Cerpen - Di Balik Pintu - Fiah Albhar

Di Balik Pintu

Cerpen – Fiah Albhar

Foto By : https://pixabay.com


Seperti biasa, Bari dan Alan tengah bersantai di atas bukit. Pemandangan sawah tepat di bawah mereka, lengkap dengan angin sepoi – sepoi. Bari asik mengotak-atik ponselnya, sedangkan Alan tampak terpejam seraya mendengarkan lagu dari ponselnya.
“Lan, gimana yang kemaren?” Tanya Bari dengan wajah serius.
“Berani gak?” Lanjutnya.
Alan tak menggubris.
“Ayolah!! Apa yang ditakutin sih?” Bari sedikit memaksa. Ia tahu Alan tidak tidur.
“Kamu kan tau aku takut ular. Disana pasti banyak ular.” Alan membuka matanya dan melirik Bari.
“Tapi kan kamu tau aku paling jago ngusir ular.” Ujar Bari bangga. Alan diam sejenak.
“Ya udah, ayo!” Ujar Alan seraya berdiri dan mematikan lagu dari ponselnya, Bari tersenyum girang.
Mereka pun berangkat menuju hutan yang berada di belakang bukit. Sejak kemarin Bari mengajak Alan mencari harta karun yang dibicarakan Pak Kardi. Meski tahu hutan itu terlarang, Bari tetap memaksa Alan.
Tiba di dalam hutan mereka tidak menemukan apapun. Alan mengajak Bari kembali. Bari geram, ia mengajak Alan terus berjalan.
“Gimana kalo kita mencar aja? Aku ke sebelah sana, kamu kesana.” Ujar Bari tiba -tiba seraya tangannya menunjuk-nunjuk.
“Terus…?” Alan tampak heran.
“Ya nanti kalo salah satu dari kita udah nemuin, langsung kabarin!” Jelas Bari.
“Nemuin ular maksud kamu?” Alan menggerutu.
“Iya salah satunya.” Bari tertawa.
Mereka pun berpencar. Bari ke arah kiri, dan Alan ke arah kanan. Tak lama berjalan, mereka sama-sama menemukan bangunan yang terpagar. Namun yang berbeda, Bari menemukan sebuah bangunan megah berkilau, sedangkan Alan sebaliknya, sebuah gubuk.
Bari bergegas membuka pagar yang tak dikunci itu. Lalu ia mencoba membuka pintu bangunan megah tersebut, namun pintu itu terkunci. Bari mencari cara untuk membukanya.
Sedangkan Alan masuk ke sebuah gubuk yang didalamnya terdapat lorong yang cukup gelap. Meski takut, namun ada rasa ingin tahu. Alan menyusuri lorong itu. Namun semakin berjalan, lorongnya semakin gelap. Beberapa kali Alan sampai terjatuh karena tersandung batu. Ia pun berjalan lebih hati-hati agar tak tersandung lagi. Tak lama kemudian Alan merasa ada sesuatu yang bergerak didekatnya. Ia pun memegangnya untuk memastikan. Namun seketika Alan terdiam. Jantungnya langsung berdetak cepat. Tubuhnya kaku saat disadarinya yang dipegangnya adalah ular. Keringat mengucur dari dahinya. Dilepaskannya tangannya perlahan dari ular tersebut, lalu ia hanya duduk terdiam hingga akhirnya ular tersebut bergerak menjauh. Alan menarik nafas lega. Ia segera menghubungi Bari.
“Bar, ada ular disini.” Ujar Alan masih ketakutan.
“Aku harus gimana ni, Bar?  Pasti ularnya datang lagi.” Alan semakin ketakutan.
“Duh… aku terperangkap nih, Lan!” Bari berbohong.
“Terperangkap gimana?” Tanya  Alan.
“Iya gak tau nih, tadi ada lubang gitu!” Jawab Bari semakin berbohong.
“Ya ampun, Bar. Ya udah, tunggu disitu.” Alan berusaha meneenangkan diri lalu bangun dan kembali menyusuri lorong. Ada rasa ingin kembali, namun lorong di depannya tampak semakin terang. Alan meyakini ada jalan keluar di depannya. Dan benar saja, di penghujung lorong ada sebuah ruangan megah. Dan ada pintu disana  Tanpa pikir panjang, Alan bergegas membuka pintu tersebut. Lalu tampaklah sosok Bari di depannya.


***
Setiap karya yang kami publikasikan hak cipta dan isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis Untuk Anggota Jaringan Penulis Indonesia yang mau mengirimkan karya harap mencatumkan subyek KARYA ANGGOTA + Tema Tulisan + Judul Tulisan pada email yang di kirim ke jaringanpenulis@gmail.com Bagi yang ingin bergabung menjadi Anggota Jaringan Penulis Indonesia silahkan ISI FORMULIRNYA DISINI 
Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.