www.jaringanpenulis.com


Kamis, 06 April 2017

REVIEW FILM - KARTINI, sebuah film “LOVE STORY” yang sesunguhnya



REVIEW KARTINI – Sebuah film “LOVE STORY” yang sesunguhnya

Oleh : Endik Koeswoyo

 
Keluarga R.A. Kartini fersi Film
               Ketertarikan saya dengan film Kartini muncul sudah teramat sangat lama, sejak isu pembuatan film tersebut mulai santer dua tahun yang lalu. Dari sekian banyak film yang disutradari oleh Hanung Bramantyo hanya Kartini yang membuat saya tidak sabar untuk segera menontonnya. Ketertarikan yang luar biasa terhadap film Kartini itulah yang membuat saya memberanikan diri untuk bertanya langsung kepada Mas Hanung melalui pesan singkat “Mas Hanung premiere Kartini kapan?” dalam hitungan menit pesan singkat itu dijawab, “tanggal 12. Tapi besok jam 2 siang aja bisa datangkah?” Dan begitulah, akhirnya saya menjadi orang yang beruntung bisa menyaksikan film ini lebih awal sebelum jadwal resmi penayangannya tanggal 19 April 2017.
               Kartini dari sudut pandang Hanung memang berbeda dari apa yang ada di otak saya sebelum saya menyaksikan film tersebut. Kartini bukan sekedar kisah perjuangan tetapi kisah romantis, kisah cinta penuh air mata yang membuat penonton terdiam sembari sesekali menyeka air matanya (termasuk saya hehehhe). Dan saya berani mengatakan Film kartini adalah sebuah film “LOVE STORY” yang sesungguhnya. Kisah cinta seorang Ibu yang bernama Ngatirah kepada anaknya, rasa cinta dari anak yang bernama Kartini kepada ibunya sudah tergambar jelas dalam adegan awal. Lalu kita disajikan kisah cinta seorang kakak yang bernama Sosrokartono yang diperankan apik oleh Reza Rahardian kepada adik perempuannya Kartini. Kemudian  yang paling menohok adalah kisah cinta seorang Ayah yang bernama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat yang diperankan begitu keren oleh aktor kawakan Deddy Sutomo, kisah cinta kepada keluarga kepada seluruh anggota keluarganya dan kepada seluruh Rakyat yang dipimpinnya. Dan masih ada lagi kisah cinta yang begitu tulus, kisah cinta Kartini kepada adik-adik perempuannya dan kisah cinta adik-adik perempuan kepada Kartini.  Begitu banyak kisah ketulusan cinta yang tersaji dalam film Kartini, bukan kisah cinta Kartini dan Adipati Ario Singgih, tetapi jalinan kisah cinta yang lebih besar dari itu semua, kisah cinta seorang perempuan untuk kaum perempuan lainnya.
               Film Kartini menyajikan sebuah alur cerita dari sudut pandang yang berbeda. Kartini adalah film yang bisa dinikmati bukan oleh kaum hawa saja, tetapi siapapun anda bisa menikmati film ini. Bahkan saya pribadi merasa kalau film Kartini bukan untuk kaum perempuan, tetapi untuk kaum laki-laki. Saran saya sebelum masuk ke bioskop siapkan sekotak tisue karena saya yakin adegan-adegan yang yang tergarap dengan detail akan memporak porandakan perasaan dan air mata tak akan terbendung, apalagi jika anda adalah tipe yang sensitif dan memilik rasa empati yang cukup tinggi, air mata pasti tidak akan terkendali. Kartini berjuang tidak sendiri, ada ibunya, ada kakaknya, ada kedua adiknya, dan tentu saja ada ayahnya dan orang-orang disekitarnya yang mendukung perjuangannya.
               Banyak pengalaman dan informasi baru yang saya dapatkan setelah menonton film Kartini, dan saya semakin yakin kalau Raden Ajeng Kartini bukan hanya pejuang kaum perempuan, Kartini bukan hanya tokoh pendidikan, Kartini bukan saja contoh dan tauladan dalam perjuanagn perempuan, tetapi Kartini juga seorang perempuan yang memahami politik dan bisnis. Oh ya, satu lagi yang membuat saya menyukai film Kartini, dalam film ini juga digambarkan betapa pentingnya membaca buku. Jika ingin sukses dan berhasil, jika ingin pandai jangan lupakan buku. Kartini saja membawa buku, masak kamu enggak? Hehehe… selamat menonton film keren ini mulai 19 April 2017 di Bioskop seluruh Indonesia. 



 Official Teaser Film Kartini




              Oh ya satu lagi yang lupa. Setelah menyaksikan Film Kartini, saya jadi teringat kembali kata-kata Hanung Bramantyo 3 tahun lalu saat menghadiri Festival Film Bandung, tepatnya tahun 2014 saat Film Soekarno menyabet banyak penghargaan di FFB 2014. Saat itu saya sempat menyalami Mas Hanung dan memberikan ucapan selamat atas prestasinya dengan film Soekarno. Satu kata yang saya ingat kala itu, “Kalau bikin film itu jangan cinta-cintaan terus,” dan kata-kata itu terbukti kisah cinta bukan hanya soal pacaran, jadian, putus kemudian galau. Kisah cinta itu seluas mata memandang. Karena saya penulis dan penikmat film dan bukan kritikus film maka tidak ada kritik dalam tulisan saya.







---------------


TENTANG PENULIS

Endik Koeswoyo, adalah penulis skenario atau scriptwriter. Freelance Writer. Sudah menulis 24 judul novel dan buku. Endik Koeswoyo saat ini tinggal di Jakarta dan aktif menulis skenario film, ftv dan sinetron. Penggagas berdirinya Jaringan Penulis Indonesia dan pemerhati sosmed ini juga merupakan vlogger, youtuber, dan tentu saja blogger. Beberapa karya skenario film layar lebar yang pernah ditulis antara lain; Me And You Vs The World, Kesurupan Setan, Cerita Cinta, Erau Kota Raja, Gelas Gelas Kaca The Movie. Selain menulis, Endik Koeswoyo juga sedang menyelasaikan pendidikan S1 Ilmu Politik di Universitas Bung Karno. 



Yang ingin kenal lebih dekat dengan menghubungi:

Twitter: @endikkoeswoyo 

Instagram: @endikkoeswoyo  


Facebook: @endikkoeswoyo 


              




Reaksi:

0 komentar:

PALING BARU DARI JPI

TERBITKAN KARYAMU BERSAMA KAMI

POPULAR POSTS

POPULAR POSTS