Servita Ramadhianti, Gadis Multitalenta yang Mengisi Penat Lewat Menulis

Oleh: Titis Ayu Winarni


Desember 2013, Menulis Pun Dimulai!
“Masa muda adalah masa untuk berkarya sebanyak-banyaknya, gali potensi dalam diri dan jangan pernah takut mencoba selagi hal positif demi ciptakan prestasi,” Itulah perkataan dalam diri Servita Ramadhianti. Gadis kelahiran Balikpapan, 7 Februari 1998, yang memiliki segudang prestasi.

Prestasinya dimulai dari hobi menulis pada Desember 2013. Berawal memposting quotes di akun twitter, dan berlabuh pada Penerbit Diva Press yang sedang mengadakan sayembara cerpen. Ia spontan mengikuti adu tanding cerpen itu berlatar belakang dirinya saat bergabung di komunitas dance. Menurutnya, suasana hati akan berpengaruh dalam sebuah tulisan, “Ketika hati sedang bahagia, alur yang ditulis justru lebih tajam,” ungkapnya.

Dengan rasa percaya diri, Servita yang juga akrab disapa ”Inyong” ini mengirim naskah untuk lomba yang diadakan Penerbit Diva Press. Sembari menunggu pengumuman dua bulan lamanya, ia mencari info lomba menulis sebanyak-banyaknya. Lomba cerita bersambung, puisi, esai, dan cerpen ia taklukan. Namun, Servita lebih tertarik membuat cerpen. ”Sayangnya naskah ke dua hingga ke enam tidak ada yang tembus,” katanya terkekeh.

Namun kegagalan tersebut tak membuatnya patah arang, bahkan mampu memantik semangatnya untuk semakin gencar menulis. Servita tetap mencari info ajang perlombaan menulis, berusaha membagi waktu antara menulis dan kegiatannya sebagai pelajar SMA. Sebelum tidur, Servita menyempatkan menulis mulai pukul 9 hingga 11 malam. ”Kadang-kadang kalau sudah ngejar deadline, aku rela-relain bergadang sampai jam 00.00. Walaupun mata terkantuk-kantuk, jari masih saja gatal pengen nulis terus, hehehe,” ujarnya antusias.

Meski kegiatan menulisnya didukung penuh oleh kedua orang tuanya, putri pertama dari 3 bersaudara ini merasa malu ketika karyanya dibaca kedua orangtuangnya. Bahkan sampai sekarang pun orangtuanya tidak pernah membaca tulisannya meski sudah terbit. Juni 2014, Servita menerima paket dari kantor pos berisikan buku dengan label penerbit Diva Press. Terlebih yang membuatnya bahagia adalah didaftar isi tertulis namanya dan judul naskah yang ia kirim 6 bulan lalu. ”Senengnya minta ampun pokoknya, aku sampai teriak-teriak sama mama. Maklum lah, kan buku pertama,” ungkapnya.

Sepekan kemudian, Servita mendapat telepon dari sahabat SMP nya. Sahabatnya, memberi kabar kalau melihat nama Servita di salah satu buku yang terpampang di Gramedia. Perasaan senang, bahagia, dan bangga menghinggapi hati gadis yang juga memiliki hobi bernyanyi ini. ”Semakin senanglah aku. Walaupun hanya satu cerpen yang nongol, aku tetap bahagia namaku masuk di buku yang tersebar di seluruh Gramedia Indonesia,” katanya.

Beberapa bulan berlalu, setiap malam Servita masih saja disibukkan dengan naskah-naskah yang ia buat. Satu persatu naskah cerpennya pun mulai diterima penerbit dan dibukukan. Hal itu tak lantas membuatnya tinggi hati, tapi ia menganggap kesempatan itu sebagai pengasah keterampilan menulisnya. Tak lama, kecintaannya dalam dunia menulis diketahui guru-guru di SMA nya. Sehingga Servita dinobatkan sebagai jurnalis sekolah dan diikutkan lomba esai. Tak hanya itu, penghobi menari ini juga dipilih sebagai Duta Baca tingkat kota Bontang 2015.

