Siomay Cinta Si Umay

 Penulis: Resty Rachma


 

CERPEN -- Hari masih pagi, tetapi Umay sudah tertunduk lesu di samping gerobak siomay miliknya. Sesekali dia mengusap wajahnya dengan handuk kecil yang melingkar di leher.

            “Bang siomay satu,” ucap seorang lelaki berpostur tinggi, dari penampilannya terlihat jika dia pegawai kantoran. Mengenakan kemeja berwarna biru muda lengkap dengan dasi serta celana kain warna navy, di saku kirinya menggantung sebuah name tag.

            Lelaki itu mendekati Umay yang tak bereaksi ketika dirinya datang. “Bang saya mau beli siomay,” ujar lelaki itu, sembari menepuk pundak Umay.

            Umay yang terkejut kemudian mendongak, melihat siapa yang datang.

            “Reno ....” perlahan Umay bangkit dari tempat duduknya.

            “Umay ....”

            Kedua lelaki itu saling berpelukan.

            “Apa kabar kamu Reno? Dua bulan tidak bertemu, kamu sudah berbeda,” jelas Umay, dia terkesima melihat penampilan Reno saat ini. Sahabat yang biasa tampil ala kadarnya dengan rambut gondrong, kini berubah total menjadi lelaki tampan yang berkharisma.

            Reno tersenyum lebar. “Seperti yang kamu lihat aku baik. Kamu sendiri gimana? 

           Mendengar pertanyaan dari Reno, mendadak senyum di wajah Umay memudar. Raut wajahnya menunjukkan kesedihan. Bukan tak suka melihat sahabatnya yang sekarang, tetapi ada satu beban yang ia pendam jauh di lubuk hatinya.

****

            Dua bulan lalu

            Hari Sabtu di bulan Februari akan menjadi sejarah bagi Umay, dirinya yang lahir dari keluarga dengan ekonomi menengah ke bawah berhasil membanggakan kedua orang tuanya karena menjadi lulusan terbaik di kampusnya. Umay juga berkesempatan untuk menitih karir di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pangan.

            Berbekal kepintaran yang dimilikinya Umay berhasil mendapat beasiswa S1. Namun, satu hari setelah wisuda, tepatnya ketika Umay hendak berangkat ke Surabaya untuk melanjutkan karirnya sesuatu yang buruk terjadi. Ayahnya-Burhan terpeleset di kamar mandi hingga membuat separuh tubuhnya lumpuh.

            Umay beserta ibu dan adiknya langsung membawa Burhan ke rumah sakit. Setelah melakukan pemeriksaan Burhan didiagnosis terserang stroke. Umay pun mengurungkan niatnya untuk berangkat ke Surabaya.

            “Kamu yakin dengan pilihanmu untuk tetap di Bandung? Bukannya bekerja di Surabaya adalah impianmu, Nak?” tanya Sarah pada putranya.

            Umay mengangguk. “Umay yakin, Bu. Tidak mungkin Umay meninggalkan Bapak, Ibu dan Leni dalam keadaan seperti ini.”

            Sarah mengusap punggung putranya. “Terima kasih ya, Nak.”

            Setelah mengurus admisistrasi rumah sakit, Umay menemui Laras-kekasihnya di sebuah taman. Menceritakan apa yang terjadi hingga membuatnya tak jadi berangkat ke Surabaya.

            “Apa ... kamu enggak jadi ambil kerjaan di Bali?” Laras mencecar Umay dengan pertanyaan yang menyudutkan.

            Umay menggeleng pelan.

            Laras pun beranjak dari duduknya. “Mas Umay, kalau kamu enggak jadi berangkat ke Surabaya terus nasib hubungan kita gimana? Katanya kamu mau menikahi aku, kalau kamu enggak kerja terus gimana caranya kamu menikahi aku?”

            “Laras, aku akan tetap bekerja. Aku akan mencari pekerjaan di sini.”

            “Kamu pikir cari pekerjaan gampang apa?” Nada bicara Laras meninggi.

            Umay menghela nafas perlahan. “Aku tahu tidak mudah, tapi aku akan berusaha.”

            “Udahlah Mas, lebih baik kita akhiri saja hubungan ini. Mulai sekarang kita putus,” tegas Laras, tanpa basa-basi wanita berparas cantik itu pergi meninggalkan Umay.

            Ada rasa kecewa dalam benak Umay, di saat dirinya membutuhkan dukungan justru Laras memilih untuk mengakhiri hubungan. Semua yang telah Umay rencanakan hancur berantakan, hingga dia tak tau harus bagaimana. Bingung, kesal, lelah, jenuh, semua perasaan itu melebur jadi satu.

****

            Reno mendengar semua cerita yang Umay sampaikan, seraya menyantap siomay buatan sahabatnya.

            “Umay, semua yang terjadi dalam hidup ini pasti ada hikmahnya. Dengan kamu melanjutkan usaha siomay keluargamu, kamu jadi bisa bekerja dan merawat ayahmu.” Reno berusaha menanggapi permasalahan Umay dengan bijak.

            “Iya sih No, tapi ya ... semua terasa berat. Apalagi Laras juga meninggalkan aku.” Keluh Umay, dia merasa lega karena bisa mengungkapkan segala beban di hatinya. Sudah lama dia menyimpan luka itu sendiri, dia tidak mau bercerita pada ibu atau adiknya karen tak ingin menjadi beban.

