Merdeka! Putih abu-abu

Bel tanda selesai jam sekolah belum lagi berbunyi ketika Rahayu dan Desi sudah menyelesaikan tugas dari wali kelas. Rahayu menyerahkan lembaran kertas jawaban sambil membawa tasnya dan langsung keluar kelas. Sementara Desi teman sebangkunya setelah menyerahkan lembaran harus lari mengambil tasnya dan mengejar Rahayu. Selangkah melewati pintu kelas Desi berteriak," Yu, tunggu !"

"Waa!"

Hampir saja Desi jatuh karena kaget, dia tidak menyangka Rahayu berdiri menantinya di samping pintu.

"Ayo dong ceritain, tadi bagaimana?" Buru Desi pada teman sebangkunya yang tampak begitu ceria.Tapi Rahayu tak langsung menjawab, dia tetap jalan bahkan langkahnya kian panjang. Desi merasa dipermainkan oleh tingkah Rahayu yang terus berjalan ke arah kantin sekolah dengan senyum di kulum.

"Tenang saja, tugas aku sudah selesai. Kita impas," jawab Rahayu sambil terus tersenyum.

"Aah, kamu jangan bohong lagi, dulu juga kamu bilang sudah menulis tapi ternyata dia gak tau," ucap Desi di sela tergesa-gesanya mengibangi langkah Rahayu. Rahayu berhenti sebentar dan menatapnya dengan pasti.
"Es teh manis dulu, tar aku jelasin. Janji!"

Kantin semakin dekat dan beberapa siswa-siswi putih-biru tampak ada yang sedang duduk-duduk tak banyak bicara, ada pula yang sedang berkelakar tertawa dengan obrolan tak jelas. Dua orang siswa terlihat sedang berjalan mendekat ke arah Desi dan Rahayu dengan saling bersikutan menahan tawa. Saat berpapasan mereka menatap Desi dan berkata sambil berlalu.
"Cie-cie! Iwan suka ama kamu yah?"
"Ehem, yang jadian."

Desi tidak bisa menyembunyikan gejolak hatinya, dia jalan membungkuk menutup mukanya dengan tas. Lalu ia berjalan mundur, wajahnya mirip udang rebus. Mulutnya ternganga dan matanya berbinar menatap Rahayu.
"Hah! Masa sih?"
"He-euh" Jawab Rahayu mengangguk pasti.

Panjang kali lebar kali tinggi ditambah dalam, Rahayu bercerita tentang aksi coretannya di dinding masuk toilet umum. Tulisan itu akan terbaca oleh siapa saja, laki-laki maupun wanita, karena tertulis jelas dengan spidol, diantara persimpangan dua ruang terpisah.

Sementara, di lain kelas. Iwan sedang mengerik tulisan di meja dengan mistar logamnya. Teman disamping dan depannya tak henti berucap, meledek iwan yang tak mau mengangkat wajahnya. Dia terus menggerus sampai tulisan tinta pulpen itu tak jelas lagi terbaca.

Keesokan harinya, Iwan tampak lebih pendiam. Harapannya hilang pada Rahayu kemarin, saat dia beradupandang dan keluar kelas membuntutinya.

Hari pertama masuk SMA, masa orientasi bagi Desi menjadi tamparan hebat dalam hidupnya ketika kakak seniornya, Iwan, yang masuk gerbang sekolah berboncengan sambil riang tawa, lewat di depannya yang sedang bertopi kerucut dan berkacamata terbuat dari karton.

Disaat ada kesempatan, pagi itu juga Desi menelpon sahabat dekatnya, Rahayu.
" Yu, kamu masih mau tolong aku gak, untuk mendapatkan Iwan?"
"Waduh! Sori Des, kali ini gue cuman bisa ngedoain lu, Ok! Sukses yaa. Oh ya tar lagi gue ceritain tentang kota baru gue nih. Daah!"

Hari yang berat, tapi tetap harus dijalani. Mau tak mau, perubahan sikap dan perilaku Desi pada gilirannya mendapat perhatian dari ibunya.
"Kamu ketemu sama Iwan?" Kata ibunya lembut.
"Sudah, Mah!" Jawab Desi ketus. "Dan jangan sebut nama itu lagi."

Esoknya. Masih dengan topi dan kacamata karton, Desi mematung di depan "mading", matanya terpaku pada struktur organisasi OSIS yang terukir nama Iwan sebagai ketua ekskul paskibra
"Aku akan terus mengejar kamu!" Gumamnya.

Tidak disangka, jiwa disiplin yang Desi miliki sejak lama, amat sejalan dengan ekskul yang ia ikuti. Dalam tiga kali pertemuan, Desi terpilih menjadi petugas pengibar bendera. Tubuh Desi yang sedang masa maksimal pertumbuhan menunjukkan bentuk tubuh yang ideal dengan paras anggun mempesona. Sudah ada beberapa siswa yang secara terang-terangan menembaknya tapi ia tolak dengan baik-baik sungguh sikap move-on yang tak bisa tergoyahkan. Ada pula yang diam-diam mengirim surat kaleng, pedekate lewat medsos, bahkan ada yang sekedar memperhatikan dengan penuh kagum dan khayalan nakal. Iwan, Salah satunya.

Sekolah memilih Iwan, Desi dan beberapa siswa ekskul untuk mewakili sebagai petugas Paskibra tingkat Provinsi.

Suatu ketika Iwan memberanikan diri untuk membuka perbincangan.

"Desi, kamu ingat waktu SMP dulu?" Ucap Iwan dengan gelisah, matanya tidak menatap Desi yang sedang duduk istirahat di sampingnya.

"Kak Iwan ngomong apa sih?" Desi menjawab singkat. Pandangannya lurus ke depan. Tangan kanannya terus mengayunkan topi abu-abunya ke leher jenjangnya.

"A..aku minta ma'af." Kata Iwan terbata-bata.

Hari-hari latihan menjelang peringatan hari besar kemerdekaan berlangsung setiap hari selepas jam pelajaran sekolah usai. Satu minggu yang begitu berat bagi para peserta terpilih. Gerak tegap, patah-patah dan formasi barisan yang sama terus di ulang dalam tiap latihan. Pus-up,sit-up dan berlama-lama berdiri tegak menjadi gerak wajib. Minuman dan snack bergizi menjadi pelepas penat yang sangat ampuh mengubur bentakan dan teriakan dari para instruktur yang berasal dari TNI dan senior Paskibra, yang bagi peserta didik merupakan bagai halilintar yang tidak boleh di hindari suaranya dengan sikap ketakutan.

Peringatan hari kekemerdekaan selesai sudah, tugas Desi,Iwan dan tim berjalan lancar dan sukses. Dan baru kali ini Desi berjalan dengan bebas. Dia berjalan tidak menunduk lagi, dia tak memiliki rasa khawatir lagi, dia kini berani melihat orang-orang yang menatapnya dengan kekaguman. Desi sudah berani melihat Iwan dan beradu pandang. Semua berubah, apa yang terjadi sejak dia lihat Iwan berboncengan dan tawanya bukan bersama dia, sudah bukan masalah untuk mengangkat dagunya.

"Desi, kamu masih menyimpan rasa itu untuk aku,gak?" Tanya Iwan di kantin. Dia menunjukkan ponselnya.

Potret dinding toilet semasa SMP

Belum sempat Desi menjawab, Hp Desi berdering, hanya nomor, tanpa nama.

Desi bernafas dalam, dia lega.

"Halo? Ma'af,siapa ini?"

Orang disana menjawab,
"Bagaimana? Tugas gue udah selesai. Tinggal nunggu traktiran nih!"














Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.