CERBUNG : Danum dari Apau Ping (2) Oleh Rafahlevi


Danum dari Apau Ping
(CHAPTER 2)
Sore ini aku tak khusyuk mengikuti PBL, diskusi terarah membahas kasus-kassus di dunia kedokteran didampingi Author diakhiri pleno yang dihadiri angkatan, dosen pakar dan moderator. Beruntung kali ini namaku lolos tak terpilih secara acak menjadi presentan. Makin sering kulirik jam tangan dudukku makin gelisah. Pikiranku beredar kesana kemari tak karuan. Saat pleno berakhir dan dosen keluar aku langsung loncat dari kursi sambil merogoh ke dalam tas ransel, mencari ponselku yang non aktif. Kebiasaanku selalu mematikan ponsel selama kuliah berlangsung. Benar saja saat data seluler kuaktifkan berderet pesan whatsaap masuk tak henti-hentinya. Tak ada yang sempat kubaca. Langkahku terayun lebar dan cepat menuju keluar gedung prodi.
“Sara..!!”
Tanpa menghentikan langkahku, aku menoleh kearah suara yang terdengar jauh itu. Pandanganku tak langsung menemukan seseorang. Aku mendengar lagi teriakan yang sama tapi kini lebih dekat suaranya, aku menoleh lagi kearah yang sama kini kulihat Ari setengah berlari berjalan kearahku. Kaos hitam bertulis #kamu yang dipakainya membuatku salah fokus. Dia terus mengejarku sampai kami jalan bersamaan menuruni tangga.
“buru-buru amat mau kemana?”
“pulang..”
“hati-hati nanti kamu jatuh!!” katanya sambil memegang tanganku agar tak jatuh.
“iya..”
“ada apa sih buru-buru begini?”
Aku tak menjawab karena ponselku bergetar. “ya Pak?  Ini dah turun.. Bapak tunggu di tempat biasa aja ia? Oh.. gtu.. ok!!”
Aku menutup telepon kemudian.
“nanti malam kita ke dago ya? aku jemput kamu di rumah..” katanya masih berusaha
Aku tak sempat menyahut, fokusku terpecah saat padanganku justru tertuju ke jalan depan gedung prodi, sebuah sedan hitam berplat militer sudah standby menungguku disana. Melihatku muncul Pak Gatot keluar dari mobil menungguku di pintu depan.
            “Sara…kamu denger aku kan?”
         “hemh..apah? aduh!!” kakiku tersandung batu dan hampir jatuh saat melewati taman. Tapi dengan sigap Ari menahan tubuhku dengan kedua lengannya yang kuat.
            “tuh kan… kamu tuh apa sih? Jalan cepet-cepet banget tuh mau kemana?”
“aku buru-buru Ariii…”
 “tapi nanti malem oke ia?” dia masih keukeuh.
“aku gakkan tanya kamu mau apa ngga? Pokonya tar malem aku jemput ke rumah”
katanya sambil mencondongkan wajah tampannya ke mukaku, nada bicaranya terdengar mengancam. Kami sampai di depan mobil Pak Gatot membukakan pintu samping belakang. Ari kebingungan.
 “kalo kamu ke rumah. ok!! aku berangkat…”
Ucapku tertawa iseng sambil menujukkan ticket boardingpass ke Jogja. Tak bisa kutahan tawa kecil karena berhasil mengecohnya. Akupun masuk ke mobil.
            “kamu pulang ke Jogja??”
 Aku mengangguk. Air mukanya berubah cemberut. aku melambaikan tangan saat mobilku melaju meninggalkannya. Kulihat lewat spion Ari Si Anak Teknik yang banyak penggemarnya itu  masih termangu di tempatnya. Aku tersenyum sambil geleng-geleng kepala. 
“maafkan ia Mbak Sara.. saya terpaksa pakai mobil Bapak dan bawa masuk kampus, kita dikejar pesawat.. ”
“iyah…gapapa Pa Gatot, darurat!” ucapku senyum, begitu pula Pak Gatot
“Tapi lain kali seperti biasa  ia Pak, tunggu di tempat biasa aja,  jangan masuk kampus!”
