Kekasih Bayangan By Widhi Ibrahim



Bandung, 2004.
“Kamu kemana ???.” Tanyaku dalam hati. Jarum jam menunjukkan hari sudah dipertengahan malam. Seharusnya perjalanan Jakarta-Bandung tidak perlu menghabiskan waktu lebih dari 16 jam. Taukah selama itu aku gelisah memikirkanmu???. Iya kamu, lelaki yang selama setahun ini menjadi sumber kebahagiaanku. Disaat gelap menghiasi hariku, dia hadir membawa cahaya. Sosoknya sangat ku nantikan di tengah-tengah keluarga kecilku. Sejak dia memberi kabar gembira pagi tadi, aku, kedua buah hatiku, dan juga orang tuaku benar-benar sangat bahagia. Bagaimana tidak, setelah hampir 1 tahun aku mengenalnya hanya lewat suara dan foto saja, akhirnya dia memutuskan untuk menemui aku dan keluargaku. Aku sempat berpikir, tidak berartikah kehadiranku untuknya ???. Sebab, tidak terhitung berapa kali rencana pertemuan kita batal karena kesibukkannya. Seharusnya aku mengerti, posisinya sebagai CEO tidaklah santai. Hampir setiap minggu dia harus bekerja ke luar kota bahkan ke luar negeri. Dan seharusnya aku sadar diri, siapa aku. Iya aku, yang hanya seorang mantan SPG di Mall. Aku sempat berpikir, apakah cinta yang sering dia ucapakan lewat telepon itu benar ???. Ragu,, iya aku pasti ragu. Bahkan sangat meragukan kenyataannya. Karena jika memang benar, rasanya tidak mungkin. CEO muda berusia 30 tahun, benar-benar mencintai wanita single parent berusia 35 tahun dengan 2 anak, dan profesinya hanya seorang SPG. Karena aku tau, ini bukan ftv atau sinetron. Dimana hal-hal seperti itu sering terjadi. Namun, aku tidak boleh meragukannya, dia ada, bahkan terasa nyata di hati ini.

“Percayalah,,, aku tidak mungkin menyakitimu. Tujuan ku mengenalmu hanya satu, aku ingin membahagiakan kamu dan kedua malaikat kecilku.” Kata-kata seperti itu sering sekali dia ucapkan saat aku tiba-tiba meragukannya. Meski laki-laki itu telah menganggap kedua anakku seperti anak kandungnya, namun hati yang pernah terluka ini tidak akan begitu saja percaya, dengan cinta yang diucapakan seorang pria hanya lewat telepon saja. Bagaimana wajah aslinya, kepribadiannya, keluarganya, kehidupannya, aku bahkan tidak mengetahuinya.

Setahun yang lalu. Hendrik menghubungiku lewat nomor handphone yang diberikan Lala, teman kerjaku. “Katanya dia jatuh cinta pada pandangan pertama. Makanya aku kasih nomor kamu, biar cepet dapet pengganti.” Goda Lala kepadaku. Saat itu Hendrik sedang mencari sepatu di toko tempatku bekerja. Katanya,, dia memperhatikan aku yang sedang melayani pelanggan. Padahal disitu banyak sekali wanita, tapi kenapa matanya hanya tertuju padaku ???. Aku sempat tidak percaya, kalau Hendrik benar-benar jatuh cinta pada pandangan pertama, karena setau ku, tidak ada hal menarik apalagi istimewa yang mampu membuat laki-laki berkelas seperti Hendrik jatuh hati kepadaku. Awal dia menelponku, sikapku jutek kepadanya. Karena aku menganggap dia hanya laki-laki iseng yang muncul dengan sejuta bualan, dan saat wanita yang mereka dekati terbawa perasaan, dia pasti pergi dan menghilang. Namun dia beda, ya, Hendrik memang beda. Mungkin terlalu cepat menyimpulkan semua itu, tapi aku merasakan sendiri. Kalau laki-laki ini benar-benar istimewa, dia bahkan seperti malaikat bagiku.

