IKLAN

Reza Fahlevi, Menulis Ide Cerita, Suka Jual Produk Korea, dan Ingin Jadi Presenter Berita


Penulis: Dita Faisal

Namanya diberikan khusus oleh sang ayah ketika ia baru lahir. Ayahnya yakin betul bahwa jenis kelamin dari jabang bayi yang akan lahir adalah laki-laki. Itulah sebab mengapa nama Reza Fahlevi disematkan spesial untuk anak pertamanya. Banyak orang mengira bahwa Reza adalah laki-laki, tetapi setelah bertatap muka, orang-orang akan terheran kalau ternyata yang dihadapannya adalah seorang perempuan.

Reza pangilan akrabnya dan Rafahlevi adalah nama penanya. Rafahlevi menjadi nama panggilan hingga sekarang, karena dulu ceritanya ada dua nama Reza di SMA yang sempat membingungkan guru dan teman-temannya. Reza yang satu adalah Reza laki-laki, sementara Reza yang kedua adalah perempuan. Agar tidak membingungkan guru dan teman sekelasnya, maka nama Rafahlevi terus dipakai ketika memanggil "Reza perempuan".

Menulis baginya adalah kebahagiaan yang bisa membuatnya diam tak pergi kemana-mana. Saat ini Rafahlevi tengah menyelesaikan novel solo-nya yang ia targetkan selesai di akhir tahun ini. Kesukaannya pada dunia menulis sudah ada sejak Rafahlevi duduk di bangku sekolah. Semasa kelas 1 SMP, Rafahlevi pernah dapat tugas dari guru Bahasa Indonesia untuk membaca novel di perpustakaan sekolah. Dari sekian banyak buku sastra, Rafahlevi memilih buku berjudul Khutbah di Atas Bukit. Ia mencoba memilih buku itu secara acak dengan memilih buku yang paling tipis.

Saat Rafahlevi mencoba membaca novel karangan karya Kunto Wijaya itu, Rafahlevi merasa makin bingung. Ternyata tipisnya buku yang ia pilih justru membuatnya semakin bingung untuk mencerna setiap makna yang tertulis di atas kertas kuning kecokelatan yang tampak tua dan mulai usang itu. Gaya bahasa sastra lama membuatnya harus berulang kali membaca hingga akhirnya bisa memahami apa maksud cerita yang di bahas di dalamnya. Rafahlevi tak pernah menyerah untuk menuntaskan tugas dari gurunya. Ia terus membaca novel Khutbah di Atas Bukit sampai tamat. Rafahlevi akkhirnya mulai jatuh cinta pada isi ceritanya. Dari situlah Rafahlevi terpacau ingin jadi penulis yang karyanya bisa dibaca banyak orang. Ia pun semakin sering melangkahkan kakinya ke perpustakaan dan melihat buku-buku satsra yang tersusun di rak-rak perpus sekolahnya.



Menulis Cerpen di Mading Membuat Nama Reza Fahlevi Terkenal
Pengalamannya membaca buku-buku sastra di perpustakaan sekolah membuatnya berani untuk mencoba tantangan baru di dunia kepenulisan. Rafahlevi mengawalinya dengan menulis sebuah cerpen yang diberi judul "Kuncup Tak Kunjung Merekah" yang mengekspresikan kesedihan sekaligus ketegaran seorang pria yang kehilangan istri dan anaknya setelah 20 tahun bersama menjalani hidup. Dalam cerpen itu Rafahlevi menceritakan tentang seorang perempuan yang terlahir setelah ibunya melahirkan. Anak itu tak bisa mendengar dan dibesarkan oleh ayahnya seorang diri hingga selesai menjadi sarjana. Namun, dihari kelulusannya ia justru kecelakaan dan meninggal dunia.

