Farida Rosdian, Bungkam Nyinyiran Lewat Tulisan


Ketika sebuah pohon makin tumbuh tinggi dan berbuah, maka semakin kencang angin yang ingin menggugurkan daunnya. Ungkapan tersebut memang benar, karena semakin seseorang berhasil menggapai suatu keinginan, maka banyak pula orang yang ingin menjatuhkannya.

Di Ciamis, Rosi Rosdiani atau yang dikenal dengan nama pena Farida Rosdian menjalani kehidupan yang sama seperti masyarakat pada umumnya. Bedanya, perempuan kelahiran tahun 1984 ini haus akan ilmu kepenulisan. Beberapa lembaga menulis online pernah ia ikuti, seperti Rumpun Nektar, Kobimo, Forum Aktif Menulis dan FLP Bandung meski terbentur waktu antara menulis dan bekerja.

Berawal karena ketidakpuasan saat membaca cerita, membuat imajinasinya tergerak untuk menciptakan tokoh dan alur yang ia buat sendiri. Farida merasa bahwa ketertarikannya pada dunia literasi membuat dirinya ingin mendapatkan ilmu lebih. Tekad kuat untuk menjadi penulis besar menariknya untuk bergabung dengan  sebuah komunitas menulis yang telah berdiri sejak 2008 lalu, Jaringan Penulis Indonesia (JPI) dengan harapan mendapat berbagai ilmu dari beberapa sumber. Sesuai dengan cita-citanya, bahwa ia ingin karyanya bisa dinikmati oleh khalayak.

Usaha untuk membuat tulisannya semakin apik dan enak dibaca, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kegiatan menulisnya harus terbentur dengan waktu kerja. Sebagai admin di salah satu toko baju online mengharuskannya selalu berada di depan perangkat elektronik setiap hari untuk menjawab pertanyaan atau menerima pesanan dari pelanggan. Rutinitasnya itulah yang tidak memungkinkan bagi Farida untuk konsentrasi menulis hingga ia harus menulis saat malam datang atau subuh menjelang. Menurut Farida, waktu selesai sholat subuh adalah waktu yang tepat untuk merangkai ide karena otak masih segar dan encer saat belum memulai rutinitasnya.

Tak hanya itu, perempuan penyuka sayur asem ini juga kenyang dengan sidiran alias nyinyiran dari sekelilingnya saat ia menulis. Farida hanya tersenyum ketika mereka bilang bahwa menulis adalah kegiatan abstrak yang tidak ada gunanya dan buang-buang waktu.

Orang Nyiyir Bikin Farida Makin Mahir
Merasa down? Tidak. Farida tidak pernah mengeluh meski karyanya tidak bersambut dan mengalami penolakan, apalagi dalam menghadapi omongan orang yang ingin menjatuhkannya. Sindiran demi sindiran kian memekakkan telinga Farida, terlebih nyiyiran datang dari lingkungan terdekat, yaitu keluarga dan tetangga. Farida sering diceramahi soal hobi menulisnya yang dianggap sebagai kegiatan yang sia-sia.
"Mereka sih seringnya ngebahas soal apa aku kerjain (nulis) dianggap sesuatu yg buang-buang waktu. Intinya mereka menganggap nulis itu gak bisa dijadiin sebuah pekerjaan," ungkapnya.


Farida ingat, nyinyiran yang datang dari salah satu saudara yang mendesak Farida untuk mengikuti seleksi CPNS. Desakan untuk mencari koneksi dari Bapaknya yang seorang pensiunan PNS diyakini saudaranya bahwa Farida akan mudah menjadi Apartur Sipil Negara. Farida merasa bahwa di zaman transparansi sekarang, kiprah orang tuanya yang PNS tak lantas memuluskan ia untuk menjadi Pegawai pemerintah. Apalagi saat itu, Farida belum tertarik untuk bekerja di bawah naungan pemerintah daerah.

Di saat dukungan menjauh, Farida mulai membaca buku-buku inspiratif dari para tokoh yang sukses dan bangkit dari keterpurukan. Melalui bacaan itulah Farida kemudian termotivasi. Kepada tim JPI Farida berkata,"Aku baca-baca kisah inspiratif dari orang-orang yg kuanggap hebat. Proses mereka bisa menggapai mimpinya."

Lewat waktu, Farida membungkam mereka yang suka nyiyir dengan beberapa karya, meski masih dalam sebuah antologi. Mengeja Cinta Ilahi, Epilog Rindu, Kelud Menyapa Di Remang Malam, Kisah Dari Negeri Dua Musim, dan Si Penjaga Palang Pintu Dan Figuran Di Sekelilingnya merupakan karya nyata yang Farida torehkan di atas kertas bersama teman-teman penulis lainnya.