“Siap, laksanakan!!”
Mobil meluncur cepat menuju bandara Husein Sastra Nagara dari kampusku di Jatinangor. Sejak aku menginjakkan kaki di tanah pasundan ini, aku seperti hidup sebagai orang yang baru terlahir kembali. Semua yang mengikat dari masa lalu kutinggalkan termasuk identitas. Tak ada lagi Danum ‘air’ dari Apau Ping. Orang hanya mengenal Sara sekarang, seorang calon dokter yang keluarganya tinggal di Jogja. Dikeluarga ini Tuhan menitipkan cinta dan kasih sayang yang pernah ku tagih di masa lalu. Tinggal di rumah berpagar tinggi dan rapat dengan cctv dan ajudan yang siaga 24jam dalam sebuah keluarga militer aku hidup dalam kenyamanan yang hampir terabaikan banyak orang. Meski Ayah seorang militer yang keras dalam bertugas, tapi ia bukan diktator dalam keluarga, tak ada sisi militer yang diterapkan di keluarga selain disiplin dalam pendidikan dan beribadah. Selebihnya kami bebas bergerak dan berkspresi mengikuti bisikan hati.
            Sebagai ‘orang asing’ yang dulu mencari suaka di keluarga seorang perwira tentara tak mudah bagiku mendapatkan tempat di hati mereka, aku tahu rasa empati dan kasihan saja tak cukup untukku bertahan di rumah ini. Satu-satunya jalan dan kesempatan besar yang bisa kumanfaatkan demi ‘mengamankan’ kepercayaannya adalah dengan menujukkan kalau aku bukan hanya seorang benalu, aku harus melakukan sesuatu yang besar untuk keluarga ini. Sejak dulu cita-citaku menjadi dokter. Bila kebanyakan anak kecil hanya mengucapkan ‘dokter’ dengan kepolosannya saat ditanya apa cita-citamu? Lain denganku yang telah menstempelnya di dalam hati dengan keseriusan. Aku telah jatuh cinta dengan profesi dokter ketika seorang dokter dari tanah jawa datang ke desa kami untuk mengabdi. Aku melihatnya seperti seorang dewi kayangan yang cantik dan sakti. Seperti dongeng yang dulu sesekali diceritakan Pu’i saat aku membantunya menyiapkan sirih dan pinang untuk dikunyah. Dokter itu nampak cantik dengan jas putihnya, ia punya tangan ajaib yang bisa menyembuhkan banyak orang yang mengadu sakit padanya. Pu’i bilang ia datang dari tempat yang jauh dari desa kami. Aku tersihir dengan sosok dan kisahnya yang sempurna, aku ingin sepertinya saat kelak dewasa, berkunjung kemana aku mau dan memiliki tangan ajaib yang bisa menyembuhkan banyak orang. Pu’i tertawa mendengar aku mengatakan demikian, ia hanya mengelus kepalaku menatap penuh makna tak terucapkan, tak pernah ia katakan kalau jalan kesana penuh liku nan terjal harus dilewati, bagi kami orang pedalaman hal itu hampirlah mustahil. Tapi kini aku telah berjalan menuju kearah nya.
