Cerbung Melepasmu Part 3


Part 3
.
Akan kuingat hari ini. Saat mahkota-mahkota mawar berjatuhan, memberkati sebuah pernikahan, membersamai kejatuhan sebuah rasa. 
Bahagia yang meruntuhkan. Tawa yang merapuhkan. Keterikatan yang melepaskan. 
Benar-benar hari bersejarah bagi seorang Irana Elyarra Jung. Hari kematian untuk cinta.


##
Cinta adalah misteri dalam hidupku
Yang tak pernah ku tahu akhirnya
Namun tak seperti cintaku pada dirimu
Yang harus tergenapi dalam kisah hidupku
##


Henyak. Diam yang menghayati. Irana memang ahli menyihir setiap pendengarnya, menjadikan ia dikagumi lewat alunan nada, tapi tak mampu menyentuhmu lebih dalam. Tak mampu menjadikan Irana sebagai penggenapmu yang pernah tak lengkap. 
Miris.


##
Kuingin selamanya mencintai dirimu
Sampai saatku akan menutup mata dan hidupku
Kuingin selamanya ada di sampingmu
Menyayangi dirimu sampai waktu 'kan memanggilku ....
##


Kamu mengulurkan sebelah tangan, meminta tangan perempuan yang kini menjadi istri sahmu. Semua orang tahu untuk apa kamu melakukannya. 
Berdansa, tentu saja. Alunan melow dari gitar yang dipetik gadis tersakiti, bukankah sangat cocok untuk berdansa?
Sekali lagi, sebuah romantisme membuat  hatiku remuk. Ya, andai saja tembus pandang, mungkin yang terlihat hanya remahan. Mengenaskan.

Suaraku masih bernyanyi. Tatapanku jatuh pada gerakanmu yang seirama dengan Lyrana. Hanya, memoriku berlompatan ke masa silam. 
Bicara memori, aku akan mendekapnya. Berharap Tuhan tidak memberiku penyakit pikun di kemudian hari agar tentangmu dan aku terjaga di sana. Aku sudah terluka, Tuhan. Jika sampai Engkau memberiku penyakit lupa ingatan yang membuat kenangan berhamburan dari tempatnya, maka aku menjadi gadis paling menyedihkan. Jadi, biarkan ingatanku tetap tajam hingga puluhan tahun ke depan. Meski, melupakan yang pernah kita cintai tidak semudah membalik kue serabi. 
Ah, aku ini patut dikasihani, Tuhan.
~~~~~~
~~~~~~
"Tidak mau tahu, mulai besok kamu akan dikawal." 

Aku memberengut demi ultimatum Tuan Muda Jung alias Ayah. Dikawal? Memangnya aku pesakitan sampai melakukan pengawalan segala? Argh! Keluarga Jung berlebihan. Lahir menjadi keluarga Jung bukanlah hal menyenangkan.

Bagaimana mau menyenangkan jika segala sesuatunya ditentukan? Breakfast, lunch, dan dinner semuanya diatur pada jam sekian, sekian, dan sekian. Harus memakai ini untuk acara ini, harus memakai itu untuk acara itu, rambut harus seperti ini saat ini, sepatu harus itu saat itu. Tuhan, aku bukan anak kecil yang tidak bisa menyesuaikan apa yang kupakai. Aku tidak gila untuk mengenakan kaos oblong dan jeans sobek-sobek saat pesta peresmian perusahaan baru. Halloooooo! Irana tidak seurakan itu. Setidaknya, cukup tahu diri untuk tidak menjatuhkan harga diri.

"Terserah kalian." Aku menukas. 

Membantah hanya akan jadi hal sia-sia jika berbicara dengan Ayah, apalagi Tuan Besar Jung alias Kakek. Huft! Penghuni Istana Jung orang-orang kaku.