2 bulan setelah mengenalku, Hendrik menyuruh aku untuk berhenti bekerja dan memintaku untuk pulang kampung. “Jangan becanda mas, aku tidak mungkin berhenti bekerja. Nanti anak-anak dan orang tuaku mau makan apa?.” Kataku usai mendengar Hendrik berbicara seperti itu di telepon. Mungkin dia tidak mengerti posisiku, bahwa aku ini adalah tulang punggung keluarga. Aku harus bekerja untuk membiayai sekolah kedua anakku dan membiayai pengobatan bapakku yang sakit. Jadi,, mana mungkin aku berhenti bekerja dan hanya duduk manis di rumah, lalu menggantungkan hidup pada orang lain. “Aku mohon Mira, pulanglah. Dan rawatlah calon anak-anakku dengan kasih sayang yang utuh darimu. Jangan khawatir, biaya hidup kalian aku yang akan tanggung. Kamu mau kan Mir,,,.” Pinta Hendrik memohon. Mungkin terasa aneh dengan kalimat terakhir yang dia ucapkan. Aku baru mengenalnya 2 bulan, itu pun hanya lewat suara saja. Mana mungkin aku bisa percaya dengan semua kata-katanya, bila aku sendiri belum pernah melihatnya langsung. Namun dia benar-benar lelaki yang tidak bisa ditebak. Saat aku mengambil uang di ATM, tiba-tiba saldo tabunganku bertambah 3x lipat dari gajiku perbulan. Belum sempat ku tanyakan, sebuah sms masuk ke handphone-ku. “Itu untuk bekal kamu 1 bulan kedepan, kalau kurang nanti aku transfer lagi.” Ternyata itu sms dari Hendrik, dari situ juga aku tau pekerjaannya sebagai CEO. Karena sms itu, kami sempat berdebat di telepon, Hendrik terus memaksaku dan aku terus menolaknya. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya aku yang mengalah. Setidaknya aku harus sedikit memberi sedikit rasa percayaku kepada Hendrik, untuk membuktikan kesungguhannya. Bukan untuk memanfaatkannya !!!.

Aku berhenti bekerja dan pulang ke Bandung. Meski jarak semakin jauh, namun komunikasi tidak pernah putus. Malah semenjak aku tinggal bersama anak dan orang tuaku, Hendrik lebih sering menelepon. Mungkin sehari bisa lebih dari 10x, meski dengan durasi yang singkat. Itu dia lakukan untuk bisa lebih dekat dengan keluargaku, terutama dengan Risa dan Riza. Seringnya ngobrol dan mendapat perhatian dari Hendrik, membuat Risa dan Riza bahagia. Seperti mendapatkan kembali sosok ayah yang hilang dari kehidupan mereka. Karena sejak balita sampe usia mereka menginjak 10 dan 8 tahun, ayah mereka tidak pernah menampakan dirinya, apalagi perhatiannya. Dan semenjak Hendrik hadir, semua berubah.

Tak terasa 10 bulan berlalu. Hubungan aku dan Hendrik semakin mesra, begitu pula kepada Risa dan Riza. Meski dia belum hadir di tengah-tengah keluargaku, namun perhatian dan kasih sayangnya sudah bisa kami rasakan. Aku sangat bahagia, karena Hendrik mampu membuatku lupa akan rasa sakit yang pernah aku rasakan dulu. Aku hanya berharap, Tuhan benar-benar akan segera mempertemukan kami.

Siang itu, aku sedang membantu ibu memasak di dapur, tiba-tiba terdengar bapa memanggilku. “Kayanya ada tamu di luar.” Kata bapa yang sudah tidak bisa berjalan,   beliau memintaku untuk menemui tamu. Ternyata tukang pos yang mengantar kiriman yang hanya sebuah kotak kecil. Aku masuk ke kamarku yang tidak terlalu besar, hanya berukuran 3m x 4m. Aku daratkan tubuh ini di atas tempat tidur, sambil diselimuti rasa penasaran, aku buka perlahan kotak kecil itu. “Hah,, cincin.” Kataku bengong, saat tau isi kotak itu ternyata sepasang cincin emas putih berhiaskan berlian kecil. Selain itu, ternyata ada kertas kecil di dalamnya. “Will you merry me ???.” Kalimat singkat yang tertulis di kertas itu dan membuatku tersenyum sekaligus meneteskan air mata. Aku bisa saja menganggapnya bercanda, tapi ternyata ini serius. Karena pada malam harinya, Hendrik meneleponku. Dia mengatakan, “Tunggu aku 3 hari lagi, kita akan bertemu. Aku akan mengenalkan kamu ke keluargaku. Dan nanti, kamu harus memakaikan pasangan cincin itu di hadapan mereka.” Katanya. Itu semakin membuatku yakin, kalau Hendrik memiliki niat serius kepadaku. Dan aku pun sudah tidak sabar menunggu hari itu, hari dimana aku akan melihat wajahnya secara langsung, sekaligus membuktikan kalau dia benar-benar ada. Entahlah, rasa apa yang saat ini aku rasakan, karena saat membayangkannya saja, aku sudah senyum-senyum sendiri.