            Aku punya kesempatan kuliah di kampus swasta, karena Ayah menawarkannya saat tahu aku akan kuliah kedokteran. Tapi aku menolak dengan santun karena aku tahu biaya kuliah kedokteran fantastis nominalnya, setidaknya aku ingin berusaha menujukkan dulu kemampuanku. Telalu banyak hutang budiku padanya. Aku sangat takut mereka berfikir kalau aku ini hanya benalu yang numpang makan mengandalkan belas kasihan. Satu-satunya kesempatan besar yang paling dekat saat itu adalah seleksi nasioanal masuk PTN. Jika aku bisa tembus, setelahnya aku bisa cari beasiswa pendidikan di dalam kampus. Hanya delapan bulan waktuku menyiapkan semuanya waktu itu. Setiap hari kuhabiskan waktu berkutat dengan buku-buku intensif, bimbingan belajar dan latihan persiapan ujian masuk perguruan tinggi negeri yang menguras energi dan pikiran. mengulang pelajaran yang cukup lama kutinggalkan. Meski saat sekolah SMA dulu aku termasuk anak cerdas kata bu guru. Sampai muntah-muntah dan sakit kepala sering dialami karena terlalu keras belajar siang dan malam. Aku bertekad harus kuat demi kesempatan di tahun terakhirku ikut seleksi nasional masuk PTN. Aku bahkan sempat kena tifus dan dirawat seminggu di rumah sakit karena pola makan dan istirahatku yang ‘babak belur’ oleh latihan soal. Tak dinyana aku lulus dalam seleksi nasional yang maha berat itu. ini seperti keajaiban dan dispensasi dari Tuhan. Masih teringat di hari pengumuman tiga tahun lalu, saat tanganku gemetaran membuka tiap halaman Koran, belum sempat kutemukan namaku, Laras berlari sambil berteriak merangkulku penuh emosional. Ia mengatakan aku lulus pilihan pertama: kedokteran UNPAD di kota Bandung. Bunda turut memelukku erat. Air mataku pecah sedetik kemudian. Kami bertiga menangis haru bersama. Mereka bergantian menciumku penuh rasa bangga. Tak kira betapa harunya Pu’i andai tahu aku sebentar lagi menjadi dokter. Waktu itu Ayah masih dalam perjalan tugas di luar kota, ia baru sampai rumah saat kami telah pulas tertidur malam harinya.
Shubuhnya usai sholat dan mengaji aku bersama Bunda menemui Ayah di ruang kerjanya. Entah kapan mulainya tapi air mataku bercucuran saat mengucapkan terimakasih dan memanggilnya dengan sebutan ‘Ayah’. Dengan berurai air mata aku berjanji tak akan mengecewakannya. Ayah berdiri dengan seragam hijau tuanya yang gagah, tertempel berbagai pangkat dan gelar di bahu dan dadanya. Ia tersenyum menatapku penuh bangga. Telapak tangannya terangkat mengelus kepalaku sambil mendoakan agar segala impianku terwujud dimulai dari hari ini. Aku menangis saat ia memelukku seperti anak kandungnya sendiri. Lalu ia melepaskan pelukannya, kedua tangannya memegang bahuku dengan mantap. 
“Apsara.. Ayah pilihkan panggilan itu untukmu, mulai sekarang semua orang akan memanggilmu Sara... artinya yang berpijak diatas air. Jati diri dan asal usulmu adalah takdir yang Maha Kuasa Danum... Tetaplah berpijak diatas nama yang orangtuamu berikan. Itu adalah doa. Ayah cuma memberimu keberanian dengan nama panggilan Apsara.”
Aku terdiam sambil menunduk kuteteskan airmata teringat Amei dan Uweq nun jauh di seberang sana. Dia kembali memelukku. Belasan tahun aku kehilangan sosok ayah dari Amei, ketidakpatutannya menjadi seorang laki-laki membuatku diliputi benci, masih membekas diingatanku bagaimana dulu setiap malam aku harus membersihkan muntahannya yang terhampar di tengah rumah karena kebanyakan minum arak dan tuak. Menyaksikan pemandangan menyayat hati tatkala melihat ibu dan adik-adik disiksa rotan karena aku tak mau melayani nafsu kawannya yang menang berjudi. Pu’i membawaku ke Tarakan, hingga aku selesai SMA, tak lama ia meninggal karena sakit. Akupun kembali kerumah dijemput Uweq. Sambil menangis Uweq memohon agar aku mau pulang bersamanya. Tak kusangka itu langkah pertamaku masuk kandang buaya. Perilaku Amei membuatku sering bertanya kenapa aku terlahir dari bapak yang suka menyiksa lahir batin anak istrinya. Seorang bapak yang tega menggadaikan anaknya pada lelaki tua bangka hanya demi iming-iming harta. Aku miris dengan panggilan Bapak yang disematkan pada lelaki sepertinya. Bukankah nabi mengatakan wanita diciptakan dari tulang rusuk pria yang harus dicintai dan dilindungi, bukan dari tulang kaki untuk jadikan alas bukan juga dari tulang kepala untuk jadikan atasan. Aku bertanya pada Tuhan kenapa aku bisa melewatkan hal itu dalam kenyataan. Aku menggugat pada hidup yang seperti sebuah permainan dari nasihat dan kata bijak para orangtua dulu.