Ragam apresiasi mulai menghampiri Servita yang pantang menyerah untuk mewujudkan keberhasilannya di dunia menulis. Hal itu tak lantas membuatnya puas. Ia semakin semangat berlatih menulis. ”Sampai akhirnya aku kuliah, aku masih menyempatkan waktu untuk menulis puisi. Selain puisi aku juga mencoba menulis sinopsis FTV dan gak peduli jika tidak ada yang diterima. Wkwkwk,” sergapnya.

Untuk saat ini, Servita mengaku menulis bukan menjadi profesinya. Ia hanya menjalani hobi yang baginya berujung kebahagiaan. Di waktu luangnya, mahasiswa jurusan Kimia ini mengisi hari-hari dengan bernyanyi, rap, menari, dan menulis. Servita menjelaskan, perlahan ia ingin mencoba mendalami jurnalistik kritis walau terkadang diakuinya itu tidak mudah. Tapi dengan dasar kemampuan menulis yang ia miliki, Servita yakin ia bisa. ”Tapi namanya suka menulis, insyaallah dilakoni seng nyantai tapi memuaskan,” tuturnya. 

Masuk Dunia Jurnalistik, Gak Salah Tuh?
Masuk di dunia perkuliahan, Servita menilik ada 2 Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang bergerak di bidang menulis. Untuk menjawab rasa penasarannya, ia pun memilih Unit Aktivis Pers Mahasiswa Inovasi (UAPM) UIN Malang. ”Awalnya memang ingin mendalami karya sastra, karena dasarku menulis fiksi dari SMA. Ternyata eh ternyata, jurnalistik yang kupilih. Menulis berita cuy, sumpah aku langsung kaget,” kenangnya sambil terbahak. 

Narasumber harus tepat, menyampaikan pertanyaan yang relevan, isu, dan fakta di lapangan harus kuat. Baginya sebagai jurnalis itu harus bisa putar balik otak supaya tulisan bagus dan menarik. ”Sangking kagetnya dengan dunia jurnalistik kritis, tulisanku tidak terbit sampai sembilan kali. Sempat sedih karena teman lain sudah menulis berita lebih dari lima kala itu,” ucap Servita. Memasuki bulan ke delapan gabung di UAPM Inovasi, akhirnya tulisan Servita terbit untuk kali pertamanya berupa koran tempel. Servita mengaku sangat senang, tulisannya tersebar di seluruh mading kampus. Ia tak peduli, ada yang baca atau tidak.

Tulisan itu ia beri judul, “Fathul Qorib: Masalah Parkir Belum Menjadi Prioritas Kampus,” berisi tentang parkir kampus yang sangat minim. Dibalik terbitnya berita itu, ia harus wawancara Kepala Bagian Umum di Rektorat, Fathul Qorib yang janjian selalu batal. Pertama kali mewanwancarai seseorang tentu saja membuatnya deg-degan, apalagi secara empat mata dengan pertanyaan yang sangat banyak. “Saya berharap narasumber tidak bosan diberondong pertanyaan,” ujarnya.

Semangat mahasiswa jurusan Kimia untuk menulis berita seputar kampus, mulai membara. Perlahan ia mencoba berita depth news atau berita mendalam, dengan mengangkat isu jurusan kedokteran di kampusnya. Ia mengangkat judul, “Menelik Dua Tahun Berdirinya Fakultas Kedokteran,” berisi tentang minimnya fasilitas di sana. Ia sangat senang karena bisa menyuarakan kekeluhan teman-teman yang menempuh ilmu di Fakultas Kedokteran. Ia berharap, melalui tulisan itu dapat mengevaluasi kampus menjadi lebih baik.