Namun, seseorang yang sangat tidak aku inginkan kehadirannya, mendadak muncul kembali di kehidupanku. Dia adalah Beni, mantan suamiku. Pagi itu aku sedang berjalan menelusuri jalanan pedesaan di tengah-tengah pesawahan, aku baru pulang belanja dari pasar. Tiba-tiba Beni menghentikan motor yang ia kendarai tepat di hadapanku. “Akhirnya aku bisa ketemu sama kamu lagi.” Ujar Beni saat turun dari motornya dan kini berdiri tepat di hadapanku. “Kamu,,,.” Kataku yang entah kenapa mendadak jadi kesal usai melihat wajahnya lagi. Inginnya, aku tidak pernah bertemu lagi dengannya. Laki-laki yang sudah menciptakan luka yang sangat membekas di hatiku. Aku langsung melangkahkan kakiku meninggalkan Beni. Namun dia terus saja mengikuti, sampai akhirnya dia menghentikan langkahku dangan cara menarik tanganku. “Mira aku mohon, kasih aku kesempatan.” Pinta Beni. Yang terus-menerus memohon agar aku mau memaafkan sekaligus memberi kesempatan kepadanya. Kesalahannya dulu, bagiku sulit untuk di maafkan. Jauh sebelum aku mengetahui kebohongannya. Kami sempat berpacaran dengan waktu yang cukup singkat, lalu dia melamar dan menikahiku. Namun saat Risa berumur 2 tahun, dan Riza 5 bulan. Aku mengetahui semuanya, bahwa Beni telah menikah dan memiliki 2 orang anak. Bagaimana aku tidak sakit dan kecewa, saat harus menerima kenyataan bahwa orang yang selama ini aku cintai ternyata telah membohongiku. Mengetahui itu, ibu pun langsung mengurus perceraianku. “Ibu gak rela kamu diginiin, ibu akan urus perceraian kamu.” Kata ibu yang tak terima putrinya dijadikan madu. Dan setelah semuanya selesai, dia tidak pernah muncul untuk bertanggung jawab akan kehidupan Risa dan Riza. Sampai akhirnya aku yang harus bekerja keras membiayai mereka, bahkan aku harus rela jauh dari mereka demi mereka tetap melanjutkan hidup. Namun, tiba-tiba saja dia muncul dan ingin kembali. Apa dia pikir aku sudah melupakan semuanya ???. Sayangnya tidak, luka hatiku dan kedua anakku tidak bisa terobati begitu saja. Dan itu terlihat jelas, pada saat Risa dan Riza pulang sekolah, ternyata Beni menunggu mereka di gerbang rumah. Aku yang sudah tau kedatangan Beni, sengaja memperhatikan dari balik jendela. Namun bukannya bahagia saat melihat Beni, Risa dan Riza malah seperti orang ketakutan. “Risa,, Riza,,.” Sapa Beni sambil tersenyum. “Om  siapa ???.” Tanya Riza. “Ini ayah sayang.” Jawab Beni. “Kita gak punya ayah, kita udah punya papa.” Ujar Risa sedikit berteriak sambil menarik tangan Riza untuk bergegas masuk ke rumah. Sangat jelas terlihat wajah kesal Beni saat itu, namun aku tidak bisa menyalahkan anak-anak. Mereka tidak akan seperti itu jika ayahnya tidak menterlantarkan mereka.

Aku pikir Beni akan menyerah, ternyata tidak. Perlahan-lahan dia berhasil mendekati Riza. Dan lewat mulut polos Riza, akhirnya Beni tau maksud perkataan Risa yang membuatnya penasaran. Mengetahui aku sedang dekat dengan seseorang yang Risa dan Riza sebut sebagai papa, Beni tidak tinggal diam. Beni kembali menemuiku, ia mencoba membujukku. Saat Beni menarik tanganku, dia melihat ada cincin melingkar di jari manisku. Beni terlihat cemburu. Aku meminta Beni berhenti mengejarku. Tapi Beni terus meminta ku untuk tidak berharap kepada Hendrik. Lebih baik aku memilih Beni yang jelas-jelas sudah ada di hadapannya. Beni bahkan bersedia meninggalkan istri pertamanya demi aku. Tapi aku tetap tidak tertarik. Aku tetap memilih Hendrik, kekasih bayanganku.

