Roseo (1)





       Cetha menghabiskan separoh hidupnya di Italia, ia harus menyesuaikan diri dengan keadaan jalan-jalan di Malang. Belum lagi ia harus mulai adaptasi lagi karena harus membawa mobil di sisi yang berlawanan daripada di Italia. Bunyi klakson memekakkan telinga, ia langsung menginjak gas melihat lampu hijau ternyata sudah menyala. Cetha segera mengambil jalur kanan dengan menurunkan kecepatan mobilnya. Plang Roseo Caffe yang bernuansa cokelat menyambutnya. Setelah memarkir Honda City warna emas itu, Cetha turun dan berjalan setengah berlari ke dalam Roseo menghindari rintik hujan yang baru saja turun.

       Seorang waiter yang dikenal bernama Opik –nama lengkapnya Taufik- hampir menambrak Cetha karena langkahnya terburu-buru. Opik meminta maaf yang langsung dibalas dengan anggukan kepala. Cetha berdoa agar tidak ada kekacauan hari ini. Persiapan acara nanti malam membuatnya sangat khawatir. Dekorasi caffe telah dipersiapkan sejak semalam, tinggal melakukan pembenahan kecil. Cetha melihat kembali catatannya untuk memastikan tidak ada yang tertinggal.

       Gita-lah yang mengusulkan grup akustik untuk menyambut malam minggu ini sebagai reward kepada pengunjung. Cetha memeriksa peralatan mereka yang semuanya sudah dipasang dengan rapi di panggung kecil Roseo Caffe. Tiga orang karyawan sedang sibuk menyelesaikan dekorasi panggung.

       Sekarang jam sebelas, Cetha berjalan ke arah dapur memeriksa persediaan bahan makanan. Semua pekerja berhenti sejenak melihat kedatangannya. Cetha meleparkan senyum pada mereka. Alessandro telah memastikan semuanya sempurna. Mendengar penjelasan Alessandro, Cetha bernafas lega. Alessandro koki Roseo Caffe, yang didatangkan langsung dari Italia. Ia merupakan sepupu Cetha, yang hanya berselisih usia tiga tahun lebih tua darinya. Ketika Cetha berencana membuka Roseo, Alessandro menawarkan diri menjadi koki. Tawarannya langsung Cetha terima dengan menggotong sepupunya itu ke Malang, tanpa protes.

         Alessandro tidak memperdulikan kehadiran Cetha di dapur, ia menekuni pesanan lasagna dari pelanggan. Tangannya memiliki kecepatan tinggi ketika memotong tomat rebus hingga berbentuk dadu. Tanpa menunggu lasagna selesai dibuat, Cetha berpamitan pada Alessandro dan tim dapur. Aroma roti panggang membuat Cetha memilih untuk tidak berlama-lama.

      Cetha menekuni bisnis caffe dengan citra rasa Italia ini sejak setahun yang lalu. Usahanya disambut hangat oleh masyarakat Malang. Orang Indonesia sudah terpengaruh oleh makanan barat, tak heran jika banyak orang yang sudah mengenal pizza maupun spageti. Roseo caffe dibuat kekinian dan anak muda banget. Meskipun sasaran utamanya adalah para remaja, tetapi cukup banyak keluarga muda yang membawa anaknya ke Roseo.



    Jam menunjukkan pukul enam sore, Cetha menerima kabar mengejutkan dari Gita bahwa salah seorang anggota grup akustik yang akan tampil pada acara nanti malam mengalami kecelakaan. Melihat Cetha tercengang, Gita dengan wajah khawatir berkata, “Kita bisa mencari jasa akustik lain.”

    Tidak lama kemudian, Cetha dan Gita sudah searching grup akustik di akun Instagram masing-masing. Cara ini terbilang cepat dan efektif, karena kebanyakan mereka memperkenalkan talenta melalui media sosial.

     “Kayaknya kita ganti dengan Homeband aja deh, gimana?” Cetha mengangguk tanpa berpikir panjang lagi. Seandainya dia memiliki plan B, mungkin semua tidak berantakan seperti saat sekarang ini.

       “Sekarang jam enam lewat. Acaranya jam delapan, kita punya waktu dua jam. Tapi, apa mereka mau tampil dadakan,” Gita menggigit bibir bawahnya.

     “Mana nomor teleponnya?” Cetha menelpon dari satu grup akustik ke grup akustik lain. Mereka akhirnya mendapatkan grup akustik yang mau menerima panggilan dadakan.

      Wajah-wajah khawatir itu mengendur. Pria muda yang mengenakan kemeja cokelat berlogo Roseo Caffe melewati meja mereka. Cetha menyapa dan mengatakan untuk segera dibuatkan macchiato dan spageti. Sejak pagi Cetha belum menyentuh makanan, ia memutuskan untuk makan agar tidak pingsan pada acara malam nanti.



     Cetha dibuat takjup dengan Roseo Caffe yang tampak berbeda dari biasanya. Cetha bernafas lega acaranya berlangsung sukses seperti pada impian sebelumnya meskipun sempat khawatir tidak ada grup akustik yang mau tampil dadakan. Pengunjung tampak ramai, tidak ada satu pun meja yang tak berpenghuni. Tamu undangan seperti dari selebgram Malang, Komunitas Fotografi Malang, dan Komunitas Blogger Malang sudah duduk di kursi yang telah disediakan. Cetha sengaja mengundang influencer sebagai media yang membantu memperkenalkan Roseo pada masyarakat.

      Cetha melihat gadis dengan rok berwarna tosca, atasan putih, dan sepatu high heels lima senti datang ke arahnya. Gadis itu sangat cantik dengan bibir yang dipoles lipstik warna pink

        “Gimana, gak ada masalah kan?” tanya sahabatnya itu.

        “It’s okay. No problem!” ujar Cetha.

    “Aku gak bisa di sini sampai habis nih, soalnya Mama sama Papa jenguk nenek di Rumah Sakit. Jadi, aku disuruh jagain Abi,” kata Gita memelas.

      Cetha mengerucutkan bibirnya, “Dengan berat hati aku melepasmu,” kata Cetha.

       “Selamat yah, acaranya sudah berlangsung sukses,” Gita berbagi peluk dan cipika-cipiki dengan Cetha lalu meninggalkannya.

     Kini tidak hanya Gita, para pelanggan Roseo juga meninggalkan tempat. Beberapa influencer menggenggam smart phone untuk mengunggah foto ke Instagram, blog, maupun youtube. Seorang pria yang mengenakan kaos warna hitam dengan logo Komunitas Fotografi Malang itu berjalan ke arah Cetha. Di hadapan seluruh pengunjung Roseo, dengan percaya diri penuh pria itu memberikan Cetha seikat bunga mawar merah. Cetha mengucapkan terima kasih. Tetapi, ucapan Cetha teredam oleh musik akustik yang dibawakan oleh ketiga remaja di panggung mini Roseo. Pria itu kembali duduk bersama teman-teman sesama komunitasnya. Tak lupa meninggalkan senyum termanis untuk Cetha.

   Cetha sempat melirik sekilas pria tadi masih menatapnya, karena tidak mau GR buru-buru ia menepis perasaan itu. Cetha menghela nafas keras. Tentu saja bunga mawar itu tidak ada artinya jika, mereka tidak berada dalam acara ini. (Bersambung)

Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.