Cerbung Melepasmu Part 4


💔 Part 4 💔

.
"Ehm, bolehkah aku menolak permintaan sang pengantin?" tanyaku basa-basi. Pengalihan dari desakan bulir hangat yang ingin menjebol ketegaran netraku.

Kamu menggeleng dengan senyum yang tak pernah lepas. Tampak amat bahagia. Andai kamu tahu jika bahagiamu adalah duka bagi gadis kurus dengan gitar di tengah altar, apakah masih sanggup senyummu sebahagia itu?

"Cepat bernyanyi, Jung Mini. Nanti kuarahkan bunga pengantin padamu. Siapa tahu kamu segera menyusul." Kamu bergurau; mengedipkan sebelah mata, tertawa bersama puluhan tamu lainnya. Aku tahu itu hanya gurauan, tapi rasanya menyesakkan. Seolah tawamu mengejekku. Menimbulkan dengung di kepala yang mengujar, "Sungguh mengenaskan sekali Si Jung Mini. Hatinya porak-poranda tanpa ada yang tahu. Ditertawakan puluhan pasang mata, bukankah cukup untukmu berlari keluar? Menghilang bila perlu."

Dunia merah jambuku benar-benar mengenaskan. 


Kembali kupetik senar gitar di mana setiap petikannya sama seperti sayatan belati. Mengiris setiap inci kulit Irana Elyarra Jung. Berdoa saja agar si kurus dan mini ini tidak menangis darah saat lagu kedua dinyanyikan. Lagu yang lagi-lagi romantismenya membuatku ingin membunuh memori.

##
Demi semua bila kujalani bersamamu
Kuingin engkau jadi milikku
Kuingin kau di sampingku
Tanpa dirimu ku hanya manusia tanpa cinta
Dan hanya dirimu yang bisa
Membawa surga dalam hatiku
##

~~~~~
~~~~~
Keluarga Jung adalah keluarga besar pebisnis yang disegani, sekaligus banyak musuh. Berurusan dengan orang-orang licik yang ingin menjatuhkan Tuan Besar Jung dari kursi tertinggi seluruh perusahaan sudah seperti rutinitas. Kekuasaan yang justru mengekang kami--aku dan Lyrana. Meski aku tidak pernah melihat Lyrana mengeluh atas sikap protektif sesepuh keluarga ini. Ah, entahlah. Kembaranku itu memang lebih mudah didoktrin untuk jadi penurut, seolah dunia yang teratur memanglah yang sempurna bagi masa pubernyan 

Namun, tidak bagi Irana. Keteraturan justru pengekang baginya untuk melangkah lebih bebas, berjalan lebih leluasa, menikmati masa puber dengan berbagai hal ringan dan menyenangkan. 

Kami memang satu-satunya cucu, penerus bagi keluarga besar ini. Sayangnya, aku sama sekali tidak berminat duduk di kursi bisnis; menghadapi laporan-laporan aneh, menandatangani dokumen-dokumen yang untuk melihatnya saja sudah membuatku mual.

Lyrana yang pantas. Gadis itu tercetak untuk menjadi penerus. Itulah yang membuat semuanya aman. Dalam artian, minat kami yang berbeda membuatku dan Lyrana tidak perlu berperang untuk kursi tertinggi perusahaan. Aku tidak peduli dengan tetek-bengek bisnis. 

Aku punya mimpi sendiri. Punya hidup yang ingin kubangun sendiri. Melangkah dengan kakiku, berdiri dengan tubuh dan jiwa yang selaras. Bukan diperintah untuk ini dan itu.

Masa bodoh dengan warisan Tuan Besar Jung yang akan jatuh banyak ke Lyrana. Hidup bukan cuma tentang uang. Kebebasan melakukan banyak hal lebih membahagiakan.
.
"Untuk apa kamu ke kelab? Kamu tahu bagaimana di sana, 'kan?" Pertanyaan menusuk dari Tuan Muda Jung. Sial! Kenapa dia tahu rencanaku? Pasti si kembar rese itu. 

"Aku bosan di rumah. Aku butuh udara segar agar otakku tetap bekerja dengan normal." Tidak tertekan, yang pada akhirnya mengganggu kejiwaan. Apa kalian mau memiliki putri yang depresi? Tentu saja tidak. Bisa dipastikan Irana dilempar keluar dari Istana Jung. Tercampakkan. 

"Udara segar?" Senyum sinis terukir di wajah 45-an tahun itu. Benar-benar tidak ramah. Persis si Tuan Besar Jung. Mereka seperti tercetak sama, hanya berbeda usia. Ya, pepatah buah yang jatuh tidak akan jauh dari pohonnya memang tidak salah. Fakta berdiri di depanku.

