CERPEN: "RINDU MADINAH" By: Fikry Hasyim



Rindu Madinah
By: Fikry Hasyim


Mentari pagi  mulai memunculkan biasnya, perlahan sinarnya menerobos celah awan gemawan, lalu tembus sampai ke bumi berupa batang-batang cahaya. Semilir angin musim semi begitu lembut menerpa dedaunan dan membuatnya bergesekkan.Kicauan burung yang saling bersahutan tidak mau ketinggalan untuk membuat suasana pagi hari lebih ceria.Satu kata.Indah. Seperti inilah gambaran kota Syam setiap paginya.
Tetapi di sudut lain, seorang lelaki kulit hitam, berambut keriting sedang menangis sesengukan di dalam rumahnya. Derai air mata terus mengucur tanpa henti membasahi pipinya.Suara gemuruh dari dalam dada menunjukkan ia menyimpan kesedihan yang mendalam.
Tak lama kemudian, seorang wanita cantik jelita keluar dari dalam kamar menghampiri dan duduk di sampingnya, “kamu kenapa menangis, Bilal, suamiku?”tanya istrinya.
Lalu dengan terbata-bata oleh karena air mata yang terus berderai, Bilal mencoba menjawab, “a…aku, mimpi bertemu Rosulullah semalam?”
Setelah menjawab, bilal kembali larut dalam kesedihannya, iatak mampu membendung kucuran air mata setiap kali menghadirkan sosok Muhammad dalam ingatan.Apalagi semalam Rosulullah datang dalam mimpinya. Bermimpi bertemu Rosulullah adalah sesuatu yang nyata, karena setan tidak akan bisa menyerupainya.
Sengaja setelah wafatnya Rosulullah Saw, Bilal meminta izin kepada Khalifah Abu Bakar untuk pergi berhijrah meninggalkan kota Madinah. Ia tidak kuat untuk tetap berdiam di sana, karena setiap sudut kota Madinah selalu mengingatkan ia kepada sosok Muhammad yang sangat ia cintai. Terus menerus kalut dalam kesedihan, bukan cara yang tepat untuk melanjutkan hidup.
Perlahan Bilal meneruskan perkataanya, “Rosulullah berkata kepadaku, ‘apa arti semua kehampaan ini, Bilal?Sudah saatnya sekarang engkau datang menziarahiku’.”
Genap setahun Bilal bin Rabah pergi meningalkan Madinah. Kepergian Rosulullah ke haribaan Rabbnya begitu menyisakan pedih di hati para sahabat. Bukan hanya Bilal, di detik wafatnya Rosulullah, para sahabat merasa sangat terpukul.Mereka sungguh tidak percaya kalau Rosulullah benar-benar wafat. Ali bin Abi Thalib seketika membisu tidak bisa bicara saat Rosulullah mengembuskan napas terakhir, Utsman bin Affan terduduk dan tidak bisa berdiri, Umar bin Khattab si Singa Padang Pasir pergi berkeliling kota Madinah sambil mengacungkan pedangnya seraya berkata, “siapa yang berani mengatakan Muhammad telah wafat, akan kutebas lehernya dengan pedangku ini.” Diantara sahabat juga ada yang berkata, “Muhammad tidak meninggal, ia hanya pergi selama 40 hari, seperti dulu Musa meninggalkan kaumnya.” Kesemuanya berusaha menepis kenyataan bahwa Rosulullah telah tiada.
Hanya Abu Bakar yang ketika itu bisa ikhlas menerima kenyataan.Ia mengumpulkan para sahabat di masjid lalu berbicara di mimbar. Setelah mengucap hamdalah dan shalawat, ia melantunkan ayat:
وما محمد إلا رسول قد خلت من قبله الرسل أفإين مات أو قتل انقلبتم على أعقابكم، ومن ينقلب على عبيه فلن يضر الله شيئا، وسيجزي الله الشاكرين [آل عمران :144]
Artinya: Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu akan berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang2 yang bersyukur.
