Review Film Moana - Oleh : Alvi Fadhollah

Review Film Moana - Oleh  :  Alvi Fadhollah

Adegan dalam Film Moana



Plot

Moana (Auli'i Cravalho), seorang gadis dari pulau Motunui, memiliki keinginan suatu hari nanti ia akan menjelajahi laut yang luas. Keinginan yang sedari kecil ia pendam harus ia kubur dalam-dalam karena sang ayah yang juga kepala desa di pulau tersebut, Chief Tui (Temuera Morrison), melarang keras akan keinginan Moana. Namun, kondisi pulau Motunui memburuk dari hari ke hari, seperti buah kelapa yang menghitam dan ikan yang menolak untuk mendekati pulau. Gramma Tala (Rachel House) menyadari bila hal itu terjadi karena kutukan dari Mother Island, Te Fiti, yang diambil jantungnya oleh Maui (Dwayne Johnson). Gramma Tala pun meminta Moana untuk segera mencari Maui dan bersama-sama mengembalikan jantung Te Fiti ke tempat semula. Gramma Tala yakin bila Moana telah dipilih oleh sang laut sendiri karena suatu kesempatan sang laut memberikan jantung Te Fiti kepada Moana sebagai bentuk kepercayaan. 

Moana adalah sebuah film petualangan fantasi musikal animasi komputer 3D Amerika 2016 yang diproduksi oleh Walt Disney Animation Studios dan film ke-56 dalam kanon fitur animasi Disney. Film tersebut disutradarai oleh Ron Clements dan John Musker.


Poster Film Moana


Review

Rasa penasaran merupakan salah satu dari sekian banyak sikap natural yang menjadi kekuatan bagi manusia. Karena rasa penasaran, manusia memiliki kekuatan untuk mencoba mencari tahu sesuatu yang baginya asing namun memberikan segudang pertanyaan yang menggelitik untuk dieksplorasi. Apakah rasa penasaran itu sepadan untuk dicari jawabannya, bagaimana cara untuk mendapatkan jawabannya, dan masih banyak lagi. Rasa penasaran atau keingintahuan kita berada di puncaknya saat kita belum lah beranjak dewasa. Makanya, ketika kita belum mengetahui kejamnya kehidupan, kita bermimpi setinggi langit. Namun, berdasarkan alasan dimana begitu banyaknya lika-liku untuk mewujudkan mimpi itu, manusia menjadi realistis dan menurunkan standart mimpinya. Menjadikan jalan terjal menuju mimpi sebagai suatu alasan untuk pembenaran diri bahwa melangkah mundur adalah langkah yang tepat demi melanjutkan hidup. Moana, yang merupakan sajian kedua dari rumah studio animasi Walt Disney, mengingatkan kembali kepada penonton yang telah beranjak dewasa betapa indahnya hidup kala rasa penasaran atau mimpi masih begitu tingginya. Dan bagi penonton cilik, ini adalah sebuah film motivasi untuk mereka supaya tetap menjaga mimpi mereka walau nantinya akan begitu banyaknya halangan yang menghadang.

Sebelum mengulas lebih lanjut, i just wanna to put in here that I don’t really like a story about a “Chosen One” or something like that.  Bagi saya, cerita semacam itu telah usang dan begitu membosankan kala melihat karakter utama yang tidak ada angin tidak ada hujan dipilih oleh “takdir” untuk menjadi pahlawan bagi tanah airnya. Tidak sampai disitu saja karena saya juga bisa menebak akan ada beberapa momen Deus Ex Machinanya pula yang akan banyak dijumpai kala narasinya berjalan seolah ada plot armor tersendiri yang tersedia khusus untuk karakter utamanya yang merupakan “The Chosen One” itu sendiri. Moana sendiri bukanlah pengecualian karena Moana sendiri memang menceritakan seorang gadis belia yang harus menyelamatkan pulau nya dari ancaman binasa dengan melakukan perjalanan yang dirasa mustahil. Kenapa gadis tersebut rela mengarungi semua bahaya tersebut? Because she’s the Chosen One, Goddamnit!!
Namun, walau memang tema dasarnya sangatlah mainstream, John Musker dan Ron Clements tak membiarkan karakter heroine mereka menjadi karakter yang menyebalkan dengan segala plot armoryang ada. Dengan screenplay yang ditulis oleh Jared Bush, mereka membuat karakter Moana begitulikeable. Pendekatan akan karakter Moana memang tidak lah spesial, namun Musker dan Clements mengajak penonton untuk menjadi saksi perjalanan Moana yang dari awal tanpa pengalaman atau juga skill dalam menjelajahi lautan yang ganas, menjadikan petualangannya sebagai ruang untuk belajar hingga menjadi gadis yang dewasa dalam perjalanannya, sehingga ia pun menjadi gadis yang siap untuk menjadi penjelajah lautan sesuai dengan impiannya. Memang, durasi untuk memperlihatkan perjuangan solo Moana dalam menghadapi ganasnya laut kurang mendominasi, apalagi dengan segala tetek bengek akan bantuan air laut yang mungkin bagi sebagian besar penonton kurang relate dengan perjuangan Moana. Disitulah fungsi utama akan karakter side kick, sang demi-God yang turut pula menjadi guru bagi Moana, yaitu Maui. Maui sendiri memang diceritakan telah banyak menempuh perjalanan yang menjadikannya begitu berpengalaman dalam menghadapi kerasnya berlayar di atas laut. Sehingga dengan adanya Maui, fokus penceritaan tidak hanya berpusat pada usaha Moana untuk menyelamatkan pulau nya, namun juga menciptakan sub plot akan proses Moana dalam meyakinkan sang ayah yang kerap melarangnya pergi ke lautan dengan mendalami ilmu pelayaran dari Maui.

