IKLAN

"MY EXPECTION," KARYA CERPENIS WIWID NOVI SAFITRI

MY EXCEPTION
Oleh : Wiwid Novi Safitri


sumber foto : www (dot)matakota(dot)id


“Kita berteman saja ya, soalnya perasaan itu sejatinya gak bisa dipaksa,” ucapku lirih kepada Vita.
“Ya, tidak apa-apa kok. Memang hati tak pernah bisa dipaksa,” jawab Vita pelan.

***

Kalimat itu selalu tergiang di kepalaku. Aku terpaksa melakukannya. Namun, sepertinya egoku yang memaksaku melakukannya. Masih teringat jelas, bagaimana aku pertama kali bertemu dengan Vita, sesosok gadis mungil yang punya pemikiran cerdas menyampaikan pemikirannya di tengah perkumpulan mahasiswa Fakultas Hukum. Aku takjub, bagaimana dia paham materi kuliah yang bukan termasuk materi pokok kuliah kami. Jika Vita hafal materi kuliah yang bukan materi pokok itu bagiku bukan hal yang asing, jika seorang mahasiswa menghafal dengan tekun dengan membawa buku materi kuliah dimanapun dia berada, aku rasa masih masuk akal sedangkan Vita menjelaskan dengan gamblang materi kuliah yang bukan materi pokok yang dipelajari. Sungguh hal yang luar biasa bagiku, bukan seperti aku yang hanya mahasiswa bermodal tampan.

Rasa penasaran yang semakin besar membuatku tiada henti untuk mencoba menemui Vita. Tiap kesempatan kuhampiri kelasnya, kutunggu dia keluar dari kelas, kucoba pasang senyum terbaikku. Namun, dia melewatiku tanpa mengganggap aku ada. Duh, rasanya semakin penasaran. Tak pernah ada sekalipun gadis yang tak pernah terpikat olehku ketika aku mencoba mendekati mereka. Fuckboy tampan begitu julukan teman-teman terhadapku. Ku putar otak untuk mencari cara bagaimana aku bisa berteman dengan Vita melalui cara yang natural, terasa pening dan mengapa pesonaku tak pernah berhasil memikatnya.

“An, ngapain ke kelasku? Jemput aku ya? Tapi makasih loh aku bawa motor,” suara Tyas menghamburkan imajinasiku. Oh ya, kenapa aku tak pernah ingat jika Tyas Paramita, adik kelas SMA-ku, yang juga merupakan teman sekelas Vita. Berbeda dengan Vita, Tyas adalah gadis yang ceria cenderung membuat para lelaki ilfeel dengan ocehan jujurnya. Namun, dia rela melakukan apapun untuk orang yang dianggap penting untuknya. Kesempatan pun kumanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Yups, bagiku, Ardian Herdinansyah, mahasiswa Fakultas Hukum semester lima takkan menyerah untuk mendekati hati adik tingkat; Vita Putri Fahriza. 

***

“An, Ardian. Kayaknya Vita udah punya pacar deh?!? Dia no respect tiap aku mancing nyebutin namamu. Susah banget ngajak ngobrol Vita apalagi sebut nama cowok,” keluh Tyas kepadaku.
“Aku minta nomer HP-nya Vita aja deh, kelamaan nungguin kamu pakai acara mancing-mancing segala. Emang si Vita ikan terus kamu alat pancingnya dan aku umpannya?!” jawabku ketus.

Gelegar gelak tawa kami berdua setiap akhir pembicaraan tentang Vita membuat kami selalu terputus dengan diusir ibu kantin.

“Kalau suka sama cewek itu mbok ya didekatin, bukan diomongin tiap hari. Emang gak bosen topiknya itu terus? Lama-lama ibuk Ning kasih tahu ke Vita lho kalian.... Gini-gini ibuk juga kenal sama Vita,” seloroh ibuk Ning sambil tertawa.
“Ngomongin siapa sih, buk Ning? Heboh banget dari tadi jadi penasaran,” sesosok perempuan muncul di belakang warung Buk Ning.

Aku kenal wanita itu, ternyata, Vita yang aku bicarakan dari tadi dengan Tyas. Kami berdua pun bergegas pergi karena tak sanggup menahan malu dan semoga Vita tak mendengar apa yang aku omongkan dengan Tyas.

***

Keesokan harinya, ku coba mengirim pesan kepada Vita dengan dalih perkumpulan organisasi yang sedang aku pimpin. Respon Vita diluar dugaan, dia menyambut baik perhatianku, walau hanya sekadar membahas masalah organisasi. Celah ini kumanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk usaha PDKT dan berharap akan segera berhasil. Beberapa bulan ini, aku dibuat kecewa dengan perilaku dua mantanku. Pengalaman pahit dengan keegoisan dan keposesifan Seinley, usahaku mempertahankan hubungan dua tahun harus berakhir pedih, begitu pula dengan Lisa, mahasiswa keperawatan yang hanya menganggapku pelampiasan ketidakpastian hubungan dengan pacarnya. Berbeda dengan keduanya, Vita sosok yang dewasa dengan pemikiran yang tajam mirip Najwa Shihab membuatku semakin terpesona.
Ring ring ring ring.