Satu lagi yang paling menyebalkan dari keluarga ini adalah peraturan home schooling. Astaga! Aku mendekam di rumah yang sumpek dengan jejalan materi-materi pelajaran? Aku tinggal menunggu rambut memutih lebih cepat dari usia seharusnya. Kepala botak karena tertekan. Menghitung hari sampai aku depresi. Irana Elyarra Jung akan menjadi hot news di surat kabar pada pagi berikutnya. Tercetak tebal dan besar 'DIDUGA TERTEKAN KARENA HOME SCHOOLING, IRANA ELYARRA JUNG MENGALAMI DEPRESI'. Menggelikan. Keluarga ini lucu dan menggelikan.

Bisa saja aku depresi, jika saja keesokan hari Ayah tidak membawamu. 
Ya, kamu. Galaraez Dwipala yang entah Ayah pungut dari mana. 
Jika Tuan Besar dan Muda Jung mengatakan, "Irana, berhenti menjadi gadis sembrono!"
Jika Nyonya Besar dan Muda Jung mengatakan, "Irana, jadilah gadis manis yang anggun!" 
Jika Lyrana si anggun mengatakan, "Irana, jangan membuat masalah hanya untuk menarik perhatian!" Hah? Menarik perhatian? Siapa yang mau diperhatikan? 

Maka, kamu akan mengatakan, "Jadilah Irana yang Irana. Kamu manusia yang memiliki kebebasan. Apa yang kamu lakukan adalah hak asasimu selama tidak merugikan orang lain." Ditambahi dengan tepukan lembut di kepala.

Berlagak sok menjadi kakak, tapi entah bagaimana itu menyamankan. Kamu membuatku menjadi diriku. Kamu membuatku menjadi Irana yang Irana. 

Hari pertama bertemu denganmu bukanlah hal menyebalkan. Kamu berusaha mengimbangiku yang menurut banyak kepala di Istana Jung, Irana gadis super berantakan. Ya, berantakan hidupnya. Dalam arti, sangat tidak perempuan. 

"Kudengar kamu menyukai musik?" tanyamu suatu ketika. Kita di atap, malam dengan taburan bintang di berbagai penjuru. Embusan angin meliukkan rambut kemerahanku yang tergerai.

"Kamu menyelidikiku?" Aku balas bertanya, sambil lalu. Tatapan saja lebih kujatuhkan pada gugus-gugus bintang di barat.

"Aku harus mengetahui banyak hal tentangmu agar dapat mengikuti ritme hidupmu."

"Hei, Galaraez?" Aku mengubah posisi duduk; menghadapnya dengan menyilangkan kaki dan melipatnya. Mencoba menggali tentang Gala agaknya mengasyikkan. 

"Hm?" 
Hanya 'hm' dengan imbuhan kepala menoleh. 

"Kenapa kamu mau jadi pengawalku? Kamu tidak mendengar rumor kalau Irana Jung adalah gadis monster?"

Aku tidak mendapat jawaban. Hanya senyum. Namun, aku dapat membaca bahwa senyum itu tulus. 
~~~~~
~~~~~
Setulus senyummu saat ini begitu lagu pertama berakhir. 

Lagu pertama? Begitu yakinnya Irana mampu memenuhi permintaanmu. Tidak peduli yang rengkah di sana semakin bernanah. Mungkin, usai pesta ini aku perlu ke rumah sakit. Memeriksakan diri, mengecek hati apakah bisa diperbaiki setelah patahannya remuk bersenti-senti? Yakinlah, dokter dan perawat di sana akan menelepon petugas rumah sakit jiwa. Dan wacana Irana Elyarra Jung depresi akan benar-benar menjadi tajuk utama surat kabar esok hari.

"Lagu lainnya, Irana!" Kamu berseru dengan senyum yang tak lepas. Jadi ingin bertanya, apa wajahmu tidak kaku sejak beberapa jam lalu tersenyum begitu? Ah, yang bahagia tidak akan merasakan hal macam itu.

"Oke." Aku mengacungkan ibu jari sebelah kanan. Tersenyum sebagai manipulasi jika ruhku nyatanya tergugu.

Tuhan, kuatkah aku melagukan lagu berikutnya? Sementara aku mulai berhalusinasi untuk mengubur perasaan bersamaan ragaku saat ini.
.
*tbc



Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.