Kejutan Dari Lili
Oleh: Yuyun Sukarsih dan Mariani 


            Menunggu, adalah hal yang paling membosankan bagi semua orang. Termasuk Lili, cewek 20 tahun itu hanya bisa mondar-mandir di taman sambil menunggu seseorang. Jika punya tanduk, mungkin tanduk di kepalanya sudah muncul pertanda cewek itu siap memarahi habis-habisan orang yang sudah membuatnya lama menunggu. Sesekali diliriknya jam tangan besi putih berbentuk kepala mickey mouse, bola mata coklat Lili memutar usai melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya itu.
            Kekesalan semakin terlihat jelas pada air mukanya. Bagaimana tidak, jam sudah menunjukkan pukul tiga sore, itu artinya sudah tiga jam Lili menunggu dari waktu yang dijanjikan.
            "Kamu keterlaluan, Eko!" pekik Lili. Kedua kakinya kini dihentak-hentakkan seperti anak kecil. Isak tangis pun lolos dari bibir mungilnya.
***
            Sementara di tempat lain, di tengah jalanan yang ramai dengan berbagai macam kendaraan, hingar-bingar dan suara klakson yang sengaja mengguncang gendang telinga, salah satunya telinga Eko. Ya, Eko kini tengah berjuang melawan kemacetan. Pasalnya sudah dari satu jam yang lalu Eko berada di sana. Tak ada jalan lain, hanya itu satu-satunya jalan yang harus dilalui. Laju motornya pun hanya bisa dipacu di bawah 20 saja saking ramainya. Eko hanya bisa pasrah. Pasrah melewati jalanan yang macet dan pasrah menerima omelan dari kekasihnya, Lili yang saat ini tengah menunggunya. Eko siap menerima segala amukan dari Lili, toh ini semua memang salahnya.
            "Andai saja aku tadi tidak ketiduran," batinnya. 
***
            Tingkat kesabaran Lili sudah sampai puncaknya. Lili beranjak dari tempat duduknya. Sebelum melangkah, dihentak-hentakkan kakinya karena kesal sambil membenarkan tali tas yang tersampir di bahu kanannya. Lili pun meninggalkan taman sambil bibir tipisnya mengeluarkan makian kecil. Merutuki dirinya sendiri, kenapa dirinya bisa sebodoh itu sampai harus menunggu tiga jam lamanya.
            Setelah bersusah payah Eko menyalip-nyalip kendaraan, akhirnya Eko bisa memacu motornya lebih kencang. Dalam dua menit saja, Eko sudah menuju taman. Dari kejauhan dilihatnya Lili sudah berjalan meninggalkan taman, Eko semakin mempercepat laju motornya. Setelah cukup dekat, Eko menghentikan motornya dan memilih berlari untuk mengejar Lili. Eko sadar, saat ini kekasihnya itu sudah pasti sangat kecewa padanya. Sedari tadi Eko memanggil, tak dihiraukan oleh Lili. Eko tak putus asa, sedikit berlari, Eko berhasil meraih tangan Lili dan membuat langkahnya terhenti.
            "Maafkan aku, Li," tutur Eko lembut. Napasnya terengah-engah.
            Tak ada respon dari Lili, Eko pun menarik Lili lebih dekat dan membenamkan wajah Lili ke dalam pelukannya. Hal yang sering dilakukan Eko ketika pujaan hatinya itu berada di puncak emosi. Dengan memeluk dan mengusap-usap kepala cewek itu, emosi Lili perlahan akan mereda. Benar saja, saat ini Lili membalas pelukan Eko dengan melingkarkan tangannya ke pinggang Eko. Lili juga mendengar detak jantung Eko yang berdebar lebih cepat karena lelah mengejarnya tadi. Namun, Lili juga tak bisa berbohong kalau rasa kesal itu masih ada, dilepaskannya pelukan Eko. Eko hanya tersenyum.
            "Maafkan aku, Li. Aku tahu aku salah lagi, aku tadi ...."
            "Iya. Aku paham, kok. Tapi kali ini apalagi alasan kamu selain antar mama, lupa, macet apa ketiduran?" protes Lili.
