SANIA (2) Oleh Dewy Rose.



Tiba-tiba bulu kudukku merinding kembali! Saat angin berembus membelai wajah, mempermainkan anak rambutku dan bau amis darah itu tercium semakin kuat di dalam kamar! Hingga membuat mual karena baunya yang menyengat.

Angin yang berembus seakan meliukkan tubuh dan mencoba mengalihkan pandangan pada tirai jendela yang bergerak perlahan dan menanpakkan sebuah bayangan. Namun karena terlalu takut malam ini, sehingga aku berusaha memejamkan mata sambil berbaring di samping Sa.

***

Suara azan subuh membangunkan, aku bergegas menuju kamar mandi untuk berwudu. Selepas salat, kemudian segera berbenah membersihkan rumah, masak untuk sarapan dan mencuci pakaian kotor yang ada sebelum mandi dan berangkat kerja pagi ini. Ketika hendak mencuci, baru kemudian teringat kembali akan keberadaan Sa, gadis kecil yang semalam aku temukan menangis di pinggir sungai tempat pembuangan sampah warga. Segera diri ini berlari menuju kamar dan menyibak tirai pada pintunya.
Ah! Ternyata Sa masih tertidur pulas, batinku. Lalu aku menyibak tirai jendela, agar sinar mentari memasuki ruangan kamar dan udara pengap berganti. Namun ...

“Aaahh!” teriak Sa, sambil menutup muka dengan bantal ketika sinar matahari membias wajahnya.

“Sa? Kamu kenapa, Sayang?” Perlahan kudekati dirinya dan berusaha memeluk serta melepaskan bantal dari wajahnya. Tetapi seperti ada kekuatan dalam diri Sa, hingga bantal dalam pegangan Sa tak berhasil kuraih.

“Aaahhh!” teriaknya lagi sambil menunjuk ke arah jendela.

Kemudian segera kualihkan pandangan ke arah jendela, karena khawatir ada seseorang di luar sana. Sementara Sa semakin kencang berteriak sambil tangannya menunjuk ke arah jendela. Karena tak ingin membuatnya semakin menangis dengan tingkahnya yang gelisah, segera jendela dan tirainya ditutup kembali. Saat tubuh ini berbalik terlihat wajah Sa yang tetap pucat seperti semalam. Kemudian Dia menatap ke arahku dengan tatapan kosong. Sambil tersenyum, tubuh mungilnya kurengkuh dan segera memandikannya. Setelah semua pekerjaan rumah selesai, sebelum berangkat kerja, kami sarapan bersama. Ketika akan berangkat, tak lupa memberikan pesan padanya.

“Sa, Tante akan berangkat kerja, jika kamu lapar, makanan ada di lemari makan. Jika kamu ingin bermain keluar rumah, jangan lupa pintu rumah ditutup. Nanti sore jangan lupa mandi ya, Sayang?” ucapku setelah memberikan wejangan padanya, segera kupeluk Dia dan mencium keningnya, dingin! Tubuhnya masih sama seperti semalam.

Sa tak mau beranjak dari kamar, matanya tajam mengikuti langkah kakiku menuju pintu kamar yang tertutup.

“Krek!”

Tiba-tiba pintu kamar terbuka dengan sendirinya, karena kaget aku hanya termangu menatap pintu yang bergerak.

“Sssss!”

Angin kencang menerpa wajah, hingga mempermainkan ujung hijabku. Sambil mundur selangkah, ada sekelebat bayangan hitam lewat di depan pintu!

“Ya Tuhan!” teriakku karena kaget sambil menoleh pada Sa. Wajahnya pucat, tatapannya kosong menatap pintu dan bau amis darah itu kembali lagi, kian menyengat dalam kamar.
Segera aku berlari memeluk Sa untuk melindunginya, tubuhnya tak bergeming, dingin!

“Sa, jangan takut ya? Ada Tante di sini, Sayang,” kataku sambil menatap wajahnya.

Namun wajah pucat itu tetap terdiam dengan pandangan kosong ke arah pintu kamar.
Ah! Mungkin Sa sangat ketakutan, hingga semakin dingin tubuhnya, batinku menenangkan diri. Setelah bau amis yang menyengat hilang perlahan, angin yang berembus mempermainkan tirai pintu pun berhenti.