Keputusan ini sangatlah tepat, karena dengan demikian penonton pun akan dengan mudah menerima dengan segala kemampuan Moana dalam mengendalikan kapalnya di saat Moana harus tampil solo di layar. Tidak hanya itu, kala perkenalan pun kita telah menyaksikan bagaimana Moana begitu terampil dalam melakukan berbagai hal yang berhubungan dengan bertahan hidup. Karakter Moana sendiri memang mengingatkan kita kembali akan karakter Judy Hopps di Zootopia yang diproduksi pula oleh Walt Disney, dan walau bagi saya karakter Judy jauh lebih likeable, tidak membuat Moana ini menjadi karakter yang datar dan tidak menciptakan sebuah ikatan kepada penonton, karena memang tidak ada alasan bagi penonton untuk tidak menyukai Moana dengan segala keingin tahuannya dalam mendapatkan pengetahuan dalam berlayar serta Moana bukanlah whinny bitch yang tentu saja akan menjadikannya karakter yang annoying. Tapi, walau memang Moana begitu mendominasi di layar, bagi saya sangatlah susah untuk Moana menyaingi pesona Maui yang di dubbing sangat baik oleh Dwayne “The Rock” Johnson. Awalnya, Maui adalah karakter anti-hero yang tidak memikirkan hal lain kecuali keselamatan dirinya sendiri. Namun susah untuk membenci Maui dengan segala kesombongannya dan juga interaksi kocaknya bersama gambar tato yang ada di dadanya. Keputusan tepat pula dengan memvisualisasikan karakter Maui ini begitu mirip dengan Johnson, seperti kebiasaan mengangkat alis sebelah mata, dan badan nya yang dipenuhi dengan tato. Auli’i Cravalho pun turut andil dalam menjadikan karakter Moana itu begitu loveable dan jangan lupa juga Auli’i Cravalho sangat piawai dalam bernyanyi.

Yang membuat Moana sedikit spesial dibandingkan film-film animasi Hollywood tahun 2016 adalah tentu saja sajian visualnya yang mengagumkan. Semenjak memasuki menit pertama saja, penonton telah disajikan bentangan laut biru yang indah, dilengkapi juga dengan hijaunya pulau Muntiti. Pameran visualnya semakin “kurang ajar” kala Moana melakukan perjalanan, seperti malam yang dipenuhi bintang dan juga tentu saat Moana bertemu dengan Te Ka di akhir film. Kudos untuk para staf animasi nya yang telah memanfaatkan budget $150 Million nya dengan sangat baik. Beruntunglah bagi mereka yang menyaksikan Moana di layar raksasa bioskop. Tidak ketinggalan juga track-track yang begitucatchy, melengkapi parade sajian visual dari Moana hingga lebih berkesan.

Sajian visualnya yang begitu luar biasa memang bisa saja membuat penonton menjadi bias dalam menilai Moana, karena seperti yang saya bilang di awal-awal, Moana hanya lah menceritakan perjuangan karakter chosen one yang telah ditakdirkan menjadi penyelamat tanah airnya. Maka bukan lagi mengejutkan bila banyak plot armor tersedia kala cerita berjalan. Tetapi berkat penggambaran karakter Moana yang menyenangkan, jadinya sedikit mudah memaafkan segala hal “kehebatan tak terduga” Moana dalam perjalanannya. Tidak spesial, namun tidak terpungkiri bila Moana merupakan sajian yang menyenangkan dengan visualnya yang indah dalam menemani pertualangan Moana.

7,75/10

Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.