            Eko hanya tersenyum melihat wajah kesal pujaan hatinya. Wajah putih mulus itu masih terlihat memerah di bagian hidung dan matanya. Eko dengan lembut merapikan anak rambut Lili yang acak-acakan dan menyampirkannya di belakang telinga Lili.
            "Aku mau ajak kamu ke suatu tempat."
            "Kemana! aku udah nggak mood lagi ngapa-ngapain," ketus Lili.
            "Aku tahu kamu masih marah, tapi aku mohon ya," pinta Eko.
            Lili pun mengiyakan. Eko tersenyum senang dan kembali mengusap-usap pucuk kepala Lili. Diraihnya tangan Lili menuju motornya. Dengan penuh kasih sayang Eko memakaikan helm di kepala Lili. Tak lama motornya pun dipacu menuju suatu tempat.
Beberapa menit kemudian, Eko memarkirkan motornya. Sebelum ke tempat tujuan, Eko meminta Lili untuk ditutup matanya dengan sapu tangan. Awalnya Lili protes, karena Lili belum tahu apa tujuannya dan kenapa matanya harus ditutup. Dengan sabarnya Eko memohon kepada Lili lagi, dan Lili pun akhirnya setuju juga.
            Perlahan Eko menuntun langkah Lili. Setelah sampai Eko membuka ikatan sapu tangan dan membiarkan Lili membuka matanya perlahan. Beberapa detik kemudian, Lili kaget melihat apa yang ada di hadapannya.
            "Ini? Kamu menemukan tempat ini?" tanya Lili takjub ketika mendapati ia tengah berada di air terjun Sibohe. Air terjun terlarang. Sudah lama Lili menantikan bisa kembali ke tempat ini. Dan Eko adalah sasaran utamanya untuk menemukan ini. Akhirnya, selama satu tahun menunggu, waktu ini pun tiba.
            "Kamu suka?" Eko yang masih tidak mengerti dengan permintaan aneh kekasihnya hanya mencoba menanyakan hal itu.
            "Su ... ka." Suara berat Lili semakin terdengar. Aura dari air terjun ini begitu kuat hingga menarik kekuatan hitam yang sesungguhnya masuk ke tubuh Lili. Mata Lili yang awalnya coklat berubah menjadi merah. Rambutnya yang hitam sebahu kini memanjang membentuk dandan hingga jejak ke tanah. Begitu pula pakaiannya yang berubah menjadi gaun berwarna hitam merah panjang.
            Eko melotot. Menyaksikan sendiri pemandangan aneh. Ia mundur hati-hati. Namun sebuah senyuman sinis dari Lili berhasil membuat cowok itu tak bergerak. Lili menghembuskan kekuatan serbuk debunya ke sekitar, guna penghalang penglihatan manusia. Sehingga mereka tidak akan menemukan tempat ini.
            "Li, Lili ... kamu?"
            "Ya. Aku adalah dewi penjaga air terjun terkutuk ini."
            "Tapi, kamu ...," Eko kehabisan kata-kata. Yang ia tahu selama ini Lili adalah manusia biasa sama sepertinya. Dan dewi penjaga? Menurutnya hal ini hanyalah mitos.
            Lili mendekati Eko. "Maafkan aku, Ko."  Lili memeluk Eko yang masih membeku. Eko menangis seraya tersenyum.
            "Sekarang, aku tahu semuanya. Aroma ini menghipnotisku. Membuatku tahu dosa besar yang memang harus kutebus," ujarnya dalam hati.
Perlahan-lahan tubuh Eko mengeras menjadi batu.
            "Karena ayahmu telah membunuh suamiku. Maka, saatnya kamu yang membayar nyawanya. Maafkan, aku ...."
            Lili mencoba menatap Eko terakhir kalinya. Jujur, meskipun ia membenci keluarga Eko. Tapi, entah kenapa tetap saja rasanya sedikit berat.
            "Maafkan aku, Lili."
            Prang!!
            Tubuh Eko pun hancur menjadi kerikil-kerikil kecil. Perlahan, air terjun terlarang tersebut berbinar-binar. Arusnya pun menjadi laju. Tanaman di sekitar kembali mekar.
"Air terjun ini, hilang dari kutukan. Pengorbananmu tidak sia-sia, Eko."
***




Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.