IKLAN

[CERPEN] LUSI KEHUJANAN ditulis oleh SUPRIYANTI

LUSI KEHUJANAN
ditulis oleh Supriyanti


sumber gambar : pecintaanime11.blogspot.com


Lusi mengeratkan pelukan tangan pada badannya sendiri, mengepalkan buku tangan dan mengembuskan napas dingin patah-patah, seakan kegiatan itu bisa mengenyahkan gigil yang mengepung. Langit-langit halte yang berwarna putih gading itu tidak cukup menghalau percikan air untuk tidak mampir menampar pipi, mata, hidung hingga bibir yang sedari tadi mendesiskan kerinduan. Dia ingin segera pulang, menyembunyikan badan di bawah selimut sambil menghabiskan ketan hitam yang di atasnya ditaburi parutan kelapa. Tidak lupa juga minuman hitam pekat membantu badan tetap hangat. Tetapi selama hampir satu jam matanya menyipit, tidak ada satu pun bus lewat untuk membawanya pulang.

Pakaian tipisnya sama sekali tidak membantu. Semestinya dia mengenakan jaket saja hari ini. Kesalahannya, Lusi bukan pendengar yang baik. Dia sama saja seperti kebanyakan perempuan, heboh dengan berita terbaru yang belum tentu benar dan membiarkan segalanya keluar dari telinga kiri, padahal baru saja masuk  telinga kanan. Dulu ibunya pernah berujar, “Januari itu singkatan dari hujan sehari-hari, air bisa datang dari mana saja, membuat kuyup sana-sini.” Lusi tidak pernah menganggap perkataan ibunya sebagai hal serius. Sebab, iklim dunia ini sudah semakin tak jelas.

Hujan di musim kemarau dan beberapa daerah mengalami kekeringan pada musim hujan, sepertinya Tuhan mulai marah padanya karena Lusi tidak mau mendengarkan segala ujaran ibunya; dari menyapu harus bersih hingga berdiri di depan pintu. Mungkin air hujan yang membuat rongga-rongga tasnya selama ini mlembung adalah kumpulan air mata milik ibunya yang secara diam-diam keluar. Lalu turun ke pipi hingga terasa asin di lidah.

Sore ini tidak banyak yang mengantri ataupun  desak-desakan demi tempat duduk memanjang dan sebuah bus. Mereka lebih tertarik menumpang pada mobil-mobil hitam, besi beroda dua. Tentu dengan wajah memelas. Lusi melirik ke kanan dan kiri, menghitung beberapa banyak pasang kaki gemetar, berapa banyak saku-saku yang ikut mlembung . Lelaki dengan jenggot dan kumis tipis yang memanjang di atas bibir, dekat kedua telinga lalu berujung di dagu, duduk tepat di sebelah kanannya. Mungkin jaraknya hanya sepuluh sentimeter. Dia sedang sibuk menyesap rokok, sesekali asap keluar dari hidung dan mulut bersamaan dengan hawa dingin yang mungkin ingin dibuang dari perutnya.

Pikiran Lusi tiba-tiba mampir pada memori mengenai rumah beberapa tahun lalu. Rumahnya berbentuk persegi, kayu-kayu pondasi sudah dikikis rayap di berbagai sisi tetapi masih bisa menyangga kokoh. Tidak pernah ada kabar rumahnya roboh, perihal kayu yang berlubang tak rapi. Paling cepat hanyalah beberapa genting yang pecah. Sebab, longsor galangan ladang tetangga yang letaknya lebih tinggi.

"Walaupun keropos, tidak mungkin rumah kita bakal lembut bersama tanah. Jati ini jati asli, jati toko zaman dulu, sangat kuat, tidak seperti jati-jati sekarang, lebih bagus kualitas jati dulu." Lusi hanya mengiyakan segala ucapan Pardi, ayahnya. Dongeng-dongeng semacam itu sudah sering dia dengar, bahkan dia sudah lupa itu cerita ke berapa, tetapi dia mempercayai segala dongeng itu, pengantar tidur baginya dan Soya.

Lusi melihat kembali lelaki berjenggot itu, asapnya memang tidak mengarah padanya, tetapi setiap kepulnya selalu membawa wajah Pardi di sela-sela air hujan yang jatuh. Dulu tiap sore dan pada saban hujan, ayahnya gemar minum teh panas dan menyesap rokok. Bedanya Pardi menyesapnya dari pipa kayu. Saat itu, rokok belum semudah sekarang dan Pardi melinting sendiri tembakau-tembakau itu.

"Kenapa Bapak suka merokok?" Pertanyaan Soya itulah yang didengarnya dulu, Lusi hanya diam saja melihat adiknya takjub dengan asap-asap yang mengepul dari pipa kayu itu, sesekali juga berasal dari hidung dan mulut Pardi.

"Rokok ini bisa mengahangatkan tubuh, Soya. Apalagi musim hujan seperti ini."

