Cerbung Melepasmu Part 6


💔 Part 6 💔

.
Tepuk tangan kembali bergema begitu lagu usai bernada. Ramai. Semua senyum tertuju padaku yang mungkin mereka anggap apik memainkan melodi. Kamu pun begitu. Bahkan bukan sekadar senyum, melainkan tertawa dengan sesekali menyentuhkan hidung mancungmu ke hidung bangir Lyrana.

Romantis. Namun, menyakitkan. 

Aku merasa sepi di antara keriuhan. Merasa hampa di antara keramaian. Dungu, karena memilih tidak mengungkapkan. Sok tegar, padahal dalam relung terdalam terporak-porandakan. Terlalu egois untuk diri sendiri.

Ya, mungkin ini ganjaran Tuhan pada gadis yang tidak memiliki kejujuran. 

Namun, tahukah kamu? Sakitnya patah hati lebih memuakkan bagiku. Saat tahu peluang bersama hanya 0%, untuk apa mengakui semuanya? Bukankah justru lebih bodoh jika aku melakukannya?

Ah, sudahlah. Rasa suka memang tidak sesederhana itu. 

"Jung Mini, kamu tidak berniat berhenti sekarang, 'kan?" Pertanyaanmu kembali menyadarkan keterpakuanku. 

Ingin rasanya aku berhenti. Berlari keluar, mencari semak belukar, berlindung di sana. Menumpahkan yang tergenang. Membiarkan lara meluruh, menghapus setidaknya secuil sesak.

Namun, tidak akan bisa, 'kan? 

Aku terjebak di antara kebahagiaan yang menyakitkan. Tidak peduli seberapa mendamaikan altar yang kupijak. Nyatanya, aku hanya ingin lari. Sejauhnya. Bila perlu selamanya.

"Aku sedang memikirkan lagu selanjutnya." 

Aku tersenyum; terpaksa. Kamu memang tidak pernah membaca bagaimana ketertarikan terpancar dari bola mata Irana. Namun, kamu akan tahu sesuatu yang buruk terjadi jika Irana melelehkan air mata. Kamu peduli, tapi tidak menyukai. Kamu menyayangi, tapi bukan mencintai. 

Berbatas. Ya, kita berbatas dinding tak terlihat. Raga bersama, tapi hati tak saling menyapa. 

"Aku percaya dengan naluri memilihmu, Jung Mini," katamu. 

Sakit, ya, melihat genggamanmu mengerat pada telapak mungil Lyrana. Seolah wanita itu tak boleh jauh-jauh darimu. Bahkan hanya seinci pun tidak dibiarkan.

Tuhan, bolehkah aku iri?

Kembali petikan senar memulai lagu yang berbeda. Sebenarnya, ini lagu duet. Hanya, tidak mungkin aku memintamu menjadi teman duetku, 'kan?

"Tunggu!" 

Kamu mencegah lirik pertama terucap. Kenapa?

"Ini lagu duet, 'kan? Tidak bisa kamu nyanyikan sendiri," katamu seraya berjalan menghampiriku.

"Lalu?" tanyaku balik. 

"Tentu saja duet." 

Kamu mengambil alih gitar yang kupegang. Meraih satu kursi tinggi lainnya, memosisikan di sampingku. Lantas, petikan senarmu memulai nada yang menyakitkan bagi telingaku. Tidak, tapi bagi hatiku.
.
Aku bagai laut tak bertepi dan tak berkarang 
Aku bagai bintang yang tak ditemani malam
.
Aku menoleh padamu, menanti sambungan lagu. Hasilnya, kamu justru menatap lekat wajah cantik sang peri bergaun serba putih dengan buket kecil mawar putih tersemat di tangannya.

Sakit.
.
Melihat dirimu ada senyum canda tawa
Yang membuat aku tak ingin pergi darimu
.
Garam bertabur di atas luka yang menyaga, Gala. Tatapanmu, tatapan penuh cinta untuk Lyrana adalah pisau yang mengiris setiap lapisan kulitku.

Hanya menghitung waktu sampai aku tak lagi berkutik oleh yang namanya patah hati.
~~~~~
~~~~~
"Gala, gadis seperti apa yang kamu suka?" Iseng saja aku bertanya seperti itu padamu. 

Banyak hal yang tidak terkatakan olehmu jika saja aku tidak menanyakannya. Padahal, kamu tahu semuanya tentangku. Meski, sebuah rahasia memalukan tidak akan pernah kamu tahu.

"Yang jelas tidak sepertimu." 

"Siapa juga yang berharap begitu." Aku menekuk bibir. Kembali fokus pada layar laptop demi menyelesaikan tugas. 

"Seorang gadis yang lembut dan keibuan. Tidak banyak tingkah, manis, dan dewasa."

Seketika aku membayangkan sosok Lyrana. Bukankah saudari serahimku itu memiliki ciri-ciri yang disebutkan olehmu? 

"Seperti Lyrana?" Aku memancing.

"Mungkin." Bahumu terangkat dengan acuh. Seolah berusaha menyembunyikan kebenaran.

