CERPEN : "HILANG... " Oleh: Einca Ratna Sari



HILANG...

 

Oleh:  Einca Ratna Sari




Takdir Tuhan memang tak selalu berjalan seperti apa yang kita rencanakan. Terkadang, untuk mendapatkan sesuatu kita harus kehilangan sesuatu juga. Kadang apa yang hilang itu adalah yang paling berharga dari apa yang kita miliki.
***
Dinda menatap wanita muda berambut pendek itu dengan nelangsa. Wanita muda itu duduk di pojokan kamarnya yang bercat biru langit, sambil memeluk erat tubuhnya sendiri. Dinda masih ingat saat dulu wanita itu memiliki rambut panjang yang indah. Dulu, wanita itu memiliki senyum manis dengan lesung pipi yang menghiasi wajah lembutnya. Dulu, wanita itu memiliki mata yang selalu bersinar ceria. Ya, dulu Kakaknya itu selalu membuat rumah mungil yang mereka tinggali sejak kecil, hangat dan penuh tawa. Tak dingin seperti sekarang. Sekarang yang Dinda rasakan hanyalah kesunyian, sepi, sendirian.
Dulu, teman-teman Dinda selalu berdecak iri setiap kali mereka bertandang ke rumah gadis remaja itu. Namun kini, Dinda harus menahan hati ketika semua orang menggunjing tentang keluarganya.
“Cepet sembuh, Kak,” ujar Dinda lirih sambil menghela napas panjang. Tangan kanannya terulur untuk meraih ganggang pintu kamar Kakaknya. Pelan, Dinda menutup pintu kayu berwarna cokelat itu, dan kemudian ia berbalik hendak menuju kamarnya sendiri.
“TIDAAAAAKKKKK!!!!!!! RANUUUU!!!! MAMAAA!!!! PAPAAA!!!!”
Teriakan itu membuat langkah Dinda sontak terhenti. Cepat ia berbalik dan membuka pintu kamar Kakaknya. Dan matanya langsung disambut pemandangan yang membuat Dinda cepat berlari lalu memeluk Kakak semata wayangnya itu.
“Kak Dini, udah Kak. Jangan teriak-teriak lagi,” pinta Dinda sambil berusaha keras menahan air matanya yang sebenarnya sudah siap tumpah. Dipeluknya erat Kakak semata wayangnya yang masih menggigil ketakutan.
“Ranu, Ma, Pa, kalian mau ke mana?” Dini bertanya di sela isaknya. Bola matanya yang berwarna coklat menatap kosong ke arah jendela kamar yang tertutup rapat. Tangan kanannya, terulur seolah ingin menggapai seseorang. 
“Mereka nggak kemana-mana, Kak. Kakak tenang ya,” bujuk Dinda lembut sambil mengusap-usap punggu Kakaknya hingga tangis Dini perlahan mereda.
Pelan, Dinda melepas pelukannya. Ditatapnya Dini yang masih menatap ke arah jendela kamar, dengan penuh kasih. Dini adalah satu-satunya saudara yang Dinda punya. Sejak kecil, kepada Dini lah Dinda selalu mengadu. Kepada Dini lah Dinda selalu meminta perlindungan. Hati-hati Dinda membenarkan rambut Dini menutupi sebagian wajahnya yang kini mulai tirus. Ujung jemarinya menghapus jejak tangis yang masih tersisa di wajah Kakaknya itu.
“Kak, cepet sembuh. Dinda sekarang cuma punya Kakak. Cepet sembuh, Kak...” dan bendungan yang coba ditahannya sejak tadi, akhirnya tumpah. Dinda terisak sambil memeluk Kakaknya erat.
***
Malam itu, cuaca sedang tidak bersahabat. Sejak sore hujan deras disertai petir. Namun bukan itu yang membuat Dinda mondar mandir gelisah di depan pintu ruang tamu rumahnya. Waktu sudah menunjukan pukul 22.00 WIB dan kedua orang tua serta Kakaknya belum juga sampai di rumah.
Berkali-kali Dinda mencoba menghubungi dan tak satu pun dari ketiga nomor ponsel yang ia hubungi, menjawab panggilannya. Cemas mulai menguasai hatinya. Sore tadi, saat Mama, Papa dan Kakaknya berpamitan untuk mengecek gaun pengantin yang telah dipersiapkan untuk acara pernikahan Kakaknya yang sudah di depan mata, Dinda sudah merasa cemas. Selain karena cuaca yang buruk, Dinda juga mendapat firasat yang entah kenapa tak begitu bagus. Namun bukan karena itu Dinda tak ikut serta, banyak tugas kuliah yang menanti untuk segera diselesaikan. Dan kini ia menyesal, kenapa tidak memaksa untuk ikut.
Tok, tok, tok....
Dinda nyaris melompat saat mendengar bunyi ketukan pintu. Cepat gadis itu berlari menuju pintu dan segera membukanya. Namun yang muncul di depan pintu bukanlah tiga orang yang tengah ia tunggu. Rasa cemas Dinda, kini mulai berganti menjadi ketakutan.
 “Benar ini rumah Bapak dan Ibu Donny? Juga, saudari Dini Andari? Kami petugas kepolisian,” kata salah satu petugas sambil memperlihatkan tanda pengenalnya.
Dinda mengangguk sambil menelan ludah. Hatinya dipenuhi berbagai pertanyaan dan tak ada satupun pikiran baik yang melintas di otak dan hatinya.
“Maaf, Dik, bisa Adik ikut dengan kami sebentar?” Tanya petugas itu lagi.
Dinda terdiam sejenak. Gadis itu semakin bertambah bingung. “Ada apa ya, Pak?”
“Nanti kami jelaskan di perjalanan. Sekarang, mari ikut kami ke Rumah Sakit terlebih dahulu.”
Dinda terbelalak kaget. “Rumah Sakit?”