            “Kalau untuk Laras, kamu harus bersyukur akhirnya kamu tahu siapa Laras sebenarnya. Dia hanya bisa menerima keberhasilanmu tanpa mau menemani kamu di saat kamu berada di titik terendah. Kamu harusnya bahagia karena dijauhkan dari manusia seperti Laras,” ujar Reno sembari merapikan sendok dan garpu di atas piring.

            “Makasih ya, No. Sudah mendengarkan ceritaku.”

            “Sama-sama.”

          “Tapi, ngomong-ngomong. Kamu enggak kerja ? Kok malah ngobrol di sini ?” tanya Umay heran.

            Reno menyeringai. “Santai lah May, kamu kan tahu aku itu enggak pengin jadi karyawan. Impianku ya jadi wirausaha kayak kamu, punya usaha sendiri.”

            “Ya, aku tahu. Tapi, untuk saat ini kamu jalani saja seiring berjalannya waktu saat uangmu terkumpul kamu bisa buka usaha sendiri,” jawab Umay berusaha memberi saran.

            “Apa yang kamu bilang betul. Ya ... sudah May, aku balik kerja dulu. Ingat May harus tetap semangat, kembangkan usahamu. Buktikan kalau jalan yang kamu pilih ini adalah jalan terbaik yang mengantarkanmu menuju kesuksesan. Jangan biarkan orang-orang seenaknya meremehkanmu,” jelas Reno sambil menepuk pundak Umay.

****

            Pertemuan tak sengaja dengan Reno, membuat api semangat dalam dada Umay membara. Umay yakin Reno adalah orang yang dikirim Tuhan untuk memberinya energi positif. Lelaki berumur 23 tahun itu, mulai fokus merintis usaha peninggalan orang tuanya.

            Di bantu Leni, Umay mulai berinovasi dengan membuat siomay cinta. Leni yang duduk di bangku SMA mempromosikan siomay cinta buatan Umay pada teman-temannya. Perlahan inovasi yang dilakukan Umay dan Leni mendapat sambutan positif dari masyarakat terutama kalangan anak muda, karena rasanya enak dan harganya terjangkau. Selain itu bentuknya unik, Umay sengaja membentuk isian siomay dengan bentuk lovesebagai lambang cinta, hal tersebut memberikan daya tarik tersendiri bagi penggemar siomay.

            Umay pun terus maju, tak peduli orang-orang menyayangkan jalan yang dia pilih. Mereka menganggap seorang Umay yang mendapat predikat sebagai lulusan terbaik seharusnya bekerja di sebuah perusahaan besar dengan jabatan tinggi bukan berjualan siomay. Umay tutup telinga untuk masalah itu, biarlah orang berkata apa mereka berbicara seperti itu karena tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

            Harus Umay akui, menjadi seorang wirausaha dituntut untuk lebih sabar apalagi ketika penjualan sedang turun sedang kebutuhan semakin meningkat. Namun, Umay tak patah semangat. Dia tetap konsisten berpetualang di jalan yang telah dipilihnya. Hingga lelaki itu mampu membuka cabang gerai siomay di beberapa tempat.

            “Selamat ya, Nak ....” ucap Sarah pada Umay, ketika putranya berhasil meresmikan gerai ke-lima untuk siomay cinta.

            “Terimakasih, Bu ... ini juga berkat doa Ibu ....” Umay mencium punggung tangan Ibunya.

****

            Waktu berputar begitu cepat, rasanya baru saja Umay masuk ke dalam kantor kini hari telah menjelang sore, Umay berada di dalam mobil bersama Leni dan Sarah berjibaku dengan kemacetan. Biasa, di jam-jam pulang kantor pasti kemacetan ada di mana-mana.

            Tiga puluh menit berlalu, mereka tiba di sebuah pemakaman umum. Umay bersama Sarah dan Leni menelusuri jalan setapak dan beberapa kali lewat di antara makam-makam yang berdampingan. Sampai mereka tiba di sebuah makam dengan nisan bertuliskan “Burhan Bin Baharuddin” Umay mengusap batu nisan berwarna hitam itu, sedangkan Sarah dan Leni membersihkan lingkungan sekitar makam.

            Burhan tak lagi merasakan sakit, pahlawan dalam keluarga Umay itu kini telah tenang di pangkuan Sang Khaliq. Setelah membersihkan makam Umay, Sarah dan Leni memanjatkan doa untuk mendiang Burhan.

            Umay sadar, ada begitu banyak hikmah yang dia ambil setelah beberapa hal yang dia inginkan lenyap begitu saja. Satu bulan setelah dia memutuskan untuk meneruskan bisnis keluarganya, Burhan menghembuskan nafas terakhirnya.

            “Nak, lanjutkan usaha Bapak.” Begitulah kiranya pesan yang disampaikan Burhan pada Umay di saat-saat terakhir, sebelum kalimat syahadat mengantar kepergiannya.

            Kini harapan Burhan telah menjadi nyata. Umay telah mewujudkannya, bahkan kini putranya telah memiliki dua puluh karyawan. Sungguh hal yang tak pernah Umay bayangkan sebelumnya. Umay mengingat kembali nasihat yang disampaikan Reno, bahwa segala hal yang terjadi pasti ada hikmahnya dan kini Umay menyadari itu. Dia telah memetik pelajaran berharga dari kehidupannya, tentang sabar dan ikhlas. Sabar menghadapi kenyataan dan ikhlas menerima keadaan.

Posting Komentar untuk "Siomay Cinta Si Umay"

www.jaringanpenulis.com