Meski belum bisa menjadi sandaran utama sebagai penopang hidup, namun karya-karya yang telah terbit tentu membuatnya bahagia. Farida menyadari bahwa masukan dari teman-temannya ada benarnya. Kini Farida bisa menjadikan hobi menulisnya sebagai alternatif pekerjaan, di samping kegiatan utamanya sebagai karyawan. Baginya, berlatih dan tak menyerah bisa menjadi jalan untuknya sukses menembus industri perfilman.

Nekat ke Jakarta untuk Kirim Ide Cerita ke PH
Sebelum bergabung dengan JPI, pernah suatu ketika Farida nekat pergi ke Jakarta untuk mengirimkan naskah sinetron berupa hard copy setebal kurang lebih 250 halaman (4 episode) ke rumah produksi (Production House) yang terbilang besar di Indonesia. Farida memang nekat. Pejalanannya pulang pergi Ciamis-Jakarta jelas memakan waktu dan biaya yang tidak sedikit.

Dalam perjuangannya ke kota metropolitan, Farida menghabiskan ongkos sekitar 500.000 rupiah. Biaya tersebut termasuk dengan biaya mencetak naskah 4 episode yang ia tawarkan. Agar menghemat ongkos, Farida memutuskan untuk berangkat sendirian, dan hanya diantar ke stasiun oleh sang adik.

"Waktu itu aku berangkat jelang magrib pake kereta. Tiba di Jakarta sekitar jam 4 subuh. Nunggu dulu nyampe jam 7-an baru pesan gojek minta langsung dianterin PH. Waktu itu aku masih kerja jadi admin di olshop-nya sodara. Jadi, pas habis kirim script (naskah) ke security langsung pulang ke Bandung," kenangnya.

Harapan besar untuk dapat kabar dari manajemen PH tersebut sangat dinantikan oleh Farida. Berbulan-bulan ia menunggu jawaban atas naskah yang dikirimkannya, namun kabar baik tak kunjung datang. Farida tak mau menyerah. Ia terus mencari informasi untuk membangun jaringan baru agar skenarionya bisa menembus PH dan karyanya muncul di TV. Dari hasil pencariannya itu, Farida akhirnya mengenal Jaringan Penulis Indonesia dan menjadi anggota di dalamnya. Dari bahasan sahabat JPI-lah Farida akhirnya paham, bahwa menulis skenario harus dimulai dari hal terkecil dahulu, seperti harus lolos menulis sinopsis, menulis scene plot, dan kemudian baru menulis skenario. Dari komunikasi whatsapp di grup JPI Farida sadar bahwa manajeman PH tidak akan mau bersusah payah membaca naskah dari seseorang penulis yang belum dikenal, apalagi reputasinya di dunia kepenulisan masih dipertanyakan.

Pengalaman nekatnya tentu menjadi pengalaman dan proses Farida belajar. Kisah Farida ingin menjadi penulis besar hingga datang ke Jakarta membuatnya semakin terpacu untuk bisa menghasilkan karya yang membuatnya bangga. Ia sadar bahwa apapun yang akan dikerjakannya, tidak harus diselesaikan dengan tergesa-gesa.

Kini putri sulung dari dua bersaudara ini memantapkan hati untuk berhenti bekerja dari pekerjaan lamanya dan mencoba membuka bisnis online sendiri sembari membaktikan hidupnya untuk merawat orang tua. Sukses Farida Rosdian, setiap langkah perjuanganmu pasti akan berbuah melaui waktu yang terus berputar. (NKR)


Profil
Nama Lengkap: Rosi Rosdiani
Nama Pena: Farida Rosdian/ Ochi Rosdian
TTL.: Ciamis, 06 Oktober 1984

Pendidikan Formal:
- SDN Sirna Sari (1991-1997)
- SMPN 2 Pamarican (1997-2000)
- SMA Negeri 1 Banjar (2000-2003)

Pendidikan Non Formal:
-Komputer & menjahit di LPK Popbayo Banjar (2011)
-Berkecimpung di dunia kepenulisan sekitar tahun 2012 dengan mengikuti berbagai grup kepenulisan di FB, seperti Komunitas Penulis Sastra Indonesia, Rumpun Nektar, (FAM) Forum Aktif Menulis, FLP Bandung, Kobimo dan lain-lain.

Karya:
1. Mengeja Cinta Ilahi (Antologi Rendjana, AE Publishing, 2014)
2. Epilog Rindu (Antologi Rendjana, AE Publishing, 2014)
3. Kelud Menyapa Di Remang Malam (Antologi Puisi, Fam Publishing, 2014)
4. Kisah Dari Negeri Dua Musim (Antologi Puisi,  Fam Publishing, 2014)
5. Si Penjaga Palang Pintu Dan Figuran Di Sekelilingnya (Cerpen, dimuat media online RiauRealita)

Medsos:
Untuk yang ingin berkenalan dengan Farida Rosdian, bisa kunjungi media sosialnya,
Instagram: @fr_rosdian
Facebook: Farida Rosdian
Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.