa buat gantiin sandal butut kamu yang hilang, Gus. Bahkan bukan hanya empat pasang, tapi puluhan.”
“Ayo, Nak diterima!”
“Ta-tapi, Pak....”
“Itu rezeki kamu, Gus. Allah udah mengganti sandal-sandal kamu yang hilang, bahkan diganti dengan yang jauh lebih baik,” tiba-tiba dari arah pintu Ustadz menyela, turut berbicara.
“Berarti boleh saya terima, Ustadz? Tapi nanti saya jadi nggak ikhlas dong, Ustadz?”
“Tapi saya juga ikhlas ngasih ini buat kamu, Nak.” Bapak itu kembali menyerahkan sandal tersebut kepada Bagus.
            Bagus menatap Ustadz, Ustadz membalasnya dengan mengangguk dan tersenyum.
“Alhamdulillah, berkah Ramadhan. Terima kasih banyak, Pak,” dengan senang hati Bagus menerima sandal tersebut.
“Tau gini sih mending sandalku aja yang hilang,” ucap Zidan, membuat semua orang yang mendengar pun tertawa. (Banjarnegara - @umifaa2 )

Posting Komentar untuk "Sandal Butut - Cerpen - Umi Fadilah"

www.jaringanpenulis.com