Menulis tak mengganggu jadwal sekolah Rafahlevi, terbukti setelah cerpennya dimuat di mading sekolah menengah, Rafahlevi mencoba peruntungan dengan mengirimkan cerita ke harian lokal, Pikiran Rakyat. Dalam rubrik "Percil" itulah cerpennya dimuat. Satu hal yang sangat dikenangnya adalah cerita tentang honor pertama yang harusnya ia terima namun tak bisa diambil karena tak ada yang mengantar ke kantor Pikiran Rakyat untuk mengambil honornya menulis. Kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan, membuatnya mau tak mau mengikhlaskan honor pertamanya itu, karena Rafahlevi menyadari bahwa kesibukan orang tuanya yang berjualan lebih penting ketimbang honor menulis di rubrik "Percil" Pikiran Rakyat.

Perjalanannya menulis masih berlanjut hingga menginjak kelas 3 SMP. Di tahun 2000, Rafahlevi berhasil mengisi rubrik fiksi di Pameran Seni Rupa dan Sastra tingkat SMP se-Kota Bandung yang digelar SMPN 16 Bandung. Capaian untuk menulis hingga ke titik ini tentu tak mudah diraih oleh Rafahlevi. Baginya, usaha keras tanpa kenal lelah, cepat atau lambat akan berbuah.

Kesukaannya menulis tak hanya memberikan banyak pengalaman tapi juga kesempatan untuk memperluas jaringan pertemanan yang pada akhirnya membuat nama Reza Fahlevi dikenal hingga satu sekolah.

"Karena dari menulis bisa jadi seleb di sekolah," tegasnya kepada tim JPI.

Rafahlevi bisa dibilang beruntung ketimbang penulis lainnya yang kerap mengalami sejumlah kendala. Hobinya menulis sejak SMP justru mendapat dukungan penuh dari orang-orang di sekelilingnya. Kedua orangtua, saudara-saudaranya, teman-teman hingga guru sekolah terus memberikan semangat tanpa henti untuk berkarya mengembangkan hobinya sejak dini.

Ibu Rumah Tangga yang Hobi Berbisnis Opak dan Kosmetik Korea
Hidup Berdiam diri di rumah tentu bukan pilihan Rafahlevi. Sebagai ibu rumah tangga beranak dua, Rafahlevi memilih untuk menjadi ibu yang aktif. Selain menulis, Rafahlevi kini memilih menjadi pengusaha muda dengan membuka usaha di bidang fesyen dan kuliner. Khusus fesyen, Rafahlevi menjual kerudung dan untuk makanan Rafahlevi menjual keripik kulit pedas dan opak kekinian. Hebatnya, untuk kerupuk dan opak Rafahlevi membuatnya sendiri, sementara untuk kerudung, Rafahlevi memutuskan menjadi reseller kerudung persegi yang bermotif dan polos dari berbagai merk.


Mulai dari bisnis kerudung hingga kerupuk Rafahlevi geluti. Tak mau ketinggalan kesempatan, Rafahlevi juga menjual kosemetik Korea. Tingginya minat para perempuan Indonesia untuk menggunakan produk kosmetik Korea membuat Reza gigih menjual kepelanggannya secara langsung. Rafahlevi tidak menjual secara online karena ia tak punya stok untuk kosmetik Korea orisinal. Terkadang, jika stok barang dagangannya masih ada, ia akan mempublikasikannya di instagram pribadi miliknya.



Berjualan kosmetik Korea membuatnya untung sebagai pebisnis. Ia kerap menawarkan dagangannya ke orang tua murid dan guru dimana anaknya bersekolah. Sepanjang 2016-2017, banyak pelanggannya yang rela jauh hari memesan sebelum barang datang, istilahnya pre order (PO). Produk kosmetik yangsering ia jual diantaranya, aloevera, liptint, watertint, dan skincare.

Bermodalkan teman yang sering ke Korea, Rafahlevi kerap menitipkan barang pesanan pelanggan ke temannya tersebut. Akan tetapi, banyaknya produk Korea yang beredar secara online saat ini membuat jumlah pesanannya mulai berkurang, apalagi temannya sudah jarang ke Korea karena menunggu momen diskon dan musim berburu sampel produk Korea tiba. Pemilihan kosmetik Korea karena ternyata Rafahlevi juga pecinta produk kosmetik asal negeri Ginseng tesebut. 






