Widhi Ibrahim, Pengasuh Anak yang Menemukan Semangat Hidup Lewat Tulisan



Hidup dengan kondisi fisik yang tidak sempurna barangkali menjadi mimpi buruk bagi sebagian orang. Keadaan yang “berbeda” dari kebanyakan orang tak jarang membuat seseorang merasa minder hingga harus menutup diri dari lingkungan sekitar. Perasaan minder inilah yang sempat menghantui Lilis Widiyanti, gadis cantik kelahiran Cimahi, 20 Januari 1992 silam.

Di usia empat tahun, penulis yang memiliki nama pena Widhi Ibrahim tersebut menderita sakit panas yang membuatnya mengalami kelumpuhan selama beberapa bulan. Berbagai macam cara dilakukan Widhi demi mengobati saraf gerak tangannya yang terputus, mulai dari metode pengobatan modern di rumah sakit, pengobatan alternatif hingga pengobatan herbal, namun kondisi fisiknya tak bisa pulih secara sempurna.

“Iya, buat tangan itu. Soalnya waktu itu tangan saya nggak ada tenaganya gitu. Kadang dicubit juga nggak kerasa sakit sedikitpun. Bahkan tangan kiri selalu mengepal, susah buat digerakin jari-jarinya,” ungkap gadis cantik berkacamata ini.

Kurang lebih enam tahun lamanya Widhi berjuang menyembuhkan penyakitnya. Hingga akhirnya ia menyerah dan mengikhlaskan takdir yang digariskan Tuhan kepadanya. Di tengah keterbatasan fisik yang dimiliki, gadis pencinta makanan gurih ini justru menemukan semangat hidup baru lewat dunia menulis.

“Aku ingin punya sesuatu yang kelak membanggakan diri sendiri,” tutur gadis berambut lurus ini.

Widhi tak tau apa nama penyakit yang diderita dibagian tangannya yang membuat jari jemarinya tidak bekerja sempurna. Tapi, dengan ketidaksempuranaan itu, Widhi bersyukur tangannya masih bisa digunakan untuk merangkai huruf menjadi kata, hingga menjadi sebuah paragraf sempurna. 

Berawal dari ketidakpuasannya terhadap alur cerita sinetron di salah satu stasiun televisi, Widhi tergerak menorehkan sebuah karya yang memiliki alur cerita mengagumkan. Di sela-sela rutinitas sebagai seorang pelajar, gadis penyuka warna biru itu menumpahkan imajinasinya lewat coretan-coretan sederhana di halaman belakang buku-buku pelajarannya.

Meski jemari tangannya tak mampu bergerak sempurna lantaran saraf geraknya yang terputus, namun keadaan tersebut tidak menghentikan langkah Widhi untuk terus menulis. Bahkan menulis menjadi kekuatan yang membuatnya semangat menjalani hidup.

“Saat tiba-tiba putus asa, kalau lihat tulisan sendiri jadi semangat lagi,” tutur gadis penggemar Asma Nadia ini.

Meski kerapkali mendapat ejekan dari teman-teman sekolah dan lingkungan sekitar karena keterbatasan yang dimilikinya, Widhi tak pernah menyerah. Dengan doa dan dukungan penuh dari keluarga, bungsu dari delapan bersaudara ini justru terlecut untuk menghasilkan karya yang lebih baik lagi. Widhi ingin membuktikan kepada semua orang bahwa keterbatasan tidak menghalangi langkahnya untuk sukses.

Tak Lanjut SMA, Widhi Pilih jadi Pengasuh Anak di Ibukota
Widhi juga ingin membuktikan bahwa dengan keterbatasan yang dimilikinya, ia tidak akan menjadi beban bagi orang lain, terutama keluarga. Maka usai menamatkan pendidikannya di bangku sekolah menengah pertama di Banten, Widhi memutuskan untuk bekerja. Widhi terpaksa tak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi lantaran sang ayah menderita stroke sehingga tak mampu mencari nafkah bagi keluarga lagi. Uang pensiunan yang didapat hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan mengobati sakit sang ayah. Dengan kondisi ekonomi yang buruk tersebut, Widhi pun memantapkan niat untuk merantau ke Bandung, meski ia sudah diterima di salah satu Sekolah Menengah Kejuruan.

