Nandina Prajanto, Berada Di Belakang Layar Tapi Selalu Terdepan


Santai kayak di pantai, biar asyik kayak di Tasik. Jargon ini sangat mewakili acara ngobrol bareng Nandina Rilla Andari atau yang lebih dikenal dengan nama Nandina Prajanto. Obrolan pagi itu sungguh di luar dugaan. Santai, tegas, detail, dan lebih dari sekadar menyenangkan. Dara manis yang kini tinggal di Depok ini mau diajak berbincang di tengah aktivitasnya yang menggunung.

Nandin -panggilan Nandina Prajanto- pagi itu sedang mempersiapkan tugas akhir yang memang ditargetkan selesai tahun ini. Mahasiswi di Bina Sarana Informatika jurusan Publik Relation ini selain tengah sibuk dengan Tugas Akhir juga disibukkan dengan kegiatan yang tak jauh-jauh dari dunia entertainment. Dunia yang memperkenalkannya pada banyak hal, banyak orang, banyak kesempatan, dan juga banyak teman.

Masa Kecil Yang Penuh Pengalaman
Sejak kecil Nandin sudah berkecimpung di dunia model dan perfilman. Keikutsertaan Nandin tak lepas dari peran serta sang mama yang memasukannya ke sanggar McKids. Di sanggar tersebut Nandin belajar tari dan modeling, padahal usianya masih 5 tahun. Tapi meski masih kecil Nandin, mengaku tak bosan dan tak mempermasalahkan waktu bermain yang berkurang. Ia justru bersyukur karena bisa masuk sanggar, di sanggar ia banyak memiliki teman bermain. Tujuan awal sang mama memasukkan Nandin ke sanggar adalah untuk memperkuat percaya diri dan memperbaiki cara berjalannya yang dinilai lebih gagah daripada feminin.

Setelah lulus dari sanggar Mc. Kids, Nandin masuk sanggar Fame Studio untuk mengasah kemampuannya dalam tarik suara. Hampir setiap minggu, ia mengikuti lomba, dan dalam tiap minggu juga piala di rumahnya bertambah. Dua tahun dalam masa kecilnya dipenuhi perlombaan dan juga memenangkan berbagai perlombaan. Nandin suka dengan piala, mungkin itu yang menjadi alasan ia mengikuti banyak perlombaan.

“Senang ikut lomba, soalnya hadiahnya bagus-bagus. Kadang alat sekolah, baju, voucher belanja, tiket pesawat juga pernah, tapi kebanyakan yang diikuti adalah yang berhadiah uang. Hadiah uangnya bisa digunakan untuk transportasi lomba selanjutnya. Karena bukan dari keluarga berada jadi bermodal hadiah,” Nandin mengenang masa kecilnya dulu dengan tersenyum lebar. Rutinitas lomba yang terus menerus membuat Nandin kecil merasa bosan. Mamanya memutuskan untuk memberikan kelonggaran pada Nandin. Ia diizinkan untuk vakum dari dunia yang telah digelutinya.

Tapi saat vakum itu justru ada audisi di Sanggar Ananda. Sanggar milik Aditya Gumay itu memberikan pelatihan gratis, tapi hanya menerima sedikit murid pada audisi saat itu. Nandin berhasil masuk 8 besar, dan di sana ia mulai belajar akting. Dari Sanggar Ananda pula, Nandin mulai memasuki dunia entertainment, dengan mendapat kesempatan syuting di bawah arahan Aditya Gumay. Kepercayaan pertama untuk mendapat peran depan layar justru bukan dari Aditya Gumay melainkan datang dari Budi Sumarno, yang telah dikenal Nandin sejak sekolah dasar. “Walaupun tujuan awal masuk dunia entertaint bukan jadi artis. Cuma sekadar mengasah kreativitas saja, tapi akhirnya malah jadi talent," ujar perempuan kelahiran 27 November 1996 menjelaskan awal kariernya di dunia entertaint.
Nandin saat menjadi model
Sukses Membutuhkan Kerja Keras
Memasuki dunia seni peran, Nandin memulainya dengan acara Taman Lebaran yang merupakan produksi Global Tv di tahun 2006 meski perannya saat itu hanya menjadi audience. Setelah itu tawaran bermain sinetron berdatangan padanya, sebut saja De Neny, Sahabat Mainku, dan Rumah Rahasia yang menampilkan Nandin sebanyak 20 episode sebagai Ita. Selain itu ada sinetron Empat Sahabat dan Sang Petuah Hati. Nandin juga berperan sebagai Solehah (Sulli) di film Jamilah dan Sang Presiden yang disutradarai oleh Ratna Sarumpaet.

