Hasan, Anak Dengan Kecerdasan Visual Spasial



Namanya Hasan Fathurrohman. Usianya 6 tahun. Awal perkenalan murid baru di sekolah, saya sudah mengira anak ini cerdas. Cara Hasan memperkenalkan diri berbeda dengan anak sebayanya. Tutur katanya penuh percaya diri. Penampilannya rapi.  Hasan juga cepat beradaptasi dan bersosialisasi dengan teman-teman barunya di sekolah, khususnya yang sekelas dengannya.

Dari arsip data murid yang saya baca, diketahui Hasan memiliki enam orang kakak dan satu orang adik. Ibunya kini sudah menjadi orang tua tunggal. Sang ayah sudah meninggal sebelum Hasan genap berusia 5 tahun. Di kelas, Hasan juga suka banyak cerita apapun dengan teman-temannya. Setiap kali saya bertanya soal tema pembelajaran yang sedang berlangsung, dengan bahasa kanak-kanaknya, Hasan dapat menjawabnya. Meskipun kalimat jawabannya terkesan lucu, tapi rupanya ia bisa menangkap maksud pertanyaan saya.

1. Gambar karya Hasan. Bapak wartawan sedang mewawancarai seorang anak.

Soal kedisiplinan datang tepat waktu, Hasan memang masih perlu ditingkatkan. Hasan seringkali datang ke sekolah saat kegiatan sholat dhuha sedang berlangsung. Itu berarti Hasan lebih sering datang jam 8 lewat. Padahal jam masuk sekolah adalah jam 8 tepat. Ketika saya menanyakan pada ibunya perihal ini, ibunya mengatakan Hasan susah sekali dibangunkan pagi-pagi. Kalau sudah kesiangan bangunnya, ibunya ijin via whatsapp bahwa hari ini Hasan tidak masuk sekolah dengan alasan yang sama.


2. Gambar karya Hasan. Anak sedang mengetik dengan komputer.


Saya juga tanyakan langsung pada Hasan mengapa sering datang telat ke sekolah. Hasan menjawab bahwa selalu tidur larut malam. Saya lalu kroscek pada ibunya terkait jawaban Hasan. Ibunya menjelaskan sebenarnya Hasan sudah tidur setelah waktu isya, namun Hasan sering terbangun menjelang tengah malam. Bukan untuk menonton televisi atau bermain, melainkan asyik dengan kegiatan kesukaannya yaitu menggambar.


3. Gambar karya Hasan. Ikan-ikan di lautan


Ya, menggambar. Bukan sekedar hobi yang dilakukan Hasan setiap waktu. Bakat alamiah itu tumbuh sejak Hasan mulai mengenal alat tulis dan kertas. Seiring bertambah usianya, bakat menggambar itu menjadi suatu pola kebiasaan yang sangat sulit dipisahkan dan dilepaskan dari keseharian Hasan. Tak terhitung banyaknya kertas yang sudah terlukis coretan gambar hasil kreativitas dan imajinasinya. Seolah itu membuktikan kemampuan Hasan dalam hal menggambar dan permainan gradasi warna tak bisa dipandang sebelah mata. Bahkan seringkali gambar yang dibuatnya melebihi dari kreativitas dan imajinasi teman-teman sekelasnya atau bahkan anak-anak yang sebaya dengannya. Saya amati rata-rata hasil gambar teman-teman Hasan nampak berupa coretan abstrak, seperti ciri khas gambar anak-anak pada umumnya.


4. Gambar karya Hasan. Bapak sedang baca buku.


Saat kegiatan jurnal pagi, saya sering meminta sekaligus menguji kreativitas Hasan dalam menggambar bebas. Subhanallah, Hasan bisa menyelesaikan tugas menggambarnya dengan sangat baik. Bahkan tanpa melihat contoh gambar yang sudah ada pun, imajinasinya dapat merangkai setiap garis yang terlukis menjadi suatu bentuk gambar yang utuh konkret. Padahal saya cuma memberi perintah dengan kalimat sederhana yang langsung bisa ditangkap daya nalarnya. “Hasan, tolong gambarkan seseorang yang sedang mengetik dengan komputer, ya.” Tanpa melihat contoh dari gambar manapun, imajinasi Hasan segera bermain, dan dalam waktu singkat jadilah gambar yang menurut saya keren.


Menurut cerita ibunya, bakat menggambar Hasan menurun secara genetis. Ibunya pernah bercerita semua anaknya juga memiliki kegemaran yang sama, yaitu, menggambar. Bahkan lukisan dan gambar karya Hasan dan saudara-saudaranya hampir memenuhi dinding seluruh area ruang dalam rumah. Dan tak lama lagi juga akan terpajang di galeri pameran lukisan. 



5. Gambar karya Hasan. Mesin pencetak kertas


Dengan terus diasah, dilatih dan dikembangkan, kemampuan menggambar Hasan akan semakin lebih bagus dan kreatif. Semoga dengan talenta kecerdasan visual spasial-nya, kelak Hasan menjadi generasi emas anak Indonesia yang bermanfaat bagi agama, keluarga dan bangsa. 

Sebenarnya apa yang di maksud dengan kecerdasan visual-spasial itu? Kecerdasan ini ditandai dengan kepekaan mempersepsi dunia visual-spasial secara akurat dan mentransformasi persepsi awal. Anak yang cerdas dalam visual-spasial terkesan kreatif, memiliki kemampuan membayangkan sesuatu, melahirkan ide secara visual dan spasial dalam bentuk gambar atau bentuk yang terlihat mata. Anak biasanya suka melukis, menggambar, membuat sketsa atau desain sederhana, bermain game ruang, berpikir dalam image atau bentuk serta memindahkan bentuk dalam angan-angan. Cara belajar terbaik untuk anak yang cerdas visual-spasial adalah melalui warna, coretan, arah, bentuk, dan ruang. [DPS]

   

Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.