Sarjana Matematika Jadi Petenis, Bawa Emas di Asian Games 2018


Oleh: Taufan Hariyadi

“Siapa bilang menekuni olahraga harus mengorbankan kuliah?” kira-kira begitulah pandangan Aldila Sutjiadi. Nama Aldila Sutjiadi mendadak jadi perbincangan kaum Adam akhir Agustus 2018 kemarin. Maklum saja, parasnya yang manis sontak menyita perhatian penonton saat dia berlaga di lapangan.

Dila bersama pasangannya, Christoper Rungkat meraih emas ke 10 pada nomor ganda campuran cabang olah raga tenis Asian Games 18 setelah mengalahkan Duo Thailand, di Jakabaring, Palembang, Sabtu 25 Agustus 2018 lalu. Medali emas Ini merupakan prestasi tertingginya di ajang tenis Internasional. Sebelumnya Aldila pernah meraih medali emas pada PON 2012 di Riau dan meraih dua medali perunggu di SEA Games 2015, pada nomor ganda putri dan beregu putri.
Foto yang diunggah di akun pribadi @dila11
Aldila Sutjiadi & Christoper saat berlaga pada Ganda Campuran di Asian Games 2018
Di temui di sebuah stasiun televisi, Rabu 28 Agustus 2018 lalu, penampilan Dila seperti anak muda lainnya. Hari itu, Dila memenuhi panggilan untuk wawancara live di televisi seputar prestasi yang dicapainya di Asian Games 2018. Aldila Sutjiadi boleh dibilang potret anak muda masa kini yang sarat dengan segudang prestasi. Dila tak hanya jago di lapangan. Rupanya urusan pendidikan juga masih menjadi nomor satu baginya. Prestasi di sekolah tak kalah luar biasanya dengan permainannya di lapangan.

Sejak kecil Dila memang akrab dengan tenis. Kala itu, orang tua Dila kerap membawanya ke lapangan tenis untuk menemani sang ayah bermain. “Iya dulu waktu kecil aku sering ikut papi main tenis di lapangan deket rumah,” kenang Dila.

Menginjak remaja, Dila mulai menekuni cabang olahraga yang kemudian mengantarnya kuliah di negeri Paman Sam, Amerika Serikat. Dila mulai tampil di kejuaraan tenis junior pada 2008 ketika masih berumur 13 tahun.

Dua tahun kemudian, Gadis kelahiran Jakarta, 2 Mei 1995 ini mulai ikut kejuaraan dunia dengan ambil bagian pada nomor tunggal dan ganda di Kejuaraan Junior Internasional 2010. Dila mulai mencatatkan prestasi saat berhasil mencapai semifinal Australian Open Junior Championships pada 2012 lalu. Prestasinya di lapangan tenis inilah yang mendatangkan banyak tawaran beasiswa perguruan tinggi kepadanya baik dari dalam maupun luar negeri.


Taufan Hariyadi dalam kesempatan ngobrol bareng Aldila Sutjiadi
Lulus SMA Jubile Kemayoran, Aldila mendapatkan beasiswa Full Schollarship di Universitas Kentucky di Amerika Serikat tahun 2013 dari jalur tenis. Dila mengambil jurusan Matematika ekonomi. Sebagai anak kekinian, Dila rupanya tak senang menghapal dan lebih menggemari ilmu eksakta. Meski begitu, Dila tetap gemar membaca buku. “Aku suka baca buku yang based on true story atau buku-buku yang inspirasional gitu. Aku lebih tertarik dengan cerita yang memang pernah terjadi di kehidupan nyata,” ucapnya kepada tim JPI.

Di bangku kuliah, gairah bermain tenisnya kian menggelora. Hasrat bermain tenisnya kian menggebu. Apalagi membaca kisah-kisah pemain tenis dunia yang memberinya motivasi dan energi tambahan. “Aku suka baca buku yang terkait dengan tenis, seperti Winning Ugly dan Mindset, itu bisa membantu performance aku saat bertanding,” ujar gadis yang memiliki senyum manis ini.

Dila pun masuk semacam pelatihan tenis bagi mahasiswa di Universitasnya. Dari pagi hingga siang Dila latihan tenis, siang hingga malam dia lanjut kuliah. Setiap satu bulan sekali Dila ikut lomba dan turnamen antar kampus maupun dengan atlet tenis. Kegiatan ini dia lakukan selama 4 tahun. Dila muda bercita-cita masuk perhelatan tenis dunia Grand Slam, dan bertekad menjadi the next Maria Sharapova-nya Indonesia.

Ditengah padatnya jadwal turnamen tenis, gadis penggemar sushi ini tetap fokus menyelesaikan kuliahnya. Buktinya pada tahun 2017, dara manis ini berhasil menyelesaikan kuliahnya di Universitas Kentucky, Amerika Serikat dalam waktu 4 tahun Dila lulus sebagai Sarjana Matematika dengan Indeks Prestasi Komulatif (IPK) 3,92 alias Summa Cum Laude (lulus dengan pujian terbanyak).


Foto yang diunggah di akun pribadi @dila11
Anak bungsu dari 3 bersaudara ini kemudian kembali ke tanah air pada Mei 2017. Dila masuk Pelatnas pada pertengahan Juli 2018 atau satu bulan sebelum Asian Games 2018 digelar. Aldila lalu dipasangkan dengan Christoper Rungkat. Otak encernya ternyata mampu membangun strategi permainan dan bermaim cemerlang di lapangan. Dila pun berhasil membawa pulang medali emas 1 bulan kemudian.

Bagi Dila, Medali Emas Asian Games 2018 adalah langkah awal memasuki ajang tenis profesional dunia. Selanjutnya Dila akan ambil bagian pada turnamen tenis di Australia pada Oktober 2018. Targetnya, tahun 2020 Dila bisa masuk Grand Slam, sebuah ajang turnamen tenis paling top dunia. Meski sudah berprestasi, Dila tak lupa dengan pendidikannya. “Aku berencana melanjutkan S-2 setelah mengejar target masuk Grand Slam,” katanya.

Prestasi yang luar biasa bagi gadis yang kini berusia 23 tahun. Bagi Dila, membaca buku memberinya motivasi untuk meraih cita-cita. Aldila Sutjiadi membuktikan, menjadi atlet profesional dunia tak harus mengorbankan pendidikan. Meski terlihat garang dan energik saat bertanding, Dila mengaku sebagai gadis yang feminim ketika berada diluar lapangan.

Selamat ya Aldila Sutjiadi, Sarjana Matematika Summa Cum Laude dengan inspirasi medali emasnya. (TFH)
Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.