Tragedi Di Malam Pertunangan

Tragedi Di Malam Pertunangan
Oleh: Yuyun Wahyuningrum

Seorang perempuan berwajah lembut dan berparas cantik terlihat duduk di meja makan sedang menikmati makan nasi sayur lodeh dengan dadar jagung sebagai lauknya, makanan kesukaannya. Minumannya selalu sama, segelas teh hangat yang ditambah dengan perasan air jeruk lemon, segelas air putih dan tak lupa sebuah donat kecil bertabur gula kesukaannya sejak kecil. 

Dihentikannya sejenak menguyah saat terdengar bel berbunyi disusul langkah-langkah kaki berjalan cepat menuju pintu, terdengar suara pintu yang dibuka. Dia berguman pasti Putri telah mebuka pintu depan. Putri adalah pelayan barunya yang cukup cekatan. Menurutnya Putri adalah seorang yang cukup pintar dan efisien. Kemudian terdengar percakapan putri tamu di depan rumah. 

"Selamat pagi, apa betul ini rumah bu Linda," sapa seorang lelaki.

"Selamat pagi. Iya, betul ini rumah ibu Linda, ada yang bisa saya bantu," jawab Putri dengan terburu-buru. 

"Syukurlah kali ini saya tidak salah, ini ada paket untuk ibu Linda," jawab laki-laki itu sambil menyodorkan sebuah paket berwarna coklat bersama dengan bolpoint, sebuah kertas dan meminta tanda tangan Putri sebagai tanda bukti. 

Setelah mengucapkan terima kasih laki-laki tersebut berlalu dari hadapan putri. Dilihatnya paket untuk majikannya, dibacanya nama pengirimnya, rupanya dari seorang lelaki bernama Bayu. Putri tanpa sadar bernafas dalam-dalam, memenjamkan mata lalu membuat gerakan menyibak rambut yang menutupi telinganya dan memperlihatkan tahi lalat di lehernya tanpa menyadari ada dua pasang mata yang tanpa sengaja memperhatikannya  dari balik gorden. 

Linda kembali berjalan ke meja makan setelah mengambil segelas air karena gelasnya tadi tersenggol dan isinya tumpah. Dia duduk sambil melihat handphone saat Putri datang membawa paket. Disuruhnya Putri untuk meletakkan paket dan dia memerintahkan Putri untuk mengerjakan tugas rumah lainnya. Dia merenung teringat ketika Putri datang ke rumahnya tiga bulan yang lalu untuk melamar pekerjaan sebagai pembantu, waktu itu dia bilang sangat membutuhkan pekerjaan ini untuk membiayai kuliahnya. Ditanyakan olehnya kenapa gadis cantik sepertinya mau menjadi pembantu dan jawaban gadis itu adalah hanya ini satu-satunya pekerjaan yang ada untuk saat ini. 

Perhatiannya kemudian beralih pada bungkusan paket didepannya. Linda mengambil gunting dan mulai membuka bungkusan itu, nampaklah isinya sebuah amplop berwarna merah meda dan sebuah novel. Sejenak dia tertegun tatkala mengenali novel itu. Lalu dibukanya amplop, rupanya isinya adalah sebuah undangan pesta pertunangan. Linda berpikir sejenak lalu berkata pada dirinya sendiri bahwa dia akan datang di acara pertunangan tersebut. 

Pada sabtu sore terlihat seorang pria berwajah tampan membukakan pintu. Dia agak heran melihat perempuan yang tepat berada di depannya, namun kemudian senyumnya mengembang dan seolah lupa digandengnya tangan gadis itu dan diperkenalkan pada tamu yang hadir. 

Hai, perkenalkan ini Linda, " ucapnya kepada semua orang yang telah hadir. 

Linda tersenyum, mulai berkenalan dan berbincang. Sekarang dia mengerti mengapa yang hadir sedikit, hanya enam orang yaitu Revan, Rere, Vito, Anggik, Ayu dan dirinya, rupanya ini adalah pesta pertunangan rahasia. Tak lama terdengar suara seorang gadis menyapa Bayu. Tanpa diberitahu Linda mengerti gadis didepannya adalah tunangan dari Bayu, kekasih di masa lalunya. Bayu mengenalkan tunangannya yang rupanya bernama Putri kepadanya. Dilihatnya gadis itu, sepertinya dia pernah melihatnya tapi entah dimana.