Telepon genggamku berbunyi, ku baca pesan dari Vita; pujaan hatiku memberi kabar jika Tyas masuk RS karena asam lambung. Kusambut gembira ketika Vita memintaku untuk menemani menjenguk Tyas, walau terpaksa aku harus tersenyum sengir karena Vita lebih memilih mengendarai motornya sendiri dan tak mau ke bonceng. Aku kecewa tapi aku cukup senang, akhirnya aku bisa berjalan di sampingnya dengan alasan menjenguk Tyas. Dalam hati aku berkata, semoga bukan kali ini saja aku bisa berjalan di sampingnya.

***

Waktu berlalu semakin cepat dan Vita pun semakin akrab denganku, tiap hari berkirim pesan bahkan aku mulai berani meneleponnya dengan topik yang berbeda-beda termasuk keluh kesahku dan cerita tentang keluargaku. Kami semakin akrab dan aku menikmati waktu-waktu kebersamaan itu. Makan siang sepulang kuliah bahkan jalan-jalan untuk sekadar mencari bahan kuliah. Laju motor yang pelan menjadi saksi jika aku menikmati berbincang dengan Vita di atas motor, suara lembutnya semakin terdengar merdu di telingaku. Jika bukan karena helm yang kupakai, mungkin saja dagu Vita sudah bersandar di pundakku. Aku menikmatinya dan aku benar-benar jatuh cinta padanya.

Bagai punguk merindukan bulan dengan kenyataan punguk berhasil memeluk bulan. Hehehe. Bahagiaku tak terkira. Begitu bahagianya aku bisa mendapatkan hati Vita. Seakan ingin kulewati waktu hanya bersamanya. Ya Tuhan, semoga Engkau menjodohkan aku dengannya.

Beberapa bulan kemudian, setalah ujian semester Vita menghubungiku dan meminta bertemu di cafe dekat rumahnya. Aku kaget melihatnya dengan mata yang sembab, padahal yang aku tahu Vita tak pernah punya masalah apapun dengan teman, keluarga bahkan dengan ekonomi keluarganya karena yang aku tahu dia berasal dari keluarga kaya raya berbanding terbalik denganku yang hanya mengandalkan penghasilan ibuku; hanya pekerja pabrik karena aku seorang yatim. Vita hanya menunduk, menangis selama dua jam.

Tak banyak berkata, aku bingung apa aku punya salah atau telah menyakiti hatinya. Akhirnya, tangis Vita mulai reda dan mulai bercerita dengan terbata-bata tentang apa yang membuatnya menangis begitu keras. Namun, rasa penasaran ini tak berbanding dengan besarnya rasa kecewaku. Seketika aku rapuh, lemas mendengar cerita yang keluar dari bibir mungil Vita. Aku linglung, lemas dan takut dengan kelanjutan harapanku hidup bersama Vita karena ayah Vita kalah dalam mencapai tujuan sehingga tak dapat memenuhi kewajibannya untuk melunasi tunggakan itu. Aku tak bisa membantu apa-apa karena keseharianku dengan biaya hidup masih ditopang oleh ibuku dan penghasilan sebagai tentor bimbel kecil tak sebanding dengan biaya tunggakan yang harus dibayarkan oleh ayah Vita.

“Mas Ardian, ayahku punya solusi untuk permsalahannya tanpa harus berurusan dengan ranah hukum dengan rekan ayah. Namun, solusi itu yang akan membuatmu sakit hati.”
“Apa itu? Aku tidak akan sakit hati asal kamu bisa senyum lagi seperti dulu,” jawabku.
“Rekan ayahku akhirnya memberikan solusi jika dapat diselesaikan dengan cara kekeluargaan seperti halnya untuk meminangku demi putra sulungnya mendapatkan kebahagiaan,” ucap Vita dengan dengan derai air mata lagi.

Terasa ada petir menyambar di rongga dadaku, aku sakit mendengar ucapan Vita tetapi tak sanggup berontak. Kuusap punggung tangan Vita dan kupikir dengan cara itu aku yakin jika aku mampu memberi jawaban yang melegakan hatinya. Aku mengangguk tanda setuju dengan solusi demi keselamatan ayah Vita. Kami pun beranjak pulang dengan perasaan campur aduk tak karuan. Aku takkan pernah bisa memaksa Vita agar tetap bersamaku karena dia adalah pengecualianku. Pengecualian hatiku karena aku takkan pernah membiarkan dia terluka bahkan sedikitpun untuk terluka.

