IKLAN

PACARKU SELEBGRAM karya Sitti Khairunnisak

PACARKU SELEBGRAM
Karya SITTI KHAIRUNNISAK
sumber : dlazaru.tumblr.com

"TRiinNGGGG!!" Deringan alarm itu membangunkan seorang gadis yang langsung bersiap merias dirinya karena tak ingin terlambat pagi ini untuk menepati janjinya pada seseorang.
Di sana juga sudah ada seorang pemuda tengah bangun, namun langsung saja memainkan ponselnya sebelum mandi sembari membuat vlog untuk hari ini.
Alena kembali berkaca untuk kesekian kalinya, ia tampak cantik dengan model rambut baru yang dibuat bergelombang. Suara klakson mobil terdengar di luar rumahnya, cepat-cepat ia keluar kamar dengan tas mungil yang tak lupa dibawanya.
“Ma, Alena berangkat!” pamitnya pada mamanya saat bertemu di ruang tamu. 
“Pagi my princess,” sapa Rahel saat Rahel keluar dari rumahnya.
Alena di buat semakin terpesona pada penampilan dan gayanya. Sungguh sangat keren di tambah paras yang  cantik. Tidak bohong jika banyak yang mengagumi. 
“Pagi pangeranku,” jawab Alena.
Senyum manis itu ia tampilkan, semakin membuat hati Rahel meleleh. Mereka melajukan mobilnya ke sebuah tempat yang Alena inginkan. Sebelum ke tempat tujuan, mereka keliling taman dan bermain-main seperti halnya membeli es krim, saling berkejaran dan melepas kerinduan karena sekolahnya hingga mereka bertemu dua kali seminggu. Selain itu, Rahel yang sering sibuk. Mereka ingin menikmati hari ini berdua saja, tak ada yang mengganggunya. Ketika pulang dari taman, mereka menuju kesebuah café. Simetri coffe pilihan Alena, terlihat di sana sudah banyak pembeli. Alena melihat kanan kiri, mencari tempat duduk untuknya dan Rahel. 
“Eh, itukan Rahel, si selebgram itu!” Kenal seseorang pengujung yang melihat Rahel saat memasuki café.
Mereka langsung berhamburan menghampirinya.
“Rahel, kita foto dong! Boleh?” Rahel mengangguk dan tersenyum.
Seketika mereka berteriak histeris, mengundang perhatian pembeli lainnya dan memulai berfoto sehingga mengabaikan Alena di sampingnya yang tampak cemberut. Lebih parahnya lagi, mereka menyuruh Alena sebagai fotografer. Bayangkan saja, bagaimana suasana hati Alena yang disuruh memotret pacarnya dengan perempuan lain?
Emosi sih, tapi Alena tahan. Tidak mungkin ia memarahi mereka semua dan melarang Rahel untuk tidak meladeni para penggemarnya ini. Alena terpaksa tersenyum dengan cara dibuat-buat, lalu Alena memotretkan mereka dengan ketidakikhlasan.
Niat ingin berduaan menikmati weekend ini malah menjadi semuanya kacau. Mereka berdempetan bahkan bergandengan dengan Rahel di depan mata Alena yang sepertinya Rahel menyukai itu dan tiada komentar. Rahel sungguh gak peka, tak mengerti perasaan Alena sekarang yang sungguh hatinya telah terbakar.
Selepas itu Alena keluar, tak ingin duduk bersantai di café ini. Gerah ia rasakan untuk sekian kalinya saat berjalan dengan Rahel pasti selalu ada saja yang mengganggunya, dan mengabaikan dirinya. Rahel yang melihat kepergian Alena segera mengejarnya, tidak peduli teriakan penggemarnya lagi.
“Alena tunggu!” Teriakan Rahal membuat Alena tidak perduli.
Alena terus berlari menjauh dari Rahel. 
“Ah, kesel! Gimana sih, si Rahel? Masa pacar sendiri yang diabaikan, dijadikan fotografer mereka lagi,” gerutu Alena yang duduk di kursi depan masih kosong.
Alena melihat pemandangan sekeliling yang penuh keromantisan. Terlihat ada seseorang yang memberi bunga pada pacarnya, juga disebelahnya Alena melihat mereka asyik saling dengan memakan es krim sedangkan pacarnya tak mampu membuatnya terharu seperti princes.
“Aaaa, hiks!” Alena mulai menangis dengan gaya manjanya.