Menulis Ide Cerita dan Jadi Presenter Berita 
Sungguh banyak capaian-capaian yang ingin diwujudkan oleh Rafahlevi selagi muda. Sebagai Ibu dengan dua orang putri, Rafahlevi ingin menjadikan putra-putrinya sebagai penghapal Qur'an. Oleh karena itu, saat ini Rafahlevi pun sedang fokus pada pendidikan agama anak-anaknya sebagai bekal di hari nanti.

Tugasnya seakan tak pernah usai, mulai mata membuka hingga menutup di malam hari. Sebagai tanggung jawabnya, setiap hari Rafahlevi juga mengantarkan anak-anaknya ke sekolah dan menjemputnya lagi ketika jam pulang sekolah tiba.



Di sela waktu senggangnya itu, Rafahlevi menyempatkan waktu untuk menulis. Penulis buku-buku antologi ini juga tak kenal lelah berjuang mewujudkan keinginannya menulis ide cerita agar bisa tayang di televisi. Kesempatan mengirimkan ide cerita ia manfaatkan setiap Sabtu pagi ke Jaringan Penulis Indonesia (JPI) melalui Endik Koeswoyo. Rafahlevi terus berharap, agar suatu hari nanti ide cerita (sinopsis) yang dibuatnya bisa menembus layar kaca untuk bisa ditonton banyak orang. 

Sebelum bergabung dengan komunitas JPI, Rafahlevi cerita beberapa kali pernah mengirim sinopsis ke MD Entertainment, Sinemart, MKD sampai Demi Gisela Production. Namun, ia masih belum berhasil. Rafahlevi pun mengisahkan kenekatannya di awal-awal lulus SMA datang ke salah satu PH di Kayu Manis, Jakarta Timur untuk menawarkan ide cerita yang ditulisnya. Sayangnya, bukannya diterima untuk ketemu produser, Rafahlevi malah ditawari casting.

Penyuka film genre drama Korea ini mengaku beruntung setelah dirinya bergabung dengan grup khusus penulis, Jaringan Penulis Indonesia. Berbekal mesin pencarian google, Pertengahan 2018 lalu, Rafahlevi menemukan komunitas yang mempertemukan para penulis bernama Jaringan Penulis Indonesia (JPI). Nama Endik Koeswoyo sering muncul di beberapa artikel JPI yang ia temukan. Hingga akhirnya Reza memberanikan diri untuk mengirimkan pesan secara langsung ke email Endik Koeswoyo.

Tanpa pernah berharap di balas, Rafahlevi sempat kaget pesannya langsung direspon cepat oleh Endik Koeswoyo, pendiri JPI. Pertanyaan umum yang ia kirimkan tentang menulis ide cerita yang menarik itu akhirnya  mendapatkan balasan yang berujung pada bergabungnya Rafahlevi di grup kepenulisan Jaringan Penulis Indonesia (JPI). Sebagai anggota baru, Endik menyarankannya untuk mengamati perkembangan percakapan di grup khusus tersebut.

"Aku kirim email bertanya gimana sih caranya supaya ide cerita kita bisa dilihat banyak orang. Kukira akan diabaikan, secara mas Endik koeswoyo banyak followers-nya, orang sibuk, dan punya nama di dunia perskenarioan. Jujur, tapi unexpected (tidak mengharap) dibalas email-nya," ungkap Rafahlevi yang hobi bermain gundam.

Ada banyak masukan dari anggota grup WA JPI ketika pertama kali Rafahlevi bergabung di dalamnya. Salah satu anggota JPI dari Bandung, Dede Hartini menyarankan agar Rafahlevi aktif untuk berdiskusi dan berbagi sesama anggota grup JPI. Sementara itu anggota lainnya, Wulan Annisa juga mengigatkan dirinya bahwa sinopsis yang dikirim oleh penulis baru tidak akan dibaca jika tidak ada rekomendasi.

"Sejak aku tahu dari teh Wulan Annisa klo tulisan kita itu gak akan dibaca, cuma numpuk di meja produser klo gak punya link (kenalan) orang dalem. Aku mulai mengerti kenapa ide ceritaku  gak ada kabar," ungkapnya sedih.

