Rumput, Pak, dan Tri

 


Angin semilir membelai lembut aku, bergoyang-goyang diiringi suara garengpung yang nyaring, aduhai perasaanku. Langit biru nampak indah dilukis oleh mega-mega, cahaya memaksa masuk melalui celah-celah dedaunan dan ranting pohong yang menaungiku. Anginnya makin kencang, mari bergoyang lebih liar, lihat, teman-temanku juga sedang bergoyang, gemulai sekali.

            Burung-burung gereja bercuit, mereka sedang lompat-lompat di atas ranting pohon teduh yang ikut bergoyang. Aku juga ingin lompat-lompat, tapi tidak bisa, kaki-kakiku sedang sibuk merambat dan menghujam, mencari sari-sari makanan di dalam tanah agar aku tetap hidup.

            “Pak, pohon itu teduh,” ucap seorang anak kecil sambil menunjuk pohon yang menaungiku.

            “Ya sudah, kita piknik di sana saja,” balas Pak sambil berjalan mendekat bersama putrinya. “Pak hari ini buat donat gula-gula kesukaanmu.” Pak mulai menggelar tikar. Aduh, aku kena, aku tertutup oleh tikar. Mampus! Aku ambekan bagaimana ini?

            Astaga! Aku dan teman-temanku digencet, sakit woi! Pak dan putrinya duduk di atas tikar. Kawanku yang senasib hanya bisa diam, kami hanya bisa diam sambil kesulitan bernapas, tapi untung kami masih hidup.

            “Pak, donatnya enak. Tri suka, Pak.” Tri makan sambil mengangguk-angguk.

            “Pak mau cerita pada Tri. Apa Tri mau dengar sambil makan?” tanya Pak setelah menutup keranjang pikniknya.

            “Apa, Pak? Tri mau dengar.” Ia menghentak-hentakkan kakinya. Tri! Waduh, bisa modar kawanku.

            “Suatu hari, ada seorang anak laki-laki bernama Jon, setiap harinya ia tidak pernah tersenyum. Ia hidup sendirian di tengah hutan, Jon bersahabat muram dengan hewan dan tumbuhan. Meski memiliki sahabat, Jon tidak pernah bahagia, karena ia harus memakan sahabat-sahabatnya untuk tetap bertahan hidup, Jon harus melihat tiap hari sahabatnya memakan satu sama lain juga, demi bertahan hidup. Jon begitu sedih.” Pak mengamati ekspresi Tri yang nampak penasaran dengan kelanjutan cerita darinya, bahkan Tri berhenti memakan donatnya yang masih separuh.

            “Pak, kasihan Jon, kasihan sahabat-sahabatnya.” Dahi Tri berkerut.

”Jon yang selalu bersedih itu tiap kali sebelum memakan sahabat-sahabatnya yang telah ia masak, Jon selalu berdoa untuk kebahagiaan mereka yang telah kehilangan hidupnya karena ia makan, Jon berterima kasih atas keberadaan mereka di dunia ini, tetapi meski begitu Jon tetap bersedih karena harus memakan sahabatnya untuk tetap bertahan hidup.”

            “Jon baik sekali, Pak. Ia mau mendoakan dan berterima kasih kepada sahabatnya. Tapi, Jon kejam, Pak, ia makan sahabatnya, sahabatnya juga kejam, mereka saling makan.” Anak kecil itu nampak sebal.

            “Kan Pak sudah bilang, demi bertahan hidup, tapi bukankah Jon itu baik hati? Sahabat-sahabat Jon juga baik hati meski saling makan.” Pak mengambil donat di tangan Tri yang tak kunjung dimakan, ia memakan donat separuh itu.

            “Baik dari mananya, Pak? Tri merasa tidak ada baiknya dengan cerita Pak.” Tri mengelap mulutnya yang terdapat sisa-sisa gula.

