Eva Prilia, Gadis Imajinatif yang Mencoba Melawan Arus

 Penulis: Shina El Bucorie


Tidak tega melihat orang lain ditindas, Eva Prilia yang memiliki nama pena Priliae sempat berkeinginan menjadi seorang presiden. Namun akhirnya, keinginan itu hanya menjadi harapan semata karena kenyataannya, menjadi presiden tak semudah seperti yang ia bayangkan dan perlu banyak biaya.

Gadis motropolitan ini rupanya juga pernah bercita-cita menjadi seorang arsitek handal semasa sekolah dasar. Keinginannya menjadi ahli rancang-bangun itu dipelajari otodidak dengan bantuan gim The Sims. Ia sangat antusias dengan gim itu walau diakuinya ia malah jadi berfokus dengan game nya.

 Sempat berganti-ganti cita-cita, gadis penyuka tahu dan mi ayam ini memantapkan diri menjadi seorang penulis. Di luar rutinitas pekerjaannya, Eva yang lahir dan besar di Jakarta selalu menyempatkan menulis dan membaca walau hanya selembar atau dua lembar. Keinginan kuatnya menjadi seorang penulis kini sudah menghasilkan dua buah novel. Kangen Masa Lalu menjadi buku pertama yang berhasil ia selesaikan. Novel bertema romansa itu dijual putus kepada sebuah penerbit dan dibukukan pada tahun 2017. Perjalanan buku pertamanya itu bisa dibilang tak mudah. Sempat dikirimnya ke beberapa penerbit namun satupun tiada memberinya kabar. Sempat juga terpikir Eva untuk self publishing karyanya itu namun iya ingin merasakan, rasanya dipinang oleh publisher. Ditambah sempat kehilangan semua folder tulisannya karena laptopnya terserang virus, Eva sempat ingin berhenti menulis.

Sampai setahun berlalu, akhirnya seorang temannya di komunitas mencari karya untuk dibukukan. Gadis yang menolak saat ditanya tanggal lahirnya ini sangat antusias waktu itu dan langsung mengirimkan karyanya. Pergantian judul dari penerbit dan revisi kecil di beberapa halaman isi novelnya menemani proses penerbitan novel pertamanya. Namun begitu Eva tetap senang dan tidak menyangka novel karyanya bisa dibukukan. 

Aku simpen waktu itu uangnya, aku gadis penyuka warna putih, hitam, dan navi ini. Trus aku beliin daster atau baju gitu buat ibu, imbuhnya.

Sedangkan karya keduanya berjudul Walpaper 1024, Eva terbitkan secara online di bakbuk.id yang saat ini masih bisa kalian pesan.

Selain sibuk bekerja dan aktif menulis, Eva juga sesekali menambah wawasan dengan membaca buku dan menonton film baik karya anak negeri ataupun drama Thailand yang mulai digandrunginya. Diakui, ia lebih senang membaca buku yang anti mainstrem dan nggak menye-menye. Shopie world karya Jostein Gaarder dan Your are the Apple Of My Eye novel semi autobiografi karya Giddens Ko adalah dua karya yang sedang dibacanya kini. Untuk film Eva sangat menyukai Petualangan Sherina yang disutradarai oleh Riri Riza dan Mira Lesmana itu. Sebuah film drama musical yang pertama kali membawa langkahnya ke bioskop itu diakuinya membekas hingga kini. Untuk kedua nama yang terakhir disebut, Eva sangat ingin bertemu dan berfoto bersama mereka. Syukur-syukur bisa berkolaborasi. Untuk drama negeri tetangga, ia mengidolakan karya sutradara Banjong p, Mez Therathorn, atau Yos Songyos dan berharap bisa menghasilkan karya yang bagus seperti mereka.

Untuk saat ini, Gadis perfeksionis ini masih berproses untuk melahirkan novel berikutnya yang ia harapkan kelak bisa diangkat ke dalam sebuah series atau layar lebar. Selain mimpinya menjadi seorang CEO di sebuah televisi atau media digital, ia juga tidak menolak jika kelak ada yang menawarinya menjadi kandidat calon presiden atau gubernur. Kita doakan.

Sayangnya, gadis yang sepertinya enggan membuka identitas dirinya di media daring ini hanya bisa dihubungi lewat surel priliae@gmail.com.


Posting Komentar untuk "Eva Prilia, Gadis Imajinatif yang Mencoba Melawan Arus"

www.jaringanpenulis.com