Menulis Cerpen

"Ya Tuhan...kamu pantas menderita, musibah itu sudah membuat benteng keakuan-mu semakin kokoh." Guman Hardy pada anak yang duduk di hadapannya.


"Sudah sini! Berikan kertas itu" Anton mendengus. Sambil melancarkan pandangan penuh kemarahan kepada Hardy.


"Tapi kamu tidak boleh merobeknya." Kata Hardy. Dia berusaha tenang menghadapi anak didiknya yang satu ini, yang kerap di suruh guru lainnya untuk menghadap dirinya.


"Enggak akan."

"Apa yang akan kita lakukan jika kamu merobeknya?"

"Enggak! Aku bilang enggak ya enggak akan."

"Apa yang akan kamu tulis ini akan terus ada hingga saat kamu akan punya keinginan untuk membacanya lagi lho, ingat itu."

Anton mengangguk tegas, sorot tajam matanya memancing adrenalin Hardy yang kian tertantang. Keningnya mengerut karena jengkel. "Aku akan kehabisan waktu jika Bapak terus ngomong dan harus terus berada disini."


Hardy menghela nafas dalam, dia menyerahkan kepadanya selembar kertas. "Tulisanmu harus asyik lho." Ujarnya sambil beranjak pergi meninggalkan ruangan 2x2 meter itu.
Hardy menengok sejenak ke dalam ruang kaca dimana murid kelas 11 itu berada, lalu menuju meja kerjanya.


Anton memperhatikan pena selama beberapa waktu dan meraih kertas yang dengan usaha cukup payah dia mendapatkannya. Dia melesat ke pojok ruangan,Beralaskan pahanya, dia mulai menulis.


Dalam beberapa menit Anton sudah keluar dari bilik "siksaan", lembaran kertas telah berbentuk kotak kecil.


"Di sini ada rahasia sekarang, Bapak gak boleh tunjukin ke siapa-siapa. Itu cuma untuk Bapak."
"Baik." Hardy mulai membukanya.

"Jangan,jangan baca sekarang. Nanti setelah saya keluar dari ruang menyebalkan ini."

"Baiklah, kamu boleh kembali ke kelas. Ingat, ini sudah kesekian kalinya kita bertemu," Hardy menahan perkataannya, dia menatap wajah Anton yang kali ini tidak seperti di bilik privat maupun seperti pertemuan-pertemuan sebelumnya. Kali ini Anton tidak mau beradu pandang, dia mendongak ke photo Pancasila yang terpajang di atas meja kerja Hardy. "Kamu boleh kembali ke kelas."


Belum sempat kertas berlipat kecil itu dibuka, Hardy menerima panggilan telpon genggamnya. Dia menyelipkan kertas itu ke dalam saku dan bergegas pergi.


Hari menjelang senja ketika Hardy sedang menikmati secangkir kopi dan smarphonenya.


"Pah, ini aku menemukan secarik kertas di saku celanamu. Mungkin penting."


Hardy menerima lipatan kertas. Dia tersenyum kecil menatap istrinya yang tampak cuek dan meninggalkan dia dengan cepat ke ruangan belakang.


Dengan hati-hati Hardy membuka lipatan itu. Hardy menemukan sesuatu yang bagi Anton merupakan harga diri, surat pribadi.


*
Hal ini yang aku ingin bapak tahu tapi tidak oleh orang lain. Ingat pak!!!!
bapak tau sering teman teman ngetawain aku, ngejek,
aku kesal.
Di rumah ayahku memukulku, ibu bawelnya minta ampun.
Aku tidak tau sebabnya, padahal aku tidak sengaja, gak ada maksud gitu.
Sungguh aku malu pada diriku, ini ganggu banget..
Aku senang menemui bapak yang tidak pernah marah
Tolong jangan bilang pada siapapun. Aku cuman ingin bapak aja yang tahu.
*


Hardy membaca surat itu, terharu dan takjub dengan kemampuan menulisnya. Bukan tentang ejaan dan tanda bacanya tapi keterbukaannya. Hardy tersenyum dan meraih kertas. Dia menulis surat balasan untuk Anton.


