Rasa Untukmu


Aku hanyalah asa yang t'lah usang,
Yang terpana dengan sinai senyuman kecil yang ternaungi binaran kedua netramu.

Di sana kau kah jua rasakan, letupan rasa yang kugetarkan tanpa kata?
Derai peluh kian bercucuran, gelisah, cemas, harap, dan entah apa yang harus kutuahkan.

Lagi-lagi kupandang nanarnya mega duduk anggun di kedua manik mata seindah mutiara, 
Aku hanya tertawa kecil terserang badai panas dingin.

Entahlah, berkali-kali kucoba berpaling,
Namun justru rinduku kian genting.
Rindu? saat hanya kau yang mampu menjawab keresahan hatiku, bukankah itu rindu?

Nampaknya asa yang t'lah usang ini
Mencoba beradaptasi
Tengah ingin merekatkan silaturahmi. 
Kekagumanku untukmu ksatria tampan berpeci, bersuara emas melagukan ayat suci.

Walau entah apa yang aku dapatkan nanti,  lengkung senyuman atau cacian.
Tetapi percayalah, Rasa hati kian terpatri, rindu kian menyandu,  dan hingga ujung senja yang terakhir rasaku masih sama untukmu.

Jatidatar, 23 Maret 2018

Ria M, Penulis amatir yang hobi berimajinasi, mengayunkan rasa di ujung pena.
Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.