IKLAN

www.jaringanpenulis.com

MIMPI DALAM KEHILANGAN Part-1

HARAPAN

“Memulai adalah suatu cara untuk mencapai”
            Ketika senja mulai menyibak menuju kegelapan, aku masih saja termenung di tengah sawah. Ya, sawah adalah tempat favoritku ketika aku menuliskan mimpi-mimpiku dengan secarik kertas yang selalu di genggam. Ini anggap sebagai doa-doaku pada sang Ilahi. Kepada senja itu aku berkata, “Ingin aku coba berkeliling kota, tapi bukan hanya kota di Indonesia saja yang aku jajaki, tapi kota di seluruh dunia.” Aku melirik matahari yang tersenyum hendak kembali ke rumahnya.
Tapi bisikan jahatku kadang muncul begitu saja dimulai dari telinga kiriku. Tak ayal bisikan itu terkadang membuatku pesimis.
            “Bagaimana bisa kamu keliling kota di seluruh dunia. Ke kota Jakarta yang itu Ibukota Indonesia saja belum pernah.” Aku menghembuskan napasku membiarkan terbawa angin Sore hari.
SLEPETTTTTTTT
            Aku menghela napas. Di sebrang sana aku melihat Dodi si jahil melempariku dengan batu kecil. Aku Ingin marah dan berteriak lalu mengejarnya. Huh sangat jahil.
            Enggeus atuh. Udah deh Ndri Jangan kebanyakan ngayal mulu. Ini waktu udah mau Magrib, cepet pulang, dicariin Emak.”
Hampir saja aku hendak marah dan hampir juga tanganku melepaskan batu kecil yang telah ku genggam sebelumnya, tapi Dodi memberitahuku untuk pulang. Memang Doni salah satu saudara lelaki dari pamanku, orangnya jahil namun perhatian, seperti sekarang ini, melempariku dengan batu tapi niatnya baik.
Oh iya Maafkan aku mimpi, harus berhenti sejenak untuk berilusi, karena lemparan batu yang hinggap di kepalaku tadi.
********
            Matahari mulai menyembul setinggi tombak. Embun pun mulai meleleh dimakan matahari, ditambah burung-burung berkicau merdu sambil mengepak-ngepakan sayapnya di tangkai pohon. Ada beberapa burung yang izin kepada anaknya sebelum mencari rezeki di alam raya ini. Itulah suasana pagi Kampung Naga. Sebuah kabupaten kecil di Tasikmalaya yang begitu asri nan indah di pelupuk mata. Bagaimana tidak, perkampungan yang khas dengan Sunda ini kaya dengan pemandangan alam. Misalnya sawah pun dibentuk secara berundak-undak, tanaman buah-buahan dan sayur-sayuran sangat rindang di belahan bumi priangan timur ini. Jadi tak ayal jika pekerjaan mereka sebagai petani dijadikan mata pencaharian pokok untuk menghidupi keluarga kami semua. Bulan April ini warga sekitar akan bergemul berbondong-bondong untuk pergi ke sawah yang berpetak-petak.
            Sawah yang mulai menguning, menandakan musim panen telah tiba, inilah hasil yang ditunggu-tunggu para petani guna meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Aku yang juga anak kampung pasti untuk pergi ke sawah adalah kebiasaanku yang ditanamkan Emak sejak kecil. Meskipun semakin dewasa kadang aku bandel dan agak malas untuk ke sawah, ditambah usiaku yang baru puber. Aku sedang senang-senangnya menghias diri, berlenggak-lenggok di depan cermin dan tak mau panas-panasan.
            “Neng, jangan tidur mulu, bantu emak sekarang cepet mandi udah mau subuh, geuning perawan teh males aja. Masa jadi anak perawan males aja.” Beginilah nasib jadi anak desa yang kadang aku termenung menjiwai begitu disiplinya kehidupan ini, kadang membuatku kesal atau bahkan malu sendiri terhadap diriku sendiri.
            “Iya mak,” kataku sambil beranjak bangun dan bercermin melihat kerudung bergo ku yang berantakan ala-ala bangun tidur.
            Pukul 04.30 WIB, masih disebut kesiangan? Antara tidur lagi atau mandi, inilah pilihan remaja yang agak malas sepertiku. Menunggu azan Subuh rasanya ingin menunda bangun dan tidur kembali kira-kira 10 menit. Namun rintikan air menghujam badanku, ya aku dikepret oleh ibuku lagi,