Sebentar ia menikmati hari berdua dan bahagia dengan Rahel di taman tadi. Alena kembali merenung, bertanya dalam hati, “Mengapa ia harus mengajaknya ke sana, dan akhirnya pun semua berantakan?”
“Alena,” sapa seseorang menghentikan tangisan Alena.
“Kevin,” ujar Alena sembari menghapus air matanya.
Dia malu Kevin melihatnya seperti anak kecil yang menangis tak mendapatkan permen lolipop.
“Kamu kenapa Alena?”
Alena menggeleng tak ingin orang lain tahu akan masalahnya termasuk Kevin.
“Kamu ngapain di sini, Vin?” tanya Alena curiga jika Kevin mengikutinya.
“Jalan-jalan aja. Oh ya, aku punya sesuatu nih!” Kevin memberikan sebuah coklat untuk Alena.
Alena melihatnya dan mengambilnya dengan ragu karena ia tahu Kevin mencintainya. Dia pernah menyatakan perasaannya itu tapi Alena tolak karena ia memiliki Rahel.
“Terima kasih,” jawab Alena sedikit ada kecangguangan diantara mereka.
Alena diam saja sedangkan Kevin selalu menatapnya.
“Len, kamu tahukan perasaan aku sama kamu gimana? Dan itu masih sama sampai sekarang aku akan selalu mencintaimu, Len. Apa tidak ada kesempatan buat aku?”
Sebelum Kevin meruskan perkataannya dan meminta jawaban atas perasaannya, Alena segera memotongnya.
“Eh, Vin, maaf aku harus pergi!” potong Alena dan segera pergi.
Alena tidak mencintai Kevin karena hatinya sudah ada nama Rahel. Alena juga tidak ingin Kevin merasakan sakit hati untuk kedua kalinya karena penolakannya. Menurut Alena jika solusi terbaik untuk memilih pergi saja.
Sesampainya di rumah, Alena lihat Kevin yang tengah duduk di depan pintu rumahnya bersama buket di tangan. Ia tampak sekali resah karena memikirkan dirinya.
“Kamu ngapain disini?” Rahel mendongak mendengar suara Alena.
Rahel langsung memeluknya, ia sangat khawatir pada Alena takut terjadi hal buruk yang menimpanya karena Alena pergi begitu saja dan Rahel sedari tadi mencarinya tidak ketemu. 
 “Len, kamu kenapa sih? Kenapa tadi pergi dan ngilang? Aku khawatir, takut kamu kenapa-napa? Lain kali jangan seperti itu,” ungkap Rahel tapi Alena tak peduli akan itu, ia masih kesal dengan perlakuan Rahel yang mengabaikan dirinya jika bertemu para penggemarnya.
“Kamu pergi sana! Urus saja penggemar kamu!” Alena menutup pintu rumahnya keras, lalu meninggalkan Rahel di luar sendirian yang meneriaki namanya. 
***
Tak semangat tuk pagi ini, Alena merenung di kelasnya, ia menatap layar ponsel yang selalu menyala karena panggilan dari Rahel. Dari semalam, Rahel mencoba menghubunginya, tapi ia tak pernah menjawabnya.
“Biarlah, Alena masih marah karena kejadian kemarin!” gerutu Rahel.
Di sisi lain...
“Len, gimana Weekend-nya? Pasti seru kan?” tanya Widya.
“Seru apanya... Punya pacar selebgram itu enggak asik menurut aku. Enggak bisa nikmatin waktu berdua, pasti aja ada yang mengganggu. Mumet aku,” jawabnya dan merebahkan kepalanya di bangku.
Widya dan Pisya saling melihat. Entah, ada apa dengan temannya yang satu ini?!?
“Ah, kamu enggak bersyukur banget, Len! Rahel keren. Wajarlah banyak penggemarnya, apalagi dia selebgram. Seharusnya kamu bisa ngertiin dia. Bukannya malah ngambek-ngambek gini. Dia sayang sama kamu, Len. Dibalik kesibukannya masih saja dia nyempetin waktu buat kamu sedangkan kamu sibuk ngerjain PR aja udah enggak ada waktu buat Rahel,” sahut Pisya membuat Alena berpikir.
“Benar apa kata Pisya, Rahel selalu berusaha menyisihkan waktu buat dirinya. Dan selalu saja membuatnya tersenyum. Ia adalah tipe cowok yang penuh kejutan sedangkan dirinya tidak mengerti itu,” batin Alena sembari merenung.