Tak lama tuan rumah mempersilakan mereka untuk menyantap hidangan yang telah disediakan. Revan, Ayu dan tuan rumah terlihat begitu menikmati ayam goreng laos bersama nasi kuning, segelas es buah dan kue onde-onde. Sementara Vito, Anggik, Rere dan dirinya sedang melahap ayam panggang pedas, nasi putih ditambah sayur lodeh dan minum secangkir teh lemon. 

Setelah makan perhatian Linda tertuju pada kue donat dan semangkok kecil gula halus disampingnya. Di ambilnya satu buah donut dan diatasnya ditaburkan gula yang diambilnya dengan sendok. Dia akan memakannya ketika suara Bayu mengagetkannya. Bayu tertawa riang sambil mengatakan bahwa dirinya tidak pernah berubah, selalu makan kue donat setelah makan. Wajah Linda memerah, diletakkan lagi kue donut di piring lalu berlalu pergi dengan alasan akan ke kamar kecil. Bayu melihat kepergiaan Linda dengan senyuman dan menyapa Rere yang datang menghampirinya. 

" Ahh... Kau juga penikmat donut."

" Tidak, aku tidak suka donut sama seperti Vito dan Anggik, kami adalah pembenci donat. Aku ke sini tidak untuk makan donat, donat tidak membuatku tertarik, tapi terus terang gula, maksudku aku sangat menyukai gula. " Rere berkata kepada Bayu dengan cepat. 

Rere menyendok gula dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Melihat kelakuan teman Linda yang seperti anak kecil, Bayu keheranan sambil menahan tertawa. Merasa tidak sanggup menahan tawa, Bayu beranjak pergi, baru beberapa langkah dia berjalan terdengar pekikan keras dari Rere. Bayu menoleh, Rere sedang memandang dengan raut wajah kesakitan, tegang dan berjalan sempoyongan. 

 Bayu menanggapi dengan cuek karena berpikir bahwa yang dilakukan Rere hanyalah sebuah lelucon, seperti yang biasa dilakukan. Bayu berbalik arah sambil tertawa. Tiba-tiba terdengar jeritan Ayu, kali ini lebih keras. Bayu tidak menoleh, tapi dia berhenti ketika melihat teman-temannya berlari ke arahnya, sontak dia menoleh. Setengah meloncat Bayu berusaha menggapai namun tubuh Rere terlebih dulu rebah ke bumi. Busa keluar dari mulut, wajahnya pucat seperti mayat dan terlihat menahan sakit. Revan yang seorang dokter segera memeriksa tubuh Rere, kemudian memandang teman-temannya sambil menggelengkan kepalanya. 

Linda yang baru datang dari kamar kecil menatap dengan keheranan. Dilihatnya beberapa orang duduk berkerumum, mereka adalah Bayu, Revan, Putri, Ayu, terlihat saling memandang, heran dan sedih, sementara diwajah Putri ada tambahan rasa kaget dan kemarahan. Di ujung ruangan Vito berusaha menengangkan Anggik yang menjerit karena ketakutan. Linda beranjak  mendekati kerumunan, langkah kakinya terhenti ketika mendengar perkataan Revan bahwa Rere telah mati, kemungkinan diracun, sesuai tanda-tanda kematiannya.  Tak disangka Putri berdiri dan mendorong Linda dengan keras.

" Ini semua gara-gara kamu, kalau saja..., " jerit Putri lalu berlari keluar.

Linda hanya benggong melihat kejadian itu. Bayu menghampiri dan meminta maaf atas perlakuan kasar Putri dan mulai menjelaskan duduk persoalannya dan Revan pun ikut nimbrung dalam perbincangan. Dan mereka bersepakat menanyai tentang apa saja yang dilakukan saat kejadian berlangsung dan makanan apa saja yang telah mereka santap. 

Penjelasan Revan, Ayu, Bayu dan Putri adalah bahwa mereka tidak suka makan donut dan mereka tidak menyentuhnya sama sekali, demikian pula Vito dan Anggik, juga bukan penggemar donat. Mengenai Rere, Putri menjelaskan bahwa sahabat akrabnya itu juga tidak suka makan donat. Pandangan Bayu dan Putri beralih ke Linda. 

