Mbah Kusnan dan Gamelan

Mbah Kusnan, begitulah biasa orang-orang memanggil sosok kelahiran Ponorogo, 68 tahun yang lalu ini. Sejak muda, beliau sudah akrab dengan gamelan. Lalu pada tahun 1963 tangan terampilnya itu mulai mengrajin pelat-pelat logam untuk selanjutanya dibentuk sedemikian rupa, berwujud macam-macam gamelan.
Selain mengrajin, mbah Kusnan juga aktif dikarawitan, dimana yang selalu ada gong-gong buatannya ikut berperan. Tidak jarang jika beliau juga menyempatkan waktu untuk memainkan gamelannya pula. Beliau sempat bertutur kalau gamelan itu banyak jenisnya dan itu berbeda-beda. Ada yang bernama Bonang, Kempul, Suwuk, Gong Besar, Gender, dll.
Dan tiap ukuran gamelan yang dibuat itu sudah ditentukan. Sehingga, suara yang dihasilkan dari gong-gong yang dipukul itu berbeda, tak terkecuali jika ada kecacatan di tubuh gong, yang dapat mempengaruhi keaslian suara.

Sayangnya, tragedi di tahun '65 mempengaruhi kelancaran usaha mbah Kusnan. Memanasnya berita PKI (Partai Komunis Indonesia), mbah Kusnan terpaksa tutup, diam tanpa ada kegiatan sama sekali. Termasuk palu dan alat-alat pembantunya pun teristirahatkan. "Saat itu orang-orang yang berkecimpung dalam dunia seni dianggap bagian dari PKI", sahut beliau. Sebab itulah mbah Kusnan memilih istirahat mengrajin sekaligus bermain gamelan saat itu.

Meski demikian, mbah Kusnan tak menyerah, di tahun berikutnya, 1966, beliau menekuni kembali usahanya, berjalan hingga saat ini. Mbah Kusnan fokus pada pembuatan Gong, maka itu tidak sedikit yang memanggilnya Kusnan Gong. Dan itu terbukti dengan adanya tumpukan gong-gong berbagai ukuran di tempat tinggalnya.

Dibalik perjalanan panjang dan kebertahanan bisnisnya itu, Mbah Kusnan sempat membagikan kepahitan saat awal-awal beliau memasarkan karyanya. Dimana harus membawa benda berbobot abot itu ke luar kota-kota.
Termasuk ke Jogja, "Jogja itu pasar, disana banyak orang yang dengan mudah membeli barang saya" begitu beliau ungkapkan, sembari menghembus nafas bercampur asap rokok kreteknya.
Rasanya di zaman milenial, segala hal yang serba instan dan modern ini tidaklah mengurangi semangat Mbah Kusnan untuk tetap melestarikan musik trasional jawa. Tiap hari beliau tetap memproduksi gamelan-gamelan, dibantu 15 orang pilihannya, yang terbagi menjadi bagian pembentuk, pemoles, dan finishing.





Beliau juga sudah tidak keliling lagi untuk memasarkan produk-produknya, sebab nama Kunsan Gong sudah cukup populer dikalangan karawitan dan ke-gamelan-an. Selain itu, ditempat tinggalnya, di Jl. Raya Pacitan - Ponorogo No.23, Kelurahan Kepatihan, Kabupaten Ponorogo itu juga dilengkapi showroom. Showroom itu bisa sebagai media pameran sekaligus sebagai tempat penampung karya-karya yang sudah siap dipinang atau yang menunggu jemputan dari luar kota bahkan yang sudah siap pindah ke luar negeri.
Berkat keuletan dan semangatnya mengembangkan bisnis, kini setiap bulan, mbah Kusnan sanggup mengantongi
80 juta dari hasil penjualan. Bagaiamana? Berminat berbisnis gamelan?

(Dan)
Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.