IKLAN

Sebuah Karya Cerpenis; Syifa Aulia dengan judul "PERPISAHAN TANPA BELENGGU"

Gambar ini diambil dari google

PERPISAHAN TANPA BELENGGU
Karya Cerpenis; SYIFA AULIA


Mentari memang baru saja terbit tapi tak lama kemudian, ia pasti akan tenggelam kembali, seperti inilah memang seharusnya tak ada yang bisa mengubah takdir. Jika memang inilah saatnya, aku ikhlas melepaskanmu. Aku tidak akan bisa membelenggu kebebasan takdir. Aku akan mengisolasi perasaan yang menggebu-gebu ini untukmu. Aku pasti mampu melepasmu dengan senyuman terhangatku. Memang pasti akan berat rasanya menjalani kehidupan tanpa hadirnya dirimu seperti yang lalu. Namun, aku harus terus maju, begitu juga dengan kau harus bisa melewati semua ini dan selalu mengejar impianmu.

“Ayo.... Ayo, adik-adik kumpul ditengah lapangan, cepat!”
“Haduh, jangan lelet dong!”
“Hai, kamu enggak bawa atribut sesuai ya!? Sini kamu harus kena hukuman!”

Teriakan demi teriakan teman-teman KOMDIS sudah menggema sejak matahari masih malu-malu di ufuk timur. Gambaran raut takut dan gelisah tampak jelas di wajah mahasiswa baru yang hari ini melaksanakan OSPEK. Kadang gak tega sih, melihat wajah-wajah polos mereka kena marah seperti itu. Tapi, ya, inilah proses harus selalu dilalui agar mereka juga kebal nantinya, saat kena marah dosen di dunia perkuliahan. Eh, kenalin dulu! Aku; William Farel, teman-teman sering memanggilku Farel. Aku adalah mahasiswa semester 5 yang lagi bertugas jadi pengurus bidang kesehatan dan medis di OSPEK tahun ini. Hitung-hitung, sekalian cuci mata dan cari MABA (Mahasiswa Baru) yang cantik-cantik. Hehehe. Aku juga menjadi anggota BEM Universitas. Sepertinya, setiap tahun aku jadi pengurus bidang kesehatan karena memang aku udah punya basic sejak kecil, kebetulan mama adalah seorang dokter dan sejak dulu aku sudah diajari cara menangani orang yang sakit, bukan untuk modus (modal dusta) ke anak maba ya....

“Kak Medis, tolong ini ada anak yang asmanya kambuh agak parah,” kata salah satu panitia dengan membawa tandu dengan seorang gadis yang sudah terengah-engah diatasnya.
“Oh ya, sini-sini, tolong yang tidak berkepentingan minggir, beri ruang untuknya!” jawabku sambil menyiapkan tabung oksigen.
“Kamu enggak bawa obat asma, Dik?” tanyaku padanya.

Dia hanya bisa menggelengkan kepalannya. Lalu aku membantunya untuk memasangkan selang oksigen di hidungnya sambil menenangkannya perlahan mengatur nafasnya yang terengah-engah hingga akhirnya mulai stabil sedangkan teman-teman yang khawatir juga sudah mulai kembali melanjutkan tugasnya masing-masing. Tugasku adalah menemaninya karena petugas/panitia medis yang lain sedang mendampingi di lapangan. Dia tidur untuk beberapa saat dan mulai terbangun. Aku yang duduk dikursi samping ranjangnya menyadari dia sudah terbangun. Lalu klontarkan pertanyaan padanya, “Bagaimana sudah mendingan kondisimu?”
“Ya, Kak, sudah. Terima kasih, Kak.”
“Sama-sama. Lain kali, kalau udah ngerasa badannya enggak enak, langsung bilang aja biar enggak kambuh parah kaya gini,” tuturku kepadanya.
“Ya, Kak.” Begitu jawab adik itu singkat.
“Nama kamu siapa ya?”
“Namaku Natalie Eveline, Kak, bisa dipanggil Eve.”

Dari percakapan singkat itu kutau namanya. Hmm, nama yang sangat cantik secantik rupanya. Entah, kenapa memandangnya untuk pertama kali saja membuat jantungku berdegup cukup kencang?!? Aku sangat khawatir saat dia sakit tadi, padahal baru saja kumelihatnya.

