Berjalan kaki 7 jam Menembus Hutan Tropis, Demi Suku Baduy Dalam


Foto: Nicmah Sholikah
Berawal dari niat untuk mengetahui budaya Indonesia, saya berinisiatif melakukan perjalanan mengunjungi suku pedalaman yang terdekat dari tempat saya tinggal. Indonesia memiliki lebih dari 1300 suku yang tersebar di seluruh Indonesia. Salah satunya ialah suku Baduy yang berada di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kab. Lebak Provinsi Banten. Dengan mengandalkan tour Bantanesia, saya pun diantar menuju perkampungan suku Baduy. Harga yang ditawarkan oleh tour Bantanesia pun cukup terjangkau, saya melihat detail interary di akun Instagram @bantanesia_
Foto: Atep

         Perjalanan dari Jakarta dimulai dari bertemunya kami di lokasi titik kumpul (meeting point) stasiun tanah Abang yang berada di Jakarta pusat. Kebetulan saya mengajak satu teman bernama Adel untuk ikut serta (join open trip) menuju kampung Baduy. Dalam perjalanan, saya bertemu dengan teman-teman baru, yaitu Vanmo, Dian, Shabilla, Berliana, Uci dan Zuheir. Kami pun di pandu oleh tim pemandu  yang kami sebut guide Bantenesia, bernama Kang Atep dan Didi Herdy yang sangat ramah dan bersahabat. Perjalanan dari stasiun Tanah Abang menuju ke stasiun Maja kurang lebih 1,5 jam dengan jarak 72 km dengan harga tiket Rp. 8000 saja. Kemudian dilanjutkan dengan menaiki mobil menuju Ciboleger yang merupakan pemberhentian terakhir kendaraan bermotor sebelum memasuki kampung suku Baduy. Perjalanan dari Stasiun Maja, Serang Banten menuju ke Ciboleger dengan mobil kecepatan 40km/jam memakan waktu 2,5 jam.

Tepat pukul 12 siang, tim kami terdiri dari 8 orang peserta open trip, dua pemandu dari Bantanesia serta satu orang pemandu dari suku Baduy Dalam bernama kang Sanib. Perjalanan kami tempuh nantinya memakan waktu berjam-jam menembus hutan tropis di pegunungan Kendeng dengan berjalan kaki. Sebelum memasuki wilayah suku Baduy Dalam, kami terlebih dahulu melewati beberapa desa Suku Baduy Luar.

Suku Baduy Luar yang telah Terkontaminasi Modernisasi
Foto: Nicmah Sholikah
Perjalanan melalui tanjakan adalah jalanan yang harus kita lewati ketika memasuki Desa suku Baduy Luar. Jumlah Desa suku Baduy Luar di Lebak sekitar 50 Desa yang tersebar di pegunungan Kendeng. Pemandangan pertama yang saya lihat adalah jajaran rumah yang terbuat dari anyaman bambu sebagai bahan dasar pembuatan bilik dan lantai rumah. Kemudian atap rumah adat Suku baduy menggunakan ijuk yang terbuat dari daun kelapa yang telah dikeringkan. Di depan beberapa rumah tampak wanita baduy luar sedang menenun kain khas suku baduy.
Kain tenun merupakan salah satu produk yang banyak dijual oleh suku Baduy Luar. Harga jualnya pun cukup beragam, mulai dari kain kecil yang biasa di gunakan ikat kepala dengan jenis kain yang sedikit kasar mematok harga 30-40 ribu, untuk kain yang sedikit lebih lebar bisa di gunanakan untuk selempang mematok harga 50-60 ribu, untuk kain tenun yang bisa digunakan untuk sarung mematok harga 250-300 ribu, bahkan yang memiliki kualitas bagus harganya bisa 500-1 juta rupiah. Namun semua harga masih bisa kita tawar. Mereka juga menjual produk kerajinan lain seperti gelas dari bambu, gelang, tas dan ikat kepala putih khas suku Baduy Dalam, untuk warna hitam suku Baduy Luar. 