Esok harinya Hardy sengaja memperhatikan Anton dari jendela kelas. Dia lihat Bu Desi sedang duduk dan memainkan handphonenya. Anton tau dia sedang di perhatikan, namun dia cuek, serius menyalin rumus-rumus fisika dari papan tulis.


Bel pulang sekolah belum berbunyi ketika Anton masuk menghampiri Hardy di ruangannya.
"Ada apa Anton, kamu melakukan apa hari ini?"
"Lah, kata Bu Desi saya harus menghadap bapak."

"Oh iya, silahkan duduk."


Hardy tidak menggubris, seingatnya tidak ada pesan konseling dari Desi, namun dia tampik pemikiran itu dan mencoba mengerti keadaan. Hardy sudah tahu maksud Anton. Dia butuh di dengar.


Hardy tidak menyuruh Anton masuk ruang privat seperti biasanya. Dia langsung menyerahkan selembar kertas hvs dan Anton langsung menyambarnya lalu cepat menuju ruang kaca dan menutup pintu. Dia menoleh sejenak keluar dan kemudian memulai menulis.


Tak berapa lama Anton keluar dan menyerahkan kertas yang sudah berbentuk kotak lipatan kecil.
Hardy berkata tanpa menatap kepada Anton yang berdiri dengan keduatangan dibelakang bertopang beban tubuh pada kaki kiri. Tatapannya remeh menyeringai.


" Sebentar, saya sudah tulis surat balasan untuk kamu."


"Bapak jangan meledek saya"


"Tidak, tidak ada balasan dari saya atas sikapmu selama ini." Jawab Hardy seenaknya.

"Besok, kamu balas dengan tulisan juga yah. Dan kamu boleh memasukkan surat lewat bawah pintu itu."


Hardy menyerahkan kertas berlipat kotak kecil tanpa melihat wajah muridnya. Dia tahu Anton sangat peka perasaannya saat menuangkan pekerjaan dalam bentuk tulisan, Anton terbukti tidak akan sanggup menerima kritikan maupun arahan apapun.


Satu bulan sudah terlewat tanpa keluhan dari para guru atas kelakuan Anton. Siswa pindahan dari sekolah luar kota itu sejak masuk tidak pernah lepas dari pengawasan. Dia kerap membuat gaduh, temperamen dan sulit bergaul. Teman sebangkunya sampai mengadu ke orangtuanya agar pihak sekolah menyediakan kursi dan meja tambahan agar dia tidak lagi duduk berdampingan dengannya.


Kini Anton duduk sendiri, dan terlihat selalu sedang menulis. Saat jam istirahat dia sering menyelinap untuk sekedar menghempaskan kotak kertas ke kolong pintu ruang BP. Dan tak jarang dia tampak sedang membakar kertas-kertas yang sudah diremasnya di belakang kelas.


"Sepertinya Pak Hardy punya fans baru nih." Ucap Desi suatu ketika sambil menyerahkan sepucuk surat beramplop pada Hardy.

"Mmhh... emang masih ada orang yang suka menulis surat?" Jawabnya sambil tertawa kecil.


"Sayangnya fans itu telah pergi. Anton dan Ayahnya kemarin pamit. Mereka pindah lagi karena ayahnya pindah tugas lagi." Desi menatap Hardy penuh penyesalan. Sebagai wali kelas, dia mengikuti perkembangan murid-muridnya dengan baik.


Hardy membuka surat itu dan segera membacanya. Dia tidak menghiraukan Desi dan rekan sejawatnya yang masih berkumpul di ruangan guru karena jam belajar belum dimulai. Tampak wajahnya memerah, matanya berkaca-kaca.


Hardy tidak percaya apa yang dibacanya, tulisan Anton begitu bagus dan menyentuh. Desi merebut pelan surat Anton dari tangan Hardy lalu membacanya dengan suara yang bisa didengar oleh teman lainnya sampai pada kalimat terakhir.
".....terimakasih Pak Hardy, yang telah mengenalkan saya pada dunia tulis menulis, selama ini semua hanya ada di kepala dan hati saya dan dengan menulis dunia menjadi tahu."


Jum'at, 29 Juni 2018







Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.