Para sahabat sungguh tercengang ketika mendengarkan ayat tersebut, mereka seakan baru pertama kali mendengarnya, padahal Al-Qur’an sudah mengalir dan mendarah daging dalam jiwa dan raga mereka.
Lalu Abu Bakar melanjutkan perkataannya, “wahai para sahabat, barang siapa yang menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah tiada.Dan barang siapa yang menyembah Allah, maka sungguh dialah Allah yang Maha hidup tidak akan binasa.”
Detik wafatnya Rosulullah adalah saat dimana Kota Madinah pecah oleh tangis kesedihan para sahabat, meski mereka sangat paham bahwa kematian Rosulullah hanyalah perpindahannya ke alam barzakh yang abadi.Mereka paham, bahwa kematian adalah sunnatullah yang pasti tanpa terkecuali. Mereka juga sangat paham, bahwa tubuh yang membujur kaku hakikatnya tidak benar-benar mati, karena sebagaimana yang tersampaikan dalam sabdanya, bumi tidak akan memakan jasad para Nabi, begitu juga dengan dirinya yang ia adalah imamnya para Nabi dan Rosul. Nabi dan Rosul akan tetap hidup dalam kuburnya.
Tidak sampai di situ. Para sahabat juga paham, bahwa wafatnya Rosulullah, adalah saat terindah yang ia nanti untuk bertemu Rabb yang begitu mencintainya. Rabb yang menyandingkan namanya tepat setelah nama agung-Nya di pintu surga dan di pilar-pilar arsy singgasana-Nya – ‘laa Ilaaha Illallah, Muhammadun Rosulullah.’ Dan sudah dipastikan, Tuhan semesta alam tidak akanmenyandingkan nama seseorang dengan namanya kecuali ia adalah mahluk ciptaanNya yang tercinta.
Tapi yang namanya perpisahan di dunia akan selalu meninggalkan sedih, apalagi yang pergi adalah orang tercinta. Dialah Muhammad yang telah mengorbankan jiwa raganya demi umatnya. Dialah Muhammad yang siang dan malamnya ia curahkan untuk kesejahteraan umatnya di dunia dan akhirat. Dialah Muhammad yang selalu memohonkan ampun atas umatnya dalam setiap munajat panjangnya.Bukan hanya manusia yang bersedih, tapi alam semesta ikut berduka atas kepergiannya.
Keesokan harinya, Bilal bin Rabah pergi meninggalkan Kota Syam menuju Madinah. Ribuan kilometer ia tempuh demi memenuhi panggilan Rosulullah untuk ziarah kepadanya. Langkah demi langkah yang ia tempuh semakin mendidihkan rasa rindu yang membuncah dalam dada. Sudah tidak sabar rasanya ia ingin cepat sampai di Madinah.
***
Perjalanan panjang telah ditempuh, akhirnya sampai juga Bilal di gerbang pintu Madinah.Tak terasa air mata mulai meleleh kembali bercucuran di pipinya. Pelan ia melangkah menuju makam Rosulullah. Sesekali iabertemu dengan sahabat di tengah jalan, ia berhenti sebentar melepas rindu, lalu berjalan kembali.
Udara kota Madinah yang terhirup olehnya, membangun kembali kenangan-kenangan bersama Rosulullah yang tak lekang oleh waktu. Setiap penjurunya begitu kental menghadirkan wujud Rosulullah dalam khayalan. Sungguh hanya jasadnya yang pergi, hakikatnya ia tetap hidup dalam jiwa mereka para sahabat dan umat-umat yang begitu mencintainya.