Tapi saat kini pikiranku bebas dan terbuka aku sadar kemampuan ku bertahan dan berpikir kritis hari ini adalah karena alur kisah hidupku yang demikian. Hidupku  bagaikan roller coaster sebentar menanjak naik, meluncur turun, lalu menukik tajam dan berjalan pelan bahkan hampir berhenti, lalu melesat secepat-cepatnya menuju terowongan gelap dan keluar saat matahari terik menyorot tajam menyilaukan mata. Tuhan menggantikan kehilangan dan kebencian dari masa lalu itu dengan segala hal sebaliknya yang bahkan tak pernah kupanjatkan sebelumnya, hingga rasa syukur diiringi air mata tak pernah alfa kuucapkan usai sholat. Sesaat lagi impian menjadi dokter adalah sebuah keniscayaan. Aku telah menjadi bagian utuh sebuah keluarga yang asing dan jauh dari asal usulku. Kunikmati tiap jengkal kebiasaan, cara berfikir, dan filosofi hidup mereka, sebagai dasarku berpijak menjadi seseorang dengan identitas baru.
Ayah teramat senang aku lulus kedokteran di kampus negeri di Bandung. Ia mempersiapkan semuanya dengan semangat, sambil bergurau Laras bilang ayahnya sekarang punya anak kesayangan baru yaitu aku karena aku berhasil mewujudkan salah satu harapannya memiliki anak seorang dokter. Aku berusaha tak menerima pendapat Laras, tapi dengan memelukku ia bilang dia juga turut senang dan sama sekali tak cemburu karena Ayah mengizinkannya berangkat ke Milan untuk S2 mengambil fashion business. Aku terbelalak kaget waktu itu. kulihat raut wajahnya berbinar sangat bahagia.
Dua bulan kemudian aku berhasil mendapatkan beasiswa fullyfunded dari sebuah lembaga beasiswa prestisius yang mendanai mahasiswa yang belajar di dalam dan luar negeri. Ayah agak kecewa saat kusampaikan ini padanya. Kujelaskan sambil sedikit memaksa akhirnya ia mengatakan semakin bangga dengan keras kepalaku. Tapi aku tidak diizinkan kos sendiri. Ayah membeli sebuah rumah di kota Bandung, beserta perabotnya, seorang asisten rumah tangga turut dikirim ke Bandung untuk memastikan aku aman soal perut dan pakaian. Lagi, seorang ajudan sekaligus sopir pribadi dan sebuah citycar berwarna lime terpakir di garasi. Bunda tertawa saat melihatku merengut karena aku bilang ini berlebihan. Ia mengatakan aku dan Laras tak ada bedanya. Jadi jangan membantah perintah Ayah. Sejak itu aku pasrah merasakan rasanya diperlakukan bak putri raja. Tapi beberapa hari lalu Bunda menelepon dan mengatakan Ayah sakit cukup serius kali ini, Laras sudah landing dari Milan kemarin tapi aku baru bisa pulang  hari ini.
