CINTA YANG DIDUSTAKAN (2) Oleh Dewy Rose.


Kepalaku mulai terasa pening, namun serasa ada yang mengguncangkan bahu ini, sambil sayup-sayup terdengar suara lembut.

“Ma ... ma!”

Segera mataku terbuka dan menatap seraut wajah mungil tersenyum memandangi sambil tangannya menunjuk ke arah pintu. Aisyah membangunkan diri ini, sebab ada seseorang di luar membuka pagar bambu di teras. Masih setengah sadar, kemudian aku memandangi seluruh ruangan rumah.  Masih rapi rupanya, lantas kenapa tadi seakan-akan ada yang mendobrak pintu rumah dan memecahkan kaca jendela? Dan suara itu? Suara siapakah yang terakhir aku dengar? Batinku kembali mengingat semua kejadian yang ternyata hanya mimpi. Tak lama kemudian ...

Tok! Tok! Tok!

“Assalaamu’alaikum!” Terdengar suara di luar memberikan salam setelah mengetuk pintu.

“Wa’alaikumussalaam warahmatullahi wabarakaatuuh!” jawabku seraya berdiri dan berjalan menuju pintu.

Rupanya aku ketiduran selepas salat dzuhur tadi dan masih menggunakan mukena, kemudian membukakan pintu.

“Pak Syarif dan Ibu Winda? Silakan masuk, Pak, Bu,” kataku sambil mempersilakan mereka masuk, walau masih kaget dengan kedatangannya. Kemudian mempersilakan duduk di tikar yang sudah digelar. sekejap aku ke dapur, membuatkan minuman untuk mereka.

“Maaf ya Pak, ada apa?” Sambil meletakkan minuman, aku bertanya.

“Bapak ada, Bu?” tanya Pak Syarif kemudian

“Kebetulan bapak sedang ada tugas luar, Pak,” jawabku

“Sebenarnya kedatangan kami ke sini hanya sekedar silaturahmi dan ingin memberikan sedikit buah tangan untuk Aisyah,” jawab Bu winda, istri Pak Syarif sambil menyerahkan beberapa kantung plastik, saat kulirik ada sembako di sana dan beras dalam karung kecil, serta makanan ringan dan susu untuk Aisyah.

“Ya Allah, terima kasih ya Bu,” ucapku sambil tertunduk, haru.

“Sama-sama, Bu Dewi! Kebetulan kami lagi ada rezeki untuk Aisyah juga, ya Pak?” jawab Bu Winda sambil menatap Pak Syarif yang tersenyum bijak menanggapi.

“Alhamdulillah, semoga berkah dan semakin bertambah rezeki Ibu sekeluarga, amin,” ucapku kembali.

“Amin!” jawab mereka berbarengan.

Sementara kulihat Aisyah sedang sibuk bermain dengan boneka baru pemberian mereka juga. Aisyah, semenjak lahir memang ada kelainan, telinganya tidak bisa mendengar dengan baik sehingga bicaranya pun hanya satu dua kata yang Dia bisa. Biar bagaimanapun aku sangat bersyukur, dengan segala keterbatasannya, walau Aisyah tumbuh tidak seperti anak-anak lainnya. Setelah cukup lama kami berbincang dan menikmati hidangan seadanya, kemudian mereka berpamitan.

***

Malamnya, ketika Aisyah sudah tidur, segera mencoba mengingat-ingat tentang mimpi tadi siang. Mimpi yang membuat semua orang merinding, bahkan bergidik ketakutan. Siapa yang tidak ngeri mendapat perlakuan kasar dari warga dan parahnya lagi tuduhan mereka itu, yang mengatakan aku adalah pelakor, ya! Pelakor, perebut laki orang. Entah suami siapa yang telah direbut dan bagaimana mereka dalam  mimpi itu seolah begitu nyata. Hingga kembali kucoba mengingat tentang suara itu, suara seorang wanita yang terasa tidak asing lagi, tapi di mana aku pernah mendengarnya? Dan kapan? Kepala ini mulai terasa pening saat mengingatnya dan ternyata sudah cukup larut untuk mengingat semua kejadian dalam mimpi itu, segera kutarik selimut dan berdoa lalu tidur.

***

Dua minggu setelah mimpi itu, tiba-tiba handphone berbunyi, terpampang sebuah nomor tak dikenal, ragu untuk menjawab sebenarnya namun sudah tiga kali nomor itu menghubungi ponselku. Lalu dengan terpaksa segera aku menjawabnya.

“Assalaamu’alaikum,”

“Wa’alaikumussalaam! Mbak Dewi? Halo!” Terdengar suara seorang wanita memanggil namaku.

“Ya, dengan siapa aku bicara?” jawabku

“Sudah lupa dengan Saya? Bertahun-tahun kita tak pernah bertemu, bahkan berbicara melalui telepon juga kita tak pernah. Hampir lima tahun kita tak saling menyapa, karena memang jarak yang telah memisahkan kita.” Jawabnya lagi mencoba mengingatkanku tentang siapa dirinya.

“Bagaimana kabar Aisyah sekarang? Sudah besar tentunya ya? Kelas berapa sekarang Aisyah?” Serentetan pertanyaan tentang putriku kini dia berikan.

Bang Ipul kerja, Mbak? Bagaimana kabarnya juga dengan Abang? Rasanya kangen ingin bertemu dengan kalian kembali, terutama Aisyah. Tentunya sekarang sudah besar dan cantik seperti Mbak ya?” Belum sempat kujawab pertanyaan yang tadi, Dia sudah memberikan beberapa pertanyaan dan kali ini tentang Bang Ipul. Ya! Bang Saepulloh adalah suamiku, bagaimana wanita itu mengenal dengan baik tentang kami?

Sambil mencoba mengingat-ingat siapa wanita ini melalui suaranya, sepertinya aku mengenalinya juga. Belum sempat menjawab semua pertanyaan itu, tiba-tiba Dia berkata kembali,

“Maaf, Mbak! Friska anakku bangun, lain waktu kita bicara lagi ya Mbak? Assalaamu’alaikum Mbak Dewi!” katanya segera mengakhiri telepon saat kudengar suara tangisan seorang anak kecil dari sana dan suara seorang lelaki yang terdengar samar, sepertinya aku mengenalinya juga.

Siapakah Dia? Suara wanita itu sepertinya sudah sangat familier, bahkan sepertinya baru kemarin aku mendengar suaranya. Dan suara lelaki itu? Ah! Mungkin Dia adalah suaminya, batinku sambil menaruh handphone. Kemudian melanjutkan menulis kembali.

DR.
Bekasi, 16 Maret 2018
16:52




Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.