Karena merasa keadaan sudah membaik, segera aku berpamitan pada Sa untuk berangkat kerja sambil mencium keningnya lagi, dingin masih terasa. Sambil menutup pintu kemudian setengah berlari menyusuri jalan menuju pinggir sungai. Setelah melewati warung Pak Dullah dan menyapa beberapa orang yang sedang sarapan dan berbelanja lainnya di sana, kemudian aku sampai pada tempat pembuangan sampah, tempat menemukan Sa di sana tadi malam. Saat masih setengah berlari, tiba-tiba angin kencang kembali berembus dan meliukan pepohonan perdu di sekitar. Bau amis darah kembali menyeruak, menembus penciuman, sangat menyengat hingga rasanya terhuyung sambil setengah berlari menahan mual.

“Pak! Tunggu!” kataku setengah berteriak, ketika melihat getek sudah siap berjalan dengan beberapa orang penumpang lainnya.

Sambil berhati-hati menuruni jalan menuju bibir sungai untuk menyebrang dengan getek, perlahan dengan berpegangan pada bambu di sepanjang turunan, karena jalanan masih licin akibat hujan semalam. Getek pun bergerak ketika tangan kekar si Bapak Tua berwajah keriput itu menarik kawat baja sebagai penggerak geteknya. Kami perlahan berbaris untuk menuju darat dan tak lupa membayar jasa dengan memasukan sejumlah uang ke dalam kotak. Setelah sampai pada pinggir sungai, dengan jalan menanjak menuju jalanan, akhirnya sampailah pada halte bus. Tak lama kemudian bus karyawan datang, segera aku naik dan duduk sambil beristirahat sejenak sebelum sampai di Pabrik.

***

Waktu istirahat tiba, selepas salat zuhur segera menuju kantin untu makan siang dan bertemu dengan Mas Dion, teman yang selama ini sering membantuku, dari mulai mencarikan rumah kontrakan hingga kadang-kadang mengantar pulang atau sesekali mentraktir makan.

“Mas, semalam Widya bertemu dengan seorang anak perempuan usianya sekitar empat tahun. Kasihan Mas, Dia sedang menangis di pinggir jalan dekat pembuangan sampah warga, badannya sampai dingin dan wajahnya pucat karena kehujanan semalam,” kataku memulai cerita, sambil makan.

“Sekarang bocah itu ada di mana, Wid?” tanya Mas Dion.

“Ada di kontrakan, Mas! Sendirian di dalam rumah, tapi tadi sudah aku masakin dan berikan pesan, sepertinya Sa juga mengerti.”

“Sa?”

“Iya, Sa namanya, karena saat aku tanya namanya semalam, Dia hanya berkata Sa,” kataku sambil terus makan.

“Entah Sari, Sasa atau Sania namanya, Mas.” Lanjutku lagi.

“Ya sudah, nanti pulang kamu bareng sama Mas ya? Sekalian kita belikan makanan untuk Sa dan beberapa baju salin, sampai nanti ada yang mencarinya sebagai orang tuannya,” kata Mas Dion antusias.

“Sekalian kalau tidak kemalaman nanti kita melaporkan pada Pak RT Maman, siapa tahu ada yang sudah melaporkan kehilangan anaknya.” Tambahnya lagi sembari menghabiskan makanannya. Aku hanya mengangguk tanda setuju.

***

Setelah pulang kerja, kami mampir sebentar ke pasar membeli beberapa pasang pakaian untuk Sa, serta makanan dan kudapan kesukaan anak-anak.

***

Tiba di rumah, kami heran karena lampu belum nyala, rumah gelap serasa tidak ada orang. Setelah memarkirkan motornya, Mas Dion mengikuti aku berjalan menuju pintu dan mengucapkan salam.

“Brak!”

Pintu terbuka dengan sendirinya, sebelum kami masuk dan aku menyalakan lampu, angin bertiup kencang meliuk di ruang tengah. Kami saling berpandangan setelah lampu dinyalakan. Dan ... bau amis darah itu kembali menyeruak di ruangan, membuat mual dan merinding. Sampai Mas Dion menatap kearahku yeng terlihat bergidik ketakutan, karena tirai kamar  bergerak dipermainkan angin yang berembus di depan pintu kamar.

“Sa!” teriakku tiba-tiba sambil berlari menuju ke dalam kamar.

“Brak!”

Tiba-tiba pintu kamar tertutup dengan sendirinya.

“Wid!”

Samar kudengar suara Mas Dion dari dalam kamar yang gelap dan ... (Bersambung)

DR.
Bekasi, 22 Maret 2018
19:19
Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.