"Soya juga mau hangat, Pak. Soya boleh coba?"

"Ini hanya untuk laki-laki, perempuan tidak boleh mencobanya." Pardi terkekeh melihat mimik kesal di wajah anak bungsunya.

"Pulang dari kerja atau mau pulang kampung?" Suara lelaki itu membangunkannya dari lamunan. Refleks dia merapikan diri dan menengok ke kanan. Selain lelaki itu ada sepasang ibu dan anak yang saling berpelukan untuk tetap hangat.

"Pulang kerja. Sudah dari tadi aku menggigil di sini, aku lupa memakai pakaian tebal, kenapa tak ada bus yang lewat juga? Menunggu bus juga? Atau menunggu reda? Jika menunggu reda kupikir sangat lama, hujannya sangat awet, masih betah berlama menemui bumi."

"Menunggu bus untuk pulang juga. Tujuan mana?"

"Ngasinan."

"Kau akan turun lebih dulu nanti. Aku Prengguk. Kerja di mana?"

"Aku kerja di konveksi. Walaupun tak seberapa bayarannya tapi cukuplah untuk kebutuhan sehari-hari."

"Menjahit, ya? Wanita-wanita di tempatku banyak yang menjahit di konveksi juga."

Tiba-tiba lelaki itu teringat dengan tetangganya yang kadang membawa beberapa pakaian setengah jadi untuk dikerjakan di rumah. Mungkin seharusnya dia meminta istrinya untuk menjahit juga. Masalahnya, istrinya sama sekali tidak bisa menjahit. Dia ingat jahitan tangan istrinya ketika menambal kain kasur yang robek, benang masih nglewer sana-sini, bagaimana mau menjahit di konveksi yang sistem kerjanya borongan.

"Ah, sama saja! Mereka yang menjahit dan beberapa dari kami di bagian penyortiran sama-sama lelahnya. Jika mereka lelah karena gerakan bebas badan yang minim, tangan dan kaki hanya menggerakkan gerakan yang sama. Tentu mereka merasa kaku pada bagian-bagian tubuh tertentu. Kami yang melakukan penyortiran juga sama lelahnya sebab pemotongan pola, penjahitan, proses pengobrasan kain, trimming hingga finishing berada pada masing-masing tempat berbeda. Kami harus berlarian sana-sini, menuliskan barang yang masuk dan keluar sama dengan ukuran semestinya. Tidak ada pekerjaan yang tidak membuat lelah, tetapi di akhir juga akan menikmati hasilnya." Lusi tidak sadar terlalu panjang mengoceh, menceritakan apa-apa yang dia kerjakan tiap hari.

Dasar perempuan! Tidak terkendali.

"Mau ini?" Lelaki itu menyodorkan kotak rokok miliknya.

Dahi Lusi berkerut, alis tebal miliknya pun menyatu. Walau sedari tadi banyak hal yang mampir lama-lama di kepala, hal paling jelas saat ini bagaimana bisa lelaki berkemeja hitam itu menawarinya sebuah rokok. Lusi adalah perempuan. Menurut keluarganya, perempuan haram merokok. Dia pun belum pernah menjumpai perempuan-perempuan di kampungnya merokok. Jika pun ada, mereka cukup punya kepala untuk tidak menampakkan hidung dan wajahnya begitu saja.

"Maaf, aku tidak merokok. Perempuan 'kan biasanya tidak merokok," balasnya.

"Aku hanya menawarkan saja. Kupikir kau juga merokok, istriku merokok. Pengeluaran kami jadi melangit karena merokok. Sayangnya kami tidak bisa berhenti. Rokok adalah nyawa kami, kesamaan kami. Hal yang membuat cinta kami awet dan hangat. Hahaha," ujar lelaki itu disertai sedikit tawa di akhir.

Lusi bingung harus membalas apa, dia memilih tersenyum dan mengangguk pertanda dia mendengarkan perkataan lelaki itu. Baginya, cinta sama sekali bukan perihal persamaan dan perbedaan. Mungkin hal ini berlaku untuk Ragil, si ayam kesayangan Pardi tetapi bukan untuknya. Ragil berjodoh dengan Loka, si babon cokelat muda miliknya. Sebab cinta keduanya, Loka banyak menghasilkan telur.

Beberapa dicuri ibu untuk digoreng menjadi lauk, kadang juga dijadikan campuran jamu Pardi. Bahkan Lusi dan Soya kecil dulu bertanya-tanya mengapa Loka tidak merasa kehilangan? Apa Loka pikun? Apa Loka adalah ayam yang nrima ing pandum? Hal lain yang membuat keingintahuan dua kakak beradik itu, “Kenapa ayahnya selalu menamai hewan peliharaan?”