Saat kami semua sudah berkumpul perkembangan kesehatannya berjalan cepat. Ayah kelelahan setelah pulang dari Sulawesi selatan beberapa minggu yang lalu dan mungkin rindu dengan anak-anak perempuannya yang kini sudah pada dewasa kata Bunda. Aku dan Laras menatap ayah yang tertidur di atas ranjangnya. seperti bukan ayah yang biasa kami lihat segar dan gagah, kini wajahnya mulai terlihat menua. Aku dan Laras memanfaatkan pulang kampung ini sekaligus untuk liburan, sejenak melarikan diri dari rutinitas kuliah yang menguras pikiran. Terlebih  masuk FK adalah kesusahan yang combo. hanya sesaat senangnya. setelah di dalam dan menjalaninya aku tak punya waktu santai seperti mahasiswa jurusan lain. sistem kuliah blok membuatku sering stress, bahkan sampai harus meminta resep obat anti depresi dan vitamin terus-terusan.  Nafsu makan kami naik, seperti sedang balas dendam aku dan Laras memakan segala macam jajanan yang tak kami temukan di perantauan. Bukan Cuma soal dialeg ku kini yang mulai hilang, citarasa masakan jawa mulai mengakrabi lidahku setelah lama meninggalkan Apau Ping. Empat tahun berlalu darah dayakku telah terkontaminasi secara ekstrem. Di Bandung aku tak akan kesulitan mencari makanan apapun yang rasanya pedas, tapi tak ada yang sepedas hatiku. Pulang ke Jogja gula darahku naik karena semua makanan terasa manis.
Seperti hari ini, saat matahari mulai bergelayut manja kembali menuju peraduannya. Aku berdiri santai di beranda rumah belanda yang indah ini menikmati sore yang cerah sambil menyeruput teh tawar hangat beraroma kuat melati, di mulutku terkulum gula merah endapan aren asli buatan tangan Mbok Darsih layaknya permen, rasanya nikmat sekali.
Jauh dibalik pagar rumah sana suka cita tengah  menyelimuti kota kecil yang indah ini. Esok pagi akan ada gerebek sekaten, tradisi masyarakat jawa yang sarat makna simbolis filosofi kehidupan. Disanalah Raja kraton Jogja memberikan sedekah berupa hasil bumi, dan jajanan yang dibentuk sebuah gunungan besar sebagai simbol kemakmuran. Aku pernah berfikir barangkali itu sebabnya warga kota ini begitu mencintai rajanya. Sesekali angin bertiup sejuk merasuk ke pori-pori kulit. Kulihat Pak Wid tengah menyimak cctv di posnya sambil menikmati secangkir kalosi toraja yang hitam pekat, oleh-oleh Ayah usai memimpin peringatan ulang tahun batalyon di Benteng Pinrang di Sulawesi Selatan beberapa hari lalu. Aku beranjak turun dari balkon setelah menyimpan teh dan gula merahnya di atas tembok balkon yang pendek, menghampiri pohon mawar putih di pekarangan rumah. Kupetik beberapa tangkai bunganya yang mulai kering kecoklatan.
Laras muncul dari dalam rumah sambil menenteng majalah fashion terbaru di tangannya. Ia langsung duduk di kursi putih lalu menyeruput teh milikku. Sementara matanya terus tertuju pada salah satu halaman, tangannya memotek gula merah yang tinggal sebesar ibu jari. Aku hanya menggeleng kepala melihat kelakuannya. Saat SMA dengan berapi-api ia menyampaikan di depan kelas cita-citanya menjadi seorang Attase. Kupikir Laras yang cerdas akan mewujudkannya. Tak kupercaya ia malah kini menjadi seorang fashion designer terkenal. Rancangan-rancangannya selalu terpilih menjadi pengisi fashion show bertaraf intenasional, terakhir ia berhasil taken contract dengan salah satu brand terkenal asal Paris. Prestasinya tak main-main. Tapi dirumah ia tetap tak berubah Laras yang tomboy dan cuek. Tiba-tiba Laras menggulung majalahnya menjadi serupa teropong sambil memekik matanya terbelalak membesar.