            “Dikira teh udah bangun, bebenah tempat tidur, atau mandi. Eh malah tidur lagi! Cepetan ke kamar mandi keburu ngantri.”
            Kali ini aku benar-benar bangun badanku mencoba tegak, membayangkan seperti upacara bendera pada hari senin. Ku coba tegak ketika mendengar kata ngantri. Kami, di desa ini jarang sekali yang mempunyai kamar mandi pribadi, bisa dibilang hanya orang-orang kaya saja yang punya, selebihnya ngantri di kamar mandi umum. Sangat resiko jika tengah malam kebelet buang air, harus sedia lampu tembak saja dan menahan takut dari gelapnya malam, membiarkan burung-burung hantu berkicau di atas pohon, yang tepatnya diatas kepala. Itu sudah sangat biasa. Kali ini aku menunggu sekitar 10 orang yang beraktivitas di kamar mandi; ada yang  mandi, buang hajat, mencuci baju, dll. Ahh sering sekali aku tidur dalam keadaan berdiri. Kalau ada orang yang ku kenal, ku tiduri punggunya agar aku tak terjatuh. Pulas sekali, terasa kasur di kamar emak.
*******
            Derapan kaki mulai ku langkahkan di atas bumi pertiwi ini. Terkadang aku semangat dan terkadang aku malas. Itulah aku yang Edan Eling. Kadang sadar dan kadang tidak. Tapi, inilah rasanya setelah sholat subuh dan mandi. Segar dan sekarang aku semangat. Mulai sekarang aku rela item-iteman setelah melihat di televisi, yang di acara TV itu berkata bahwa orang bule lebih suka wanita hitam manis. Entah mitos atau fakta pastinya lelaki bule adalah impianku. Kadang otak jail anak se SMP-an sepertiku membayangkan kalau aku dekat dengan lelaki bule, pasti dia pintar bahasa Inggris, dan aku ingin bisa bahasa Inggris gratis. Eh, aku segera membatalkan lamunan bintangku.
Emakku mencekal tanganku. Hampir saja aku terjebak lumpur dalam yang sudah menungguku di depan mata.
            “Kahade atuh neng, mikiran saha sih? Tuda, jodoh wae dipikiran. Mikirin siapa sih neng? Lagian jodoh mulu yang dipikirin.” Celetuk emakku disangka aku memikirkan lelaki yang aku suka. Ahh Aku tidak sama sekali memikirkan itu mak. Masih sangat jauh bagi seusiaku. Hufth
*****
Tradisi ngegebot padi dalam bahasa Sunda adalah memisahkan bagian kulit padi (Gabah) yang masih menempel di padi yang dilakukan ketika musim panen tiba. Ngegebot ini guna menjadikanya beras yang masih belum sempurna untuk kemudian digiling agar menjadi beras yang siap masak.
            “Permisi,” dari agak jauh suara lembut dan imut mengusik pendengaranku disaat sedang ngegebot padi ini. Siapa si yang ganggu saat aku sedang asyik begini? Ah ini akibat aku terlalu asik jadi tidak mau diganggu. Biarlah bi Nani yang melayani orang itu,
            “Eh makasih banyak ya Neng,”
Terdengar sayup-sayup suara bi Nani mengucapkan terimakasih. Aku menengok si anak sepantaranku itu membawakan beberapa gelas minuman. Dalam hatiku bicara, Maafin aku udah Suuzon, padahal orang itu mau baik. Hehhe
            “Bi Nani itu siapa si, sepantaran aku ya?” tanyaku sambil memegang gelas berisi air mineral yang dibawakan anak tadi.
            “Iya sepantaran Indri. Cantik geuning. Tapi duka atuh bibi kurang apal tapi kayaknya mah anak baru deh,”
            “Oh gitu ya bi,”
            “Ohiya dri, ini tadi gelang si eneng itu copot di sini, coba kalo kamu ketemu sama dia kasih ke dia ya Neng. Bibi mah pikunan orang nya. Kamu inget kan?”
Aku mengangguk saja, ingat walaupun tadi remang-remang melihat dari kejauhan, tapi otakku mengingat keras.
Bi Nani memberikan gelang itu kepadaku, gelang terbuat dari besi dengan rumbai rantai.  Kulirik di gelang itu terdapat nama wanita “Wenda” dan bacaan kecil ‘I want to travel around the world. Aku ingin keliling dunia’



Bersambung......











Posting Komentar

0 Komentar