*****

Hari berlalu begitu cepat, OSPEK pun juga sudah berakhir. Kini saatnya kembali ke rutinitas. Menjadi seorang mahasiswa yang harus mengerjakan tugas bejibun dan laporan serta tak lupa minum kopi bersama teman sekampus   ditengah rutinitasku ini, tiba-tiba aku teringat seorang gadis yang bernama Eve kemarin sambil kubatin, “Apa kabarnya hari ini?”

Panjang umur, saat aku berjalan di lorong menuju kesekretariatan BEM ada anak gadis memakai baju hem kotak-kotak merah beserta celana jeans dengan kuncir kuda di rambutnya yang sedang mengambil formulir pendaftaran anggota baru BEM; Eve.

“Hai, Eve,” sapaku.
“Eh, Kak Farel...”
“Daftar BEM nih,” selidikku santai.
“Iya, Kak,” sahutnya dengan cengiran.
“Good luck ya!” tutupku.

Entah, mengapa rasannya sangat bahagia melihat dia akan seorganisasi denganku?!? Ya, kalau dia masuk dalam seleksi sih, sepertinya seru melihatnya mengikuti seleksi tapi sayangnya, minggu ini aku harus mengikuti lomba Debat Nasional di Lampung. Pupus sudah harapanku untuk ikut menyeleksinya.

Seminggu berlalu, akhirnya aku kembali ke Jakarta setelah berhasil membawa trophy kemenangan di lomba tersebut. Senang rasanya bisa membanggakan almamater dan keluarga. Aku sering mengikuti kejuaraan seperti ini dan tentunya butuh usaha yang keras untuk mendapatkan juara atau membawa trophy kemenangan, tapi itulah salah satu mimpiku dan mimpi harus tetap berjalan bagaimanapun sulitnya.

Hari ini meet up pertama BEM Universitas. Semua anggota BEM baik yang lama maupun yang baru berkumpul, satu demi satu anggota datang dan mataku langsung tertuju pada Eve yang berjalan memasuki ruangan. Ternyata, dia diterima masuk ke BEM Universitas. Senang sekali bukan main rasanya bisa melihatnya lolos sekeksi di BEM! Bahagia pasti dong! Rasanya kegiatan organisasiku akan lebih bewarna nanti.

“Semoga kalian bisa bekerja sama dengan baik selama satu periode ini,” kata ketua BEM.
“Siap!” jawab anak-anak serentak.

Pembagian divisi juga telah dibagi dan ternyata, Eve menjadi seorang bendahara, tak heran, memang kelihatannya dia anak yang bisa diandalkan. Meet up telah usai semua anggota berhamburan keluar ruangan, ada yang masih nongkrong, ada pula yang bergegas pulang, tak terkecuali Eve. Hmm, ingin rasanya mengantarnya pulang tapi saat itu juga harapanku untuk bisa mendekatinya seakan rusak lantaran dia sudah dijemput oleh seorang laki-laki tinggi, tampan yang berdiri di seberang, bahkan mereka terlihat sangat akrab.

“Eh, Dik, Eve sama pacarnya ya?” tanyaku pada salah satu teman Eve bernama Putri.
“Ya, Kak. Mereka sudah pacaran sejak SMA. Ada apa, Kak?”
“Oh, tidak apa-apa. Terima kasih.”

Baiklah! Pupus sudah harapanku untuk mendapatkan hatinya karena seseorang yang berhasil membuat perasaanku terasa berbeda saat bersamannya, ternyata, sudah punya pasangan sendiri. Hahaha. Ah, itu tidak masalah! Aku harus bisa menutup rasa sesak di dadaku dengan hal-hal positif lain. Jujur, sedih memang, nyesek banget tapi aku harus bisa menerima kebenaran ini. Di lubuk hati terdalamku, aku akan senantiasa menunggunya. Meskipun terlihat egois tapi inilah perasaan manusiawi seseorang.

*****

Minggu demi minggu sudah kulewati tanpa mengharapkan kehadirannya tapi aku tidak mau menjadi munafik karena menyangkal bahwa aku tidak memikirkannya. Ditengah usaha ku melupakan Eve, bahkan sudah beberapa teman perempuan yang mendatangiku untuk sekadar memberiku hadiah atau ingin lebih dekat denganku tapi rasanya hatiku masih tertutup untuk satu orang yang dulu pernah kutolong saat OSPEK mahasiswa baru.

Sore itu, di taman aku berjalan sendiri sedikit melupakan tugas kuliah dan beban hidup. Di sana aku memandang anak-anak kecil yang sedang bermain, mendengar gemercik air mancur yang menenangkan dan melihat hamparan tanaman bunga indah dipandang mata membuat pikiran menjadi lebih jernih. Aku terus berjalan dan berakhir saat menemukan isak tangis seorang wanita yang sedikit menggangguku dan sepertinya aku tahu siapa wanita itu, kudekati dengan perlahan.

