KE KOTA ITU AKU KEMBALI - Sebuah Cerpen Endah Primasari



KE KOTA  ITU AKU KEMBALI
Oleh : Endah Primasari


Orang lain selalu berpikir negatif tentang kota ini. Kota dengan tingkat kriminal, kepadatan penduduk, pencemaran, polusi, kemacetan, sampai taraf hidup yang tinggi. Sampai – sampai berita di media cetak maupun elektronik mayoritas berisi hal – hal  negatif tentang kota itu, hampir tidak ada yang bisa dipandang positif. Tidak hanya berita yang di media tersebut yang negatif, opini orang lain yang bertempat tinggal diluar kota tersebut tidak kalah banyaknya opini yang negatif. Opini negatif tersebut tidak hanya untuk kotanya saja, namun penduduk yang berasal dari kota itu pun terkena dampak opini negatif tersebut. Cukup membuat telinga panas mendengarnya.
Ya, kota itu Kota Jakarta namanya, dan aku terlahir di kota dengan sejuta opini negatif tersebut. Sekarang aku merantau, keluar kota. Dan ketika ku kembali, benar saja, telah terjadi pembangunan shelter busway yang besarnya cukup menghabiskan badan jalan. Membuat jalan itu menjadi dua kali lebih macet dari biasanya. Ketika aku pulang sekolah dulu dengan angkot dan melewati jalan itu,  pasti sampai tertidur dalam angkot, saking lamanya berhenti karena macet. Mungkin untuk sekarang ini tidurku bisa dua kali lebih nyenyak.Sungguh pemandangan yang sangat berbeda ketika aku berangkat ke kota rantauan. Dan berita yang disiarkan pun sedang marak kasus pelecehan terhadap kaum perempuan di angkot, bajaj, bahkan taksi sekalipun, serta tindakan kriminal lainnya yang semakin nekat. Aku tahu, berita tersebut berniat baik, agar kita meningkatkan kewaspadaan. Namun menurutku, hal itu sungguh mengerikan. Ungkapan yang bilang,”Lebih baik tidak tahu, dibandingkan tahu  namun menyakitkan.”, mungkin itulah ungkapan yang tepat untuk situasi ini.
Hal tersebut membuat Aku takut untuk melangkah keluar, untuk ngebolang istilahnya, dan Ibuku semakin panjang untuk memberikan wejangan sebelum kakiku melangkah keluar. Kalimat yang keluar dari mulutku hanya “Ya Bu”, yang diulang berkali – kali. :D
“Pantas saja”, gumamku dalam hati. Tidak heran kalau orang – orang diluar sana banyak yang berpikir negatif tentang kota ini. Aku pun tidak meyangkalnya, dan pada kenyataannya seperti itu. Hal yang tidak bisa aku terima, yaitu opini mereka tentang penduduk Jakarta yang terbiasa hidup mewah, manja, dan sebagainya. Aku tidak terima itu, karena aku tidak seperti itu. Dan aku yakin tidak semuanya seperti itu. Aku terlahir dikeluarga sederhana, dan terbiasa melakukan pekerjaan rumah, serta terbiasa untuk berusaha terlebih dahulu untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Aku juga tidak tinggal di kompleks perumahan mewah. Rumahku hanyalah dalam sebuah komplek, masuk dalam sebuah gang tertutup yang gelap, terletak dua rumah dari pojok gang, dan belakang rumah sudah mengalir kali berwarna hitam legam.
Memang tidak ada habisnya untuk menceritakan betapa buruknya kota ini. Herannya, setiap tahun tetap ada pendatang baru. Seperti itulah kotaku, kota dimana aku dilahirkan, dan menjadi penduduk kota tersebut sejak aku lahir. Sempat Aku menyesalkan menjadi penduduk kota itu. Namun, setelah ku merantau ke kota lain, dan ketika ku kembali, aku merasakan rindu yang sangat luar biasa. Aku rindu kota ini. Rindu dengan segala keadaannya. Rindu dimana aku masih menghabiskan masa – masa kecilku.
Langkah pertama setelah sekian lama aku merantau, Aku kembali menjejakkan di kota kelahiranku ini. Aku menghabiskan liburan  di kota kelahiranku. Sekejap aku merasakan kalau aku tak peduli lagi dengan pandangan orang terhadap kota ini, terhadap orang – orang di dalamnya. Aku tidak peduli. Benar – benar tidak peduli. Sekali lagi, Aku rindu.
