Detik-detik terakhir

Bagaimana aku harus memulainya, mungkin ... mmm aku tak tahu harus memulai dari mana hingga bisa disebut prolog. Tapi ok! Aku mulai dari sebuah rencana menghadiri pernikahan anak dari kakak bapakku di desa kelahirannya. Rencana ini datang di tengah-tengah rencana-rencana lainnya yang pada giliran nantinya akan hadir rencana-rencana selanjutnya. Mmm.. to the point. Semua rencana berjalan lancar dan menyenangkan, cuma entah kenapa rencana yang satu ini tidak saya koordinasikan dengan teman sejawat. Aku pikir semua rencana yang terkait dengan jam kerja rutin sudah ku sampaikan pada teman kerja hingga saatnya tiba maka tak akan ada kendala dengan kewajibanku sebagai karyawan. Aku lupa mengajukan cuti.

Hari itu tanggal 2 mei, pukul 5 pagi. Ibu menelponku, mengingatkan bahwa kereta api berangkat dari stasiun senen jam 10. Saat itu aku masih harus menunggu kurang lebih dua jam untuk oper shift dan itu tak mungkin! Waktu tempuh dari Cikarang ke stasiun Senen bisa dipastikan lebih dari dua jam di hari yang bukan tanggal merah. Mungkin kamu, ya kamu! Berfikir, kenapa tidak naik KRL dari stasiun Lemah Abang? Itulah mengapa saya ijin ke teman untuk meninggalkan tempat kerja lebih awal. Jam 05.10 wib saya pulang. You know what? Untuk berangkat dengan packing yang sudah kita kira beres karena sejak sore ternyata kurang cukup, kita butuh .. eh saya butuh perbekalan makanan. Setidaknya untuk sekedar ganjal perut. And than, jadwal KRL terpagi terlewati dan harus menunggu jadwal pemberangkatan selanjutnya. Tidak bisa tidak, saat itu aku memilih angkutan darat lainnya, yaitu bus patas AC. You know-lah, 3 km jarak dari rumah ke terminal Cikarang atau di daerah urban lainnya di pagi hari sudah menjadi traffic jam, begitu juga aku, yang sampai di terminal dengan tergopoh-gopoh mencegat bus patas yang sudah keluar dari area terminal. Ah..dasar kudet! Untuk buka pintu bus AC saja aku harus di bantu oleh orang lain setelah aku memukul beberapa kali pintu itu berharap ada kenek dari dalam yang membukakannya dari dalam. Malu? Tentu, tapi aku spontan mengucapkan terimakasih pada orang yang memakai setelan jaket dan celana levis itu. Sesampainya di dalam bus ku lihat jam menunjukkan pukul 07.15 wib.

Sebagai orang yang tidak pernah naik angkot lebih dari 10 tahun, aku memuji kualitas AC di bus itu. Hawa sejuk menyelusup sampai menembus jaket, membuat penat cepat mereda dan...mengundang kantuk yang tiada tara. Entah apa yang terjadi, aku di dikagetkan oleh sentuhan keras dari seseorang, yang ternyata supir bus yang sedang memungut tarif. Tak lama aku segera membayar dan melanjutkan tidurku.

Lagi-lagi aku terbangun kaget. Aku langsung melihat handphone. Ada 7 panggilan tak terjawab, namun aku tak melakukan panggilan balik. Aku lihat keluar jendela di sisi kananku. Mmh... sederetan tembok yang di baliknya tampak tiang-tiang besi...Stasiun Jatinegara. Begitu tulisan di gerbang bangunan di ujung deretan tembok itu. Aku melakukan _call by phone_ yang hanya sekali berdering sudah langsung terdengar suara jawaban. "Kamu sudah sampai di mana, Di?" Suara ibuku terdengar tanpa didahulukan salam atau kalimat pendahuluan lainnya.
"Ini sudah di stasiun Jatinegara," jawabku singkat.
"Udah turun aja dan naik ojek! Ini keretanya udah dateng." Terdengar intonasi suara yang meninggi.
Hubungan terputus sepihak. Aku diam. Jam menunjukkan pukul 09.26 wib. Bus terasa berjalan lebih cepat, oh, ternyata baru saja lampu merah menyala. "Gak mungkin kecandak." Gumamku. Aku mulai gelisah karena rute bus tidak lurus dari arah stasiun Jatinegara ke jalan Pramuka, rute bus patas ini lewat jalan arah Polres Jakarta Timur. Mata yang terasa kantuk kontan hilang berganti kegelisahan. Benakku tak berhenti menampilkan berbagai kemungkinan. Jika aku turun dan berganti dengan angkutan ojek, lha! Sekarang kan jakarta adanya ojek online. Dan aku belum punya aplikasinya. Jika aku turun dan berganti dengan ojek konvensional, sedari tadi aku tak lihat ojek pangkalan!. Bus berjalan pelan menjelang lampu merah fly over Kampung Melayu. Untuk kesekian kalinya ku lihat jam di handphone yang sejak terbangun terakhir tidak pernah lepas dari genggamanku. Jam 09.38 wib. Telpon berdering, dan ku yakin pasti ibuku.
"Di, kamu sampai mana?" Suara parau itu terdengar begitu mengkhawatirkan.
"Ini udah sampai Cipto," jawabku singkat.
Aku menahan semua kecamuk agar tidak keluar lewat mulut, biarkan kegelisahan itu berjibaku dalam bentuk tak berwujud.