Semakin hari, Beni semakin dekat dengan Riza. Lewat Riza yang selalu menceritakan
Hendrik, akhirnya Beni menyerah. Mungkin dia sadar, kini aku dan kedua malaikatku sudah bahagia dengan pria yang lebih baik dan bertanggung jawab. Beni meminta maaf, dia tidak akan memaksa ku kembali lagi padanya. Beni hanya meminta agar tetap bisa dekat dengan Risa dan Riza. Dan aku tidak keberatan, karena bagaimana pun Beni tetaplah ayah mereka.
Pukul 03:00 dini hari, aku masih menunggu kedatangan Hendrik. Tapi sampai matahari menampakkan cahayanya, Hendrik belum juga menampakkan dirinya. Tookk tok tok,,, suara ketukan pintu. Dengan senang hati aku berlari untuk membuka pintu, aku sangat berharap jika yang datang adalah Hendrik. Namun saat pintu dibuka, ternyata yang datang adalah seorang wanita. Tanpa mengenalkan diri, wanita yang tampaknya seusia denganku itu, meminta aku, Risa dan Riza untuk ikut dengannya. Dengan alasan, ada yang ingin bertemu dengan kami. Aku tidak banyak bertanya, karena aku hanya meyakini jika wanita ini ada hubungannya dengan Hendrik. Karena saat ini, seseorang yang sangat ingin bertemu dengan ku hanyalah Hendrik.

Tibalah kami di sebuah rumah mewah, namun keadaan cukup ramai dengan tamu yang berlalu lalang memasuki rumah yang berhiaskan beberapa bendera kuning. Kami masuk ke rumah yang sedang berduka itu. Setelah tiba di sebuah ruangan, dimana terdapat beberapa orang yang sedang mengaji. Wanita itu memintaku untuk melihat seseorang yang telah terbujur kaku. “Astagfirullahaladzim,,,.” Seketika air mataku berjatuhan. Betapa kagetnya saat aku melihat wajahnya, dia adalah laki-laki tampan yang sering mengirimkan fotonya padaku. Dialah yang selalu menelponku setiap hari, dia jugalah yang berhasil memberikan kebahagiaan padaku akhir-akhir ini. Itu berarti sosok yang terbujur kaku itu adalah laki-laki yang saat ini aku cintai. Aku dan kedua anakku tidak bisa menyembunyikan kesedihan. Aku tidak percaya, jika di pertemuan pertama kita, aku harus melihatnya dengan keadaan seperti ini. “Hendrik mengalami kecelakaan dalam perjalanan ke Bandung. Maafkan Hendrik sudah membuatmu menunggu. Tapi percayalah, Hendrik benar-benar tulus mencintai kamu.” Ujar Femi, wanita yang mengajak kami kesini yang ternyata kakak Hendrik. Aku tidak bisa menahan air mataku. Betapa hancurnya hatiku. Saat harus menerima kenyataan, jika hari yang selama ini aku tunggu-tunggu malah menjadi hari perpisahan seperti ini. Mungkin kekecewaan yang Beni perbuat tidak sebanding sakitnya, dengan kejadian ini. Hatiku kali ini benar-benar sangat hancur, aku sangat menyesal. Andai saja aku yang pergi menemuinya, mungkin aku tidak akan menatap wajahnya untuk pertama kali dengan keadaan seperti ini.

Ku sematkan cincin pertunangan itu di jari manis Hendrik yang telah kaku. “Aku terima lamaran kamu. Meskipun Tuhan tidak mengijinkan kamu menjadi suamiku, tapi kamu sudah menjadi malaikat di hidupku. Maafkan aku mas, aku bahkan belum bisa membalasnya. Untuk sekedar menciptakan senyum di bibir kamu saja itu sudah tidak mungkin. Kini surga dan bidadari adalah balasan yang ya Allah kasih buat kamu. Bahagia disana mas, aku pun akan bahagia disini.” Kataku. Ya Allah,,, hanya untuk mengucapkan kata-kata seperti itu saja rasanya begitu berat. Apalagi saat harus melepaskan kembali cincin itu dari jari Hendrik. Tubuhku terasa lemas, untung saja ka Femi dan ibu Hendrik mencoba menenangkanku. Dan dengan didampingi mereka, aku memberikan sebuah kecupan di kening Hendrik. Sekaligus menjadi kecupan pertama dan terakhir untuk dia, kekasih bayanganku. Meskipun Hendrik kembali menciptakan luka mendalam di hatiku, namun aku tidak menyesal. Aku bahkan bahagia, walaupun sangat singkat namun aku bersyukur, karena Allah sempat menghadirkan laki-laki se-istimewa Hendrik di hidupku.
***
Penulis : Widhi Ibrahim

Sumber gambar: Pixabay.com
Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.