Mungkin ini yang akan dirasakan oleh para perantau ke negeri orang, yang tanpa sadar akan timbul rasa “Cinta Tanah Airnya”. Ya, Aku yakin itu. Bagaimana pun keadaannya, setiap orang akan merindukan tempat dimana dia berasal. Kepangkuan – Nya mungkin untuk rasa rindu selanjutnya, ke taraf berikutnya, yang lebih tinggi lagi derajatnya.
Di liburanku, aku lalui terutama dengan kedua orangrtua, teman – teman, sahabat, tetangga kiri – kanan pun turut mengisi liburan ku. Dengan jumlah penduduk yang tinggi, membuat kota ini padat, tidak pernah kulihat kota lain sepadat kota kelahiran ku ini. Membuat rumah – rumah penduduknya tidak ada lagi lahan untuk halaman. Depan, belakang, kiri, dan kanan nya sudah berjumpa dengan tembok dari rumah tetangga, atau pun kalau tidak, langsung berjumpa dengan aspal hitam. Tidak kutemukan hal tersebut di kota lain.
Keadaan tersebut membuat kita terus berinteraksi dengan yang lain, dengan tetangga, itu yang kumaksud. Ketika keluar rumah, disapa, bahakan ditanya hendak kemana. Ya walaupun dengan gaya santai, cuek, dan tidak se-sopan dimana kota tujuan rantauan ku ini. Itulah seninya..tidak teralu banyak basa basi. Mayoritas ketika penduduk kota kelahiranku merantau ke luar kota, pasti bingung bagaimana caranya bersikap sopan, perhatian, dan basa – basi.
Kota ini mempunyai dua sisi, itu baru satu sisi yang aku ceritakan. Sungguh berbeda dengan sisi lainnya, terutama di lingkungan perumahan mewah. Di sisi itu jarang sekali terjadi tegur sapa, bahkan saling mengenal antar tetangga kiri – kanan nya pun tidak. Ya..begitulah kota kelahiranku. Memiliki dua sisi yang kontras berbeda. Beruntungnya Aku dilahirkan di lingkungan yang masih menawarkan kehangatan, walaupun di rumah yang tergolong terpencil dan nyelip itu.
Ketika ku kembali ke kota kelahiranku ini. Aku selalu ingat akan masa – masa kecil ku dulu. Apalagi ketika Aku duduk dibangku Sekolah Dasar. Setiap liburan datang, aku selalu berkunjung, atau bertemu dengan kawan – kawan ku, sahabat – sahabat ku sejak Sekolah Dasar. Rasa persaudaraan begitu kental ketika kita bertemu. Namun sayang, kita hanya bertemu, dan dipersatukan oleh masa – masa liburan seperti kemarin. Kita selalu berkumpul di kota ini, Kota Jakarta. Menghabiskan waktu bersama di Kota Jakarta ini.
Lalu, Aku bertemu dengan sahabat SMA ku. Dan bertemu dengan orangtuanya yang membuka warung di terminal dekat SMA ku. Beliau menasihatiku, dan nasihat beliau yang ku ingat,”Belajar yang bener, orangtua udah capek – capek nyari duit. Orangtua yang namanya nyari duit itu udah nggak mikir lagi, istilahnya, kaki jadi kepala, kepala jadi kaki,” seperti itu beliau menaasihati ku.
Liburan singkat telah berlalu, dan diatas sebagian dari cerita liburanku. Sekarang Aku telah kembali ke kota rantauan ku. Selama perjalanan, Aku sadar, Aku mencintai kota kelahiranku itu. Bagaimana pun keadaan kota kelahiran ku itu.  Di kota itu Aku mendapatkan kehangatan yang tak pernah kurasakan di kota rantauan. Teman – teman, dan sahabat – sahabat ku berada disana. Kedua orangtua pun mencari nafkah dan mendoakan ku dari kota itu. Dan di kota itu Aku mendapat begitu banyak pelajaran hidup. Kota dengan segala hiruk pikuknya, kota yang tak pernah mati, Kota Jakarta, ke Kota itu Aku selalu ingin kembali. :D

 


***
Setiap karya yang kami publikasikan hak cipta dan isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis Untuk Anggota Jaringan Penulis Indonesia yang mau mengirimkan karya harap mencatumkan subyek KARYA ANGGOTA + Tema Tulisan + Judul Tulisan pada email yang di kirim ke jaringanpenulis@gmail.com Bagi yang ingin bergabung menjadi Anggota Jaringan Penulis Indonesia silahkan ISI FORMULIRNYA DISINI 
Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.