Berbekal ijazah SMP, perempuan yang selalu mendapat peringkat lima besar di sekolah ini mengadu nasib ke ibukota Jawa Barat, Bandung dan menjalani kehidupan barunya sebagai pengasuh anak. Kurang lebih sembilan tahun lamanya Widhi berjuang menjalani profesi yang mungkin dianggap remeh oleh sebagian masyarakat kita. Selama sembilan tahun Widhi berpindah tiga kali majikan. Alasannya karena anak majikan yang sudah besar dan tidak membutuhkan lagi jasanya. 

Selama bekerja menjadi pengasuh anak di Bandung, Widhi tinggal di kos saudaranya. Enam hari dalam seminggu, Widhi berangkat dari kos ke rumah majikan dengan waktu tempuh sekitar 5 menit. Bungsu dari 8 bersaudara itu bekerja selama 8 jam mulai pukul 06.30 sampai 3 sore atau dari pukul 14.30 hingga pukul 11 malam. Waktu Widhi bekerja bergantung pada jadwal majikannya yang  merupakan buruh pabrik. Dengan penghasilan kotor tak lebih dari seratus ribu per minggu, Widhi tetap ikhlas dan menjalani pekerjaannya dengan penuh rasa syukur.


"Iya mba. Karena mungkin rezeki saya segitu. Alhamdulilah aja mba, seenggaknya bisa biayain diri sendiri. Cuma 2 tahun terakhir lumayan naik mba, jadi 500 sebulan," ujar gadis yang dibesarkan di Banten itu."

Saat ditanya soal harapannya, Widhi berharap hasil darinya bekerja bisa ia tabung sebagai modal usaha di bidang kuliner.


"Pengennya yang berhubungan dengan keuangan gitu mba, hitung-menghitung. Cuma karena cuma tamatan SMP jadi keinginan itu dikubur aja. Kalau untuk kedepannya saya ada rencana buka usaha kecil-kecilan paling mba. Kalau modal sudah mencukupi."


Mengasuh Anak sambil Menulis
Di tengah kesibukannya mengasuh anak, gadis penikmat lagu-lagu sendu (mellow) ini tetap menyisihkan waktu untuk menulis. Waktu kerja 8 jam dalam sehari memungkinkan bagi Widhi untuk tetap produktif dalam menulis. Biasanya Widhi akan leluasa menulis selepas ia menanggalkan pekerjaanya. Apalagi, hari Minggu dan tanggal merah, Widhi juga mendapat jatah libur dari majikannya.

Setelah perjuangan panjang selama kurang lebih dua tahun, Widhi akhirnya mampu melahirkan karya perdananya dengan judul Sunshine. Novel Sunshine merupakan karya indie yang meramu kisah tentang perjuangan hidup, persahabatan, keluarga dan dibumbui kisah cinta yang menarik di dalamnya.

Meski sempat berhenti menulis untuk jangka waktu yang cukup lama, Widhi akhirnya menemukan kembali semangat menulis setelah bergabung dengan Jaringan Penulis Indonesia (JPI), sebuah komunitas menulis yang digawangi Endik Koeswoyo. Widhi berharap bisa terus menghasilkan karya yang dapat dinikmati semua orang, sehingga mampu membanggakan keluarganya.

“Menjadi penulis, Mba, biar bisa banggain orang tua. Sekalian pengen nunjukin, dibalik kekurangan pasti ada kelebihan,” pungkasnya tegas. (FFT)

Profil:
Nama Lengkap: Lilis Widiyanti
Nama Pena: Widhi Ibrahim                                 
TTL: Cimahi, 20 Januari 1992

Riwayat Pendidikan:
- SDN Brimob, Cimahi Bandung (1998-2004)
- SMPN 1 Cipanas, Lebak Banten (2004-2007)

Prestasi:
Peringkat 3 Dari Kelas 1 Sampai Kelas 3 Sekolah Dasar
- Peringkat 5 Besar Dari Kelas 4 Sampai Kelas 6 Sekolah Dasar
- Peringkat 2 Kelas 1 SMP
- Peringkat 1 Kelas 2 SMP

Media Sosial:
Wattpad: @Widhi_ibrahim
Twitter: @dhiewidhie92
email: widhiibrahim20@gmail.com

Karya:
Novel indie “SUNSHINE”. Sebuah novel tentang perjuangan hidup, persahabatan, percintaan dan keluarga. Novel tersebut dapat dibaca di wattpad dan storial.co: 
Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.