Cerbung MAS MUS "Kalau mau bahagia, jangan mudah menyerah!" Oleh Endik Koeswoyo




"Kamu kemarin puasanya pilih yang kapan?"
"Aku golput!" Sahut Mas Mus singkat.
"Golput? Maksudnya?" Tanya Sobar lirih sambil menarik alisnya sebelah kiri ke atas.
"Saya milih golput karena mereka menyajikan 2 pilihan, kalau ada satu pilihan saja saya bakal milih yang satu itu!" Mas Mus menyandarkan tubuhnya di kursi rotan yang ada di teras rumah Sobar.
"Maksudmu mereka itu siapa Mus?" Sobar masih belum paham dengan apa yang dikatakan Masmus.
"Ya mereka yang berhak memberikan keputusan kapan puasa, kapan lebaran, kalau mereka yang di atas saja nggak bisa rukun, bagaimana yang bawah mau rukun Bung?" Mas Mus sekali lagi menghela nafas dalam.
"Terus?"
"Terus kalau aku suka musik dangdut kamu marah? Kalau aku suka musik rock kamu marah? Kalau aku suka punk kamu marah? Enggakkan? Kenapa aku bisa milih kesukaanku akan musik? Karena memang disajikan banyak pilihan, coba kalau di dunia ini hanya ada musik dangdut, pasti kamu akan suka dangdut, betul?" Mas Mus tampak emosional karena dia memang sedang gamang, gamang menentukan pilihan. Hatinya seakan hancur digempur perbedaan yang sengaja disajikan sebagai drama musikalitas kehidupan.
"Kamu tau Mus, kemana arah buah jatuh?" Tanya Sobar sambil mengelus jenggotnya yang panjang dan jarang-jarang itu.
"Ke bawah! Namanya juga jatuh!" Kata Mas Mus memberikan jawaban atas tanya yang disodorkan Sobar, sahabat dekatnya.
"Nah jika ada mangga sedang berbuah! Buah yang jatuh itu tidak pernah bersamaan, jika ada 5 biji buah yang sama masak, kamu goyang pohonnya, buah itu tidak akan jatuh pada waktu yang sama persis, selalu ada jeda, karena apa? Karena buahnya berbeda besarnya," lanjut Sobar memberikan analogi.
"Artinya?" Mas Mus memicingkan matanya.
"Sama seperti musik, Afgan dan Ariel akan berbeda suara dan cara menyanyikan lagunya Tombo Ati walau aransementnya sama, karena mereka berbeda, karena memang tidak sama, walau benang merah dan inti lagunya sama persis," lanjut Sobar pelan.
Mas Mus sekali lagi terdiam, matanya menerawang jauh, nanar menatap langit senja yang indah. Hatinya sekali lagi digempur oleh celoteh singkat sahabatnya. Sekali lagi otaknya harus perang antara kenyataan dan perbedaan yang memang nyata.
Kali ini Masmus tidak seperti biasanya, kekritisannya tiba-tiba menurun pada level 43 persen tidak seperti biasanya. Bibirnya manyun semakin gelisah. Matanya semakin nanar menatap siluete pada apa saja yang dilihatnya.
Hatinya, ya seonggok benda paling berpengaruh dalam tubuhnya itu terpukul-pukul, oleh pikirannya sendiri. Seperti kehilangan nada dan irama. Seperti enggan menyanyikan lagu bahagia tentang cinta. Semua serba membingungkan, semakin bingung, sebingung-bingungnya.
“Bener, sering kali kita itu egois karena nggak mau berpikir lebih jernih,” kata Mas Mus lirih.
“Emosi, itu akan menghancurkan logika, sama seperti cinta, ketika cemburu tak terkendalikan yang terjadi kemudian adalah emosi, ketika emosi tak terkendalikan yang terjadi kemudian adalah putus, kalau sudah putus, menyesal. Kemudian menyalahkan cinta...” Sobar tersenyum kecil mengakhiri kalimatnya.
“Terus aku kudu piye?” Mas Mus menatap Sobar sahabatnya itu dalam-dalam.
“Kalau mau bahagia, jangan mudah menyerah. Karena kebahagian itu satu paket dengan kerja keras, usaha dan doa...”
Keduanya diam, menatap ke arah langit senja Ibu Kota Jakarta yang indah.


               - LANJUT MAS MUS!? -



Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.