“Butuh tissue?” tanyaku padanya sambil menyodorkan sebuah tissue.

Memandang dengan heran, lalu sadar akan kehadiranku dan menjawab, “Ya, Kak. Terima kasih,” mengelap air matanya.

“Dimarahin Dosen ya, gara-gara enggak ngerjain tugas?” candaku untuk menghiburnya.
“Tidak, Kak,” jawabnya dengan sedikit memamerkan senyum manisnya.
“Lalu?”
“Usai, Kak,” jawabnya sambil menahan tangis.
“Sedih?”
“Tentu.”
“Aku juga, saat seperti kamu ketika melihat orang yang kamu inginkan menangis, hatimu pasti akan 1000 kali lebih sakit darinya. Ikutlah denganku akan kuhilangkan kesedihanmu!”

Dia tidak menolak, kutarik lembut tangan mungilnya, aku sudah tidak tahan melihatnya bersedih, kubonceng dia di jok belakang W 175 milikku, kubawa dia keliling kota sore itu. Kami juga sempat mampir ke toko ice cream dan berhenti di taman bermain, kami bermain-main disana hingga raut kesedihan diwajahnya berlahan berganti menjadi lautan semyum tawa yang manis. Saat itu ingin rasanya dunia ini kuhentikan, ingin kuterus bersamanya seperti ini tapi langit malam sepertinya tidak mendukung. Kini sang pencipta menurunkan hujan yang membuat kami terpaksa untuk pulang.

Memang aku tidak suka melihatnya sedih seperti ini karena putus dari kekasihnya. Namun, disisi lain perasaan senang juga muncul karena kesempatanku untuk dapat lebih dekat dengannya lebih besar dan benar saja semenjak saat itu, entah, bagaimana dia mulai terbuka padaku dan kami juga semakin dekat. Kini pesan demi pesan melalui WA (WhatsApp) setiap hari kami kirim, sekadar bertanya kabar, seperti sudah makan atau belum. Yah, selayaknya remaja pada umumnya, kami juga sering mendapat satu project kegiatan dalam BEM Universitas.

“Sebulan lagi kami akan melaksanakan kegiatan BEM, yaitu konser. Kami berharap semua panitia benar-benar melaksanakan jobdesc dengan baik,” kata ketua pelaksana.
“Kak, apa perlu kita menyiapkan MC mulai sekarang?”
“Ya, kita akan mengambil MC dari anak ILKOM.”
“Penyewaan panggung juga harus sudah di fix kan minggu ini?”
“Tentu. Mungkin, ada tambahan lain? Jika tidak ada maka kita cukupkan rapat sampai di sini. Terima kasih sudah menyempatkan waktunya untuk mengikuti rapat.”

Sekiranya seperti itu sepenggal dialog rapat hari ini, sebulan lagi BEM akan mengadakan konser yang mengundang salah satu artis favorit Eve, yaitu Tulus. Tentu, aku tahu, dia selalu memameriku foto-foto Tulus  di ponsel genggam miliknya.

Hari ini seperti biasa kami pulang kerumah bersama, dia kuantarkan pulang. Setibannya dirumah aku bertemu mamanya, dia mengenalkanku kepada mamanya, kucium tangan mamanya dan berpamitan untuk pulang. Bagaimana dengan ayahnya? Ayah Eve adalah seorang pebisnis sukses, dia sering sekali bolak-balik ke luar negeri demi menjalankan perjalanan bisnis.

Sebulan telah berlalu, sepertinya hubunganku dengan Eve sudah sangat dekat, dia juga sudah bisa move on dari mantannya yang sengaja pergi demi wanita lain. Mungkin, inilah saatnya aku menyatakan apa yang aku rasakan kepadannya selama ini. Di konser Tulus yang ditunggu-tunggu dan membuatnya merasa bahagia, aku akan mencoba untuk melengkapi kebahagiaannya itu.

Tetaplah bersamaku jadi teman hidupku
Berdua kita hadapi dunia
Kau milikku, milikmu kita satukan tujuan
Bersama arungi derasnya waktu
Kau milikku, ku milikmu
Kau milikku, ku milikmu ~(Sepenggal lirik lagu Tulus)

Ditengah suara gaduh penonton yang bernyanyi bersama Tulus saat itu, kutarik Eve untuk menuju ke tengah kumpulan penonton, dia masih bertanya, mengapa dia dibawa ke sana saat dia masih menikmati artis favoritnya itu manggung.