"Rupanya hanya engkau Lin yang suka donat, " kata Bayu. 

" Aku pikir kau menyediakan menu donat khusus untukku, ya karena kau yang mengundangku, " jawab Linda. 

" Tapi aku tidak pernah mengundangmu Lin, " sahut Bayu sambil merenung. 

Anggik yang semula diam langsung melontarkan kata-kata kasar kepada Linda, meskipun Vito berusaha menghentikan aksinya, pandangan semua orang yang hadir agak menyudutkan Linda. Sementara Linda yang merasa dipojokkan terlihat duam dan merenung, seolah menyerah kepada keadaan. Bayu yang sejak dulu dan masih menyimpan rasa ke Linda tanpa menyadari bergerak spontan menghampiri Linda dan memeluk dan menghiburnya dengan kata-kata hangat. 

Wajah Putri yang melihat adegan itu memerah padam. Dia berusaha keras menekan perasaannya. Akhirnya amarahnya tak terbendung dia pun melontarkan kata-kata pedas kepada Linda sambil menyibak rambut yang menutupi telinganya yang membuat tahi lalat di lehernya kelihatan. Linda yang melihat tingkah Putri langsung tersadar dan berpikir, lalu Linda membuka mulutnya. 

" Put, tolong ambilkan aku segelas teh lemon hangat, " perintahnya pada Putri. 

" Iya, bu, segera saya ambilkan, " jawab Putri pada Linda. 

Putri berjalan dan seperti tersadar dia menghentikan langkahnya. Dia menoleh memandang tajam kepada Linda. Tiba-tiba dia cahaya putih berkebat menyerang Linda. Revan dengan cepat menahan bayangan berkilat putih tersebut. Ada suara barang terjatuh, ternyata itu sebuah pisau. Dan di depan mereka nampak Revan tengah memegang Putri dengan kuat. Putri masih berusaha meronta sambil meneriakkan kata-kata kasar kepada Linda. 

" Kau, kenapa selalu ada dalam setiap langkah kami, mengapa kau tak bisa enyah dari kepala Bayu, gara-gara kau aku jadi merencanakan pembunuhan ini, karena Bayu tak pernah berhenti menyebut namamu, itu membuatku membencimu, tapi tak kusangka rencana ini membuat sahabatku sendiri yang terbunuh, bukan kau, ah..mengapa bukan kau yang mati, " teriaknya dengan lantang. 

Setelah Putri dibawa oleh polisi. Linda berdiri dan berjalan ke arah pintu, dia ingin pulang. Sesosok tubuh menghampiri dan berjalan disampingnya sambil memulai percakapan.

"Ketahuilah, aku sungguh tidak mengundangmu, Lin. Telah aku usahakan untuk tidak menapak pada masa lalu. Kelihatannya aku telah bersalah padanya, disaat aku melangkah menapak masa depan, dia adalah kekasih sekaligus temanku berbagi, hanya saja nampaknya aku sedikit tidak memedulikan perasaannya. Itu adalah penyesalanku seumur hidup. " Bayu berusaha menyakinkan Linda.

"Yang telah berada pada masa terdahulu biarlah terjadi pada waktu yang lampau. Kelihatannya matahari yang bersinar esok hari akan membawa keberkahan bagi kita. Saatnya kau harus menyakinkan dan menemaninya dalam masa ini. Mungkin saja itu adalah penebusan atas sebuah kesalahan, " kata Linda dengan tenang sambil membuka pintu lalu berlari-lari kecil menerobos gerimus untuk mencapai mobilnya dan kemudian berlalu tanpa ragu. 



Biodata Penulis:
Yuyun Wahyuningrum, lahir di Jombang pada tanggal 20 April. Penggemar tokoh sherlock Holmes dan Hercule Poirot. Suka membaca cerita detektif dan Taiko. Sekarang sedang menikmati kehidupan yang penuh canda tawa dengan putranya yang tercinta. Ig: @yuyunsaja, Fb: Yuyun Wahyuningrum. 
Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.