CERBUNG : Danum dari Apau Ping (3) oleh Rafahlevi




CHAPTER 3
            Sejak kedatangannya yang mengejutkan malam itu kerumah, kupikir tak akan kutemui hari ini. Aku merasa malam itu kepercayaan diri Ari terlalu frontal dan akan memantik kemarahan ayah. Tapi ternyata pikiranku salah. Setelah Laras ikut keluar denganku ia malah mengundang Ari turut makan malam bersama keluarga kami. Suasana di meja makan tak setegang yang kubayangkan, Ari pandai mencari topik pembicaraan yang membuat ayah tertarik menanggapi, ia piawai mengambil perhatian orang di sekelilingnya dalam pertemuan pertama. Itu hebat.
            Sore ini masih terlihat cerah meski matahari mulai meredup sinarnya menjelang senja. Sejak dini hari hiruk pikuk sudah terlihat di rumah, bahkan mulai dari beberapa hari yang lalu. Orang-orang dengan serius mempersiapkan acara besar dan penting ini. Seisi rumah sibuk dengan tugas dan urusannya masing-masing. Mobil iring-iringan pengantin dan motor Patwal bersiap di depan gerbang. Tenda putih besar menjuntai di atas taman pekarangan depan rumah. Diujung jalan melengkung janur kuning yang diukir begitu indah. Aku masih berdiri di depan jendela kaca, dengan riasan flawless yang cantik berbalut kebaya lavender, aku hampir terpesona menatap diriku sendiri di cermin.
            “Sara… ”
Aku menengok ke pintu, Laras datang dengan senyum terkembang. Kami berpelukan sangat erat.
 “kamu cantik banget…” katanya sambil memegang daguku.
“gak ada yang menyaingi pengantin” jawabku sembari melempar senyum.
Laras tersipu malu-malu. Matanya berbinar dan pipinya merah merona diatas blush on pink. Dia nampak sangat gugup. Tangannya menggandeng lenganku, mengajak bersiap berangkat. Gandengannya tak terlepas hingga tiba di gedung pernikahannya. Laras begitu bahagia bersanding dengan pria yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama, mungkin inilah jodoh. Tak kusangka Ari akan menjadi penakluk hati Laras. Melihat Laras bersanding di pelaminan dengan Ari aku baru sadar sakit rasanya patah hati. Kuhela nafas pendek-pendek karena sesak tiba-tiba saja mendera di dada.
Tadi malam aku menemani Laras di kamarnya, mengobrol dan bercanda sebelum hari  ini Laras menjadi ratu sehari. Semalaman panjang lebar Laras berkhutbah soal hati dan cinta. Berfatwa agar aku segera move on dari trauma. Membuka hati untuk seseorang agar aku tak melulu sendiri. Laras sayangku…andai ia tahu perasaanku saat ini. Baru saja kutemukan harapan baru itu dari Ari, lelaki yang sudah dua tahun belakangan ini menemani hari-hariku, memberiku perhatian dan melakukan hal-hal yang manis dan tak terduga. Ari selalu bisa membuatku nyaman dan tertawa saat berada di dekatnya. Dia tak pernah absen menemuiku di kampus meski hanya sekadar mengantarkan sebungkus roti sandwich yang dibelinya di restoran siap saji dekat kampus. Ari tak pernah menuntut apa-apa, ia tak pernah membuatku terbebani status hubungan kami. Kepadanya kuberanikan diri pertama kalinya mencintai seorang lelaki.
Tapi sungguh aku tak memiliki kekuatan untuk mempertahankan apa yang sedang kunikmati saat Laras mengatakan ia jatuh cinta pada Ari. Bagaimana mungkin aku mampu egois menahan Ari setelah banyak hal yang Laras berikan selama ini. Ari marah saat kusampaikan ini padanya, aku tak punya pilihan lain. Aku sedih karena cinta pertamaku tak happy ending, mungkin sudah nasibku. Tapi aku lebih menderita jika harus kehilangan Laras dan keluargaku. Aku berpikir ini hanya hadiah kecil Tuhan yang terlewatkan. Semua akan terlewati lebih baik dari hari ini setelah aku berhasil menjadi dokter dalam hitungan beberapa bulan lagi. Luka patah hati itu akan sembuh dengan sendirinya.