”Makin kesini aku makin senang mencari isu kampus, mencari fakta di lapangan dan menulis. Walau banyak teman-teman yang bilang, ”Kok berani kritik kampus?” ya niatku hanya menyalurkan aspirasi mahasiswa lain saja, dan memperkaya diksi dalam tulisanku, sudah,” jelasnya. 


Sinopsis FTV-nya Tayang!
Usai menjawab rasa penasarannya di dunia jurnalistik dan berhasil menaklukannya, gadis manis ini mulai mengorek rasa keingintahuannya dalam bidang kepenulisan skenario FTV (Film Televisi). Ia pun menjumpai teman facebooknya menguplaod kiriman sinopsis FTV dan diterima. Rasa penasarannya semakin memuncak, Servita langsung menghubungi temannya. Pucuk dicinta ulam pun tiba, sungguh beruntung Servita. Temannya tidak enggan berbagi informasi mengenai arahan, tips, dan kontak Production House (PH) yang membutuhkan sinopsis FTV.

”Aku dikasih kontak Screenplay Production. Tepat Juli 2017 mulai menulis sinopsis FTV. Sekitar 11 naskah yang aku ajukan saat itu, mulai dari romance bahkan berbau religi,” katanya. Penantian panjang selama dua bulan, akhirnya berbuah manis. Maret 2018, ia ditelpon nomor tidak dikenal, “Perkenalkan saya Frenky dari Screenplay, selamat sinopsismu diterima dan jadi FTV!” Mendengar itu, Servita yang sedang praktikum di kampus otomatis meloncat, “Aku langsung loncat-loncat lah refleks. Aku stalk IG PH tersebut dan sudah tayang pada Januari 2018,” paparnya penuh semangat.

Ternyata FTV Servita tayang dua bulan lalu. Servita pun langsung mengecek lewat streaming. FTV nya yang tayang berjudul ”Rockerwati Kepincut Babysitter Ganteng”. ”Lucu banget kalau ingat itu. Terpaculah terus semangatku untuk terus berkarya, Semoga bisa ke layar lebar, aamiin,” harapnya Servita.

Tips Menulis ala Servita
Meskipun kesibukan tugas kuliah melanda, Servita tetap mengusahakan di akhir pekan bisa menulis selama dua jam. Ia pun berpesan kepada penulis muda belia seperti dirinya untuk jangan  berpuas diri. Jangan ragu semua yang ada di dunia ini selagi mampu. ”Aku pribadi sendiri suka tantangan dan hal baru, jadi semua kegiatan di kampus akademik maupun non-akademik aku jejelin, aku pahami, dan yang nggak sesuai dengan passion akan aku tinggalkan, hehe,” celetuknya. 

Perbanyak relasi, menurut gadis berhijab ini ketika memiliki banyak teman maka akan banyak juga ide yang muncul. Semangat untuk terus berkarya semakin meningkat dengan dukungan teman-teman. Jangan ragu merangkul teman untuk berkarya bareng, itu bisa menjadi jurus jitu untuk asah kemampuan diri. ”Respect ke semua orang dan pandai bersosialisasi, itu kuncinya. Jangan berlagak sombong, tetap apa adanya,” beber Servita berikan tips. 

Satu lagi yang patut di contoh dari gadis belia ini adalah jangan mudah mengeluh. Karena menurutnya, ketika gagal boleh saja kecewa tetapi jangan mengeluh, tapi susun misi selanjutya. Ketika hasil yang memuaskan itu datang, tidak hanya bahagia tapi juga memiliki kebanggaan.

Bagi Servita, ketika merasa tulisannya terbengkalai karena disibukkan dengan tugas kuliah, ia merasa tulisannya lebih berharga dibanding tugas kuliah. Tapi, Servita sadar kewajibannya. Harus bisa menyeimbangkan antara kuliah dan menulis. ”Dua-duanya duniaku. Intinya gini, kalau masih muda ya gakpapa selelah-lelahnya mencari ilmu dan jati diri. Toh, kalau sudah tua kita bakal menyesal kita saat muda hanya santai-santai saja. Hidup kan butuh proses, nah proses itu yang berat tapi akhirnya sukses. Aamiin,” harapnya. 