Petugas itu mengangguk dan mengucapkan beberapa kata. Cepat Dinda masuk ke dalam rumah, mengambil tas dan segera mengunci pintu rumahnya. Tak ada lagi yang ia pikirkan selain berdoa. Berharap kalau yang ia pikirkan saat ini, salah. Berharap Tuhan berkenan mendengar doa-doanya. Dan berharap semuanya baik-baik saja.
***
“Kecelakaan itu terjadi tepat di depan Butik Venisa. Tiga korban tak dapat diselamatkan, sementara yang satu lagi mengalami kerusakan parah pada otak. Menurut saksi mata yang melihat, korban laki-laki bernama Ranu itu, sempat mendorong keluar gadis yang kami ketahui bernama Dini. Namun, ia sendiri, juga Bapak dan Ibu Donny, tak sempat menyelamatkan diri mereka. Mobil yang mereka tumpangi, meledak. “
Dinda terpaku menatap tiga jasad bertutupkan kain putih yang sekarang ada di hadapannya. Otaknya yang biasanya cerdas, mendadak lumpuh dan kesulitan mencerna penjelasan dari petugas kepolisian.
Perlahan, Dinda melangkah mendekati jasad yang berada persis di tengah. Dengan tangan gemetar, Dinda memberanikan diri untuk membuka kain putih yang menutupi jasad itu. Seiring dengan terbukanya kain putih itu, saat itu juga Dinda merasa dunianya runtuh.
“Mama...” isak Dinda tertahan. Dinda tahu yang di hadapannya itu, pasti Mamanya. Walaupun jasad itu nyaris tak bisa dikenali lagi. Kedua lututnya terasa lemas. Dan, Dinda tak lagi mengingat apa-apa selain gelap.
***
Hilang....
Dinda bersimpuh di antara pusara Papa dan Mamanya. Kedua tangannya masing-masing berada di atas pusara dan memainkan taburan bunga yang masih segar.
Hilang....
Dinda ingat saat Mama dan Papa memeluknya erat sebelum mereka pergi sore itu. Dinda ingat pesan terakhir dan kecupan penuh kasih dari Papanya sore itu. Dinda ingat bagaimana raut wajah Mama saat berkata “selamat tinggal”sore itu. Dan Dinda ingat senyum manis Kak Ranu yang sempat menghadiahinya sepaket Teddy  Bear mungil yang lucu. Dinda juga ingat saat Kak Dini memeluknya dan mencubit hidungnya pelan. Namun sekarang, Dinda benar-benar sendirian. Dinda tak pernah menyangka kalau kata “selamat tinggal” dari Mama dan Papanya adalah kata terakhir yang ia dengar. Dinda tak pernah tahu kalau hadiah boneka dari Ranu, adalah hadiah terkahir yang diterimanya.
Hilang....
Tuhan mengambil orang-orang yang disayanginya. Walaupun Tuhan masih menyisakan Kakaknya, namun Tuhan mengambil jiwanya. Dini sama sekali tak mengingat apapun selain Mama, Papa dan Ranu. Dini tak bisa merespon apapun, selain diam dan terkadang berteriak histeris sendiri. Dini bahkan tak lagi mengenali Dinda.
***
Dinda tersentak dari tidurnya. Tidurnya kembali dihantui mimpi. Sejak kedua orang tuanya tiada, sejak Dini tak mampu lagi merespon apapun, sejak itu juga, Dinda selalu dihantui mimpi buruk. Namun kali ini, mimpi itu sedikit berbeda. Ada wajah Dini di dalam mimpinya. Bukan wajah tirus dan sayu seperti satu tahun terakhir ini. Namun wajah manis, seperti yang terakhir kali Dinda ingat.
Cepat Dinda bangkit dari tidurnya, dan bergegas berlari menuju kamar Dini. Hatinya kembali dipenuhi rasa yang sama seperti satu tahun yang lalu. Dan kembali, Dinda melantunkan doa-doa yang sama seperti saat dulu ia berdoa dan berharap agar apa yang ia pikirkan, salah.
Klik. Dinda menghidupkan lampu kamar Dini saat ia sudah berada di dalam kamar. Dinda langsung menghela nafas lega saat dilihatnya Dini yang tengah tertidur tenang di atas ranjang. Namun sesaat kemudian kelegaan Dinda berubah menjadi kekhawatiran. Tak biasanya Dini tidur tenang dan di atas Ranjang. Dinda selalu mendapati Kakaknya ini tidur dengan posisi duduk sambil memeluk kedua kakinya, di sudut ranjang.
Segera Dinda menghampiri Dini. Pelan, Dinda menggoncang-goncang bahu Dini. Berharap Kakaknya itu segera terbangun. Namun Dini tetap bergeming. Tubuh Kakaknya itu tak merespon apapun. Cemas, Dini segera berlari ke kamarnya dan mencari ponselnya. Lalu, sambil berlari kembali menuju kamar Dini, Dinda menekan-nekan tombol ponselnya. Sesaat kemudian, ponsel itu sudah tertempel di telinga dan Dinda langsung berkata dengan suara terbata dan ketakutan.
***
Hilang....
Seakan de javu. Dinda kembali berada di tempat yang sama seperti setahun yang lalu. Tempat dimana ia harus menaburkan banyak bunga. Tempat dimana, satu tahun belakangan ini, ia habiskan jika ia merindukan kedua orang tuanya, juga Ranu. Kini, tempat itu manjadi tempat yang sama jika ia merindukan Kakaknya nanti.
Hilang....
“Kakak bahagia? Ketemu Mama sama Papa, belum? Ketemu kak Ranu, belum? Sampaikan salam Dinda untuk mereka semua ya. Dinda sayang kalian semua....”
***
Hilang...
Saat Tuhan mengambil seluruh bahagiamu...
Saat
Bersabar dan percayalah, suatu saat nanti Tuhan akan mengganti bahagiamu dan menghadirkan kembali apa yang telah hilang dari hidupmu....
Jika bahagia untukmu tak juga datang, mungkin saat ini Tuhan tengah memberi bahagia untuk yang hilang dari hidupmu...