Aku tak bisa menahan, aku bangkit mendekat Sang supir.
" Bang, enakan mana? Saya turun sebelum atau sesudah Atrium, kalo mau ke stasiun Senen?"tanyaku dengan tatapan tajam.
"Untung gak macet bang, masih keburu kalo abang lari menyeberang dari sini. Kalo turun di depan nyebrangnya lebih repot, agak jauh memutar." Jawabnya.
Aku langsung mendekat pintu dan membukanya.
"Awas belakang," teriak bang supir.
"Terima kasih bang." Aku menyahuti sambil turun dari bus yang belum berhenti benar.
Ku hempas keras pintu bus lalu ku lari ke arah belakang. Dengan tangan kanan melambai ku setengah lari menyerang jalan Kramat Raya sebelum lampu merah prapatan Senen. Batas jalan jalur Bus Trans Jakarta setinggi lutut ku lompati dengan mudah. Sambil berlari ku lihat orang-orang di depanku menatap seolah bertanya-tanya "whats wrong?" Tapi aku tak peduli. Kenapa aku harus peduli dengan mereka? Hp dalam genggamanku yang berdering berulang-ulang bersamaan dengan langkah panjangku saja aku cuekin. Dari bekas gedung bioskop "Kings" aku terus berlari melintasi zebracross. Tak kulihat bahwa lampu merah masih menyala warna hijau. Dua polisi berseragam di trotoar pemisah dua jalur meniup peluitnya sambil berteriak.
"Awas orang kampung lewat!". "Bodo amat"jawabku dalam hati. Aku terus mengangkat tangan kanan dengan wajah menoleh ke kanan pula. Langkahku tidak melambat.
"Ma'af Ndan," ucapku keras kepada kedua aparat negara itu. Aku melintasi keduanya dengan menahan lariku tapi langkahku melaju cepat.
"Lari! Masih sempat, biasanya jam 10 seperempat, Pak." Salah satu dari mereka berkata.
Aku tak tahu persis suara itu dari siapa di antara dua orang itu, aku berbalik badan seraya berteriak.
"Siap 86. Delapan satu tiga." Aku membalas dengan berteriak sambil berbalik badan lari menyeberang ke arah gedung Proyek Senen.
"Tau aja tu komendan" aku tersenyum sendiri. Beberapa orang dan pengendara motor berhenti dan menatapku. Sepertinya mereka mendengar teriakan-teriakan tadi.

Langkah panjang, cepat dan berlari silih berganti sejak turun dari bus Patas sampai ke gedung Stasiun kereta api Senen. Tidak satupun panggilan telpon ibuku yang ku angkat. Baru setelah di pintu masuk jalur luar kota, aku menelpon balik ibuku.
"Nih, liat ke yang pake baret orange." Tak ada jeda dering, jawaban ibuku di handphone yang berteriak terasa dekat sekali. Aku menoleh ke depan. Entah berapa banyak orang di depanku yang dalam antrian pemeriksaan tiket. Hiruk pikuk dan suara yang terdengar hanya seperti dengungan ratusan tawon yang tak beraturan.
"Di! Ni ibu pake kerudung kuning!" Suara ibuku berteriak.
Hanya teriakan di hp yang terus ku tempelkan di telinga saja yang terdengar jelas."Iya, ini dah sampai. Lagi antri," jawabku. Mataku liar mencari sumber suara itu. "Ini tiket dan KTP kamu di ibu. Cepetan! Ibu udah di peringatkan nih ama petugas." Suara ibuku terdengar persis seperti panik yang aku rasakan.
Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.