Saya dan tim memasuki desa suku Baduy luar pertama yaitu Desa Kadukutek yang lokasinya di bagian utara Kanekes. Di dalam rumah terlihat warga sudah memakai teknologi modern seperti TV, radio, kipas angin, bahkan sebagian warga juga telah memakai kendaraan bermotor. Hal tersebut sangat berbeda dengan suku Baduy Dalam yang tak mengijinkan warganya memakai teknologi modern. Guratan senyum terlihat hampir setiap warga Baduy luar yang saya lewati ketika saya berinisiatif menyapa mereka. Suku Baduy Luar cenderung bersikap lebih terbuka kepada turis atau para pelancong.
Baju yang biasa di pakai oleh suku Baduy Luar adalah baju berwarna hitam dan sarung khas suku Baduy. Namun tak jarang ada pula yang memakai kaos oblong seperti masyarakat modern lainnya. Namun dibalik warna hitam, ternyata memiliki makna bahwa warga suku Baduy telah kotor dan terkontaminasi oleh modernisasi sehingga mereka harus keluar dari wilayah Baduy Dalam dan bermukim di Baduy Luar.

Hutan Tropis Pegunungan Kendeng

Foto: Nicmah Sholikah
Setelah melewati desa pertama, kami menempuh desa kedua yaitu Balingbing dengan jarak tempuh satu jam berjalan kaki. Perjalanan kami mulai bertambah berat, karena kami harus menanjak naik pegunungan Kendeng. Tak jarang tim harus berhenti berjalan untuk beristirahat. Karena wilayah suku Baduy berada di kaki Gunung Kendeng dengan ketinggian 300-600 meter dari permukaan laut. Topografi wilayah Baduy berbukit dan bergelombang dengan kemiringan rata-rata 45°. Namun mata tak berhenti takjub dengan keindahan alam pegunungan Kendeng, serta pepohonan hijau di dalam hutan tropis. Namun ternyata masih ada warga suku Baduy Luar  yang menjual minuman botol seperti Aqua, Sprite, Coca Cola, Gula Aren di jalan setapak sebelum memasuki desa kedua.
        Salin itu, diperjalanan tak jarang kita menemui jembatan karena pegunungan Kendeng memang dilewati oleh sungai Ciujung dan Cikanekes . Hebatnya, jembatan yang mereka buat tanpa menggunakan paku, bambu-bambu disusun dan di ikat menggunakan ijuk atau sabut kelapa, dibagian bawah penyangga jembatan diletakkan kayu. Namun jembatan tersebut cukup kokoh untuk bisa di naiki lebih dari 8 orang sekaligus. 

Ketika kami mulai memasuki desa ke tiga yaitu Desa Gajebo, tiba-tiba hujan turun cukup deras. Dengan terpaksa kami pun beristirahat di gubug selama hampir setengah jam untuk berteduh. Tips yang harus diperhatikan adalah jangan lupa membawa Mantel Hujan meskipun Indonesia secara geografi memasuki musim hujan pada bulan Oktober sampai April namun saya dan tim berkunjung pada tgl 23 July tetap saja di guyur hujan. Hal tersebut karena Hutan Tropis yang di Pegunungan Kendeng sering mengalami hujan local jareba ketinggal dan kelembapan hutan tropisnya.

Perjalanan dari Desa pertama  kedua menuju ke desa ketiga sekitar dua jam lamanya. Namun sebelumnya kami harus melewati Tanjakan Bongkok untuk memasuki desa Gajebo. Tanjakan tersebut sengaja di sebut Tanjakan Bongkok karena memiliki kemiringan sekitar 80° sehingga kita harus membungkuk ketika menanjak.

 Perjalanan terasa sangat sulit karena tanah yang kita pijak sangat gembur dan becek setelah hujan deras. Tak jarang tim berkali-kali terjatuh dan terpeleset ketika melewati tanjakan, namun para anggota tim saling membantu sehingga semua terasa lebih ringan. Setelah melewati Tanjakan Bongkok, setengah jam kemudian kami sampai ke Desa Gajebo tepat pukul setengah 4 sore dan hujan pun mulai reda. Memasuki Desa ketiga, suasana lebih tenang dan masyarakat yang memakai teknologi modern tak sebanyak yang berada di Desa sebelumnya.

Tujuh Jam Melewati Hutan Tropis  Disertai Hujan Lebat

Satu jam setelah melewati Desa Gajebo, awan mendung mulai menyelimuti wilayah pegunungan Kendeng. Kami sudah bersiap kembali memakai jas hujan, namun ternyata tak semua tim membawa jas hujan. Beberapa saat kemudian hujan turun semakin lebat pukul setengah enam sore, sehingga pandangan mata kami sempit karena sangat gelap. Parahnya selain hawa dingin yang menusuk tulang, hanya sedikit anggota tim membawa senter sehingga tanpa sadar tim pun terpisah-pisah. Hal yang perlu diperhatikan pula, perlegakapan seperti headlamp dan senter memang hal yang wajib dibawa. 