“Ayah pulang hari ini!! Aku lupa panggil Pak Noto!! ”
Katanya sambil memukul kepalanya dengan majalah yang digulungnya sendiri tadi.
“Pak Noto manah?” tanyaku bingung.
“tukang cukur langganan Ayah..”
ia menjawab sambil beranjak masuk ke dalam rumah. Kulihat ia menelepon seseorang yang dimaksud. Aku kembali ke kursi lalu memangku cangkir tehku yang tinggal sedikit.
“hari ini Bapak pulang dari Rumah Sakit, Mbak Sara?” tanya Pa Wid mendekat.
“iya Pak Wid. Besok jadwal aplus ya?”
“oh…mbelum Mbak Sara, saya masih sehari lagi.. tapi sebetulnya nganu loh Mba Sara.. saya mau izin sama Bapak ajukan cuti sekalian..”
“ada apa..?”
“istri saya perkiraan melahirkan minggu ini Mba Sara… makanya saya mohon izin untuk cuti, tapi andaikan Bapak masih memerlukan saya, ndapapa Mbak.. lagipula Bapak juga baru saja sehat?” jelasnya kemudian.
“oh..gak apa Pa Wid…?? Selamat ia, salam untuk istrinya semoga lancar persalinannya, sehat ibu dan      bayinya.”
“amiin..amiin.. ”
“nanti saya bantu sampaikan ke Ayah ia…”
“terimakasih banyak Mbak Sara…”
Aku tersenyum turut bahagia. Laras kembali dengan sepiring bakpia di tangannya.
            “selamat ia Pa Wid..” celetuk Laras.
Pak Wid mengangguk hormat mengucapkan terimakasih. Ia pun berlalu kembali ke  pos.
“kan ada HP, napa ga telepon Pak Noto pake HPmu aja??” tanyaku
“jangannn…!! nanti nomer ku ke share…” katanya dengan ekspresi yang lucu.
Dengan cueknya Laras melahap satu bakpia dengan sekali suapan. Mulutnya yang kecil sampai monyong terisi penuh oleh bakpia. Laras meminta teh tawarku dengan bahasa isyarat.
            “buat sih Ras..??” suruhku gemas.
            “gak ah...!! Enakan mintain punya orang…” katanya sembari nyengir.
            “dasar…”
Laraspun tertawa, kami menghabiskan seharian penuh dirumah untuk bercerita ngalor-ngidul tentang berbagai hal. Tentang kuliahnya di Milan dan gaya hidup disana. Tentang kuliah dokterku yang sering bikin stress, tentang siapa sekarang teman dekat kami masing-masing tentang banyak hal. Tak lama Pak Wid terlihat membukakan pintu gerbang. Kami berdua langsung tebangun dari kursi. Mobil ayah masuk melewati halaman, berhenti persis depan kami. Adam yang gendut menggemaskan berlari keluar duluan memeluk kami sambil memamerkan mainan barunya, bayi kecil yang dulu masih belajar merangkak saat aku pertama datang itu kini sudah sekolah TK, badannya yang gempal, putih dengan wajah baby face dan bulu mata yang lentik membuat kami selalu merindukannya. Adam sangat manja padaku, sebaliknya ia sebentar-sebentar menangis bila didekati Laras karena terus menerus kesaitan dicubiti pipinya. Kami senang Ayah telah membaik, aku dan Laras menyambut kepulangannya dari rumah sakit dengan pelukan hangat. Malam harinya kami makan malam bersama, bercerita ini dan itu, tertawa menyaksikan tingkah lucu Adam, kumpul keluarga yang mulai mahal kami rasakan. Di tengah suasana hangat keluarga di meja makan, tiba-tiba Pak Wid datang mengatakan kalau aku kedatangan tamu. Aku agak heran sekaligus penasaran siapa yang mencariku. Aku kemudian keluar, dan  tersentak kaget saat melihat seorang lelaki yang ku kenal berdiri tegak di hadapanku.
BERSAMBUNG…
   


Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.