Kutenggelamkan diri dalam arus deras kesibukan. Lumayan mengobati kesedihanku ditinggal kawin cinta pertama. Beberapa lelaki yang kukenal dan tidak kukenal datang dan intens mendekati tapi aku tak bergeming. Aku justru asik hidup sendiri dan apatis pada komitmen dan percintaan. Dan Saat hari besar dalam hidupku itu tiba, semua mahasiswa datang dengan bangga diantar orangtua bahkan sanak saudaranya, aku hanya melenggang seorang diri memasuki auditorium yang besar itu. Hatiku berkenyit pedih setitik airmata jatuh diatas riasan pipiku yang pink jambu. Saat namaku disebut aku berjalan sambil menatap pintu masuk yang sudah tertutup rapat berharap masih ada sedetik waktu tersisa untuk orangtuaku hadir di moment bersejarah dalam hidupku ini. Tapi pintu tak juga terbuka, disini aku sadar aku hanya seorang diri, bagaimanapun baiknya mereka, aku tetaplah orang asing bukan anaknya. Bukan siapa-siapa. Ku gigit bibir bawahku yang bergetar karena tak kuasa menahan tangis. Rektor memegang tali toga yang hendak di pindahkan ke sebelah kanan, sebuah cahaya besar menyorot ke seluruh ruangan, Ayah dan Bunda berdiri di pintu belum sempat mereka duduk, dlihatnya aku sudah di podium dan diwisuda. Airmataku berderai tak henti-hentinya. Turun dari panggung langsung ku hampiri mereka. Aku memeluk keduanya sambil menangis sejadinya, aku sangat takut mereka takkan hadir hari ini, meskipun aku tahu alasan dibaliknya. Seminggu menuju wisuda kudengar dari Bunda, Laras masuk rumah sakit, ternyata ia sudah hamil namun ada miyom di dinding rahimnya dan kandungannya lemah. Aku sangat cemas, aku berharap Laras kuat dan bayinya akan tetap tumbuh dengan sehat.
            “apa kamu pikir kami tidak akan datang?” tanya Ayah
Masih memeluk mereka aku mengangguk terisak. Bunda mengusap pundakku sambil berbisik memanggilku “sayang...”. dia mengusap air mataku, menyeka dengan tisu mengatakan minta maaf karena datang terlambat. Aku menggeleng kepala menangis, menolak permintaan maafnya. Karena tak seharusnya mereka meminta maaf. Saat keluar gedung, lagi… aku  mendapat kejutan. Ada Laras dan Ari disana, menyambutku dengan rangkaian bunga yang sangat besar dan cantik. Aku langsung memeluk Laras, kuelus perutnya yang sedikit membuncit dan bertanya bagaimana keadaannya. Laras mengatakan ia sehat dan baik-baik saja. Laras sewot karena Pak Gatot mengatakan padanya aku bersedih tadi pagi karena berangkat wisuda seorang diri. Laras bertanya kenapa aku bisa berpikir mereka tidak akan ada disini. Aku terdiam dan menangis begitu terharu dengan hatinya yang tak pernah berubah. Kami lalu tertawa bersama.
            Tak lama kulihat wajah Laras kembali memucat, aku buru-buru mengusulkan agar semua segera membawanya lagi ke rumah sakit. Aku takut ada apa-apa. Aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri bila sesuatu yang buruk terjadi karena Laras datang ke wisudaku hari ini. Semua mengikuti saranku, mereka langung ke rumah sakit, tak lupa ayah menelepon patwal agar dimudahkan dalam perjalanannya. Aku masih di halaman kampus. Berbaur dengan teman-temanku yang lain. Mengenang masa-masa kami kuliah. Rasanya baru kemarin ikut OSPEK MABA tapi hari ini sudah wisuda lagi. Suasana wisuda bertambah crowded ketika tiba-tiba sebuah mobil barakuda masuk ke tengah-tengah kerumunan wisudawan dan memecah keramaian, selebrasi luar biasa dari anak-anak fakultas teknik yang memang didominasi kaum adam. Riuh rendah sorakan dan tepuk tangan bergemuruh meramaikan suasana ketika salah satu mahasiswa yang sudah 6tahun kuliah akhirnya berhasil diwisuda hari itu, ia dinaikkan dan diarak diatas barakuda bersama teman-temannya. Aku turut menikmati kebahagiaan yang sama. usai lelah dengan segala perayaan, Aku memutuskan pulang bersama 4 orang teman lainnya menggunakan mobil jeep milik salah satu dari mereka. Aku menelepon Pak Gatot agar tak perlu menjemputku ke kampus.  Aku ingin ikut merasakan euphoria kelulusan yang agak berani kali ini.