            “Lalu kalau tidak ada baiknya kenapa Tri makan donat yang Pak buat?” tanya Pak setelah menelan donatnya.

            “Kan itu donat Pak,” protesnya.

            “Donat itu tidak langsung jadi, Tri. Tepung donat dibuat dari gandum, singkong, ataupun jagung, gula dibuat dari sagu, telur untuk campuran adonan berasal dari benih anak ayam. Kamu juga makan sahabat tuh.” Pak menaikkan sebelah alis.

            Tri seketika memandangi donat yang ia pegang, matanya mulai berkaca-kaca, tangis pun pecah dan terdengar nyaring. “Pak, aku enggak mau donat lagi.” Sedihnya. Ia menaruh donat, lalu memukul-mukul Pak yang berada di sampingnya. “Pak JAHAT!” pekiknya.

            “Tri sedih, kan?” Pak bertanya tanpa menghentikan pukulan Tri yang tidak terasa sakit.

            “Iya, Pak. Tri makan sahabat tumbuhan dan calon anak ayam,”  balas Tri melankolis

            “Tri juga senang, kan? Rasanya enak, kan?” tanya Pak.

            “Iya juga, Pak.” Ia masih menangis sambil kebingungan.

            “Tidak masalah, Tri telah belajar dari Jon tentang kehidupan. Kehidupan saling memakan untuk tetap bertahan hidup, kalau tidak makan, Tri, Jon, dan sahabat-sahabat Jon akan kelaparan dan mati, tidak bernapas, tidak bergerak. Jon, sahabat tumbuhan, dan hewan saling memakan untuk saling menghidupi.” Pak mengambil donat gula-gula yang tadi diletakkan Tri. “Ini, makan.”

            Tri memandang donat itu, antara ingin memakan dan tidak. “Tri boleh makan?”

            Suara garengpung menjawab nyaring, sepertinya ia juga ingin donat. Pak mengangguk. “Boleh, tapi sebelum Tri makan donat ini, Tri harus berdoa untuk sahabat tumbuhan dan calon anak ayam yang telah merelakan kehidupannya untuk menghidupi Tri. Tri juga harus berdoa untuk sahabat tumbuhan dan hewan yang masih hidup agar mereka sehat dan bisa saling menghidupi dan kita dapat hidup darinya. Tak hanya ambil enak-nya saja, kita juga harus merawat dan menyayangi mereka.” Pak memberikan donat ke tangan Tri. “Ayo berdoa dulu.”

            “Tri harus meminta kepada siapa, Pak? Jon selalu berdoa kepada siapa?” tanya Tri sambil memandangi donat yang menggiurkan.

            “Kepada Tuhan yang telah menciptakan sahabat tumbuhan, hewan, dan juga yang telah menciptakan kita.” Pak memandangi putrinya yang lucu.

            Tri menengadahkan tangannya tinggi-tinggi ke langit untuk berdoa. “Tuhan, terima kasih sudah memberi hidup kepada sahabat tumbuhan dan hewan, terima kasih telah membuat Tri hidup. Tri akan menyayangi tumbuhan dan hewan agar mereka mau dengan rela menghidupi Tri dan Pak, Tri juga akan menghidupi mereka, merawat dengan sayang, dan mendoakan mereka.”

            “Nah, dimakan donatnya.” Pak pun tersenyum.

            Tunggu, aku masih di sini Pak! Tri! Aku juga ingin hidup, buru-burulah kalian pergi dari sini, kami tidak bisa bergoyang-goyang dan bernapas dengan lega. Haduh, setelah ini pasti daunku jadi lembek, dansa dengan iringan yang, bergoyang, bergoyang, yang, harus ditunda sementara.

            “Pak, apa yang Tri tidak boleh makan? Kan semua sahabat tumbuhan dan hewan adalah sahabat Tri.” Anak ini memang pintar.

            “Tri sudah dapat pelajaran agama di sekolah, bukan? Tri masih ingat perihal haram dan halal?” tanya Pak mencoba mengingatkan.