TENTANG PENULIS


Einca Ratna Sari -biasa di sapa Eca- lahir di Bengkulu tanggal 29 April 1992, nyaris separuh hidupnya dia habiskan dengan mengelilingi beberapa tempat yang ada di pulau Jawa. Menggeluti dunia tulis menulis sejak kecil, namun hanya berani dipublikasikan kepada teman-teman dekatnya saja. Hingga akhirnya memutuskan membuat sebuah blog karena usulan beberapa teman, dan sejak itu mulai aktif lagi di dunia tulis menulis. 
Saat ini penulis tengah disibukkan sebagai mahasiswa semester akhir dan juga bekerja di sebuah Bank Daerah di tempatnya berasal. Selalu berharap dan mengkhayal bisa menerbitkan karya indah sepanjang masa. Untuk lebih kenal lagi dengan gadis mungil ini, bisa ditemukan di @eincasarii dan bisa melihat beberapa tulisannya di eincasarii.blogspot.com




***    ***   ***
Setiap karya yang kami publikasikan hak cipta dan isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis

Untuk Anggota Jaringan Penulis Indonesia yang mau mengirimkan karya harap mencatumkan subyek KARYA ANGGOTA + Tema Tulisan + Judul Tulisan pada email yang di kirim ke jaringanpenulis@gmail.com

Bagi yang ingin bergabung menjadi Anggota Jaringan Penulis Indonesia silahkan KLIK DISINI GRATIS
Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.