Sesampainya di makam Rosulullah, Bilalberdiri tepat di depannya, lalu diucapkanlah salam olehnya. Dan tak lama kemudian, oleh karena rasa rindu di dalam yang tak tertahankan, Bilal meracau dan menangis di pusara yang tercinta, Muhammad.Sekelebat ingatanakan masa-masa ketika Rosulullah masih hidup kembali hadir di memorinya. Iateringat saat ia selalu membawakan barang-barang Rosulullah, kemana Rosulullah pergi ia selalu ikut dengannya.Bayangan-bayangan tersebut semakin jelas terbingkai, sehingga membuat tangisan Bilal semakin menjadi.
Sudah puas rasanya Bilal melepas rindu di pusara Rosulullah, meski perasaan sedih akan kepergianya masih terus tersisa di sanubarinya. Setelah berziarah, ia duduk-duduk bersama para sahabat yang lainnya di dalam masjid. Diantara mereka ada Abu bakar dan Umar. Mereka berbincang ringan sekedar bernostalgia mengenang sosok Muhammad yang akan terus hidup dalam hati dan pikiran mereka.
“Bilal,” sapa Abu Bakar, “sebentar lagi Zuhur, sudah lama rasanya kami tidak mendengarkan suara adzanmu.Bagaimana jika Zuhur ini kamu yang mengumandangkan adzannya?”
“Ayolah Bilal,” Umar menambahkan, “adzanlah untuk kami sebagai mana kamu adzan ketika Rosulullah masih hidup.”
Bilal termenung lalu menyunggingkan sedikit senyuman tanda ia menolak halus permintaan Abu Bakar dan Umar.Danlagi-lagi ia menitikkan air mata, “maaf Abu Bakar, aku tidak bisa. Setelah Rosulullah wafat, aku sudah tidak lagi mengumandangkan adzan. Mengumandangkan adzan selalu mengingatkanku akan Rosulullah. Dulu setiap setelah selesai adzan, biasanya aku langsung berlari ke kamar Rosulullah sekedar mengingatkannya, ‘wahai Rosulullah, telah tiba waktu sholat.’ Tapi sekarang…” Bilal terhenti.
Abu Bakar dan Umar memaklumi.Satu tahun kepergian Rosulullah, belum cukup untuk menghilangkan kenangan bersamanya.Setiap kali teringat, rasa sedih itu kembali muncul dari dalam diri.
Suasana hening.Kemudian datanglah Hasan dan Husein – cucu Rosulullah, buah hati Fatimah Azzahra dan Ali bin Abi Thalib – masuk ke dalam masjid. Saat ini Hasan telah berumur 9 tahun dan Husein 8 tahun.Mereka menghampiri Bilal, kemudian Bilal merangkul keduanya.
Melihat Hasan dan Husein, Bilal teringat waktu mereka dimanja oleh Rosulullah, bermain dengan Rosulullah, dan bercengkrama bersama Rosulullah.Betapa Rosulullah sangat sayang kepada mereka.Perangai Hasan dan Husein sangat mirip dengan Rosulullah, siapapun yang melihat mereka seakan melihat Rosulullah ada dalam diri mereka. Aroma kehidupan Rosulullah akan terus harum bersemi pada anak cucu keturunannya.
“Apa kabarmu, Bilal?”Hasan membuka percakapan.
“Mengapa kamu baru datang?kami di sini merindukanmu,” Husein menimpali.
Bilal tersenyum menatap mereka berdua, “aku baik-baik, dan aku juga rindu pada kalian.”
“Bilal,” Hasan melanjutkan, “aku merindukan suara adzanmu.Aku ingin medengarmu melantunkan adzan, seperti waktu kakek kami masih ada.”
“Iya, Bilal,” Husein ikut menimpali, “aku juga ingin mendengarmu melantunkan adzan kembali.”
Bilal terdiam beberapa saat setelah mendengan permintaan Hasan dan Husein, sambil menyeka air matanya, ia melanjutkan, “Hasan, Husein, baru saja aku menolak permintaan Abu Bakar dan Umar untuk kembali mengumandangkan adzan seperti waktu Rosulullah masih ada. Tapi kalian, apa yang akan aku katakan kepada kalian? Aku takut, jika aku tidak menghiraukan permintaan kalian di dunia, Rosulullah tidak akan menghiraukanku nanti di akhirat. Baiklah aku akan adzan Zuhur ini,” Bilal tersenyum menatap keduanya.