            Antan patah Lesung hilang begitulah pepatah lama yang pantas disematkan padaku setelah hari ini. Aku yang malang tak henti-henti di timpa musibah terus menerus. Di sebuah tikungan tajam yang menanjak sebuah mobil minibus antar daerah dari arah berlawanan melaju sangat cepat karena mengalami rem blong menghantam mobil jeep biru tua yang kami kendarai. Jeep oleng, berputar-putar ke sebelah kanan  dan menerobos ke jurang. Aku yang duduk di jok belakang terbanting bersamaan dengan tergulingnya mobil, aku terus merangsek berguling tanpa kendali melewati ranting-ranting dan semak belukar yang rapat. Pecahan-pecahan kaca menusuk perih disana-sini. Kakiku rasanya sakit begitu dahsyat saat bagian belakang jeep menindih, tak tergambar rasa sakitnya hingga aku tak mampu berteriak meminta pertolongan. Setengah sadar kudengar teriakan-tariakan menjerit histeris, tak ada lagi yang kelihatan setelahnya selain abu-abu dan kemudian menghitam gelap.
            Kubuka mata perlahan dengan berat dan lemah. Sakit terasa entah disebelah mana rasanya terlalu sakit dan hampir seluruh tubuhku rasanya hancur. Samar bayangan yang kulihat, tak jelas semuanya. Entah aku masih hidup atau sudah mati sekarang ini. Aku melihat Amei melihat Uweq dan juga Pui…dia memanggilku tapi dengan nama yang baru. Sara…  dengan daya yang tersisa ku buka lagi mata, meski masih kabur aku melihat ayah menyebut nyebut namaku. Dalam kabut kulihat bunda, Laras dan Ari berdiri mengelilingiku. Aku tak ingat apa-apa lagi. Tak kuat tubuh ini menahan rasa sakit yang terlalu hebat.
            Entah berapa lama aku butuh waktu untuk kembali tersadar. Tapi rasanya aku cukup lama berada di ranjang. Aku berusaha mengumpulkan semua kekuatan agar bisa membangunkan diriku sendiri dari tidur panjang ini. Rasanya berat tapi ada sesuatu yang ringan yang lain yang  kurasakan tak tahu sebelah mana itu. sekuat tenaga akhirnya aku berhasil menopang tubuhku sendiri untuk sekadar bergerak dalam keadaan yang tak jauh berubah. Tapi tiba-tiba jantungku berdegup cepat, mataku yang kecil mulai membesar dan menatap tajam pada satu titik. Aku merasakan sesuatu yang lain di balik selimutku, kugerakkan kedua kakiku dengan sangat pelan. Badanku gemetar saat kurasakan kakiku tak bersentuhan. Darahku berdesir mengalir deras terasa hangat sampai ke dada. Tanganku yang masih lemah menyingkap selimut warna biru muda itu.
            Tangisku pecah saat kudapati sebelah kakiku sudah tak ada. Dengan tangis yang terbata aku beranjak dari tempat tidur, mencoba memijakkan kaki di atas marmer yang dingin. Aku benar-benar tersadar hanya ada satu kaki yang menyentuh lantai, seketika itu pula tubuhku ambruk di sisi ranjang yang kokoh. aku menjerit histeris karena tak bisa berdiri.
            “Sara…!!!”
Ari berlari dari balik pintu meraih tubuhku yang tersungkur tak berdaya di lantai. Sambil menangis aku terus bertanya tentang kakiku tanpa mendapat satupun jawaban dari mulutnya. Ia pasrah membiarkanku yang histeris terus memukuli bahkan sampai mendorong badannya. Ari berusaha mengendalikan kondisiku yang syok berat. Dia memelukku erat. Tangannya mengusap rambut panjangku pelan. Ia berusaha menenangkanku.
            “your tears is my sickness ” bisiknya di balik rambutku.
Aku tak berhenti menangis dalam pelukannya. Sejenak aku lupa dimana Laras dan yang lainnya.
            “aku akan ngejaga kamu..” katanya lagi.
 Tubuhku melemah, pergelangan tanganku berdarah karena jarum infus yang terlepas paksa. Aku kembali terkulai pingsan dipangkuan Ari.
            Aku hampir tak percaya apa yang kualami kali ini. Menangis dan bunuh diri tak akan mengembalikan apapun yang telah terjadi. Setiap hari kulewati tanpa harapan dan semangat seperti dulu. Tak ada alasan apapun rasanya untuk aku bangkit menjalani hidup di depan mata. Aku merasa diriku sudah sekuat baja melewati tiap cobaan hidup tapi kemalangan tak mau berhenti menghantui seperti sebuah kutukan. Harus sekuat apalagi kah aku hidup sebagai mahluk Tuhan di muka bumi ini. Sedang sesungguhnya aku hanya seorang diri disini.