Foto: Vanmo Bangun
Saya hanya bersama  empat kawan saya yaitu adel, Vanmo, Dian dan Zuhaer. Anggota tim lain saling bergabung dengan tim lain yang memiliki tujuan yang sama yaitu Baduy Dalam. Tak jarang saya dan teman saya harus terjatuh di tanah yang penuh dengan genangan air dan lumpur. Ditengah perjalanan malam itu, ada lebih dari empat tim lain yang memilih pulang karena merasa tak sanggup melanjutkan perjalanan. Namun pada akhirnya semua tim yang terdiri dari 11 termasuk pemandu sampai di Desa Cibeo Baduy Dalam. Perjalnan dari Desa Gejebo menuju Cibeo yang biasanya memakan waktu dua jam kini menjadi 3 jam karena hujan sangat deras, sehingga total tim melakukan pejalanan melewati hutan selama 7 jam lebih.


Suku Baduy Dalam Desa Cibeo

Cap: Pemukinan Suku Baduy 
Suku Baduy Dalam meiliki tiga Desa utama yaitu Desa Cikeusik, Desa Cikertawana, dan Desa Cibeo. Malam itu tepat pukul 7 jam malam, kami tiba di Desa Cibeo. Suasana gelap dan tenang menyelimuti Desa tersebut, maklum karena desa Cibeo adalah desa yang di tinggali oleh suku asli Baduy Dalam yang masih memegang teguh aturan adat yaitu tak menggunakan peralatan modern seperti listrik. Kami pun mengandalkan cahaya lampu templek atau ublik yaitu api yang berasal dari bambu yang di bentuk memiliki cekungan yang di isi dengan minyak kelapa dan sumbu.

Cap : Dian, Nicmah, Vanmo,
 Sanib (Suku Baduy Dalam)
            Dengan langkah gontai, kedinginan dan kelelahan kami di pandu menuju rumah kang Sanib. Kang sanib merupakan warga asli suku Baduy Dalam rekan dari tour Bantanesia yang ikut memandu kami dari awal perjalanan. Kami semua memasuki rumah sederhana yang kokoh tanpa terdapat paku, hanya di ikat dengan sabut kelapa. Disitu kami dijamu oleh keluarga kecil kang Sanib dengan makanan sederhana namun sangat enak yaitu telor dadar, oseng jamur, lalap terong, sambal, nasi dan ikan asin. Setelah berganti pakaian dan makan, kami berkumpul di ruang tengah untuk berdiskusi tentang adat istiadat suku Baduy Dalam ditemani oleh teh dan kopi hangat di pinggir perapian. Rumah kang sanib tak cukup luas, hanya terdiri dari 3 ruangan yaitu ruang tamu tanpa kursi, ruang tidur beralas tikar serta dapur, namun sangat nyaman dan hangat.

            Namun yang sedikit menjadi PR untuk kami adalah tak diperbolehkan menggunakan peralatan modern seperti sikat dan odol untuk gosok gigi, sabun untuk mandi, deterjen untuk mencuci dan beberapa barang-barang lainnya. Biasanya suku Baduy Dalam menggunakan “merang” atau batang padi yang sudah di bakar berwarna hitam. Sejauh mata memandang, saya tak menemukan kamar mandi di setiap rumah di Desa Cibeo, baduy Dalam. Namun di ujung kampung di dekat sumber mata air terdapat bilik yang disekat seperti kamar mandi. Umunya masyarakat Baduy Dalam lebih suka mandi di Sungai yang sangat jernih karena tak terkontaminasi oleh bahn-bahan limbah kimia seperti sabun dan deterjen.

            Terimakasih untuk tour Bantanesia yang sangat ramah dan sabar menghadapi kami yang banyak mengeluh saat perjalanan. Karena memang tracking selama perjalanan sungguh sangat berat diluar yang saya dan tim bayangkan. Namun keindahan alam wilayah Baduy serta kearifan budaya di kalangan masyarakat Baduy bisa membayar semua rasa Lelah kami. Sangat jarang kami menemukan suku yang masih memegang adat, dan menjauh dari peradapan modern seperti suku Baduy di wilayah yang tak jauh jaraknya dari kota Mentropolitan DKI Jakarta. Jika kalian cinta Indonesia, maka budaya dan adat-istiadat masyarakat Indonesia harusnya bisa kita lestarikan dengan baik di tengah serbuan mordernisasi.









Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.