Mendengar permintaanya dikabulkan, seutas senyum bahagia terukir di bibir Hasan dan Husein cucu kesayangan Rosulullah. Mereka dan para sahabat yang berada di dalam masjid sudah tidak sabar menanti waktu Zuhur demi mendengarkan kumandang adzan dari seorang Bilal bin Rabah, muadzin Rosulullah.
Waktu Zuhur pun tiba, Bilal bersiap-siap lalu berjalan menaiki tempat tinggi di atas Masjid dimana ia biasa mengumandangkan Adzan. Ia berusaha menguatkan dirinya, meski rasa sedih di dada kembali bergolak menggelora memenuhi jiwanya. Jari telujuk kanan ia masukkan ke telinga, lalu telapak tangan menutupi sebagian pipi kanannya. Ia siap memulai, ‘Bismillahirrohmanirrahim.’
Allahu Akbar, Allahu Akbar
Seketika gemparlah kota Madinah dengan tangisan. Siapapun yang mendengarnya secara spontan menitikkan air mata.
Allahu Akbar, Allahu Akbar
Lalu terdengarlah suara wanita-wanita meraung berteriak dari dalam rumah, “adakah Rosulullah diutus lagi?”
Asyhadu An laa Ilaaha Illallaah. Asyhadu An laa Ilaaha Illallaah
Tidak sedikit dari para wanita yang ikut berhamburan keluar ketika menedengar suara Bilal mengumandangkan adzan.Para penduduk Madinah semua berkumpul bersatu di masjid. Teriakan-teriakan pun tak henti terdengar, “… Rosulullah diutus lagi, Rosulullah diutus lagi,” mereka saling bersahutan.
Sampailah pada kalimat:
Asyhadu Anna Muhammadan Rosulullah…
Suara Bilal menjadi sayu, ia tidak mampu meneruskan adzanya. Air mata bercucuran membasahi pipinya. Dan pada saat itulah kota Madinah berlinangan Air mata lebih deras dari pada saat Rosulullah wafat.
Suara adzan Bilal telah membasahi hati mereka dengan kerinduan kepada Rosulullah.Semua itu menunjukkan bahwa Rosulullah selalu hidup di hati mereka para sahabat dan orang-orang yang mencintainya.
Dan jika hidup itu seluruhnya tentang mencinta, maka mencintainya lebih dari apapun, bahkan lebih dari diri sendiri adalah hakikat hidup. Cinta kepadanya merupakan simbol kesempurnaan iman, yang diikuti setelahnya dengan pengamalan ajarannya serta pelestarian sunnah-sunnahnya.

Profil penulis : Nama lengkap Muhammad Fikry Hasyim, kelahiran Jakarta, 1989. Sekarang sedang melanjutkan studi di Al-Ahgaff University, Hadhromaut, Yaman. Suka mengisi kekosongan dengan menulis di blog. Pernah menang juara 3 lomba Cerpen yang diadakan Flp Yaman dengan judul cerpen Secangkir Kopi Kemerdekaan.
 


Setiap karya yang kami publikasikan hak cipta dan isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis Untuk Anggota Jaringan Penulis Indonesia yang mau mengirimkan karya harap mencatumkan subyek KARYA ANGGOTA + Tema Tulisan + Judul Tulisan pada email yang di kirim ke jaringanpenulis@gmail.com Bagi yang ingin bergabung menjadi Anggota Jaringan Penulis Indonesia silahkan ISI FORMULIRNYA http://jaringanpenulisindonesia.blogspot.com/search/label/Formulir%20Keanggotaan

Posting Komentar untuk "CERPEN: "RINDU MADINAH" By: Fikry Hasyim"

www.jaringanpenulis.com




Affiliate Banner Unlimited Hosting Indonesia
SimpleWordPress