            Aku bahkan pasrah tak berekspesi ketika ayah dan koleganya seorang dokter memberi kabar aku telah dibuatkan kaki palsu agar aku bisa beraktifitas seperti sedia kala. Aku tak mengatakan apapun. Raut wajahku tetap datar tak memancarkan binar suka cita saat mendengarnya. Aku hanya duduk lagi di kursi roda memandang keluar jendela. Menatap langit yang luas dan tak berbatas.
            “jangan disitu terus.. jangan bikin orang takut kamu terjun bebas ke bawah..”
Aku tahu suaranya, itu Ari. Dia mencoba menggodaku dengan kelakarnya agar aku bisa tertawa atau sekedar menyunggingkan senyum. Aku tak bergeming. Aku takkan memilih mati semudah tebakannya itu. Ari berdiri di depanku, tapi aku tak meliriknya.
“liat..!! langit itu biru dan cerah… nanti sore mungkin kelabu dan gelap. Tapi langit tetap luas…tak berbatas…”
Aku terhenyak mendengar kata-katanya, kupalingkan wajahku kearah yang lain. Aku tahu Ari sedang berusaha membangkitkan semangatku yang lama tenggelam.
            “sama dengan kesabaranmu Sara… luas dan tak berbatas.. ”
Aku hampir berbalik memandangnya tapi Laras kemudian masuk. Ia memelukku dari belakang.
            “what’s your feeling today??” tanyanya sambil berputar kedepan.
Aku tersenyum melihat ia dengan perut yang mulai bertambah besar. Laras menggenggam tanganku, ia memintaku kembali bersemangat menjalani hidup sekuat Danum. Ari mengerutkan dahi mendengar nama Danum. Ia pasti asing dengan nama itu. Laras kemudian berdiri disamping suaminya sambil berpegangan tangan didepanku ia mengatakan akan kembali ke Milan dan tinggal cukup lama. Aku terkejut mendengarnya. Laras  akan membuka toko butik disana dan Ari akan melanjutkan s2 di kota yang sama. aku turut senang mendengarnya.
            Meski diawali rasa tak nyaman aku yang telah berjanji akan kembali semangat pada Laras menjalani kegiatan sehari-hari dengan kaki palsu. Sepintas orang akan hanya melihatku sebagai seorang dokter muda yang cantik dan juga pintar. Sempurna sebagai rollmodel masa depan yang cerah di bayangan anak kecil. persis sama seperti yang kualami dulu saat melihat dokter ada di Apau Ping. Setiap pasien yang datang membawa anak perempuannya selalu mengatakan pada anaknya
 “tuh…kalo sudah besar kaya dokter Sara, cantik…dan pinter…”
Aku hanya tersenyum mendengarnya. Semua yang kulewati tak mudah. Tapi aku masih punya banyak hal lain yang harus disyukuri dan diperjuangkan. Sebagai dokter banyak yang menanti ‘tangan ajaib’ ini mengobati rasa sakit mereka. Aku menjalani hari-hari yang menyenangkan setiap hari berjas putih duduk dibalik meja, bertemu dan memeriksa macam-macam sifat dan karakter manusia. Dari yang bayi hingga usia senja. Kaya dan miskin. Tampan dan cantik. Orang biasa hingga tokoh publik. Semua butuh seorang dokter saat badan mereka memberi alarm sakit.
            Hari ini aku cukup kebanjiran pasien. Sepertinya pergantian cuaca mempengaruhi kondisi kesehatan masyarakat luas. Perutku mulai memberi sinyal kuat butuh asupan makan siang secepatnya, kebetulan sarapan pagi ini terlewatkan karena aku bangun kesiangan. Usai sholat shubuh dan membaca Al-matsurat aku ketiduran lagi. Siang hari yang lumayan terik. Jam di tanganku menunjukkan pukul 11.35, kedua tanganku bersembunyi dibalik saku jas dokter berwarna putih.  Menyusuri lorong panjang rumah sakit, sesekali berpapasan dengan beberapa perawat muda yang memberi salam dan menyapaku dengan hormat.
            “Danum..tunggu!!”
Langkahku terhenti sesaat. Seorang pria di belakangku memanggil nama itu. Setelah sekian lama orang hanya memanggilku Sara. Tiba-tiba hari ini ada yang mengenaliku memanggilku lagi dengan nama itu. Tapi aku tetap berjalan tanpa kutengok siapa di belakang, berharap sekali  aku sudah salah dengar.
            “Dokter Danum, tunggu!! ”
Aku benar-benar berhenti kali ini, pria itu sungguh memanggilku. Kuputuskan berbalik melihat kebelakang.

BERSAMBUNG...

  

           
Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.