Cokelat Muda Cokelat Tua


Jaringanpenulis. Hampir setiap tahun saya mendapat tugas menghadiri upacara peringatan hari Pramuka. Pastinya, puluhan sekolah berkumpul di lapangan besar. 
Saat sudah dibariskan, dari kursi undangan saya berkesempatan mengamati.
Ada yang seragamnya superlengkap, superrapi, sampai pakai tali kur di pundak, tali pramuka, dan pisau lapangan di pinggang. Bahkan ada yang bawa tongkat. Namun banyak pula yang seadanya.
Terlepas dari peraturan yang diterapkan di setiap sekolah, tentu bagi kami yang duduk di seberang barisan adik-adik Pramuka, perhatian dan penghargaan akan jatuh pada barisan yang seragamnya ciamik itu. Ditambah lagi, biasanya barisan ini pula yang paling pede dan tertib.

Namun, sebagai guru yang berpengalaman mengajar di beberapa sekolah, menemukan siswa yang beragam, dan berbagai kebijakan yang digunakan, bahkan ada sekolah yang sebegitu sulitnya dengan siswa, sehingga urusan seragam belakangan. Yang lebih dipentingkan adalah agar anak mau datang ke sekolah. Dengan berbagai pengalaman ini, saya memilih lebih toleran dengan seragam, walau tetap akan sangat menghargai mereka yang dengan segala masalah dan keterbatasannya berusaha tampil ciamik.

Ahh, entahlah. Semoga dengan melihat kondisi seperti ini, para pengambil kebijakan akan paham dan berbuat sesuatu. Sekolah yang anak-anaknya memang tidak mampu membeli seragam yang ciamik, disubsidi bagaimanalah agar bisa setara dengan yang lain.
Sementara, sekolah lain yang sebenarnya anak-anaknya mampu berseragam ciamik, semoga bangga dengan dirinya dan bisa menghargai dirinya dengan tampil se-ciamik mungkin, tanpa perlu membully mereka yang belum.
Ajineng diri saka lathi.
Ajineng raga saka busana.
(Jawa: Berharganya diri kita dapat dilihat dari mulut. Berharganya tubuh kita dapat dilihat dari cara berbusana dan berpenampilan)
Renungan 14 Agustus 2018, Upacara HUT Pramuka ke 57.
Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.