Pikiran Lusi dipenuhi kenangan Ragil dan Loka tetapi lebih besar porsi Ragil. Sebab, Ragil membawa jiwanya ke turnamen sabung ayam puluhan tahun lalu. Bapak-bapak pemilik ayam bersorak mendukung  jagoan masing-masing, bahkan ada yang memboyong istri dan anak untuk menonton. Kesenangan seperti inilah yang membuat ibu-ibu bergosip tanpa dimarahi suami, anak-anak melebarkan jaringan untuk memperbanyak kawan main, serta banyak kicauan atau gombalan cinta monyet yang terkenal di kalangan anak-anak.

Lusi, Irfan, Soya, dan anak-anak lainnya melihat dari tepi, di luar garis yang dibuat warga kampung dari tali rafia. Lusi, Irfan, dan Soya tentu bersorak untuk Ragil. Sebab Irfan tidak memiliki ayam. Rumah bocah lelaki itu penuh dengan kandang kambing. Irfan sudah biasa keluar masuk rumah keluarga Lusi sejak kecil. Kedua orang tua Lusi lebih suka memanggil Ipan dibanding dengan nama lahirnya. Lebih mudah dan tidak membuat lidah cepat kering. Irfan, satu-satunya lelaki yang mampir di kepala Lusi selain Pardi. Takdir cinta yang tidak bisa disatukan dengan sebuah persamaan suka menonton sabung ayam.

"Alhamdulillah, ada bus." Lusi terbangun dari kenangan masa lalu.

Lusi segera mengajak lelaki di sebelahnya ikut masuk ke dalam bus. Lusi memilih tempat di dekat pintu sebelah jendela sedangkan lelaki itu di kursi kanan bersebelahan dengan penumpang lama. Lelaki itu mengurungkan niatnya yang ingin mengajak Lusi kembali bercakap. Dilihatnya Lusi lebih memilih memalingkan wajah menuju jendela yang memperlihatkan jalanan kuyup, alisnya juga sedari tadi mengerut seperti ada yang dipikirkannya sungguh-sungguh.

Selama perjalanan, Lusi hanya ingin memandangi suasana luar dari balik jendela. Lubang-lubang di jalan terisi air, rerumputan yang tingginya hanya sekitar lima sentimeter sudah kebanjiran. Mereka sebentar lagi akan mabuk, kekenyangan dan kembung. Bus berhenti di dekat gapura bertuliskan, WATU BONANG. Lusi segera turun. Sebuah ungkapan, “Hujan di sini belum tentu di sana hujan pula.” Benar, pusat kecamatan sedari tadi hujan turun deras menjatuhkan segala air tampungannya tetapi sesampainya di kampung hanyalah gerimis seperti melihat jika anak hujan-hujanan pun tidak terlalu masalah.

Pemandangan Panji dan Ruri, dua keponakannya yang baru berumur enam dan empat tahun itu menyambut kepulangannya. Lusi mempercepat langkahnya, sedikit berlarian. Walaupun hanya gerimis tetap saja dia sudah basah kuyup dari tadi, sejak keluar dari pintu pabrik. Dua bocah itu sedang berjongkok di tritisan.  Lusi bergegas mendekat ke arah mereka bertanya dalam hati, “Bagaimana bisa dua bocah itu bermain di luar dengan cuaca seperti ini tanpa pengawasan siapapun?”

Sejenak....

"Kalian sedang apa? Kenapa di luar? Ayo masuk, lihat langitnya gelap! Nanti kalian dimakan, lho!”

"Kita sedang nungguin Tante pulang. Kita enggak ada yang nemenin main," ujar Ruri, bocah empat tahun itu.

"Lho, Ibu sama Ayah enggak ikut ke sini?"

Ibu Lusi tiba-tiba keluar dari pintu dapur dan menyahut, "Soya dan suaminya pergi ke nikahan teman sekantor Ipan. Jadi, mereka menitipkan anaknya. Panji dan Ruri 'kan tidak bisa diam, takut membuat kegaduhan.”

“Main sama Nenek saja, Tante Lusi baru pulang, masih capek.”

Lusi meneliti wajah renta ibunya. Kemudian beralih ke arah dua bocah itu. Bisa Lusi lihat di sana, di keduanya benar-benar duplikat dari Soya dan Irfan. Dia menekan dadanya yang sedikit nyeri. Selain bajunya yang kuyup, ternyata hati dan kedua paru-parunya ikut basah. Lusi kehujanan. Kehujanan air Tuhan dan cinta sepotong tangan. Senyum bahagia Irfan dan Soya yang mengenakan baju senada putih melati berdesakan membuat matanya panas. SEKIAN.


BIODATA PENULIS
Nama Lengkap : Supriyanti
Nama Panggilan : Yanti
Asal Kota : Sukoharjo

Media Sosial
Instagram : @supriyanti_27
Facebook : Supriyanti (An)
Blogger : riyantna.blogspot.com

Posting Komentar

0 Komentar