Bukan hanya itu saja, masih ada FTV, Reality Show, dan film yang berhasil membesarkan nama Nandina Prajanto. Peran terbaru yang dilakoni Nandin dapat dinikmati di short movie, garapan Budi Sumarno yang berjudul Ayah dan diproduksi tahun 2017. Bukan hanya deretan dunia peran saja yang berhasil di jejaki Nandin. Ia juga merambah kegiatan lain seperti model video clip, foto model, model catwalk, drama dan operet, menari, dan juga iklan. Gadis manis dengan tinggi 160 cm ini juga menjadi foto model baju muslimah berbagai produk dan finalis dream girls tahun 2016.

Deretan prestasi yang bukan main-main tentunya, serta tak bisa di dapat dengan mudah. Support dan arahan dari orang tua membuat Nandin mantap memilih jalan kariernya. Waktu yang kian sempit justru tidak menjadi masalah bagi Nandin. Sang ayah memasukkan Nandin di sekolah yang longgar dan tidak membebani murid dengan pelajaran. Jadi Nandin bisa tetap mengembangkan bakatnya di luar sekolah.

Nandin yang menjadi ketua OSIS di SMK Purnama 1 ini telah mengasah bakat dan kemampuannya jauh sebelum ia menyadari bahwa masuk sanggar bukan hanya memperbaiki cara berjalannya saja. Tapi menjadi landasan dan dasar yang kokoh untuk memasuki dunia entertaint. Dukungan sang mama menjadi modal utama untuk Nandin menjejakkan kakinya di dunia yang tak semua orang bisa masuki.

Jatuh Cinta Di Belakang Layar
Jurusan multimedia di SMK Purnama 1 memperkenalkan Nandin pada dunia di balik layar. Nandin yang sejak kecil lebih banyak berada di depan layar, menjadi pelakon dan model, justru jatuh cinta pada kegiatan di belakang layar. Menulis skenario, kameraman, Editor Video, Sound Director, Penata Kamera, Sutradara, bahkan Produser pernah ia jajal. Sejak tahun 2009 Nandin mulai mencicipi profesi itu satu persatu.
Nandina Prajanto dalam proses syuting untuk film pendek
“Saya memutuskan untuk berhijab. Mau tidak mau, kesempatan untuk menjadi talent akan sedikit berkurang karena keputusan itu. Mama sudah meminta untuk memikirkan matang-matang, tapi saya lebih memikirkan kewajiban saya. Bismillah aja, dan ternyata dengan berhijab saya menemukan dunia yang lebih luas,” jelas perempuan yang pernah menjadi salah satu pengajar di Sanggar Ananda dan Teater Kawula Muda.



9 tahun berkiprah di dunia balik layar, Nandin sudah menghasilkan 35 judul film pendek dan 7 iklan. Bahkan film pendek dengan judul 1 x 24 Jam, skenarionya ditulis saat Nandin masih duduk di kelas 2 SMP Purnama. Dalam film film pendek itu, selain sebagai penulis skenario, Nandin juga menjadi sutradara. Sedangkan pada film berjudul RUN! Yang diproduksi tahun 2016, Nandin menjajal profesi sebagai produser. Dunia film telah menjadi passion dan sampai sekarang kegiatan Nandin tak jauh dari film.

Saat ini Nandin sedang mempersiapkan film pendek dakwah dan juga persiapan web series dakwah. Berhijab bukan hanya mengubah penampilan Nandin, tapi juga membuatnya lebih mendalami dan memahami seperti apa seharusnya hidup.
Film pendek terbaru karya  andin
“Hidup berjalan sesuai dengan yang sudah digariskan oleh Allah SWT untuk aku. Jadi, sekeras apapun aku berusaha, berhasil atau gagal, itu semua kehendak Allah. Jadi, enggak usah stress, santai aja.”

Begitulah Nandin memaknai hidupnya yang penuh lika-liku, perjuangan, kerja keras, dan segala hal. Kita tunggu karya-karya Nandin selanjutnya yang tentu akan selalu menjadi yang terbaik, meski di balik layar. #tia
***

Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.