Waktu terus berlalu dan aku mencoba melepas Vita. Kubuat kesibukan tanpa batas bahkan aku sengaja mengurangi lama tidurku karena aku takut akan bermimpi tentang Vita. Aku muak menjalani kehidupan seperti ini. Aku jenuh. Muncul pikiran burukku, aku ingin membawa kabur Vita. Keinginan itu terwujud dengan alasan untuk meninjau lokasi kegiatan outbond Fakultas. Aku membawa Vita pergi jauh dengan laju motor kencangku tanpa sepengetahuan Vita akan ku bawa kabur. Namun hati ini bimbang ditambah Vita sadar akan rencanaku sehingga membuatku tak konsen menyetir motor. Kami berdebat kecil. Seketika itu, tiba-tiba penglihatanku buram dan gelap.

***

“Mas Ardian, kamu sudah sadar? Kita di rumah sakit, Mas. Motor Mas jatuh di tikungan jalan tadi,” suara lirih Vita.
“Terus kamu gimana Vit?”
“Cuma lecet. Hehehe. Tapi celanaku robek Mas. Tanggung jawab lho! Celanaku tadi baru sekali pakai masih bau toko,” senyum Vita menggodaku.

Aku sadar, aku melukai Vita tak hanya hati bahkan sampai fisiknya karena keegoisanku. Vita tetap menghibur seakan lupa apa yang membuat kami kecelakaan seperti ini. Setiap hari dia datang dan tersenyum membawa beberapa makanan kesukaanku selama di RS. Lukaku cukup parah sehingga aku harus dirawat di RS. Di hari terakhir aku dirawat, aku sengaja mengusirnya dan berkata bahwa kecelakaan ini terjadi karena Vita membawa sial. Lalu aku berkata, “Pergi dengan calon tunangan orang hanya akan membawa sial.” 

Vita menangis dan keluar dari kamarku. Aku mulai bangkit dan menghubungi beberapa mantan pacarku untuk melupakan Vita. Aku mencoba menghabiskan hari-hari bersama Lisa, walau rasanya takkan pernah senyaman dengan Vita. Hati ini sakit, ketika aku dan Vita harus bertemu tak sengaja di kampus. Kemudian aku berakting seolah tak pernah terjadi apapun. Aku terpaksa harus menutup hati dengan sengaja mengajak Lisa ke kampus untuk menyakiti hati Vita lagi. Aku yakin dia pasti terluka dan semakin terluka.

***

"Mas Ardian, kita gak bisa seperti ini terus. Aku harus ngomong, Mas. Ayahku menjual warisannya di luar kota untuk melunasi hutangnya. Aku bukan calon tunangan orang dan aku bukan pembawa sial karena kecelakaan itu. Semua itu musibah, sekarang kamu harus sadar dan gak perlu pura-pura lagi. Jangan tanya aku tahu dari mana, aku tahu semua, Mas. Aku dan Tyas sudah tahu semua, Mas. Jadi, gak perlu pura-pura lagi. Kamu cuma jadikan Lisa pelampiasan,” celoteh Vita untuk menghentikanku menemui Lisa di parkiran kampus.

Aku tetap menyangkalnya. Aku berjalan cepat dengan menahan sakit di kakiku akibat kecelakaan itu. Aku berhenti tepat di aula kampus, tempat aku pertama bertemu dengan Vita. Aku mencoba menjelaskan pada Vita jika aku sudah menjalin asmara lagi dengan Lisa dan aku tak mau kehilangan Lisa lagi. Lisa dan keluarganya menerima apa adanya aku dengan segala kekuranganku. Aku takkan bisa jujur jika aku cacat akibat kecelakaan itu, aku takkan bisa membahagiakan Vita dengan kondisiku yang seperti ini karena aku hanya menjadi beban untuknya dan keluarganya yang sudah terpuruk ekonominya. Aku takkan pernah bisa membuatnya tersenyum lagi. Masa depanku tidak jelas dan aku tak mau Vita tersakiti lagi karena dia adalah pengecualianku.

Sesaat kemudian, Vita mulai terdiam, tak mendesakku lagi.
“Kita berteman saja ya? Soalnya perasaan itu sejatinya gak bisa dipaksa,” ucapku lirih kepada Vita. 
“Ya, tidak apa-apa. Memang hati tak pernah bisa dipaksa,” jawab Vita pelan.

Selamat tinggal pengecualianku, my exception is Vita Putri Fahriza. See you.

***** SEKIAN *****

BIODATA PENULIS
Nama Lengkap : Wiwid Novi Safitri

Media Sosial
>>Instagram : @cha.wiwid (Wiwid Safitri)

Posting Komentar

0 Komentar