            “Oiya, sudah Pak, ada yang haram dan halal.” Tri nampak semangat. “Tri bisa bedakan, Pak.”

            “Bagus! Lalu, sekarang bagaimana pendapat Tri tentang Jon dan sahabatnya?”

            “Mereka bersedih adalah suatu kebaikan, Pak. Jon dan sahabatnya baik, mereka saling menghidupi. Jon kasihan, ia menebus hidupnya dengan ketidak bahagiaan hanya demi bertahan hidup.” Tri, anak berusia tiga belas tahun itu masih terlihat bersedih untuk pengorbanan tubuhan dan calon kehidupan yang ada di donatnya.  

            Hellow, aku masih di sini, di bawah tikar, aku bersama kawan-kawan rumput hanya bisa diam mendengarkan percakapan Pak dan Tri, ya itu yang bisa kami lakukan, diam. Namun, benar juga, aku hidup tidak hanya untuk bergoyang, aku ingin apa, ya? Sebentar, aku masih berpikir tentang keinginanku. Haduh, tapi nanti sore jangan-jangan hidupku berakhir dimakan kambing yang digembala oleh Pak Nasir. Plis Tuhan, jangan dulu, aku masih ingin menikmati kehidupan.

            “Bertahan hidup itu untuk apa, Pak?” Tri membuat Pak terdiam.

            Kelopak mata Pak berkedip-kedip sambil memandang liar sekitar, ia juga tidak sengaja memandang kawanku yang tidak tertutup tikar, mereka sebenarnya protes menyuarakan kami, tapi mereka protes dengan diam. “Bertahan hidup berarti memiliki tujuan hidup. Tujuan hidup Tri apa?” tanya Pak.

            “Tri ingin makan donat, ingin main bersama Abdul, Siti, Heni, dan teman-teman yang lain, Pak,” jawab Tri mantap, ia tiba-tiba bersemangat. “Kalau Pak, tujuan hidupnya apa?”

            Pak tersenyum. “Pak ingin setiap hari lihat Tri tersenyum.”

            “Itu sih gampang, Pak. Tenang, Tri senyum terus untuk Pak.” Ia tersenyum meringis menampakkan deretan gigi-giginya. “Pak, ayo pulang! Tri ingin main sama Taji.”

            Akhirnya, akhirnya, akhirnya mereka berkemas! Betapa senangnya aku, haduh lega sekali bernapas kembali menghidup udara yang bebas. Walaupun lega, aku dan kawanku hanya bisa diam sambil bergerak menyesuaikan diri, tapi untungnya kami masih hidup. Oiya, dari cerita Pak dan Tri tadi, aku jadi bertanya-tanya, apa tujuan hidupku? Wah, aku tidak pernah memikirkannya, aku hanya senang bergoyang, mandi hujan, dan bernapas damai melalui stomata. Perihal ini harus kupikirkan, tujuan hidupku.

            Gawat! Ini gawat! Pak Nasir dan kambingnya datang! Padahal masih siang. Oh tidak! Apa ini akhir hidupku? Pak, Tri, kembalilah tutupi aku! Ya ampun, apa tujuan hidupku adalah untuk dimakan kambing milik Pak Nasir? Aku tidak ingin begitu. Pasti rasanya sakit, sakit pun aku hanya bisa diam, mati pun aku hanya diam, dan teman-temanku berkabung dengan diam. Selama ini aku hanya sibuk bergoyang, bermain-main air hujan, mendengar DJ Garengpung. Mbing, jangan ke sini! Tunggu dulu, aku belum menentukan keinginan dan tujuan hidupku. Omegat, kambing milik Pak Nasir akhirnya mengakhiri hidupku yang kehilangan arah.    

Endah Nisrinasari

 


Posting Komentar untuk "Rumput, Pak, dan Tri"

www.jaringanpenulis.com