Kita bukan sehari dua hari kenal. Kamu bersamaku, menjadi bagian dari Istana Jung, mengawasi tingkah pecicilan si bungsu Jung sejak gadis itu berusia 15 tahun. Dan sekarang, aku 23 tahun. Aku cukup tahu bagaimana tingkah polamu. Bagaimana saat kamu kecewa, bagaimana saat kamu bahagia, bagaimana saat kamu menyukai seseorang, aku dapat menerjemahkannya meski hanya membaca manik hitam pekatmu.

Dan aku menyadari jika kamu memang menyukai Lyrana.

"Kamu yakin memilih itu? Memangnya, Tuan Besar dan Ayahmu membolehkannya? Mereka ingin kamu mempelajari bisnis, Irana." 

Nadamu kali ini serius. 

Semua kepala di keluarga ini berpendapat agar penerus Keluarga Jung mengambil jurusan bisnis atau hal-hal terkait pengembangan usaha keluarga yang turun-menurun ini.

Hanya saja, aku sama sekali tidak tertarik. Toh, sudah ada Lyrana yang tekun mendengarkan setiap perintah mereka. Cukup satu penggerak seperti Lyrana bagi perusahaan. 

Aku? Boleh jadi akan mengacaukan sistem perputaran saham perusahaan. Kalau bangkrut, aku yang disalahkan, 'kan?

Jadi, biarkan satu kepala seperti Lyrana yang kelak menggantikan posisi para sesepuh.

"Kamu sendiri yang bilang agar Irana menjadi Irana, 'kan? Nah, beginilah Irana menjadi Irana, Gala. Mimpinya bukan duduk di kursi setiap hari dengan tumpukan dokumen aneh. Irana ingin menjadi petualang kata. Berkeliling dunia untuk merangkai sebuah cerita."

"Traveler sekaligus penulis, kamu butuh banyak uang, Irana. Memangnya, Tuan Besar Jung akan membiayai perjalananmu itu? Mendengarmu ingin menjadi penulis saja, dia uring-uringan."

Kamu berbaring di sampingku. Menatap lamat pada kelam langit jam 9 malam. Tidak memedulikan jika lantai semen atap terbuka ini begitu dingin. Mana merasa dingin. Badanmu sudah kebal karena otot-otot yang menggelembung di sekujur kulit. 

Kamu lebih pantas menjadi model majalah dewasa daripada pengawal pribadi seperti ini.

"Gratis," ucapku setelah beberapa saat.

"Eh? Gratis? Bagaimana bisa?" Kamu menoleh, menatapku tidak percaya.

Aku mengangguk sungguh-sungguh. 

"Aku tergabung dalam sebuah organisasi kepenulisan. Nah, berhubung aku cukup mahir beberapa bahasa asing, aku bisa menjadi penulis travel untuk organisasi tersebut," jelasku seraya memperlihatkan website organisasi di mana aku tergabung sebagai member aktif.

"Mereka bukan sekadar organisasi, Gala. Mereka juga punya penerbitan yang sudah bekerja sama dengan toko-toko buku. Bahkan, baru-baru ini, mereka menjalin kerja sama dengan toko-toko buku luar negeri. Jadi, pemasaran bukan hanya dalam negeri, tapi juga luar negeri." 

Gala membulatkan bibir. Takjub dengan penjelasanku.

"Kamu tidak main-main, Pendek." 

"Untuk sebuah mimpi, aku tidak akan pernah main-main. Ya, meski harus berseberangan dengan keinginan para sesepuh, aku akan memperjuangkannya. Kamu tahu, Gala?"

"Apa?"

"Kepuasan seorang pekerja adalah saat ia bisa menghasilkan uang dari hal yang dia sukai. Rasanya amat sangat membahagiakan sekaligus melegakan." 

Ho ho, seorang Irana mulai berfilosofi. Menakjubkan, bukan?

"Kamu mendadak pintar, Ceking?" olokmu selanjutnya. 

"Aku pintar sejak lahir, kok." 

"Aku tidak percaya." Kamu mulai mendebat.

"Aku tidak berniat membuatmu percaya." 

Kamu tidak menyahut. Membiarkan gemerisik angsana menjadi lagu sunyi di antara kita. Aku kembali pada layar laptop. Beberapa dokumen harus kuselesaikan agar pengajuan perjalanan ke Maroko dikabulkan oleh pihak-pihak berwenang organisasi. 

"Kamu benar, Ceking." Suaramu kembali terdengar.

"Apa?"

"Menikmati hasil dari apa yang kita sukai rasanya lebih membahagiakan, meski tidak seberapa. Dan akan terasa hampa meski berkeuntungan banyak, jika jalan yang kita lalui bukan yang kita inginkan." 

Kembali hening. Terkadang, aku kehabisan kata untuk membalas kalimatmu. Mungkin perlu mengkonsumsi beragam cerita fiksi untuk menimbun berbagai situasi demi membangkitkan percakapan.

"Jadi, kamu benar menyukai Lyrana?" 

Entahlah. Pertanyaan itu tiba-tiba saja mendorong pita suara untuk menyuarakannya.

Lagi-lagi kamu tidak menjelaskan secara terang. Hanya senyum sebagai perwujudan.
~~~~~
~~~~~

Kamu tahu, segalanya menjadi abu begitu kabar pernikahanmu memenuhi laman email. Membuatku seketika tergugu.
*tbc
Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.