Targetnya menulis ide cerita untuk kebutuhan layar televisi terus ia kebut. Meski berjibaku dengan waktu dan berbagai urusan rumah tangga yang rasanya tak ada akhirnya, Rafahlevi terus optimis bahwa suatu saat nanti ide cerita yang ia kirimkan akan lolos dan menyematkan namanya di layar Film Televisi (FTV).

Teringat masa SMP dan SMP dulu, kepada JPI Rafahlevi juga menceritakan tentang impian terpendamnya untuk menjadi presenter berita. Sebuah mimpi selain menjadi seorang penulis tentunya. Hampir setiap hari ketika menonton berita di televisi, Rafahlevi kerap menirukan gaya presenter berita saat membawakan berita yang tegas dan lugas. Saking seringnya ia berlatih bicara sendiri, kemampuan itu tersalurkan lewat kesempatan menjadi peserta lomba debat. Rafahlevi juga pernah dipercaya menjadi penulis naskah dan pengarah script dalam kompetisi Festival Drama Bahasa Inggris. Dalam dua tahun berturut-turut, Rafahlevi menyabet juara 2, dan juara 1 di tahun berikutnya.

"Aku pas SMP-SMA punya cita-cita jadi news anchor (penyiar berita) & jurnalis seperti mba Dita (Dita Faisal). Setiap hari action (berlagak) kaya news anchor profesional depan kaca. Aku inget dulu berita yg lagi ramai diberitakan adalah bom Bali I tersangka Amrozi. Kepala BIN-nya I Gede Mangun Pastika. Begitu aja yang dibaca depan kaca," cerita Rafahlevi  ketika berlatih membaca berita.

Meski mimpinya menjadi Presenter Berita tidak terwujud, namun Rafahlevi sudah puas karena pernah mengungkapkannya di hadapan para guru SMP dan SMA ketika ditanya soal cita-cita. Sebuah impian yang dulu selalu diherankan oleh teman-temannya di sekolah, namun dengan percaya diri ia sebutkan.

Rafahlevi yang berencana melanjutkan studi sarjananya akhir tahun ini berharap bahwa karirnya di dunia menulis akan semakin cerah dan menjanjikan ke depan. Baginya anggota komunitas JPI adalah mentor yang tepat untuk mengembangkan karirnya di dunia menulis.

"Tentu klo sinopsis, mentor profesional pertamaku adalah mas Endik Koeswoyo, dan JPI tentunya seperti Wulan Annisa dan Dede Hartini. Mereka itu booster (penggerak) sinopsis aku," tutupnya. (DF)


Profil:

Lahir: Bandung, 24 Juli 1988
Pekerjaan: Penulis dan Wirausaha

Pendidikan 
-SD Negeri Suka Senang 151 Bandung
-SMP Negeri 16 Bandung
-Alfa Centauri Senior High School Bandung
Program bahasa Korea di Balai Bahasa UPI Bandung

Hobi:
Kuliner, menulis, membaca, hangout (berkunjung), stalking (kepo/menguntit akun), Menonton drama Korea

Karya Tulis:
- "Gadis Sejuta Wool" Pameran Sastra dan Seni tingkat SMP se-kota Bandung
- Antologi Hibat Dabat
Antologi  Birulwalidaiin
- Antologi Pilar-pilar yang membengkar
- Antologi Kasih tak sampai
- Antologi Bersamamu
- Novel solo Winter in Edirnee 


Quote favorit:
"Harapan hanya bisa diwujudkan dengan kemauan dan kemampuan. Jadi, rumusnya adalah mimpi = niat + ilmu."

Komunitas:
- Komunitas Pengamat Film FFB
- Komunitas Jaringan Penulis Indonesia (JPI)
- Komunitas Atomi Indonesia
(Brand kosmetik Korea)
- Komunitas Peremempuan Peduli Literasi (PEDUSI)

Media Sosial:
FB: Rafahlevi

Posting Komentar

1 Komentar

Raya Mipi mengatakan…
Wah, sangat menginspirasi. đź‘Ź