"Aku tertekan di sini. Kalian menyuruhku ini dan itu tanpa menanyai lebih dulu apakah aku sanggup atau tidak. Aku punya hak asasi sebagai manusia. Berhak berpendapat, bersuara demi kehidupanku." 

Rasanya, itu kalimat terpanjang sejauh dua puluh tahun hidup dengan Tuan Muda Jung. Selama ini, aku memilih menghindari perselisihan dengan siapa pun yang tidak mendukung keinginan-keinginanku. Namun, siapa yang sanggup menahan semuanya selama 24 jam sehari sepanjang usiaku hingga sekarang?

Oh, ayolah! Aku anak muda. Dua puluh tahun, sudah memiliki KTP meski tidak punya SIM. Aku bukan bayi yang ke mana-mana harus dijaga. Memalukan.

Aku melirik Galaraez yang berdiri tidak jauh dari kami. Ya, tidak ada batas privasi selama itu menyangkut diriku. Seolah siapa pun boleh tahu kebiasaan-kebiasaanku yang suka membangkang. 

Aku tidak peduli.

"Begini saja, Tuan." Galaraez menghampiri posisiku, berdiri tepat di samping, sama-sama menghadap Ayah.

"Saya harap kamu tidak mendukung keinginan Irana." Kata-kata Ayah penuh penekanan. Peringatan untuk Galaraez agar tidak melewati batas yang semestinya.

"Tidak, Tuan. Saya juga tidak setuju jika Nona Muda Irana ke kelab." 

Tidak ada harapan jika Galaraez sudah bicara seperti itu. Ya, biar bagaimanapun kamu akan selalu di pihak Ayah. Aku sendirian di dunia ini. Yang mendukungku hanya udara kosong, tempat di mana oksigen penenang kuhirup. Adanya akan selalu mengikuti ke mana aku pergi.

"Izinkan saya membawa Nona Muda Irana ke suatu tempat. Anggaplah sebagai hadiah karena minggu ini dia tidak membuat onar dan menyelesaikan tugasnya dengan benar." 

Baik aku dan Ayah sama-sama menjatuhkan tatapan pada Galaraez. Suatu tempat? Ke mana?

"Benarkah dia mengerjakan tugasnya dengan baik?" Ayah bertanya. Terdengar meragukan informasi yang Galaraez berikan.

Galaraez mengangguk serius. Bahkan, senakalnya diriku tidak akan berkutik jika pengawalnya macam Galaraez. Aku jadi baik karena ulahmu. Kamu mengancam akan menempatkan banyak anak kucing dalam kamarku jika tidak serius mengikuti pelajaran. 

Bah! Rupanya ini yang kamu maksudkan saat bertanya tentang apa yang tidak aku suka. Kamu menjadikan mereka sebagai senjata. Sialan!

"Baik. Kalian bisa pergi." 

Begitu mudahnya Ayah mengizinkanmu, tapi tidak jika aku yang meminta. Makhluk macam apa kamu sampai-sampai begitu mudah menaklukan perdebatan dengan Ayah? Galaraez Dwipala, kamu satu-satunya orang aneh yang hadir dalam kehidupanku.

"Mau ke mana?" tanyaku begitu kamu mengeluarkan sepeda motor. Istana Jung memang menyediakan trasport untuk setiap pegawai di tempat tersebut. Tentu tidak terkecuali Galaraez. Sudah pasti ini motor yang diberikan Tuan Muda Jung untukmu.

"Jangan banyak bicara!" pungkasmu sembari menyerahkan helm. "Pakai dan naik." 

Ya, baiklah. Akan kuturuti maumu asal bisa segera keluar dari Istana Jung yang membosankan setengah mati, meski cuma sesaat.
~~~~~
~~~~~
Kamu tahu, Gala? Bagian reff dari lagu ini bukan perwujudan perasaanmu untuknya, tapi terjemahan perasaanku untukmu. Mengertikah, kamu? Tidak. Kamu, sampai kapan pun akan tuli untuk pernyataan cinta dari Irana Elyarra Jung.

##
Kuingin engkau menjadi milikku
Aku akan mencintaimu
Menjagamu selama hidupku
Dan aku 'kan berjanji
Hanya kaulah yang kusayangi
Ku akan tetap di sini 
Menemani ....
##

Bolehkah aku jujur, Gala? Demi matahari yang setia pada bumi, aku tidak bahagia atas pernikahanmu. Aku membayangkan sebagian diriku ada padamu, agar aku bisa merasakan yang kamu rasakan. 

Tuhan, bisakah itu terjadi?
.
*tbc
Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.