Nikmatus Solikha, Mlijo Oke Berimajinasi Jago


Apa jadinya jika pekerjaanmu berbeda jauh dengan hobi. Tapi justru hobi ini yang membuatmu meninggalkan pekerjaanmu. Dan pada akhirnya hobi itu menjadi pekerjaanmu kini. Hidup memang selalu tentang pilihan. Memilih sesuatu yang sulit pada awalnya, tapi justru membuatmu bersyukur pernah melakukan pilihan itu.

Nikmatus Solikha, begitu orang tua memberinya nama. Tahun 2017 lalu, gadis manis asal Malang dengan mantap meninggalkan pekerjaan yang hampir selama 6 tahun dilakoninya. Selama itu, ia bertahan melakukan beratnya menjalani tiga kegiatan yang mempunyai makna dalam hidupnya. Pekerjaan dan hobi.

Di pagi hari, ia mlijo atau berjualan sayur keliling. Pukul 3 pagi kegiatannya sudah di mulai, ia menjajakan sayuran berkeliling desa rumahnya. Mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk membuat hidupnya bisa tetap berjalan. Kegiatan ini baru akan berakhir setelah waktu menunjukkan pukul 07.30 WIB.

Setelah pulang dan membersihkan diri, ia harus segera bergegas menuju kantor. Nikma bekerja sebagai penulis konten di sebuah kantor portal berita online. Dari pukul 08.00 WIB, Nikma baru bisa menikmati kebebasannya lagi pada pukul 16.00 WIB. Di sana sebagian besar waktu Nikma dihabiskan. Dan kegiatan ketiga sekaligus hobinya sejak lama, hanya dilakukan di sela-sela kegiatan yang padat itu, yakni menulis.

Menulis, 8 Novel Terbit Mayor
Menyempatkan diri menulis di sela-sela tumpukan pekerjaan itu bukan hal mudah. Meski di tahun 2014, ia berhasil menerbitkan novel pertamanya yang berjudul Cinta Emang Bego. Tapi Nikma merasa belum puas, ia ingin benar-benar terjun menjadi penulis.

Nikma akhirnya memutuskan satu hal yang luar biasa besar dalam hidupnya. Kegiatan mlijo, bekerja, dan menulis membuat ketahanan tubuhnya ambruk, tak kuasa lagi menahan beban. Maka Nikma menghapus mlijo dan juga bekerja di kantor portal berita online dari dalam kesehariannya. Lalu apa yang dia lakukan? Menulis.

Nikma lebih memilih fokus menjadi penulis, dan ia tidak main-main dengan pilihannya. Ia kehilangan dua mata pencahariannya. Tapi Nikma yakin, itu adalah keputusan terbaik dalam hidup. Ia harus membuktikan bahwa hal yang dipilihnya adalah pilihan tepat.

Nikma membuktikan dengan berjejer novel-novel karyanya di toko buku. Sebut saja Novel Kalau Baper Makan Dulu, Novel Ayah, Novel Pacar Bohongan, Novel Semua Tentangmu, Novel Ingin Bercinta, Novel Jembatan Horor, dan Novel White Sunset. Semua novel karya Nikma itu diterbitkan secara mayor dan ditulis secara solo mau pun duet bersama penulis lain.
Novel-novel karya Nikmatus Solikha

Bukan hanya delapan judul novel itu saja miliknya Nikma. Delapan novel itu hanya yang berhasil lolos di penerbitan dan bisa dinikmati oleh pembaca. Selebihnya, ada banyak naskah yang tak lolos dan ditolak oleh penerbit.

“Ratusan, udah enggak terhitung lagi, saking banyaknya. Saya merasa enggak punya kemampuan dan bakat menulis. Sampai pernah nangis di bawah tempat tidur. Wis, putus asa karena enggak pernah ada yang dimuat,” kenang Nikma sambil terus bercerita. Putus asa itu tak berlangsung lama, karena Nikma merasa menulis itu sama tulusnya dengan mencintai. Meski putus asa karena penolakan. Tapi hati tidak akan bisa berpaling karena tulusnya perasaan. Setelah itu, Nikma akan memulai menulis lagi.

Perempuan yang lahir pada tanggal 14 Agustus 1992 ini lebih memilih menulis naskah baru daripada merombak naskah yang ditolak. Alasannya sendiri menulis baru lebih mudah dari pada harus membongkar pasang hasil karyanya.

Ketika ditanya novel paling berkesan, Nikma menjawab dengan mantap bahwa novel pertama yang berjudul Cinta Emang Bego adalah yang telah mencuri hatinya. “Karena novel pertama sangat berkesan, sama berkesannya dengan cinta pertama. Seperti itu Cinta Emang Bego bagi saya,” jawab finalis Gramedia writing Project dan Finalis Belia writing Marathon Bentang Pustaka ini.
Cinta Emang Bego, novel pertama karya Nikmatus Solikha
Menulis FTV, Wujud Nyata Mencintai Komedi Romantis
Menjejaki dunia perfilman melalui tulisan telah di awali Nikma pada tahun 2015 sebenarnya. Dua tahun sebelum ia memutuskan berhenti dari pekerjaan dan menggeluti dunia menulis dengan serius. Menulis sinopsis itu masih dilakukan di sela-sela waktu saat Nikma masih bekerja. Ia mengatur sedemikian rupa agar waktunya bisa dimanfaatkan dengan efektif.

Awal perkenalannya dengan naskah FTV adalah saat Nikma mengikuti kursus menulis di kelasnya Kinoysan Wulandari dengan mentor Lottati Mulyani. Lottati Mulyani ini merupakan editor Frame Ritz, salah satu rumah produksi.
Salah satu FTV karya Nikmatus Solikha
Di kelas kursusnya itu, Nikma belajar tentang banyak hal, termasuk sinopsis dan skenario. Setelah belajar selama satu tahun, baru pada tahun 2016, ide Nikma lolos menjadi FTV di Frame Ritz. Setelah itu, deretan judul FTV memperlihatkan namanya.

Beberapa judul FTV milik Nikma yang berhasil tayang antara lain Kejebak Cinta Neng Jamu Gendong, Diburu Cinta Tukang Tahu, Tukang Cilok Jadi OB, Brondong Rempong Pencuri Hati, Nggak Ada Apa-apa Dengan Lita, dan Cinta Dibalik Kroket. Sebagian besar FTV yang ditulisnya ditayangkan di SCTV. Dan memang Nikma membidik televisi swasta itu untuk ide-ide FTV hasil karyanya.


“Saya lebih suka FTV di SCTV. FTV yang ditayangkan di SCTV bersifat ceria, jadi jika boleh memilih, saya ingin semua ide FTV saya ditayangkan di sana. Saya enggak suka yang nangis-nangis,” perempuan penyuka genre komedi romantis ini menjelaskan.

Nikma secara jujur mengungkapkan kesulitannya dalam menulis dua jenis naskah secara bersamaan. Menurutnya juga, menulis skenario jauh berbeda dengan menulis naskah novel. Untuk novel Nikma bisa menghabiskan satu bulan, sedangkan untuk skenario ia bisa menulis lebih cepat. Tapi jika diminta memilih, Nikma tidak bisa memilih salah satu di antara menulis novel atau skenario. Ia akan terus menjalani keduanya, meski dengan waktu yang berbeda-beda.

Apapun latar belakang kita, jangan untuk berkarya. Jangan takut untuk memulai. Lakukan dengan hati dan berdiri sebagai pemenang.#tia
Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.