“Suka ya?” tanyaku padanya dengan nada sedikit berteriak agar terdengar olehnya.
“Ya, Kak. Suka banget,” jawabnya dengan berteriak juga.
“Ya sama, aku juga suka sama kamu!”
“Haa? Gimana, Kak?”
“Aku suka sama kamu, mau enggak jadian?”
“Ya, aku juga suka sama Tulus.”
“Lah,” geretuku.
“Ya, mau, Kak. Hehehe.”
“Gimana, sekali lagi?”
“Aku mau jadian sama kak Farel.”

Tak terasa pelukan hangat terjadi, sungguh sangat senang rasanya, perasaan yang berbeda, akhirnya seseorang yang mampu membuat jantungku berdetak kencang saat di dekatnya mau menerimaku.

*****

Hari-hari berlalu, setiap hari kami lewati seperti halnya pasangan-pasangan lain. Kami saling melempar kasih sayang satu sama lain, biarkan tetap begini hingga saat-saat semester tuaku tiba, ketika aku menjadi sangat sibuk untuk membuat laporan dan menyiapkan skripsiku sampai aku jarang memberikan kabar pada Eve, tapi hari ini aku mengajaknya keluar untuk jalan bersama sekadar memecahkan celengan yang sejak lama kami tabung.

“Maafkan aku ya, Eve kalau lama enggak kasih kabar ke kamu? Aku lagi sibuk buat laporan dan persiapan skripsi.”
“Ya, Kak. Tidak apa-apa, Eve mengerti, kok.”
“Kamu kenapa kok, kelihatan sedih gitu?”
“Tidak apa-apa, Kak,” jawabnya sambil menundukkan kepala.

Beralih kehadapannya, memandang matanya dan kembali bertanya, “Jujurlah padaku Eve?”
“Papa, Kak. Papa akan membawaku dan Mama pindah ke Belanda sehingga meminta aku untuk ikut bersamannya.”

Sungguh hatiku bimbang mendengarnya, disatu sisi aku akan kehilangannya dan disisi lain aku tidak mungkin mencegah keinginan Papa dan Mamanya.

“Pergilah Eve! Mungkin itu yang terbaik untuk masa depanmu.”
“Enggak, Kak. Aku sudah memutuskan untuk tinggal disini! Aku enggak akan meninggalkan kakak. Aku sayang sama kakak. Aku akan melanjutkan kuliah disini dan jika nanti aku kangen Papa dan Mama, aku tinggal menyusulnya ke sana.”
“Tapi Eve, kamu juga dapat beasiswa di sana kan?”
“Bagaimana, kakak bisa tahu?”
“Dari Putri, teman sekelasmu. Pergilah untuk mengejar kesuksesanmu, Eve!”
“Tapi Kak, jika aku nanti pindah ke sana, kesempatan untuk bertemu dengan kakak sangat sedikit atau mungkin kita tak akan pernah bisa bertemu kembali.”
“Jika memang Tuhan mentakdirkan kita bersama nanti, pasti Tuhan akan menyatukan kita kembali. Mungkin inilah jalan terbaik untuk kita.”

Eve menangis saat itu, tak terasa air mataku juga tidak terima akan keadaan ini tapi aku berusaha untuk mencegahnya. Kuantar Eve ke bandara bersama kedua orang tuannya untuk berangkat ke Belanda. Sangat sedih memang, tapi aku selalu berusaha untuk menahannya, melihat pesawatnya terbang meninggalkan bandara membuatku sadar bahwa Tuhan memang adil, ketika kami dipertemukan pasti akan ada perpisahan.

Tinggal bagaimana kita menyikapinnya dan mungkin inilah jalan yang terbaik untuk kami berdua, menjalani mimpi dan kehidupan masing-masing yang memang terpisah oleh jarak. Namun, aku akan terus berharap suatu saat nanti kami dapat dipertemukan kembali dengan kisah yang lebih indah.
SEKIAN.


BIODATA CERPENIS
Nama Lengkap : Syifa Aulia Mahadewi
Asal Kota : Surabaya, Jawa Timur
Pendidikan : Universitas Negeri Surabaya

Media Sosial
> Instagram : @syifa_amd
> Wattpad : @syifaaachan

Terima kasih sudah membaca tulisan saya. Salam literasi.

Posting Komentar

0 Komentar