Menyanyi, Menari dan Rap Juga Duniaku!
“Aku adalah orang yang haus pengalaman,” terangnya. Disamping kesibukannya menulis, gadis berhijab ini juga gemar tampil di atas panggung. Menyanyi dan menari sudah menjadi kebiasaannya kini. Kelas 4 SD, Servita sudah berani mengikuti lomba karaoke di kampungnya. Anehnya, keluarga tidak ada yang tau kalau ia mendaftarkan diri, “Waktu itu aku langsung daftar aja, namanya bocah ya gitu. Mama sampai ketawa lihat aku diatas panggung,” ingatnya terbahak. 

Perlombaan didunia tarik suara diikuti Servita hingga dibangku SMA. Bosan dengan genre pop yang membuat ia gagal, ia mencoba genre rap. Servita yang termotivasi dunia rap oleh Rihanna itu, mempelajari teknik rap lewat youtube. Sampai akhirnya, ia bersama rekannya memberanikan diri untuk mengikuti ajang rap di kotanya. “Uji nyali ceritanya, pokoknya aku harus berani perform diatas panggung,” jelasnya.

Berbekal pengalamannya dalam lomba rap, Servita dan rekannya berhasil menciptakan lagu “Hey Kawan” bergenre rap. Lagu tersebut berisi tentang fenomena remaja yang makin tahun kian akrab dengan narkoba. Tujuan diciptakan lagu ini untuk menyiarkan pada remaja bahwa pentingnya hidup sehat tanpa narkoba. 

Tak disangka-sangka, lagu “Hey Kawan” mengantarkan Servita menjadi juara ketiga di ajang rap tingkat kota. Tahun 2015 menjadi awal karirnya dalam dunia rap. Servita terus mempelajari rap dan menulis lirik-lirik lagu. Dua bulan kemudian, ia berlomba di tingkat Provinsi Kalimantan Timur dalam ajang rap. Bahagianya, ia meraih juara favorit. 

Lagu tersebut pun menjadi lagu andalan Servita ketika manggung. Job bernyanyi mulai berdatangan silih berganti, mulai acara sekolah, kota, bahkan provinsi. Servita juga sangat bersyukur bisa bergabung di Hiphop Bontang, sebuah komunitas pecinta rap. Ia banyak belajar cara menulis lirik yang selaras dan tidak rasis. Dunia rapnya menjalar perlahan, ia berhasil menjadi delegasi dari Indonesia dalam acara Yes Academy Asean 2016. Saat itu, Servita menjadi perwakilan Indonesia dibidang Hiphop bersama teman-teman dari negara Asean lainnya. 

Pecinta dance genre popping ini tidak ingin ketinggalan mengasah potensinya. Servita mengikuti komunitas dance di kampusnya, “Stiver DC,”. Banyak pengalaman yang bisa ia ambil dari sana, Servita juga kerap mengisi acara di kampus. “Aku suka ketika semua hobiku jalan semua, tidak ada yang patah, dan terus tumbuh,” tuturnya. 

Pengalaman tampil diatas panggung sudah tidak diragukan lagi. Servita yang dikenal sebagai  gadis multitalenta ini tidak pernah menganggap dirinya paling hebat. “Menurutku semua orang hebat, kalian hanya melihat dipermukaan, aslinya ya aku hanya orang biasa,” celotehnya. Sikap Servita yang selalu rendah hati dan percaya diri ini mengantarkan ia menjadi Mawapres (Mahasiswa Berprestasi) Kedua di Universitas UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Perasaan bangga pasti ada, namun ia tetap harus terus belajar. “Masih banyak tangga kesuksesan yang harus aku lalui,” cakap gadis berzodiak Aquarius ini. 