Semua siswi berlarian keluar kelas sambil teriak-teriak. Seakan-akan di luar sana ada seseorang yang istimewa hingga semuanya begitu antusias menyambut. Alena jadi penasaran, ikut menghampiri. Mendadak Alena terkejut begitu melihat seseorang itu.
“Ada Rahel di luar!” Teriakan itu membuat Alena ikut berlari bersama mereka untuk memastikan kedatangannya Rahel dari jarak dekat.
Di sana Alena melihat kalau Rahel sudah dikerumuni banyak siswi yang meminta foto dengannya tapi Rahel terlihat berusaha menghindar karena tujuannya datang untuk Alena. Begitu Rahel melihat Alena, Rahel menghampirinya.
“Kamu ngapain disini?”
“Aku disini ingin ketemu kamu. Len, maafin aku tapi aku tidak bermaksud mengabaikanmu. Kamu jangan berpikir seperti itu, aku sayang kamu, Len!” ucapnya pada Alena dan menyodorkan setangkai bunga mawar.
“Kamu enggak usah kesini. Urusin aja penggemar kamu. Mereka suka sama kamu, mereka penggemar berat kamu,” cerca Alena.
Entah, kenapa selalu saja ia emosi jika melihat Rahel dikerumuni banyak wanita. Selepas mengatakan itu, Alena pergi menuju kelasnya. Semua diam melihat hal itu, mawar yang Rahel bawakan tidak sedikitpun disentuh olehnya. Sungguh Rahel sangat merasa bersalah. Tidak biasanya Alena marah seperti itu, Rahel tahu kalau Alena pasti sangat kecewa pada dirinya.
“Alena, kenapa itu Rahel?” tanya Pisya mengejarnya.
Pisya bertanya-tanya, “Apa yang dilakukan temannya ini keterlaluan?”
Sesampainya di kelas Alena langsung merebahkan kepalanya dan menutupinya menggunakan tas. Bukan apa-apa, Rahel memang romantis tapi apa yang dilakukannya membuat Alena malu.
Semua siswi melihatnya, bahkan marahnya masih belum reda. Ia tidak bisa melakukan apa-apa selain mengusir dan itu pastinya membuat Rahel lebih malu darinya. Sudah repot-repot kesini, sampai bolos sekolah sendiri tapi bukannya mendapatkan maaf malah diusir.
 “Len, Alena... Rahel pingsan,” ujar Widya datang tergesa-gesa dengan raut wajah cemas.
Alena yang mendengarnya terkejut karena ia tahu jika Rahel memiliki Mag. Secepatnya Alena turun dan disana, ia bertemu dengan Rahel yang sudah tergeletak di lantai.
“Rahel,” gerutu Alena sembari meminta jalan sehingga membuat semua siswa berhamburan.
Alena memeluk Rahel yang pingsan. Air matanya tiba-tiba menetes.
“Rahel bangun. Aku udah maafin kamu. Apa tidak ada yang ingin menolongnya?!” teriaknya sambil sesegukan sedangkan yang lain hanya melihatnya.
Semua siswa pun berkumpul mengelilingi mereka tapi tidak menolong Rahel.
“Rahel buka matamu!” emosi Alena.
Rahel masih tidak bergerak. Semakin membuat cemas Alena. Ia tak tahu harus bagaimana sehingga Alena menyalahkan dirinya. Alena berpikir kalau Rahel tidak sarapan karena ingin menghampirinya ke sekolah tapi Alena mengabaikannya.
“Alena,” celetuk Widya sembari menunjuk ke arah Rahel yang bangun dari pingsannya sehingga membuat Alena bingung.
Rahel segera mengeluarkan sebuah huruf yang bertuliskan, “Maaf.” Alena jadi paham kalau ternyata, ini merupakan rencana Rahel dan Widya agar Alena mau memaafkan Rahel. Sejenak Rahel mengeluarkan kembali bunga itu membuat Alena tak bisa berkata apa-apa. 
“Ambil... Ambil... Ambil...,” seru semuanya.
Alena berpikir, berdialog dalam hati, “Jika Alena mengambilnya berarti ia sudah memafkannya.”
Alena segera mengambilnya dan langsung mendapat sorakan. Rahel senang, akhirnya ia bisa berbaikan dengan Alena dan Alena pun memeluknya. Alena jadi sadar dan merasa khilaf karena sempat kepikiran jika akan menghianatinya tapi kenyataannya hati Alena tak bisa di bohongi. 
“Aku mencintaimu,” ungkap Alena dalam dekapan Rahel.
SEKIAN.

Biodata Penulis Cerpen
Nama : Sitti Khairunnisak
Panggilan : Runni

Posting Komentar

0 Komentar