MAGRIB



"Jangan ada diluar kalau magrib. Masuk kedalam rumah atau kalau sedang dijalan cari mesjid, masuk kedalam mesjid" 

Aku tersenyum ketika mengingat kembali pesan mbok Yun, saat aku berpamitan akan pergi ke kota sebentar. Aku hanya mengiyakan saja, karna aku tidak mau berdebat dengan Mbok Yun. Wanita sepuh, yang seminggu ini menampungku dirumahnya selama aku PKL didesa ini. 

 *** 
Ojek yang kutumpangi berhenti di gerbang desa bertepatan dengan suara adzan magrib. Aku melihat beberapa orang yang lewat langsung menghampiri mesjid di dekat gerbang desa. 

 "Neng, kita berhenti sebentar dulu di mesjid Neng. Udah magrib" tegur tukang ojek membuyarkan lamunanku. "Enggak bang, saya mau buru-buru pulang" sergahku,  saat melihat stang motor dibelokan kearah mesjid 

"Pamali Neng, magrib-magrib di luar" 

What....ternyata bukan hanya mbok Yun yang berpikiran aneh, tukang ojek yang notabene aku tumpangi dari kota pun berpikiran kolot!!. "Ya sudah...saya turun disini aja" 

Aku langsung turun dari jok belakang seraya memberikan beberapa lembar uang. Aku memperhatikan tukang ojek itu berbelok ke arah mesjid. Beberapa orang yg kebetulan berada di jalan pun berbelok kearah mesjid. Mungkin mereka mau solat, mungkin juga hanya menunggu sampai adzan selesai. Entahlah, aku tidak perduli....Kini yang aku perdulikan adalah kembali ke rumah Mbok Yun dan menyelsaikan laporanku malam ini juga. Supaya besok pagi aku sudah bisa kembali ke jakarta bertemu Mami, Papi dan my pussy Kitty. 

Aku berjalan menelusuri jalan desa yang sepi. Sepintas aku mendengar suara gamelan dari arah belakangku. Aku sempat menoleh, tidak ada siapa-siapa hanya ada sebuah pohon besar yang aku rasa mirip seperti pohon besar yang berada di gerbang desa tadi. Aku mulai meneruskan perjalanku kembali, suasana makin sunyi. Sayup-sayup aku mendengar suara gamelan itu lagi. 

Oke...aku mulai takut, aku mempercepat langkahku dengan sesekali berlari kecil. Sialnya, suara gamelan itu sepertinya terus mengikutiku. Akhirnya, aku memutuskan untuk berlari agar cepat sampai dirumah Mbok Yun. Tidak berapa lama, aku melihat sebuah rumah mungil bercat hijau. Itu rumah mbok Yun, aku semakin mempercepat langkahku dan langsung masuk begitu sampai rumahnya. 

Nafasku tersengal-sengal karena lelah berlari dan ketakutan. "Kenapa ngos-ngos an" sebuah suara menegurku. Ketika aku menoleh, apa!! Aku kembali berada di gerbang desa. Aku menatap ke depan dan melihat pohon besar itu disana. 

Apa yang harus aku lakukan...... Samar-samar aku medengar suara orang salat berjamaah dari arah mesjid. Kemudian Suara itu hilang tertutup dengan suara gamelan itu lagi. Tapi kali ini suara gamelan itu makin dekat.....makin dekat..... 

"Jangan ada diluar kalau magrib" Nasihat Mbok Yun kembali terngiang. Tapi kali ini tidak dengan senyum mengejek di bibirku, melainkan keringat dingin yang membasahi tubuhku. 

"Kenapa ngos-ngosan" suara itu kembali menegurku, kali ini aku bisa merasakan "dia" sudah berada disebelahku.... 


SEKIAN
Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.