Lucunya, sekian banyaknya Servita tampil diatas panggung, orangtuanya tidak pernah menonton. Ia sengaja tidak memberitahu orangtuanya ketika hendak manggung, “Sengaja sih, kalau mama lihat pasti banyak komentarnya, ntar aku nggak fokus,” gelaknya.





Harapan 5 Tahun Ke Depan
Ketika ditanya ingin membuat tujuan di 5 tahun ke depan, rapper ini tentu saja ingin membahagiakan kedua orangtua. Tidak hanya itu, penyuka warna abu-abu ini terpacu untuk menulis novel berlatar belakang dirinya. “Pengennya sih tembus penerbit mayor dan jadi film,” begitulah ambisinya. ”Akan kubuktikan pada semua orang melalui tulisan, bahwa hidup tidak hanya hitam dan putih, melainkan abstrak,” lanjutnya. 

Mahasiswa yang selalu berkutik dengan rumus ini juga ingin membuka usaha di bidang minyak bumi. Alasannya karena ingin menyelaraskan jurusan yang diambilnya yaitu, Kimia. “Kalaupun Allah mengijinkan aku membuat usaha dibidang solar, ya Alhamdulillah,” ujarnya sambil tertawa. 

Keinginan selanjutnya Servita adalah mendirikan panti asuhan dan panti jompo. Itu merupakan impiannya sejak SD, ia teringat ketika saat kelas 3 SD saat ditanya oleh gurunya. ”Kalau besar mau jadi apa?” Lantas Servita kecil menjawab, “Membangun panti asuhan dan panti jompo, pasti aku punya teman banyak,” semoga akan terwujud. Aamiin,” kenang Servita. (Titis Ayu Winarni)

Biodata
Nama : Servita Ramadhianti
Panggilan : Servita atau Inyong
Tempat tanggal lahir : Balikpapan, 07 Februari 1998
Alamat : Kalau alamat asal: Jln Melati No 09 Perumahan Pupuk Kaltim Bontang, Kalimantan Timur.
Alamat rantau: Jln Joyotambaksari No 49 B, Malang. 
TK Mardisiwi Balikpapan 
SDN 002 Balikpapan Tengah
SMPN RSBI 3 Balikpapan
SMAN 3 Bontang

Prestasi
Juara 1 Cerdas Cemat 4 Pilar UUD 1945 2013
Juara 1 Duta Baca Kota Bontang 2015
Juara 1 Lomba Storytelling Kota Bontang 2015
Juara 1 Lomba Pidato Bahasa Inggris Kota Bontang 2015
Juara 2 Akustik Se-Malang Raya 2017
Juara 2 Mahasiswa Berprestasi UIN Malang 2018
Juara 2 Debat Bahasa Inggris Kota Bontang 2015
Juara 3 Cerdas Cermat Anti Narkoba Kota Bontang 2014
Juara 3 Rap Genre Anti Narkoba 2015
Juara 3 Presentasi Siaga Bencana PMR Kota Bontang 2014
Juara Favorit Rap Genre Anti Narkoba Kalimantan Timur 2016
Penulis Sinopsis FTV, “Rockerwati Kepincut Babysitter Ganteng,” Screenplay Production SCTV 2018
Penulis Antologi Puisi, “Coretan Tanpa Titik,” 2015
Delegasi Borneo Youth Change Makers 2015 se-Kalimantan
Delegasi Indonesia YES ASEAN bidang Hiphop Rap se-ASEAN 2016
Delegasi Asia Student Summit Seoul 2016
Delegasi Olimpiade Kimia Provinsi Kalimantan Timur 2015
Delegasi Parade Cinta Tanah Air Kalimantan Timur 2015
Best Speaker Debat Bahasa Inggris Kota Bontang 2015
Kontributor 15 Cerpen yang dibukukan di Penerbit Indie Nasional

Motivasi: Mama, mama, mama, dan mama.

Motto Hidup: Jangan Gampang Ngeluh! 

Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.