Dina Pertiwi, Nulis Terus Pantang Nyerah


Penulis : Upa Im

Setiap orang pasti mempunyai impian yang ingin diwujudkannya. Namun ada sebagian orang -khususnya remaja- yang tidak bisa meraih impiannya karena terhalang izin orang tua. Dina Pertiwi, dara asal Asahan ini juga kurang didukung menulis oleh orang tuanya. Padahal menurut Dina, menulis adalah passion-nya.

Dina suka menulis sejak Sekolah Dasar karena sering membaca tulisan kakaknya di buku tulis. Awalnya, kegiatan menulis dia lakukan hanya untuk menuruti kegiatan sang kakak. Namun lama kelamaan, karena terlalu sering menulis, Dina jadi menyukai kegiatan itu. Dia semakin fokus menulis, mengeksplor hobi dan bakat barunya itu sampai peringkatnya di Sekolah Dasar turun. Mengetahui itu, Ibu Dina tidak mendukung dengan hobi baru anaknya.

"Kalau kamu mau nulis, nanti saja setelah lulus sekolah." kata Ibu Dina kepada Dina.

Mendengar itu, Dina merasa sedih. Dia mulai sedikit mengurangi kegiatan menulis. Tapi dorongan dirinya dalam menulis begitu kuat, sampai akhirnya Dina sering mencuri-curi waktu untuk menulis. Kegiatan kucing-kucingan dengan Ibunya itu berlangsung sampai dia berada di Sekolah Menengah Pertama.

Sekalinya ketahuan. Ibunya akan menasihati Dina dan berkata, "Dek. Nulis itu kerjaan orang yang tidak jelas. Kamu tidak akan kaya dari menulis."

Awalnya Dina hanya menulis untuk diri sendiri, kemudian mulai mempublikasikannya ke media sosial lewat situs web fanfiction.

Namun selama berada di perguruan tinggi, Dina mulai jarang menulis. Gadis kelahiran 22 Agustus 1996 ini lebih memilih memfokuskan diri pada proses belajarnya dulu.

Barulah setelah lulus, tepatnya pada tahun 2017, Dina mencoba kembali menulis. Dia mencoba mengirim karyanya ke media cetak, namun selalu ditolak. Kemudian bermodal nekat, Dina banting setir dari menulis puisi, cerpen dan novel ke naskah skenario. Dia mengikuti seleksi menulis skenario di salah satu ph film indie dan skenarionya berjudul Mimpi dalam Pelukan lolos seleksi.



Dina senang bukan main. Pemberitahuan itu seolah memberinya semangat setelah sebelumnya sering ditolak kerja di bidang Airlines Staff. Mengetahui berita itu juga, orang tua Dina mulai mengizinkannya untuk tetap menulis. Tahu orang tuanya sudah mulai mendukung, semangat semakin berkobar.

"ekarang, setelah memantapkan niat untuk fokus ke dunia kepenulisan, banyak jalam terbuka." kata gadis yang hobi membaca ini.

Kesempatan-kesempatan menulis mulai sering datang. Walau sempat tidak percaya diri karena belum memiliki banyak karya, Dina memantapkan diri mengirim naskah novelnya ke Cabaca dan hasilnya diterima. Novel berjudul Satu Hari di SMA sudah tayang di platform Cabaca mulai bulan April 2018.


Menurut anak bungsu dari empat bersaudara ini hal paling menyenangkan dari menulis adalah saat selesai menuliskan cerita. Sementara hal paling menyedihkan adalah ditolak media penerbitan dan kurang percaya diri dengan hasil tulisannya.

Saat ini, Dina sedang menulis novel terbarunya. Dia berharap karya-karya berikutnya bisa lolos ke media nasional dan bisa dibaca banyak orang.

Sukses terus ya, Dina.
#Upa











Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.