CINTA YANG DIDUSTAKAN (3) Oleh Dewy Rose.


Hari-hari kulalui bersama Aisyah merupakan momen yang terindah, walaupun Aisyah tak sempurna, hanya bisa memperhatikan semua gerak-gerik dan kadang tertawa ketika kami bercanda. Bahkan sering kali menangis, saat semua keinginannya tidak bisa aku penuhi, karena memang tidak mengerti apa yang diinginkannya. Walau usianya sudah sembilan tahun, namun karena keterbatasan ekonomi, makanya Aisyah tidak bersekolah.

Sejak mengetahui Aisyah lahir dengan keterbatasan, ada sedikit perubahan dalam diri Bang Ipul, dirinya menjadi lebih pendiam. Sebenarnya kehidupan kami cukup lumayan, namun sepertinya kehadiran Aisyah yang berbeda, seperti ada perasaan yang mengganjal dalam dirinya. Tak hanya Bang Ipul, keluarganya pun kadang suka mencemooh kehadiran Aisyah. Sehingga membuat hubungan kami sedikit renggang.

Sejak tujuh tahun yang lalu kami membeli sebuah rumah mungil di pinggiran kota. Dengan alasan agar jauh dari keluarga Bang Ipul, menghindari juga dari omongan keluarga dan tetangga tentang Aisyah, karena rumah di sini masih banyak tanah kosong dan berjauhan dengan tetangga.

Tetapi semenjak pindah rumah, sikap Bang Ipul semakin berubah, dengan alasan kerja tugas luar atau banyak kerjaan sehingga jarang pulang. Sebenarnya pendidikan akademisku cukup tinggi, sebelum Aisyah lahir dan kami pindah ke sini, aku adalah seorang guru, namun kondisi Aisyah membutuhkan seorang ibu yang intensif untuk merawatnya, ditambah lagi semua mesti dilakukan sendiri sekarang. Ini tak pernah mempersulit keadaan dan membuat berkecil hati, sebagai seorang penulis lepas di berbagai media cetak maupun online, hingga sedikit demi sedikit bisa membantu keuangan untuk kebutuhan hidup sehari-hari bersama Aisyah. Pengalaman mengajarkanku untuk kuat menahan semua cobaan yang telah diberikan oleh Yang Maha Kuasa.

***

“Ma! Ma!” Suara Aisyah memanggil dari ruang depan. Sementara aku segera bergegas dari dapur, melihat apa yang terjadi dengannya.

“Aisyah!” Panggilku setengah berteriak mendekatinya.

Kulihat Dia menunjuk ke arah pintu dan pandanganku segera mengikuti arah tangan mungilnya. Tak lama pintu pagar dibuka, terdengar suara motor memasuki halaman.

Alhamdulillah, Bang Ipul pulang dengan selamat, setelah hampir seminggu pergi tugas luar, batinku bersyukur.

“Assalaamu’alaikum!” ucap Bang Ipul.

“Wa’alaikumussalaam,” jawabku segera membukakan pintu

Kemudian Bang Ipul masuk, Aisyah memberikan pelukan hangat setelah aku mencium tangan Bang Ipul.

“Apak! Apak!” ucap Aisyah sambil memeluk Bapaknya, untuk meluapkan rasa kangennya.

“Bapak mau istirahat dulu ya, Sayang?” Bujukku kepada Aisyah. Sementara Bang Ipul hanya menatap ke arah kami tanpa berucap.

Nanar netraku menatap sendu ke wajah Aisyah yang berubah mendung, karena sudah menitik butiran bening pada pipi tirusnya.

Ya Tuhan! Berikan kekuatan dan kesabaran dalam diri hamba, limpahkanlah kasih dan sayangMU untuk hamba dan Aisyah, batinku berdoa.
Sambil memeluknya, kemudian kucoba alihkan perhatiannya dengan boneka hello kitty kesayangan Aisyah.

“Aisyah, bermain dengan boneka dulu ya, Nak? Mama mau melanjutkan masak sebentar, nanti kita makan bersama dengan Bapak,” ucapku membujuk lalu beerdiri mengunci pintu dan melanjutkan masak kembali.

Selepas salat zuhur, kulihat Bang Ipul sudah bangun dan bersiap mandi. Sambil menyiapkan baju yang akan di pakai, tanganku sibuk berbenah ruangan bekas mainan Aisyah yang berserakan. Selesai salat, makanan sudah kusiapkan di lantai beralaskan tikar. Kemudian kami duduk dan makan bersama tanpa ada sepatah kata.

***

Malam hari, ketika Aisyah sudah tidur, lamat-lamat aku mendengar suara Bang Ipul berbicara dengan seseorang. Kemudian aku menghampirinya, rupanya Ia sedang menelpon seseorang.
Mungkin Bang Ipul sedang menelpon teman kerjanya, hingga berbicara pela-pelan, karena Aisyah sudah tidur, batinku sambil tersenyum saat melihat wajahnya yang sedikit terkejut karena tiba-tiba aku berada di sampingnya. Kemudian Ia segera menyelesaikan urusannya dan mematikan handphonenya.

***

Kepulangan Bang Ipul yang sudah beberapa hari, membuat perasaan bahagia terlukis di wajah Aisyah. Seperti ada sesuatu yang berbeda, karena rasa kangen dari seorang anak yang telah terobati kini. Walau itu tak berlangsung lama, karena pagi ini Bang Ipul sudah berkemas kembali.

“Ma! Mungkin Bapak seminggu ini tidak pulang lagi, ada banyak kerjaan,” ucapnya.

“Bapak baru beberapa hari berada di rumah, kami masih kangen, Pak,” jawabku

“Kalau tidak banyak pekerjaan, Bapak juga akan di rumah terus kok ,” jawabnya sambil memandang wajah Aisyah dan menatapku. Dari pandangannya ada  sesuatu yang disembunyikan di sana.

Mungkin saja karena sedang banyak pekerjaan, batinku segera menepis pikiran macam-macam yang mulai hinggap di kepala.

Kemudian Ia bergegas keluar, setelah kami bersalaman.

“Hati-hati di jalan ya, Bang!” ucapku mengingatkan setelah mesin motor dinyalakan. Sementara Bang Ipul hanya tersenyum sambil mengangguk.

Ketika tubuhku berbalik, Aisyah sudah berdiri dengan mata yang mengembeng. Segera kuraih bahu dan memeluknya sambil berucap lirih,

“Sabar ya, Sayang! Bapak pergi kerja lagi, kita bantu doa agar Bapak cepat selesai pekerjaannya,”

Walau aku tahu Aisyah tidak bisa mendengar, namun Dia bisa merasakan semua doa dan pintaku pada Yang Maha Kuasa.

DR.
Bekasi, 24 Maret 2018
04:44
Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.